masih jauh perjalanan
tubuh terkulai
tapi hasrat di hati
lekat pada tujuan
melati terserak di tanah basah
menaungi jasad kejang beku
tergeletak diam di lahat bisu
jiwa saja yang meneruskan langkah
menuju ujung teramat jauh
melewati onak di pangkal labuh
sakit dan senang Dia tentukan
langkah barulah berarti
bila telah mencapai tepi
marak kepada-Mu ya Rabbi
12.22.2008
9.03.2008
RAMADHAN
Ramadhan
Bulan pembakaran
Pencerah iman dan taqwa keabadian
Ramadhan
Bulan wajib puasa
bagi orang-orang yang percaya
Hai orang-orang yang beriman
wajib atas kamu berpuasa
seperti telah diwajibkan
kepada orang-orang terdahulu
supaya kamu bertaqwa
Ramadah
bulan diturunkan-Nya Al-qur-an
petunjuk maha adil
penjelas
bagi yang hak dan bathil
(Dari Surat Al-Baqarah 183 da184)
Bulan pembakaran
Pencerah iman dan taqwa keabadian
Ramadhan
Bulan wajib puasa
bagi orang-orang yang percaya
Hai orang-orang yang beriman
wajib atas kamu berpuasa
seperti telah diwajibkan
kepada orang-orang terdahulu
supaya kamu bertaqwa
Ramadah
bulan diturunkan-Nya Al-qur-an
petunjuk maha adil
penjelas
bagi yang hak dan bathil
(Dari Surat Al-Baqarah 183 da184)
6.20.2008
Gadis Desa Merambung
Gadis Desa Merambung adalah judul novel saya yang akan segera terbit. Diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Ilmu Semarang. Novel ini berkisah tentang keuletan, ketekunan, dan kesetiaan seorang gadis desa kecil Merambung. Merambung adalah sebuah desa di Kalianda Lampung Selatan. Desa ini berada di lereng Gunung Rajabasa, gunung berapi yang sudah padam. Dipilih oleh saya sebagai setting cerita karena desa ini unik. Penduduknya kebanyakan adalah keturunan orang Banten yang bermigrasi ke sana sekitar abad ke-17 pada saat terjadi pergolakan Radin Intan melawan pemerintahan kolonial Belanda. Mereka membantu orang-orng Lampung melawan Belanda.
Gadis Desa Merambung berkisah tentang seorang gadis yang ketika di desa terjadi paceklik akibat kemarau panjang mencoba merantau ke kota. Pacarnya sudah melarang, tetapi ia bersikukuh akan pergi. Ia pergi bersama temannya. Oleh temannya dia dijebloskan ke daerah hitam. Beruntung dia bisa melarikan diri. Dibantu oleh seorang polisi yang kebetulan satu daerah ia bisa pulang ke desanya kembali. Ketika sampai di desa, ia tidak menemukan pacarnya. Sang pacar pergi dari desa karena kecewa ditinggal kekasih. Gadis desa itu bersabar menanti kekasihnya kembali.
Sementar sang kekasih juga terdampar di kota. Karena tidak berpendidikan ia bekerja sebagai kuli angkut di sebuah setasiun kereta. Ia tinggal di gubuk-gubuk liar di pinggiran rel. Bergaul dengan wanita-wanita gelandangan.Kemudian saling jatuh cinta. Mereka hidup bersama.
Malang, gubuk-gubuk liar itu dibongkar oleh Kamtib, para gelandang ditangkapi. Saat terjadi pembongkaran dan razia, si lelaki sedang tidak berada di tempat.Ketika ia pulang, ia tidak menemukan tempat tinggalnya, tidak juga menemukan kekasih teman hidup bersamanya.
Dalam keadaan putus asa dia bersua dengan orang sekampung. Orang itu menyampaikan keadaan kampungnya dan kekasihnya. Ternyata kekasihnya tidak jadi bekerja di kota dan sampai sekarang masih setia menunggu. Temannya meminta agar dia pulang. Lelaki ini pulang. Bersua lagi dengan pacar lama. Mereka menikah. Saat bulan madu, di suatu pasar ia bersua dengan teman hidup bersamanya dulu di kota saat dia menjadi gelandangan. Bagaimanakah kelanjutan ceritanya? Bacalah nanti di novelnya. Pasti menarik. Karena ditulis dengan bahasa yang baik, penuturan yang lugas, dan konfliknya sangat menarik.
Selamat membaca!
Gadis Desa Merambung berkisah tentang seorang gadis yang ketika di desa terjadi paceklik akibat kemarau panjang mencoba merantau ke kota. Pacarnya sudah melarang, tetapi ia bersikukuh akan pergi. Ia pergi bersama temannya. Oleh temannya dia dijebloskan ke daerah hitam. Beruntung dia bisa melarikan diri. Dibantu oleh seorang polisi yang kebetulan satu daerah ia bisa pulang ke desanya kembali. Ketika sampai di desa, ia tidak menemukan pacarnya. Sang pacar pergi dari desa karena kecewa ditinggal kekasih. Gadis desa itu bersabar menanti kekasihnya kembali.
Sementar sang kekasih juga terdampar di kota. Karena tidak berpendidikan ia bekerja sebagai kuli angkut di sebuah setasiun kereta. Ia tinggal di gubuk-gubuk liar di pinggiran rel. Bergaul dengan wanita-wanita gelandangan.Kemudian saling jatuh cinta. Mereka hidup bersama.
Malang, gubuk-gubuk liar itu dibongkar oleh Kamtib, para gelandang ditangkapi. Saat terjadi pembongkaran dan razia, si lelaki sedang tidak berada di tempat.Ketika ia pulang, ia tidak menemukan tempat tinggalnya, tidak juga menemukan kekasih teman hidup bersamanya.
Dalam keadaan putus asa dia bersua dengan orang sekampung. Orang itu menyampaikan keadaan kampungnya dan kekasihnya. Ternyata kekasihnya tidak jadi bekerja di kota dan sampai sekarang masih setia menunggu. Temannya meminta agar dia pulang. Lelaki ini pulang. Bersua lagi dengan pacar lama. Mereka menikah. Saat bulan madu, di suatu pasar ia bersua dengan teman hidup bersamanya dulu di kota saat dia menjadi gelandangan. Bagaimanakah kelanjutan ceritanya? Bacalah nanti di novelnya. Pasti menarik. Karena ditulis dengan bahasa yang baik, penuturan yang lugas, dan konfliknya sangat menarik.
Selamat membaca!
5.10.2008
PERAWAN MARYAM
1.
Perempuan lugu setengah baya itu
melangkah tegar
kandungannya telah mendekati bulan kelahiran
dia memang sangat mendambakan kehadiran buah cinta
seorang anak lelaki
penerus generasi
dari lelaki pilihan Tuhan
Imran
dengan wajah ceria dia berdoa,
“Ya, Tuhanku
anak dalam kandunganku ini
adalah nazarku kepada-Mu
jadikanlah dia hamba
yang taat hanya kepada Engkau
Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”
namun, dari rahim perempuan lugu itu
lahir seorang anak perempuan
tak ada sesal, tiada kesal
perempuan itu tetap berserah diri
“Terima kasih,Tuhanku
dia adalah pilihanmu
kunamakan anak ini Maryam
aku mohon kepada-Mu
perlindungan bagi keturunannya.”
Tuhan melindungi dan mendidik
perawan Maryam
Dia menentukan pengasuhnya
Zakaria sang paman
pemelihara Baitul Magdis
Setiap kali Zakaria menemui Maryam di migrab
di sisinya senantiasa tersedia
berbagai penganan
Zakaria bertanya,
“Dari mana kau dapat makanan itu?”
Ramah perawan Maryam menjawab,
“Dari Allah.
Dia memberi rezeki
kepada siapa saja yang dikehendaki.”
