MULAN TEMANGGAL
Andy Wasis
Betapa cantik dia. Wajahnya ayu. Senyumnya lembut tertimpa sinar matahari yang cerah. Rambutnya yang panjang itu tergerai lepas. Di atas kepalanya tersangga sebuah siger[1] .
Dapat kubayangkan, betapa beratnya siger yang terbuat dari keping kuningan itu. Bentuknya melengkung bagai bulan sabit dengan beberapa lekukan bukit pada kedua sisinya.. Di puncak lekukan tengah berjurai hiasan yang disebut serenja bulan. Pada setiap lekukan bukit berjuntai juga hiasan yang berbentuk bagai pohon beringin, rimbun dan mengayomi.
Dia mengenakan baju kurung berwarna putih tanpa lengan. Bahannya dari benang kapas hasil tenunan tangan. Ini adalah baju adat bagi mempelai wanita. Baju ini disebut sesapur. Pada sekeliling bagian bawahnya bergantungan berpuluh-puluh ringgit emas asli bergambar mahkota Kerajaan Belanda. Pada setiap keping ringgit itu masih tertera jelas tahun pembuatannya, yaitu seribu delapan ratus. Keping emas ini adalah barang antik, barang pusaka nenek moyang.
Di lehernya terlilit kalung emas yang panjangnya sampai ke pinggang dengan liontin berbentuk bulan sabit, namanya mulan temanggal[2]. Kedua pangkal lengannya dihias oleh gelang emas berbentuk burung dengan sayap terentang. Sepasang gelang emas berbentuk bulat berukir-ukir menghiasi kedua lengannya. Gelang ini khusus hanya untuk upaca adat dan disebut gelang kana. Pada tangan kanannya tergenggam sebuah rantai yang pada ujungnya ada bulatan sebesar buah manggis. Ini adalah hiasan khusus pada saat upacara adat perkawinan. Hiasan itu dalam bahasa Lampung disebut buah manggus.
Kainnya tenunan asli berwarna merah berjalur benang emas. Warna merah kain tapis[3] itu berbaur dengan warna kuning benang emas sehingga tampak gemerlap. Di pinggangnya melilit pending yang terbuat dari kain beledru hitam yang pada bagian tengahnya dihias bordiran benang emas.
Aku berada di sisinya, juga dalam pakaian adat kebesaran. Hanya kepalaku tidak mengenakan siger. Untuk mempelai laki-laki hanya mengenakan kupiah terbuat dari kepingan kuningan yang disebut kupiah emas. Pakaian ini sangat memberati tubuhku.
Zuraida tersenyum-senyum. Kami duduk di atas jepana, tandu kebesaran untuk kedua mempelai. Di belakang kami iring-iringan muda-mudi dalam kandang rarang, yaitu lembaran kain putih yang dikurungkan khusus untuk anak-anak bangsawan pada saat mengiring pengantin. Kami diiring menuju Balai Adat, tempat menerima juluk adek, gelar kebesaran bagi lelaki dan wanita yang telah menikah. Payung kebesaran dan umbul-umbul aneka warna berkibar-kibar.
Ketika akan memasuki pintu gerbang Balai Adat atau yang dalam istilah Lampung disebut lawang kuri, iring-iringan berhenti. Di muka pintu gerbang itu sedang terjadi perang tanding silat. Selesai perang tanding silat dilanjutkan perang silat lidah dengan berpantun. Hampir satu jam lamanya kami menanti upacara ini baru dipersilakan masuk ke pekarangan Balai Adat. Keringat sudah mengucur dari sekujur tubuh. Tetapi, Zuraida tampak tenang dan tetap tersenyum manis.
*
Aku lupa, kapankah kerabat adat dari pihakku melakukan peminangan kepada pihak Zuraida? Kapan pula upacara pertunangan kami dilangsungkan? Sungguh aku lupa.
Aku dan Zuraida sudah lama berpacaran. Kami saling mencintai. Sebagai muda-mudi yang tinggal di desa yang masih terikat adat, pergaulan kami tidaklah bebas. Ada cara tersendiri untuk saling bertemu, yaitu bertandang pada malam hari tanpa setahu kerabat yang dalam adat kami disebut manjau. Selain itu tidak pernah kami saling bersua.