2.
Ketika Maryam mulai beranjak remaja
Jibril datang dan berkata,
“Hai Maryam
Allah memilihmu,
mensucikan dan melebihkanmu
dari perempuan-perempuan lain di alam ini
Patuhlah pada Tuhanmu
sujud dan ruku
bersama orang-orang yang ruku.”
Beberapa masa kemudian
Jibril muncul lagi di hadapan Maryam
Mariam takzim memberi salam,
“Salam ya Malaikat Tuhan
pesan apa gerangan yang hendak kausampaikan?”
Lembut Jibril berujar,
“Ya, Maryam aku membawa seruan Tuhan
Allah memberi kabar gembira kepadamu
Engkau akan memperoleh putra
Almasih - si pengembara.
Isa putra Maryam
yang kelak menjadi orang terkemuka
di dunia dan akhirat
menjadi salah seorang dari mereka
yang dekat kepada Allah
dia dapat bercakap-cakap
sejak masih dalam buaian
dia merupakan salah seorang di antara
orang-orang saleh.”
Maryam terpana,
runduk bertanya,
“Ya Tuhanku
akankah aku memperoleh anak
sebelum ada lelaki yang menyentuhku?”
Begitulah Allah
menciptakan yang dikehendaki-Nya
Apabila Dia memutuskan sesuatu
Dia hanya cukup berkata “jadilah”
maka jadilah dia
Allah akan mengajarkan kepada Isa
kitab, hikmah, Taurat, dan Injil
dia akan menjadi rasul Bani Israil
3.
Perawan Maryam mengandung
Hatinya cemas dan gelisah
pergunjingan bakal menghadang
dia mengasingkan diri
ke tempat nun jauh
jauh sekali
tiba saat melahirkan
dia bernaung di bawah sebatang pohon kurma
hati gundah, perasaan resah
Maryam mengeluh;
“Alangkah baik jika aku mati saja
dengan begitu aku ‘kan terlupakan
sirna dari kaum dan kerabat.”
Suara Jibril menggema
“Maryam, jangan engkau berduka
Tuhan telah menjadikan anak sungai di depanmu!
Goyangkanlah pohon kurma itu
buah kurma masak
akan berjatuhan di hadapanmu
makan, minum, dan bergembiralah!”
was-was dan cemas menghujam di hati,
“Bagaimana kelak aku menghyadapi
kaum dan kerabat?”
getar suara Jibril,
lembut
penyejuk gundah hati,
“Jika kelak engkau bertemu seseorang
katakan,
Aku telah berjanji kepada Allah
berpuasa pada hari ini
tak ingin bercakap dengan siapa pun!”
Dari rahim perawan Maryam
lahirlah sesosok lelaki kecil
sehat, rupawan, berwajah menawan
Maryam menggendongnya
penuh kasih dan sayang
membawa lelaki kecil itu kepada kaumnya
Kaumnya terkejut menyaksikan
bayi dalam dekapan Maryam
sak dan prasangka menghujam
“Engkau telah membuat perkara
dalam kaum kita
Tahukah engkau, wahai saudara perempuan Harun
ayahmu bukan lelaki jahat
ibumu tak pernah berbuat laknat
anak siapa gerangan dalam dukunganmu?”
Maryam memberi isyarat
agar kaumnya bertanya
kepada bayi dalam rengkuhan
tak yakin mereka,
”Bertanya kepada bayi
mampukah dia berbicara?”
Tiba-tiba
Bayi dalam gendongan Maryam menyahut
membuat kerabat terkejut,
“Sesungguhnya
aku adalah hamba Allah
Allah memberiku kitab
menjadikan aku seorang Nabi
Allah memberkati aku di mana aku berada
Dia memerintahkan aku salat dan zakat
berbuat baik kepada ibu sepanjang hayat
Allah tidak mejadikan aku congkak dan celaka
Keselamatan atasku pada hari dilahirkan,
wafat, dan dibangkitkan
Sesungguhnya Allah
adalah Tuhanku
dan Tuhan kamu
Sembahlah Dia
Inilah jalan yang lurus!”
Allah menjadikan
putera Maryam dan ibunya
sebagai tanda kekuasaan-Nya
2007
(Sumber QS : Ali Imran, Maryam dan Al-Mukminun)
Perempuan lugu setengah baya itu
melangkah tegar
kandungannya telah mendekati bulan kelahiran
dia memang sangat mendambakan kehadiran buah cinta
seorang anak lelaki
penerus generasi
dari lelaki pilihan Tuhan
Imran
dengan wajah ceria dia berdoa,
“Ya, Tuhanku
anak dalam kandunganku ini
adalah nazarku kepada-Mu
jadikanlah dia hamba
yang taat hanya kepada Engkau
Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”
namun, dari rahim perempuan lugu itu
lahir seorang anak perempuan
tak ada sesal, tiada kesal
perempuan itu tetap berserah diri
“Terima kasih,Tuhanku
dia adalah pilihanmu
kunamakan anak ini Maryam
aku mohon kepada-Mu
perlindungan bagi keturunannya.”
Tuhan melindungi dan mendidik
perawan Maryam
Dia menentukan pengasuhnya
Zakaria sang paman
pemelihara Baitul Magdis
Setiap kali Zakaria menemui Maryam di migrab
di sisinya senantiasa tersedia
berbagai penganan
Zakaria bertanya,
“Dari mana kau dapat makanan itu?”
Ramah perawan Maryam menjawab,
“Dari Allah.
Dia memberi rezeki
kepada siapa saja yang dikehendaki.”
2.
Ketika Maryam mulai beranjak remaja
Jibril datang dan berkata,
“Hai Maryam
Allah memilihmu,
mensucikan dan melebihkanmu
dari perempuan-perempuan lain di alam ini
Patuhlah pada Tuhanmu
sujud dan ruku
bersama orang-orang yang ruku.”
Beberapa masa kemudian
Jibril muncul lagi di hadapan Maryam
Mariam takzim memberi salam,
“Salam ya Malaikat Tuhan
pesan apa gerangan yang hendak kausampaikan?”
Lembut Jibril berujar,
“Ya, Maryam aku membawa seruan Tuhan
Allah memberi kabar gembira kepadamu
Engkau akan memperoleh putra
Almasih - si pengembara.
Isa putra Maryam
yang kelak menjadi orang terkemuka
di dunia dan akhirat
menjadi salah seorang dari mereka
yang dekat kepada Allah
dia dapat bercakap-cakap
sejak masih dalam buaian
dia merupakan salah seorang di antara
orang-orang saleh.”
Maryam terpana,
runduk bertanya,
“Ya Tuhanku
akankah aku memperoleh anak
sebelum ada lelaki yang menyentuhku?”
Begitulah Allah
menciptakan yang dikehendaki-Nya
Apabila Dia memutuskan sesuatu
Dia hanya cukup berkata “jadilah”
maka jadilah dia
Allah akan mengajarkan kepada Isa
kitab, hikmah, Taurat, dan Injil
dia akan menjadi rasul Bani Israil
3.
Perawan Maryam mengandung
Hatinya cemas dan gelisah
pergunjingan bakal menghadang
dia mengasingkan diri
ke tempat nun jauh
jauh sekali
tiba saat melahirkan
dia bernaung di bawah sebatang pohon kurma
hati gundah, perasaan resah
Maryam mengeluh;
“Alangkah baik jika aku mati saja
dengan begitu aku ‘kan terlupakan
sirna dari kaum dan kerabat.”
Suara Jibril menggema
“Maryam, jangan engkau berduka
Tuhan telah menjadikan anak sungai di depanmu!
Goyangkanlah pohon kurma itu
buah kurma masak
akan berjatuhan di hadapanmu
makan, minum, dan bergembiralah!”
was-was dan cemas menghujam di hati,
“Bagaimana kelak aku menghyadapi
kaum dan kerabat?”
getar suara Jibril,
lembut
penyejuk gundah hati,
“Jika kelak engkau bertemu seseorang
katakan,
Aku telah berjanji kepada Allah
berpuasa pada hari ini
tak ingin bercakap dengan siapa pun!”
Dari rahim perawan Maryam
lahirlah sesosok lelaki kecil
sehat, rupawan, berwajah menawan
Maryam menggendongnya
penuh kasih dan sayang
membawa lelaki kecil itu kepada kaumnya
Kaumnya terkejut menyaksikan
bayi dalam dekapan Maryam
sak dan prasangka menghujam
“Engkau telah membuat perkara
dalam kaum kita
Tahukah engkau, wahai saudara perempuan Harun
ayahmu bukan lelaki jahat
ibumu tak pernah berbuat laknat
anak siapa gerangan dalam dukunganmu?”
Maryam memberi isyarat
agar kaumnya bertanya
kepada bayi dalam rengkuhan
tak yakin mereka,
”Bertanya kepada bayi
mampukah dia berbicara?”
Tiba-tiba
Bayi dalam gendongan Maryam menyahut
membuat kerabat terkejut,
“Sesungguhnya
aku adalah hamba Allah
Allah memberiku kitab
menjadikan aku seorang Nabi
Allah memberkati aku di mana aku berada
Dia memerintahkan aku salat dan zakat
berbuat baik kepada ibu sepanjang hayat
Allah tidak mejadikan aku congkak dan celaka
Keselamatan atasku pada hari dilahirkan,
wafat, dan dibangkitkan
Sesungguhnya Allah
adalah Tuhanku
dan Tuhan kamu
Sembahlah Dia
Inilah jalan yang lurus!”
Allah menjadikan
putera Maryam dan ibunya
sebagai tanda kekuasaan-Nya
2007
(Sumber QS : Ali Imran, Maryam dan Al-Mukminun)
4.29.2008
BIDUK DI ALUR LAUT BIRU
1.
sepasang pengantin remaja
insan pilihan dan dambaan
saat mentari pagi cemerlang
langit cerah hari itu
walau kala musim penghujan
Februari, sepuluh, lima delapan
turun ke tepian
menaiki biduk menuju samudera
alangkah indah alam
alangkah ramah laut
biru mengundang
arungi sampai jauh tanpa batas
camar melayang mencanda bayu
merasuk hati Jaka mendorong biduk
menempuh riak warna perak ayu
kecil, lembut, mengakrabi
“Ayo, naik!”
Dara berdiri di haluan
senyum menyapa
Jaka naik ke biduk
menghampar layar
angin menerpa layar meregang
“hooiii biduk melaju!”
Dara riang berteriak dari haluan
jaka melambaikan tangan
puluhan camar mencanda layar
iringi sepasang mempelai
melaju sedesah angin
ke arah jauh laut impian
Dara dan Jaka
berdiri di buritan
memandang ke tepian
pada kerumunan banyak orang,
ibu, bibi, adik, paman, dan teman
Dara berkata
getar suaranya,
“Lihat mereka mengantar kita,
ibu, sanak saudara, kerabat,
dan sahabat!”
hati dilanda alun gelombang sendu
Dara dan Jaka terdiam
sebersit teriakan memecah kebisuan,
“Selamat jalan! Menempuh
pahit manis kehidupan!”
Dara dan Jaka membalas
lambaikan tangan,
“Selamat tinggal semua,
kami berdua mencari hakikat hidup
di samudera yang belum punya kepastian!”
angin berhembus
camar semakin tertinggal
layar bertambah kembang
biduk menjauh
tepian tak tersawang
tersaput samar kabut melayang
samudera terhampar
biru melingkar
asing
“Berdua saja kita,”
suara Dara melantun ragu
menyadari tak ada sesiapa
cuma laut dan gelombang
menghadang keluasan
yang tak tersentuh pandang
“Jangan resah, Dara
senyumlah sambut keluasan laut biru
inilah hakikat hidup yang kita cari
sejak kita jumpa
sampai kita rekat berdua.
Bukankah ini yang kita citakan?
laut mendukung gairah kehidupan
menghantar nyanyian menerjang riak.
insan ditakdirkan berpasangan
seperti Firman-Nya,
...di antara tanda-tanda
kekuasaan-Nya; diciptakan
pasangan hidup untukmu,
agar hatimu tenang dan
bangkit kasih-sayang...”
(30:21)
Dara senyum
rasa riang terbersit dalam di hati
benarkah aku
tulang rusuknya yang hilang?
2.
ketika malam turun
kelam menerpa
bintang-bintang jauh ramah menyapa
menebar cahaya samar
pada laut biru yang pekat
angin mati
layar terkulai lesu
laut masih ramah
riak menyeret biduk tanpa arah
di buritan Jaka dan Dara duduk pasrah
Dara meratap,
“Apa lagi yang bakal kita hadapi,
selain pekat seperti ini?”
“kata orang-orang tua dahulu,
laut tak mudah diduga
kadang mencanda ramah
tetapi sesekali akan datang
badai dan gemulung ombak..”
Suara Dara lirih,
“Jangan menakuti.”
“Tidak. Dan kita tidak akan
berpantang surut, bukan?”
Dalam pekat malam
senyum Dara terkulum
tegar dia berujar,
“Kita akan terus mengarung laut,
tak boleh ke belakang kita surut .
Aku akan berdoa kepada Tuhan.
Kata Tuhan,
...sesungguhnya Aku dekat,
akan Ku-perkenankan
permohonan mereka
apabila kepada-Ku mereka berdoa .”
“Ya, kamu benar, Dara,
hanya kepada Allah kita
menyembah, dan kepada-Nya
kita meminta tolong.”
tiba-tiba
berkilau sinar agung di angkasa
bagai permata memeluk persada
Jaka merintih dalam kesunyian sukma,
“Sarat beban yang kita emban
benih kita tebar, siapakah
bakal memetik buahnya?”
Dara merengkuh Jaka amat mesra
“Yang bakal memanen anggur
pusaka silam yang kita tanam
anak dan keturunan,
paduan darahmu dan darahku!”
3.
saat fajar memancar di suatu hari
pada awal ketigapuluh enam purnama
gadis kecil terlelap di lunas biduk
mengulum senyum
bercadar selubung hati
“Ooii Jaka,
lihatlah buah cinta
tersenyum menebar bahagia!”
“Ya,” balas Jaka dari haluan,
“tapi, lihat nun jauh di sana
awan pekat menggulung
bayu mendesah seru,
laut tak ramah mulai menghadang!”
Suara Dara membersit tegar,
“Jangan menyerah. Pastikan tujuan
ke satu arah!”
nun, dari jauh angin menderu
kencang membawa riak gemulung
menerpa sisi biduk limbung
Jaka menggulung layar
Dara menggagas haluan
gadis kecil yang terbaring di lunas
menebar tembang menating kenangan
menghapus rasa ketakutan
lelah bukan alang-kepalang
tetapi segera sirna
manakala di langit pekat
tiba-tiba bulan sabit seakan melekat
laut ramah mesra mencanda
Jaka menghela napas
suaranya lemah mendesau sesal,
“Masih adakah gemulung ombak
yang lebih ganas?”
Dara menghampiri
duduk dengan pandang menerawang
jauh ke ujung yang tak tersawang
dia bicara penuh asa,
“Katamu laut tak bisa diduga, tapi
kita akan mampu mengarunginya.
Ingat firman Tuhan,
... Kami meringankan beban
yang memberati punggungmu,
sesungguhnya
beserta kesukaran ada kemudahan,
beserta kesukaran ada kemudahan,
oleh karena itu,
apabila telah usai satu urusan
kerjakanlah urusan lain bersungguh- sungguh
kepada Tuhan hendaknya berharap.”