Tingkat sosial antara kami pun jauh berbeda. Zuraida anak seorang saudagar dan pemilik kebun kopi yang amat luas. Orang tuanya adalah punyimbang bumi, tetua adat yang terpandang. Aku anak yatim piatu tinggal dengan nenek yang sudah renta. Kami memang masih mempunyai rumah adat; yang dalam istilah Lampung disebut nuwo balak tetapi sudah kosong dan tidak terpelihara. Untuk menopang hidup aku bekerja di pekan, di kedai ikan asin milik kerabat dari fihak ibu.
Rasanya, baru beberapa minggu lalu aku bertandang di kolong rumah Zuraida. Masih kuingat, ketika itu malam sepi, di langit hanya tampak bintang-bintang mengiringi bulan sabit. Aku menyelinap dari serambi belakang rumah panggung yang besar ke arah kolong rumah dan tepat di bawah kamar gadis itu. Di lantai ada sebuah celah, seperti disengaja memang dibuat pada lantai papan itu. Tepat di dekat celah itu aku memercikkan api geretan. Sinarnya sekilas menerangi sekitar kolong rumah sampai ke ruang kamar Zuraida. Sejenak kemudian api geretan padam. Kelam menyergap. Terasa lebih kelam dari awal aku menerobos kolong rumah ini. Sunyi mencekam. Tidak ada tanda-tanda dari balik dinding lantai. Sekali lagi aku menggoreskan korek api. Cahaya api terpencar. Kugerak-gerakkan di dekat celah lantai itu.
“Hem…,” suara dehem halus menyentakkan perasaanku. Menggugah kesenyapan yang menghantu. Tetapi hatiku mekar, pertanda penghuni kamar itu menerima tanda panggilanku. Aku menunggu dengan hati berdebar.
Suara lembut terdengar, “Siapa…?”
“Aku,” sahutku, “kau pasti mengenal suaraku.”
Terdengar suara helaan napas, seperti nada kegembiraan. Sendiri aku tersenyum di kolong rumah. Angin semilir meniup, rasa sejuk menyelinap sampai ke ujung kuku. Kurapatkan selikap (kain dari bahan belacu yang berfungsi sebagai handuk atau basahan mandi) yang melilit leher.
Seberkas cahaya menembus dinding papan lantai yang berlubang, sinarnya temaram tidak mampu mengusir kelam. Itu pertanda Zuraida menyalakan lampu.
“Abang Ahmad?” terdengar suara lembut menyebut namaku.
“Siapa lagi jika bukan aku.”
“Oh…,” desahnya. Napasnya terhambur dari celah-celah dinding lantai papan rumah. Terasa harum seperti wangi bunga kopi.
“Ada yang sedang kaunantikan selain aku, Adik Zuraida?”
Kecemburuan menghunjam hatiku. Atau barangkali ini suatu pelampiasan rasa kasih yang amat meluap. Kudengar suara tawanya kecil dan halus.
“Tentu saja tidak ada, Abang …”
Mendengar sahutannya itu aku seperti tengah merengkuh gunung emas. Bintang dan bulan sabit terasa lebih benderang. Beberapa saat aku disergap kebisuan. Semilir angin terasa menyengat. Lenguh kerbau dari padang penggembalaan terdengar berbaur dengan rengek jangkerik dan binatang malam dari pepohonan. Suara mendolin teman-teman dari gardu jaga terdengar samar, hilang timbul terbawa angin malam. Bulan sabit sudah menghilang, yang tinggal hanyalah bintang tersenyum abadi di ambang langit. Aku ingin memiliki keabadian seperti bintang. Hadir setiap saat. Jadi petunjuk bagi semua orang, petani dan pelaut. Bagi siapa saja yang ingin merengkuh kenyataan hidup.
“Abang… Abang Ahmad,” bisik Zuraida dari celah lubang lantai. Lagi kuresapi napasnya yang harum. Sepertinya di sengaja menempelkan bibirnya ke celah lubang papan lantai itu.
“Hem...,” desahku dalam keterpanaan, yang tiba-tiba mengoyak kebisuan.
“Aah…, mengapa berdiam diri? Kusangka Abang sudah pergi.”
Hampir tawaku meledak. Bagaimana mungkin aku akan meninggalkan gadis ini begitu saja? Jika mungkin bahkan aku hendak terus berada di kolong rumah ini sampai kapan pun. Hendak terus mendengar suaranya yang lembut dan merdu. Hendak membaui desah napasnya yang harum, sewangi mekar bunga kopi. Ingin juga kulontarkan dalam kata-kata apa yang sedang kurasakan itu. Namun, hati disergap oleh keterharuan yang tidak menentu. Semua yang kupikirkan tidak mampu terlontar dari celah bibir. Helaan napas saja yang mendesah. Suara Zuraida terdengar lagi.
“Ayo, bercerita, Bang!”
Lagi aku disergap oleh keterasingan yang rancu.
“Cerita?”
“Ya.”
Aku terdiam.
Terdengar tawanya lembut, seperti suara hembusan angin menerpa daun bambu, menembus sampai ke relung hati. Lagi aku disergap keterasingan, dirasuki oleh perasaan yang baru kali ini mengharu-biru di dada dan mengoyak seluruh jalur peredaran darah. Dalam hati aku merintih bahwa aku datang bukan untuk bercerita, tetapi untuk bercinta. Malah keterasingan yang kudapat. Mungkinkah rasa asing seperti ini merasuki juga hati Zuraida?
Cerita apa yang akan kukisahkan? Tentang Menak Rio Bedeguh sebagai cikal-bakal suku Abung? Tentang VOC mendirikan benteng Petrus Albertus di Menggala pada abad ke tujuh belas, atau tentang Pulau Kapal Cina dan Pulau Daging di Way Tulangbawang, yang konon menurut legende adalah bekas-bekas penghancuran pasukan Cina ketika hendak menyerang Kerajaan Tulangbawang? Ah, apakah begini kiranya suatu kisah cinta berlanjut? Aku jadi menemui jalan buntu. Ingin lari dari kolong rumah Zuraida ini tetapi terasa terbelenggu.
Zuraida anak ketiga, gadis yang sangat beruntung di kampung kami. Ia sangat cantik dan dari keluarga yang berkedudukan tinggi. Zuraida menjadi bunga kampung.
Dalam memilih gadis, para pemuda terkadang memperhitungkan juga urutan anak keberapa gadis itu. Jika bukan anak perempuan pertama, biasanya akan menjadi pilihan utama. Menurut adat anak lelaki pertama akan menjadi penerus keturunan clan dari ayahnya. Dia akan tetap menempati rumah kerabat sebagai kepala rumah tangga setelah kawin. Sistem perkawinan yang berlaku bagi anak lelaki pertama adalah sistem jujur, si istri ikut dan tinggal bersama suaminya di rumah kerabat sang suami. Tetapi jika orang tua tidak mempunyai anak lelaki pertama maka anak perempuan pertama akan menjadi pewaris keturunan clan dengan sistem perkawinan semenda; yaitu suami akan tinggal di rumah kerabat sang istri. Para pemuda agak kurang suka menjadi semenda.
Aku terkejut oleh sapaan Zuraida.
“Hei, Abang tertidur?”
Aku tersenyum dalam kelam malam yang mulai menurun.
“Tidak, Zur. Aku sedang berpikir-pikir, cerita apa yang akan kusampaikan kepadamu malam ini.”
“Cerita tentang kita, barangkali!”
“Tentang kita?”
“Apakah hubungan kita hanya akan sebatas ini?”
Aku tersentak oleh pertanyaan ini. Sesuatu yang aneh bagi gadis daerahku. Biasanya mereka pasrah, sedia menunggu sampai si kekasih punya kemampuan untuk bersikap. Inilah kelemahanku sebagai lelaki, aku tidak mampu berterus-terang. Seharusnya aku langsung berkata, “Zuraida, aku datang untuk memberitahukan bahwa aku sangat mencintaimu. Dan, kita akan segera mewujudkan cinta ini ke jenjang pernikahan.”
Tetapi, malam ini ketika aku melakukan manjau selep[4] aku masih tetap dalam kehampaan di luar kenyataan dan asing. Kedua celah bibirku terkatup untuk berterus terangan. Padahal ini bukan malam yang pertama kali aku bertandang kepadanya. Namun, malam ini sungguh menyudutkanku. Lingkungan sekitar terasa semakin kelam. Aku belum mengambil sikap, cara apa yang akan kutempuh yang sesuai dengan kondisi sosial keluargaku untuk melaksanakan perkawinan kelak? Meminang? Alangkah berat biayanya dan syarat-syaratnya. Berapa keping emas yang akan diminta orang tuanya kelak dan berapa puluh ekor kerbau harus kusediakan untuk upacara adat? Ada cara yang tidak terlalu memberatkan, yaitu sebambangan[5], kawin lari. Inikah yang akan kutempuh?