(94: 2-8)
4.
sudah lama nian
hamparan samudera penuh bahaya
diarungi bersama
pulau-pulau bertebing terjal di lewati
amukan badai dan taufan dihadapi
lilitan lapar dera dahaga dirasa bersama
jarak tempuh yang jauh telah dilampaui
santapan mewah pesta pengantin
tinggal kenangan yang sirna
air hampir menyentuh sisi biduk
muatan bertambah sarat
sepuluh anak-anak di atasnya
tapi, bagai tanduk rusa
berpuluh cabang di kepala
tubuh si induk tak limbung
tidak merasa terberati
tetap riang mereka
mengarungi laut tak berbatas
mereka bernasihat
kepada sepuluh anak,
“Walau kita dipisah samudera dan
benua, kita tetap sepelayaran
ke puncak tujuan yang suci!
Anak-anakku
tuturkan mutiara asli
dalam kesederhanaan kata-kata,
hindari kepalsuan
pada perbuatan apa pun jua.
Dengarkan tembang kebenaran
seperti mendengar kidung musim semi
tapi bila kaudengar suara si pengecam
dan si pencari kesalahan
tutup telingamu
hingga tuli sampai tulang-belulang
dan lemparkan sejauh khayalan
yang terbang!
ada orang-orang lidahnya berbisa
beri madu kepadanya
sebagai ganti kata-kata
ada orang bertanduk duri
berikan mahkota untaian melati
ada orang berkuku runcing
pencakar dan penggugah gunjing
berikan kepadanya mawar merah
pengganti jemarinya
akan kalian temui
orang pincang yang rela menjual
tongkat penopang
orang buta yang rela melepas pegangan
tempat bergayut
akan kautemui juga
orang kaya bersila menadah derma
berikanlah sedekah kepadanya
karena mereka
termiskin dari yang papa
Ingat
dan lakukan ini
jangan sudi menadah tangan
menanti runtuhnya iba
kalau tidak sungguh terpaksa
memberi yang kami ajarkan
menerima jerih karena pekerjaan
bukan penolakan
melainkan pemenuhan
dan bukan penyerahan
tetapi pengertian disertai maklum
yang terkulum di bibir senyum.
jangan bentangkan jarak di antaramu
pupuk perasaan persahabatan
memang perbedaan lebih lebar
dari yang terpancang
tetapi selalu ada ruang untuk pulang
yaitu keluarga
bukankah kalian dari satu tetes
darah ayah dan bunda
kami pun tak mengajar kebisuan
kami ajarkan nyanyian
selaras tak lepas arah!”
5.
anak-anak telah belia
biduk bertambah sarat
oleng walau tertimpa riak semilir
“Ayo, Dara!
telah tiba waktunya
kita singgah ke gosong pasir
ajari juga mereka
berbiduk ke lepas samudera
menyelesaikan cita kita
yang tak pernah tergapai!”
6.
telah jauh berlayar
biduk mulai rapuh
layar pekat debu dan lumut laut
sudah lima dasa warsa kini
kidung bintang hanya dalam mimpi
sirna lagi dikala jaga
Jaka dan Dara pun mulai rapuh
hanya tegar semangat
setegar karang pemagar samudera
“Ayo, kita terus berlayar
sampai ke batas kematian,
hidup akan langgeng di sana!”
“Tapi, di manakah batas kematian?”
suara Dara lirih bintang pudar
Jaka memayungi kedua mata dengan
jemari tangan
pandangannya menerawang
jauh ke depan
“Di sana tampak samar tepian
segaris cakrawala
itulah batas kematian
tempat akhir tujuan.”
lirih suara Dara
menghempas riak di sisi biduk,
rindu menghadang di dada,
“Gulung dulu layar,
perlambatlah biduk berlayar
aku ingin menyawang
ke biduk-biduk yang kita tinggalkan!”
Nun di batas kaki langit lain
jauh tertinggal di belakang
layar-layar biduk seperti titik
merpati putih terbang menembus
alur cakrawala
“Mereka jauh nun di sana
dalam perjalanan kembara arungi laut
Biarkan mereka raih manis madu
di alur pucuk-pucuk pepohonan
kala hujan menari di dedaunan
bagai restu dan hikmat dalam lembah.”
Lirih lagi Dara bertanya,
“Tapi adakah bekal kita
untuk mencapai tepian sana?”
“Ada Dara, ada bekal kita, yaitu
taqwa kepada Sang Pencipta!”
Ditatapnya lelaki di hadapannya itu
tembang sendu meluncur di hati,
“sudah rapuh kini dia
tak seperkasa awal mendorong biduk
dari tepian dulu, cuma jiwa dan
semangat yang tetap tegar.”
Jaka merengkuhnya
jemarinya lembut menerpa
bak sebungkah embun pagi hari
senyum di bibir Dara terkulum
“Ayo, teruskan pelayaran
sampai batas akhir tujuan!”
biduk yang sudah rapuh
dan kain layar lusuh
melaju membelah laut biru
menembus kabut awan beriringan
sampai gumpalan rindu disentuh
tangan Tuhan ....
Ciputat, Medio Agustus 2007
sepasang pengantin remaja
insan pilihan dan dambaan
saat mentari pagi cemerlang
langit cerah hari itu
walau kala musim penghujan
Februari, sepuluh, lima delapan
turun ke tepian
menaiki biduk menuju samudera
alangkah indah alam
alangkah ramah laut
biru mengundang
arungi sampai jauh tanpa batas
camar melayang mencanda bayu
merasuk hati Jaka mendorong biduk
menempuh riak warna perak ayu
kecil, lembut, mengakrabi
“Ayo, naik!”
Dara berdiri di haluan
senyum menyapa
Jaka naik ke biduk
menghampar layar
angin menerpa layar meregang
“hooiii biduk melaju!”
Dara riang berteriak dari haluan
jaka melambaikan tangan
puluhan camar mencanda layar
iringi sepasang mempelai
melaju sedesah angin
ke arah jauh laut impian
Dara dan Jaka
berdiri di buritan
memandang ke tepian
pada kerumunan banyak orang,
ibu, bibi, adik, paman, dan teman
Dara berkata
getar suaranya,
“Lihat mereka mengantar kita,
ibu, sanak saudara, kerabat,
dan sahabat!”
hati dilanda alun gelombang sendu
Dara dan Jaka terdiam
sebersit teriakan memecah kebisuan,
“Selamat jalan! Menempuh
pahit manis kehidupan!”
Dara dan Jaka membalas
lambaikan tangan,
“Selamat tinggal semua,
kami berdua mencari hakikat hidup
di samudera yang belum punya kepastian!”
angin berhembus
camar semakin tertinggal
layar bertambah kembang
biduk menjauh
tepian tak tersawang
tersaput samar kabut melayang
samudera terhampar
biru melingkar
asing
“Berdua saja kita,”
suara Dara melantun ragu
menyadari tak ada sesiapa
cuma laut dan gelombang
menghadang keluasan
yang tak tersentuh pandang
“Jangan resah, Dara
senyumlah sambut keluasan laut biru
inilah hakikat hidup yang kita cari
sejak kita jumpa
sampai kita rekat berdua.
Bukankah ini yang kita citakan?
laut mendukung gairah kehidupan
menghantar nyanyian menerjang riak.
insan ditakdirkan berpasangan
seperti Firman-Nya,
...di antara tanda-tanda
kekuasaan-Nya; diciptakan
pasangan hidup untukmu,
agar hatimu tenang dan
bangkit kasih-sayang...”
(30:21)
Dara senyum
rasa riang terbersit dalam di hati
benarkah aku
tulang rusuknya yang hilang?