Aku benar-benar bingung. Kusiapkan alasan untuk meninggalkan kolong rumah ini, “Zuraida, besok malam aku datang lagi. Sekarang sudah larut.”
Sebelum alasan itu terlontar, Zuraida mendahului, “Sekarang kan belum larut benar. Ayolah ceritakanlah bagaimana kelanjutan hubungan kita ini, Bang. Dulu, ketika kecil kau banyak bicara, mengapa sekarang menjadi pendiam?”
Aku terhempas ke sudut kelam. Dia tahu isi hatiku. Dia mendahului menyerang senjata bumerangku Merintih hatiku. Mengapa aku menjadi bisu, penakut, dan dungu? Aku bagai tercampak dari awan, mengapung ke dalam ruang hampa udara. Bagaikan layang-layang yang putus tali. Akhirnya aku berkata, “Besok kau akan kusurati.”
“Aah,” terdengar desah gadis itu, “Jadi malam ini Abang mau pulang?”
“Ya.”
“Tidak berani bersikap?”
“Besok kau kusurati, Zur!”
Bisu. Tidak terdengar gerak. Juga tidak terdengar desah napas. Yang bersuara hanya angin malam saja membelai rumpun bambu, berdesir layak irama biola yang tengah merintih sendu. Beberapa saat kemudian baru terdengar isak tertahan dari balik dinding lantai. Kucoba untuk lebih dalam memperhatikan suara itu. Benar, suara isak tertahan.
“Zuraida…”
Senyap. Cahaya temaram dari celah lantai dinding papan sirna. Zuraida telah memadamkan lampu.
*
Upacara adat perkawinan yang tengah berlangsung ini adalah upacara adat tertinggi yang disebut hilal batin. Upacara didahului dengan melamar sang gadis, penyampaian jujur[6] dengan uang dan harta benda yang sangat mahal. Harus pula melewati masa pertunangan, barulah dilanjutkan dengan masa pernikahan. Setelah menikah terjadi pula masa perpisahan bagi sang mempelai wanita dari rumpun kerabatnya. Para pemuka adat dari kedua pihak hadir dan ikut dalam upacara yang rumit di muka Balai Adat. Penyembelihan kerbau sebagai syarat utama untuk memberikan gelar kebesaran kepada kedua mempelai atau yang dalam bahasa kami disebut juluk adek. Pada masa lalu upacara semacam ini bisa berlangsung berminggu-minggu di rumah mempelai wanita. Kelak dilanjutkan lagi dengan upacara yang hampir sama di rumah mempelai laki-laki.
Pada hari ini kami sebagai sepasang pengantin tengah melakukan upacara adat tersebut. Kami akan menerima juluk adek. Berpuluh-puluh kerbau telah disembelih, beratus-ratus ayam dan ikan menjadi korban upacara ini. Para kerabat dan handai tolan dengan sepenuh hati membantu terselenggaranya upacara ini. Betapa besarnya pengorbanan-pengorbanan ini. Betapa agungnya keluhuran sifat gotong-royong suku kami; namun, juga tidak terhingga besarnya biaya yang telah dikeluarkan oleh orang tua kami untuk upacara seperti ini.
Di hadapan kami, tampak wajah para lelaki tua yang kami agungkan yang disebut tuhou rajo tersenyum bangga. Kerut wajah ketuaan mereka mencerminkan adat, yang berhak memutuskan suatu ketentuan berdasarkan hasil musyawarah dan mufakat. Anggota-anggota tuho rajo adalah orang yang terpandang dalam rumpun keluarga masing-masing.
Lalu, tampak bayangan wajah ibu-ibu yang lembut. Mereka adalah bebai mirul, yaitu kelomppok istri para tetua adat dan tuhou rajo. Betapa besar andil mereka dalam melaksanakan upacara adat perkawinan hilal batin ini. Para ibu-ibu itu mengatur kelomppok wanita menurut jenjang kedudukan para suami di dalam rumpun adat masing-masing. Mereka menyiapkan makanan dan minuman.