2.
ketika malam turun
kelam menerpa
bintang-bintang jauh ramah menyapa
menebar cahaya samar
pada laut biru yang pekat
angin mati
layar terkulai lesu
laut masih ramah
riak menyeret biduk tanpa arah
di buritan Jaka dan Dara duduk pasrah
Dara meratap,
“Apa lagi yang bakal kita hadapi,
selain pekat seperti ini?”
“kata orang-orang tua dahulu,
laut tak mudah diduga
kadang mencanda ramah
tetapi sesekali akan datang
badai dan gemulung ombak..”
Suara Dara lirih,
“Jangan menakuti.”
“Tidak. Dan kita tidak akan
berpantang surut, bukan?”
Dalam pekat malam
senyum Dara terkulum
tegar dia berujar,
“Kita akan terus mengarung laut,
tak boleh ke belakang kita surut .
Aku akan berdoa kepada Tuhan.
Kata Tuhan,
...sesungguhnya Aku dekat,
akan Ku-perkenankan
permohonan mereka
apabila kepada-Ku mereka berdoa .”
“Ya, kamu benar, Dara,
hanya kepada Allah kita
menyembah, dan kepada-Nya
kita meminta tolong.”
tiba-tiba
berkilau sinar agung di angkasa
bagai permata memeluk persada
Jaka merintih dalam kesunyian sukma,
“Sarat beban yang kita emban
benih kita tebar, siapakah
bakal memetik buahnya?”
Dara merengkuh Jaka amat mesra
“Yang bakal memanen anggur
pusaka silam yang kita tanam
anak dan keturunan,
paduan darahmu dan darahku!”
3.
saat fajar memancar di suatu hari
pada awal ketigapuluh enam purnama
gadis kecil terlelap di lunas biduk
mengulum senyum
bercadar selubung hati
“Ooii Jaka,
lihatlah buah cinta
tersenyum menebar bahagia!”
“Ya,” balas Jaka dari haluan,
“tapi, lihat nun jauh di sana
awan pekat menggulung
bayu mendesah seru,
laut tak ramah mulai menghadang!”
Suara Dara membersit tegar,
“Jangan menyerah. Pastikan tujuan
ke satu arah!”
nun, dari jauh angin menderu
kencang membawa riak gemulung
menerpa sisi biduk limbung
Jaka menggulung layar
Dara menggagas haluan
gadis kecil yang terbaring di lunas
menebar tembang menating kenangan
menghapus rasa ketakutan
lelah bukan alang-kepalang
tetapi segera sirna
manakala di langit pekat
tiba-tiba bulan sabit seakan melekat
laut ramah mesra mencanda
Jaka menghela napas
suaranya lemah mendesau sesal,
“Masih adakah gemulung ombak
yang lebih ganas?”
Dara menghampiri
duduk dengan pandang menerawang
jauh ke ujung yang tak tersawang
dia bicara penuh asa,
“Katamu laut tak bisa diduga, tapi
kita akan mampu mengarunginya.
Ingat firman Tuhan,
... Kami meringankan beban
yang memberati punggungmu,
sesungguhnya
beserta kesukaran ada kemudahan,
beserta kesukaran ada kemudahan,
oleh karena itu,
apabila telah usai satu urusan
kerjakanlah urusan lain bersungguh- sungguh
kepada Tuhan hendaknya berharap.”
(94: 2-8)
4.
sudah lama nian
hamparan samudera penuh bahaya
diarungi bersama
pulau-pulau bertebing terjal di lewati
amukan badai dan taufan dihadapi
lilitan lapar dera dahaga dirasa bersama
jarak tempuh yang jauh telah dilampaui
santapan mewah pesta pengantin
tinggal kenangan yang sirna
air hampir menyentuh sisi biduk
muatan bertambah sarat
sepuluh anak-anak di atasnya
tapi, bagai tanduk rusa
berpuluh cabang di kepala
tubuh si induk tak limbung
tidak merasa terberati
tetap riang mereka
mengarungi laut tak berbatas
mereka bernasihat
kepada sepuluh anak,
“Walau kita dipisah samudera dan
benua, kita tetap sepelayaran
ke puncak tujuan yang suci!
Anak-anakku
tuturkan mutiara asli
dalam kesederhanaan kata-kata,
hindari kepalsuan
pada perbuatan apa pun jua.
Dengarkan tembang kebenaran
seperti mendengar kidung musim semi
tapi bila kaudengar suara si pengecam
dan si pencari kesalahan
tutup telingamu
hingga tuli sampai tulang-belulang
dan lemparkan sejauh khayalan
yang terbang!
ada orang-orang lidahnya berbisa
beri madu kepadanya
sebagai ganti kata-kata
ada orang bertanduk duri
berikan mahkota untaian melati
ada orang berkuku runcing
pencakar dan penggugah gunjing
berikan kepadanya mawar merah
pengganti jemarinya
akan kalian temui
orang pincang yang rela menjual
tongkat penopang
orang buta yang rela melepas pegangan
tempat bergayut
akan kautemui juga
orang kaya bersila menadah derma
berikanlah sedekah kepadanya
karena mereka
termiskin dari yang papa
Ingat
dan lakukan ini
jangan sudi menadah tangan
menanti runtuhnya iba
kalau tidak sungguh terpaksa
memberi yang kami ajarkan
menerima jerih karena pekerjaan
bukan penolakan
melainkan pemenuhan
dan bukan penyerahan
tetapi pengertian disertai maklum
yang terkulum di bibir senyum.
jangan bentangkan jarak di antaramu
pupuk perasaan persahabatan
memang perbedaan lebih lebar
dari yang terpancang
tetapi selalu ada ruang untuk pulang
yaitu keluarga
bukankah kalian dari satu tetes
darah ayah dan bunda
kami pun tak mengajar kebisuan
kami ajarkan nyanyian
selaras tak lepas arah!”
5.
anak-anak telah belia
biduk bertambah sarat
oleng walau tertimpa riak semilir
“Ayo, Dara!
telah tiba waktunya
kita singgah ke gosong pasir
ajari juga mereka
berbiduk ke lepas samudera
menyelesaikan cita kita
yang tak pernah tergapai!”
6.
telah jauh berlayar
biduk mulai rapuh
layar pekat debu dan lumut laut
sudah lima dasa warsa kini
kidung bintang hanya dalam mimpi
sirna lagi dikala jaga
Jaka dan Dara pun mulai rapuh
hanya tegar semangat
setegar karang pemagar samudera
“Ayo, kita terus berlayar
sampai ke batas kematian,
hidup akan langgeng di sana!”
“Tapi, di manakah batas kematian?”
suara Dara lirih bintang pudar
Jaka memayungi kedua mata dengan
jemari tangan
pandangannya menerawang
jauh ke depan
“Di sana tampak samar tepian
segaris cakrawala
itulah batas kematian
tempat akhir tujuan.”
lirih suara Dara
menghempas riak di sisi biduk,
rindu menghadang di dada,
“Gulung dulu layar,
perlambatlah biduk berlayar
aku ingin menyawang
ke biduk-biduk yang kita tinggalkan!”
Nun di batas kaki langit lain
jauh tertinggal di belakang
layar-layar biduk seperti titik
merpati putih terbang menembus
alur cakrawala
“Mereka jauh nun di sana
dalam perjalanan kembara arungi laut
Biarkan mereka raih manis madu
di alur pucuk-pucuk pepohonan
kala hujan menari di dedaunan
bagai restu dan hikmat dalam lembah.”
Lirih lagi Dara bertanya,
“Tapi adakah bekal kita
untuk mencapai tepian sana?”
“Ada Dara, ada bekal kita, yaitu
taqwa kepada Sang Pencipta!”
Ditatapnya lelaki di hadapannya itu
tembang sendu meluncur di hati,
“sudah rapuh kini dia
tak seperkasa awal mendorong biduk
dari tepian dulu, cuma jiwa dan
semangat yang tetap tegar.”