Para ibu-ibu ini dalam menyiapkan segalanya dibantu oleh kaum lelaki dari pihak ipar atau suami dari saudara perempuan mereka yang disebut lakau mengiyan. Di pihak lain kaum muda-mudi yang disebut muli-meranai ikut pula andil dalam upacara ini. Mererka menyiapkan keperluan pesta dan menyelenggarakan acara kesenian, berupa tarian dan lagu-lagu. Masih banyak lagi kelomppok kekerabatan lainnya yang ikut andil dalam penyelengaraan acara besar ini, mereka adalah adek warei, yaitu adik-adik seketurunan menurut garis lelaki. Bersama-sama dengan apak kemaman, yaitu adik ayah atau kelompok kerabat lelaki yang ditarik dari garis keturunan ayah. Mereka berhak mewakili kepentingan kemenakan dalam acara adat ini.
Adek warei mempunyai kelebihan hak bahwa mereka dapat menjadi pengganti kakak lelakinya yang terputus keturunan. Misalnya, apabila kakak lelakinya meninggal dunia, adek warei berhak mengawini istri kakaknya demi kelanjutan keturunan kekerabatan. Perkawinan serupa ini disebut kawin anggou.
Masih ada lagi kelompok saudara lelaki dari ayah dan ibu. Mereka disebut lebuw kelamou. Dalam upacara adat mereka sangat dihormati, mereka bertindak sebagai penasihat; tetapi tidak mempunyai hak suara untuk menentukan putusan dalam adat.
Beratus-ratus orang lain tampak juga ikut mengiringi upacara ini, mereka adalah sanak saudara sekampung yang menurut istilah Lampung disebut bebai sanak, lelaki dan perempuan semua dalam wajah ceria dan tulus.
Di depan Balai Adat, jepana[7] diturunkan. Perlahan-lahan kami berdiri, lalu melangkah turun. Iringan gung dan kelintang terus bertalu-talu. Di luar lawang kuri[8] sesekali terdengar suara tembakan kehormatan. Dari bawah anak tangga anjung telah dihampar kain putih yang menurut istilah adat disebut titian kuya. Hamparan kain putih ini sebagai alas kami berjalan menuju ke Balai Adat. Mereka yang bukan kerabat adat tidak berhak berjalan di atas titian kuya ini. Perlahan-lahan aku melangkah, mengiringi langkah Zuraida yang lambat karena kainnya ketat. Aku merasa sangat lelah. Kupiah emas di kepala terasa berat. Zuraida tetap tersenyum. Wajahnya teramat lembut dan menawan.
Kami duduk di puwade. Di atas kepala kami, setinggi setengah meter, tergantung patung garuda yang terbuat dari kertas berangka bambu. Paruhnya menggigit bulatan buah perak. Matanya memancarkan api misteriurs, menghunjam ke arahku.
Tiba-tiba gong dan kelintang berhenti. Suasana menjadi hening, kesenyapan mencekam. Seorang tua kelompok tuho rajo berdiri. Dengan suara serak ia mengoyak kebisuan. Suara itu bagai gelegar guntur, hikmat, dan berwibawa. Dia mengumumkan tentang juluk adek untuk kami dengan segala kebesaran dan harkat pemerintahan kekerabatan kami. Setelah selesai, tetabuhan berbunyi lagi. Terdengar lebih hikmat dan ritual.
Di halanan, di bawah anjung Balai Adat beberapa orang tua sedang menari tegel atau tari perang. Gerak mereka kasar, penuh ritme keperwiraan seorang perajurit. Sesekali si penari berteriak, tepat pada saat gung dan kelintang jedah. Teriakan mereka bernada mistis dan animis. Sebuah kepala kambing yang sudah mengering ditendang-tendang. Konon, pada zaman dahulu adalah kepala orang yang ditendang-tendang. Kepala seorang musuh yang terbunuh oleh calon mempelai lelaki menjelang saat perkawinan dan itu merupakan keharusan. Kini tidak lagi ada keharusan demikian, sebagai gantinya kami hanya mempersembahkan kepala seekor kambing.