Jaka merengkuhnya
jemarinya lembut menerpa
bak sebungkah embun pagi hari
senyum di bibir Dara terkulum
“Ayo, teruskan pelayaran
sampai batas akhir tujuan!”
biduk yang sudah rapuh
dan kain layar lusuh
melaju membelah laut biru
menembus kabut awan beriringan
sampai gumpalan rindu disentuh
tangan Tuhan ....
Ciputat, Medio Agustus 2007
4.10.2008
LANGIT CERAH DI ATAS KA’BAH
ALIA, I LOVE YOU
Andy Wasis
26 Maret 2008
Jeddah I’m Coming
Saya bersyukur ke hadirat Allah SWT, setelah sepuluh tahun saya kembali menjejakkan kaki di Jeddah sebuah kota internasional, kota pelabuhan, pintu gerbang tanah suci. Kali ini saya bersama istri, anak-anak, dan cucu (Hj. Zainimar, Dian Larasati, Lisa Dwiharini, Indri Septiati, Ratih Mulyatina, Dilla Edithiana) kami melaksanakan Umrah Juma’tain bersama Alia Wisata. Berbeda dengan sepuluh tahun lalu, ketika itu istri saya masih gagah, sehat, walau tanda-tanda penyakit jantungnya sudah tampak. Tetapi dia lincah dan mandiri. Sekarang, dia harus berada di atas kursi roda, namun semangatnya masih menggebu-gebu.
Bersama kami ada pula rombongan sahabat-sahabat, Hartoyo Partowijono, Tutik Susanti, Nerri Suwarso Suranto, Roi Inanda, Yustin Angesti, Siti Sofiyah, Atikah, Suciatmi Iman Sayuti, Amos Soetojo, Dimas Bagus Priyowicaksono, Suwari Martai, Abdul Rachman, Dewi Nia Kurniatin, Dewi Lisnawati, Amirudin Rachmad, Faisal Ferdian Syahmir, Ida Herlina, Suhaeni. Rombongan umrah ini terdiri atas dua program, yaitu program 9 hari dan 13 hari. Saya bersama istri, anak-anak, dan cucu mengikuti program 13 hari.
Pada pukul 16.30 waktu setempat pesawat Garuda 747-400 dengan nomor penerbangan GA-9802 mendarat dengan mulus di Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz. Pesawat kami mendapat fasilitas mendarat di terminal Haji. Terminal ini sepi sedang bebedah menghadapi musim haji tahun depan, pelayanan imigrasinya simple dan bersahabat, tetapi karena personilnya sedikit jadi agak lama. Alhamdulillah dua keluarga yang mendorong kursi roda, keluarga saya dan keluarga Bapak Amirudin Rachmad keluar dari antrian. Kami diberi kemudahan pemeriksaan sehingga lebih dulu keluar dari ruang imigrasi.
Di luar ruang pemeriksaan imigrasi kami disambut oleh seorang anak muda bersahaja, lugu, dan rendah hati. Dia mengenalkan dirinya, Hasbi. Saya teringat ketika di pesawat mengisi form kedatangan ada nama Ustadz Hasbi. Dia ini ustadz yang akan membimbinng kami dalam tour umrah. Semula saya membayangkan yang akan membimbing kami adalah ustadz yang kearab-araban mengenakan gamis putih, tutup kepala kafiyeh belang merah, wajah yang dibuat agar kelihatan berwibawa, membawa bendera seperti layaknya pembimbing-pembimibing lain.Kirana pembimbing kami adalah anak muda dari Lombok yang sederhana, bersahaja, tawaduq tetapi tidak kalah pandainya dengan yang lain, yang kemudian kami kenal namanya Mohammad Hasby Assidiqin. Pada pertemuan pertama sudah terkesan baik. Saya jadi ingat sabda Rasulullah SAW, “Apabila pada pertemuan pertama terhadap seseorang kita sudah berkesan baik, maka orang ini pasti berhati baik.” Tentulah kalau kesan sebaliknya maka akan sebaliknya pula sifat orang yang ditemui itu. Wallahu alam.
Kami diantar ke pelataran Bandara, sekitarnya sepi hanya ada beberapa bus yang akan mengangkut penumpang Garuda menuju Madinah termasuk bus untuk rombongan kami. Langit Jedah berwarna agak kelabu sore itu, udara sejuk, angin tidak terlalu deras.
27-28 Maret 2008
Madinah, kota Rasul
Sebelum agama Islam lahir kota ini bernama Yatsrib, hanya sebuah oase yang subur dikelilingi oleh bukit gersang, cadas, dan tanah tandus berbatu. Di sini bermukim orang-orang Yahudi yang ketika pada tahun 135 M diusir oleh orang-orang Romawi dari Palestina, asal-usul mereka tidak jelas. Selain itu ada juga suku-suku Arab yang telah beralih kepada Yudaisme. Sampai pada abad ke-7 terdapat tiga suku asal Yahudi di Yatstrib, yaitu Bani Quraizhah, Bani Nadhir, dan Bani Qainuqa. Mereka pemeluk monotheisme yang mengecam penyembahan berhala oleh orang-orang Makkah. Mereka hidup dari bertani (kurma), hidup berkelompok saling berdekatan tetapi bermusuhan. Sebelum Islam, penduduk Yatsrib meyakini dari orang-orang Yahudi bahwa kelak akan turun seorang nabi dari keturunan bangsa Arab. Maka, ketika mereka mendengar bahwa di Makkah ada seorang bernama Muhammad yang berdakwah dan menyatakan dirinya nabi, mereka langsung mempercayainya. Dengan tangan terbuka mereka menerimanya dan mempersilakan sang Nabi bertempat tinggal di Jatsrib. (Akan saya ceritakan sejarahnya dalam buku khusus). Setelah Muhammad Rasulullah hijrah ke Jatsrib, kota ini berganti nama menjadi Madinatu Rasul atau kota Nabi yang kemudian lebih dikenal sebagai kota Madinah. (Madinah berasal dari bahasa Arab al-Madinat yang artinya kota).
Kami sampai di kota ini pada tengah malam. Kami menempati sebuah hotel berbintang lima Al-Harram berada dekat di mesjid Nabawi. Lagi-lagi saya tercengang, kota ini telah jauh berubah dibanding sepuluh tahun lalu ketika saya bersama istri menunaikan ibadah haji. Di tengah kota gedung-gedung tinggi menjulang, tidak ada lagi pedagang kaki lima. Yang masih sama adalah cahaya terang benderang dari penerangan lampu listrik.. Sepertinya malam dan siang hari Madinah adalah sama cemerlang. Saudi Arabia tampaknya kelebihan cahaya listrik, pada waktu malam di mana-mana terang benderang, layak siang hari. Saya jadi prihatin terhadap negeri tercinta, di daerah ada listrik yang bergiliran padam.
Di masjid Nabawi kami melaksanakan salat subuh pertama. Saya bersama anak-anak dan cucu keluar dari hotel pada pukul 03 dini hari (waktu setempat). Sekitarnya masih sepi. Kami melalui sebuah gang yang di kanan-kirinya berdapat crain-crain alat berat dan sesekali melintas truk tangki membawa coran semen. Berbeda dengan Makkah, di masjid Nabawi pintu untuk wanita dan lelaki terpisah. Istriku didorong oleh anak-anak menuju ke pintu untuk wanita dan saya mengikuti beberapa jamaah menuju ke pintu untuk lelaki. Ruang mesjid masih sepi ketika saya masuk. Mengikuti arus orang ramai saya terus ke depan dan duduk tidak jauh dari mimbar imam. Azan belum lagi dikumandangkan. Saya sempat melaksanakan beberapa salat sunah sampai azan pertama pada pukul 04.00 berkumandang. Pada pukul 5.15 azan subuh dikumandangkan. Usai salat subuh saya keluar, tetapi tidak berbalik ke arah belakang tempat pintu semula masuk, saya terus mengikuti arus ke depan. Keluar dari pintu saya berbalik ke arah kiri, saya tahu bahwa hotel berada di arah kiri mesjid. Namun, setiba di ujung pelataran mesjid saya tidak melihat gang-gang yang semula kami lalui, di sana justru banyak para pedagang menghampar berbagai jualan mereka, persis seperti pasar kaget atau pasar dadakan di Indonesia. Saya jadi keder, kehilangan arah. Dimana gerangan hotel saya? Saya bertanya kepada seorang Arab dalam bahasa Inggris, “Bisakah anda tunjukkan di mana hotel Al-Haram?” Orang Arab ini tidak mengerti rupanya, tetapi tiba-tiba seorang anak muda menyapa saya. “Hai, Bapak. Itu hotelnya.” (Kelak kuketahui dia bernama Roy).
Al-Haram ternyata ada di sisi kanan saya. Lagi-lagi saya pangling, sekarang pada kedua sisi koridor hotel toko-toko mulai buka. Setelah saya amati, ternyata pada dini hari tadi kami keluar di pintu sisi lain yang tidak ada pertokoannya.
Beberapa saat kemudian anak-anak datang mendorong mamanya di kursi roda.Kami makan pagi di restoran hotel. Hidangan yang disajikan adalah masakan Indonesia sehingga tidak mengubah selera makan.
Siang harinya jamaah lelaki berjiarah ke makam Baqi, sedangkan jamaah wanita langsung ke makam Rasulullah dan Raudah. Jamaah lelaki usai berjiarah ke makam Baqi langsung berjiarah ke makam Rasulullah dan Raudah, kemudian melanjutkan seluruh kegiatan salat di Masjid Nabawi.
Hari Jum’at 28-Maret2007 usai salat Jum’at kami berangkat ke Makkah. Sebelumnya kami berkunjung ke beberapa mesjid bersejarah di Madinah, di antaranya adalah mesjid yang dibangun Rasulullah saat hijrah menjelang memasuki kota Madinah, yaitu masjid Quba. Sesaat rombongan hendak berangkat kami mendapat kabar Mak Elok (Zaidar) kakak istri saya meninggal dunia di Jambi. Inalillahi wa ina ilaihi rajiun. Kami membacakan surah Fatihah untuk almarhumah, semoga arwahnya ditempatkan pada tempat yang layak di sisi Allah, diampuni segala dosa, dan diterima semua amal ibadahnya. Amin.
28 Maret – 6 April 2008
Makkah Al-Mukarramah
Pada zaman dulu Makkah berada di sebuah lembah sempit dan terkepung oleh bukit-bukit batu. Ada tiga jalur lintasan sebagai jalan yang menembus bukit-bukit itu menuju Mekah. Ketiga jalur jalan itu berasal dari arah Yaman; Laut Merah; dan Palestina. Di sini dulu Nabi Ibrahim menempatkan istrinya, Siti Hajar dan putranya Ismail. Barulah setelah Ismail dewasa, Ibrahim mencarinya kemudian mereka membangun Ka’bah atau Baitullah. Pada masa itu Makkah dihuni oleh suku Jurhum dari Yaman yang kemudian dikalahkan oleh kaum Khuza’ah. Selama beberapa abad kaum Khuza’ah mengusai kota ini. Sementara itu Ismail menikah dengan wanita suku Jurhum keturunannya disebut Bani Ismail. Keturunan Ismail berkembangbiak dan yang menetap di Makkah adalah suku Quraisy. Pada abad ke-5 suku Quraisy mengambil alih kekuasaan Makkah dari tangan kaum Khuza’ah. Dan, terus menguasai kota serta memelihara ka’bah berabad-abad lamanya.
(Sejarah singkat kota Makkah akan saya tulis dalam buku)
Saat ini Makkah sedang bebenah, bukit batu pada kedua sisi kota tengah diruntuhkan akan dibangun gedumg-gedung megah. Bagian Pintu Babu Sallam dari masjidil Haram pun sudah diruntuhkan, tampaknya masjid akan diperluas lagi. Pasar Seng yang telah terkenal sejak berabad lalu telah tiada, pasar seng tinggal kenangan bagi para jamaah haji masa lalu.
Makkah Mawadah Bintang Pudar
Kami berangkat dari Madinah ke Makkah melalui Bir Ali. Di sana rombongan mengambil miqot untuk umrah, melaksanakan niat dan salat sunah umrah. Menjelang malam kami memasuki kota Makkah. Kami diantar ke sebuah hotel bernama Makkah Mawadah. Masya Allah, ini hotel tua yang tidak sesuai dengan janji Alia di Jakarta. (Alia Wisata berjanji akan menempatkan rombongan di Makkah pada hotel bintang empat. Ternyata kami ditempatkan pada hotel bintang pudar). Aku menempati kamar 704 dengan 4 tempat tidur yang salah satunya ditempatkan di sebuah lorong. Dua orang anak dan cucuku menempati kamar 711 dengan AC window zadul (zaman dulu, alias ketinggalan zaman). Life-nya juga zadul, sudah ketinggalan zaman. Cucuku, Dilla “bete”. Ibunya panik menelepon Sdr Fajra, pengurus Alia di Makkah, meminta pindah hotel. (Tetapi sampai keesokan harinya sdr. Fajra tampaknya tidak bisa memenuhi permintaan pindah hotel ini) Tempat makan berada di ruang bawah dengan dua tangga yang berliku. Hal ini tidak memungkinkan untuk istriku turun. Suasananya pun tidak nyaman, seperti pasar pagi. Kami memutuskan untuk mengambil hidangan dan makan di kamar.
Ketidaknyamanan ini terobati oleh keramahan seorang mutawif yang lugu, bersahaja, tawaduq, anak Lombok bernama Hasbi. Saya membujuk anak-anak unuk menerima keadaan ini. Apalagi setelah saya mendengar seorang jamaah dari Bandung yang ikut dalam rombongan Perusahaan Wisata milik Kiyai kondang Bandung “terlantar”. Menurutnya, hotel kami jauh lebih baik dibanding tempatnya. Ia berniat akan kembali ke Jeddah dan pulang ke tanah air. Wallahu alam.
Tawaf umrah pertama dilakukan pada tengah malam. Saya terpisah dari rombongan dan anak-anak. Pada tawaf dan sai pertama ini saya sendiri mendorong istri di atas kursi roda. Saya melaksanakan tawaf dengan santai sambil membaca doa. Di atas kursi roda istri saya membaca buku doa tawaf yang diberikan oleh Alia Wisata. Usai tawaf kami melaksanakan salat sunah sesudah tawaf. Kami berdiri sejajar dengan makom (petilasan) Ibrahim. Kemudian saya mendorong kursi roda istri ke tempat sai. Menjelang ke tempat sai saya melihat anak-anak dan rombongan sedang berdoa menghadap ka’bah. Rupanya mereka juga baru menyelesaikan tawaf umrah.
Saya bersama istri melaksanakan sai. Apakah tujuan sai itu? Firman Allah dalam surat Albaqarah ayat 158 sebagai berikut, “Sesungguhnya Safa dan Marwa adalah sebagian dari syiar-syiar Allah. Maka barang siapa yang berhaji ke Baitullah atau umrah maka tidak salah baginya mengerjakan sai antara keduanya.”