Usai upacara tarian, tibalah puncak upacara, yaitu turun duway, atau pembersihan dosa. Kami diiring ke sebuah bangunan lunjuk kecil yang berbentuk mahkota, bangunan ini disebut pecah aji. Di sini kami menerima makanan, kemudian beberapa orang menyuapkan ke mulut kami. Kami juga saling menyuapkan. Pada acara ini terdengar suara tawa dan sorak-sorai ibu-ibu, para gadis, dan kaum muda. Suara tetabuhan semakin gairah, seperti api yang tersiram minyak, berkobar-kobar dahsyat. Upacara ini amat menggembirakan bagi semua kerabat sebab mereka bisa memperolok-olok mempelai dengan menyuapkan makanan. Bagiku sangat menjemukan. Barulah hatiku lega ketika semua orang surut ke belakang, upacara terakhir ini usai.
Gung dan kelintang berubah nada, lembut dan misterius. Aku seperti terserap ke dalam gema gua yang lengang. Tangan Zuraida kugenggam. Aneh, semuanya menjadi gelap, tidak nampak orang ramai, hanya suara gung dan kelintang terdengar semayup dan menjauh, hilang timbul. Di hadapan kami seberkas cahaya obor menyala dan nyalanya bertambah besar serempak dengan gemuruh suara gung dan kelintang yang serta-merta terdengar sangat dekat, seperti berada di depan telinga. Terdengar pula suara riuh, tawa bercampur dengan teriakan dan sorak-sorai tak menentu. Tiba-tiba obor itu terlempar ke arah wajahku. Aku mengelak sambil menutup wajah dengan kedua tangan; namun, rasa panas menyengat seperti membakar kulit wajah. Aku menjerit. Tenggorokanku tersumbat, jeritanku tertahan, tidak mampu keluar. Kugeliatkan tubuh yang terasa amat penat. Mataku nyalang. Yang tampak ialah dinding papan berwarna kusam. Berkas-berkas cahaya matahari pagi menyengat kulit wajah. Suara-suara riuh anak-anak di kolong rumah sambil menabuh kaleng.
Hari telah pagi dan aku terbangun dari mimpi.
***
Kalianda, 30-10-2005
[1] Mahkota
[2] Bulan sabit
[3] Tenunan khas daerah Lampung
[4] Adat bertandang ke rumah seorang gadis secara sembunyi-sembunyi
[5] Adat kawin lari, gadis dibawa ke rumah lelaki kemudian diberitahukan kepada keluarga perempuan
[6] Pinangan/lamaran
[7] Tandu pengantin
[8] Gerbang Balai Adat
9.23.2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
4 komentar:
Ass. Papih.
Ini Deddy (Bogor). Wah udah jadi blogger nih. Btw, terima kasih atas bukunya.
Deddy
http://iswarade.wordpress.com
http://wss-id.org/blogs/iswarade
Oh iya lupa deh...
Minal Aidin Walfa Idzin, Mohon Maaf Lahir Batin untuk semua keluarga di Ciputat. Maaf belum sempat maen ke Ciputat.
Deddy.
om Andy,
Salam kenal. Saya pernah baca karya om Andy saat SD di awal 80an di Talang Padang. Tau2 pas jalan ke Balai Pustaka di Gn Sahari ketemu buku "Songket Kenangan". Sejauh ini kayaknya om Andy satu dari sedikit pengarang yang karyanya ada di setting Lampung ya.
Insya Allah tetap sellau dikaruniai kesehatan supaya bisa terus berkarya.
redfajar.blogspot.com
Assalamu 'alaikum Pak Andy Wasis...
Saya menemukan blog ini ketika mengetik di google untuk mencari buku-buku lawas (cerita anak) yang dijual. Banyak karya Bapak yang saya sukai, ketika masa kecil saya. Saya lahir 1979.
Karya yang monumental bagi saya salah satunya adalah "Ketika Panen Kopi Tiba". penerbit Karya Indah. Sangat berkesan dan sangat berpengaruh pada saya. Baik dulu ataupun sekarang ini. Setiap mengenang masa kecil, tak luput terkenang buku ini. Masuk 10 besar buku terbaik sepanjang masa yang pernah saya baca. Dan Alhamdulillah saya telah menemukan (punya) buku tersebut setelah lama mencari. Sulit sekali mencari karya-karya Bapak di lapak buku lawas.
Posting Komentar