Alhamdulillah saya mampu mendorong kursi roda menaiki dua bukit Safa dan Marwa. Pukul 02.45 dini hari kami menyelesaikan semua rangkaian umrah termasuk bertahalul. Kami pulang ke hotel, tetapi anak-anak dan rombongan ditunggu tak kunjung datang, sedangkan kunci kamar mereka bawa. Seorang petugas hotel bernama Husein (Arabi) berbaik hati meminjamkan kami kunci cadangan sehingga aku bisa mandi dan melepas pakaian ihrom. Menjelang pukul 04.00 aku bersama istri kembali ke Masjidil Haram melaksanakan rangkaian salat sampai usai salat subuh.
Polisi Malaysia yang Doyan Tempe
Selama di Makkah saya bertemu dengan berbagai bangsa, Mesir, Turki, Banglades, Pakistan, Colombo, Pilipina dan berbincang-bincang dengan mereka. Sama seperti masa haji, orang Turki paling banyak dan mendominasi masjidil Haram. Saya sempat berbincang, bahwa mereka memiliki suatu organisasi umrah dan haji, semacam koperasi yang menyediakan dana bagi keberangkatan mereka. Mereka menabung dan menggunakan tabungan itu untuk berhaji atau umrah. Setiap kali berjumpa dengan orang Mesir, mereka selalu memuji bahwa bangsa Indonesia adalah Muslim yang baik, “good Muslim.”
Pada suatu hari menjelang salat Magrib, saya bertegur sapa dengan orang Malaysia, dari Serawak, tinggal di Kucing. Dia seorang anggota polisi. Dia datang umrah mengantar ibundanya yang sudah uzur. Menurutnya sang ibu tidak lagi kuat untuk melaksanakan haji, maka diajaklah umrah. Ayahnya telah lebih dahulu melaksanakan haji. Dia menanyakan tentang harga-harga sembako di Indonesia. Menurutnya, harga bahan pangan di Indonesia mahal. Saya bilang, ada yang mahal tetapi juga ada yang murah. Kedelei termasuk yang mahal karena di impor dari Amerika. Sehingga harga tempe dan tahu mahal, kata saya. Lalu saya bertanya, “Anda mengenal tahu dan tempe?” Sambil tersenyum dia menjawab, “Saya ini keturunan Jawa. Kami makan tempe, tahu, bahkan tiwul, dan getuk.” Wau! Dia pun bercerita bahwa di lingkungan keluarganya bahasa Ibu masih digunakan, yaitu bahasa Jawa. Namanya, Haji Suparis bin Haji Abuyamin orang tuanya berasal dari Magelang, namun dia sendiri belum pernah ke sana dan tidak mengenal sanak kerabatnya.
Umrah Kedua
Setelah melaksanakan city Tour kami singgah di mesjid Jakronah. Jakronah adalah sebuah desa kecil di luar kota Makkah. Di sini terdapat sebuah mesjid yang kini lebih apik dan asri dibanding ketika saya melaksanakan haji sepuluh tahun lalu. Ada kisah yang menarik tentang Jakronah, yaitu sebuah legenda yang sangat terkenal di negeri ini.
Konon menurut kisah, sehabis perang Hunain Rasulullah berhenti di daerah gersang ini bersama tentaranya. Persediaan air bala tentaranya habis. Rasulullah berdoa kepada Allah, lalu memukulkan tongkatnya ke tanah. Di tempat itu keluar air yang kemudian berkembang menjadi sumur. Sumur itu diberi nama Bir Thoflah yang sampai sekarang masih ada di halaman samping mesjid. Sampai kini setiap jamaah berusaha untuk mengambil atau membawa pulang air sumur itu.
Sementara legenda lain berkisah bahwa Jakronah adalah nama seorang nenek tua. Ia berada di padang pasir yang gersang. Saat ia kehausan, ia bertemu dengan kafilah Nabi. Ia memohon agar Nabi menyediakan air baginya. Nabi berdoa kepada Allah. Doa Nabi Muhammad s.a.w dikabulkan Allah. Di tempat itu mengalir sebuah sungai kecil. Konon, sungai itu sekarang sudah tidak ada. Waullahu alam .
Di mesjid Jakronah kami migot untuk melaksanakan umrah kedua. Hari masih pagi, sehingga ketika kami sampai kembali ke Makkah menjelang zuhur. Atas kesepakatan bersama kami akan melaksanakan tawaf dan sai siang hari ini.
Matahari Makkah benderang, panasnya amat terik, kendati ada angin yang membawa arus suhu menjadi agak sejuk, yaitu 27 derajat Celsius. Walaupun matahari menyengat, namun lantai di halaman Ka’bah sangat sejuk. Sehingga, bertelanjang kaki pun tidak terasa panas. Kali ini saya bertawaf bersama anak-anak dan cucu, sehingga ada yang menggantikan untuk mendorong kursi roda istri saya.
Dalam dua kali umrah ini saya tidak melaksanakan umrah untuk diri sendiri, saya sudah haji, sehingga boleh melaksankan umrah untuk orang lain. Umrah pertama saya niatkan untuk Ibunda Rr. Rukmini, dan umrah kedua saya niatkan untuk ayahanda.
Alia I Love You
Rombongan umrah Program 9 hari telah berangkat ke Jeddah untuk meneruskan perjalanan pulang ke tanah air. Di Makkah tinggal 13 orang rombongan umrah program 13 hari. Hari ini, tanggal 1 April 2007 saya pindah ke kamar nomor 702. Kamar ini agak lebar dan tidak pengab. Lega juga rasanya menempati kamar yang lapang. Sisa waktu kami gunakan untuk melaksanakan ibadah semaksimal mungkin sampai pada tanggal 5 April 2007 kami meninggalkan Makkah menuju ke Jeddah.
Di Jedah kami menginap di Mercure Grand Golden Hotel, sebuah hotel berbintang lima yang megah. Saya bersama istri dan anak menempati sebuah kamar suite yang mewah. Wau, tampaknya ini adalah kompensasi Alia bagi rombongan setelah kami pengab di Makkah dengan hotel bintang pudarnya. Menu makanannya yang bagi sebagian rombongan tidak cocok, yang dihidangkan nasi kebuli ala Arab dengan daging kambing muda.
Malamnya kami berjalan-jalan ke Balad, yaitu pusat perbelanjaan. Di sini kami dapati orang-orang Indonesia yang bekerja pada toko-toko orang Arab. Nama toko-tokonya banyak menggunakan kata “murah” seperti Toko Amir Murah, Toko Abas Murah. Tampaknya memang untuk menarik para jamaah dari Indonesia yang konon suka belanja. Soal harga barang yang dijual, wallahu apa benar murah?
Seperti di kota-kota lain, di sini kami juga diajak tour ke Laut Merah menyaksikan Mesjid Terapung yang konon dibangun oleh seorang penyanyi. Istri saya tidak turun dari bus, saya juga tidak masuk ke mesjid. Sepuluh tahun yang lalu saya pernah salat di mesjid ini. Usai city tour kami diantar ke Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz pada pukul 16.00.
Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, saya bangga kepada Alia Wisata. Mereka tidak menelantarkan rombongan, kebutuhan makan dan minum tercukupi, bahkan melimpah, pelayanan mutawifnya cukup baik, demikian juga ketika mengantar kami pulang, semua cargo diurus oleh mereka.. Kalau Allah SWT berkenan memberi rezeki, saya akan umrah lagi dan tentu saja dengan Alisa Wisata. Alia, I love you
Andy Wasis
26 Maret 2008
Jeddah I’m Coming
Saya bersyukur ke hadirat Allah SWT, setelah sepuluh tahun saya kembali menjejakkan kaki di Jeddah sebuah kota internasional, kota pelabuhan, pintu gerbang tanah suci. Kali ini saya bersama istri, anak-anak, dan cucu (Hj. Zainimar, Dian Larasati, Lisa Dwiharini, Indri Septiati, Ratih Mulyatina, Dilla Edithiana) kami melaksanakan Umrah Juma’tain bersama Alia Wisata. Berbeda dengan sepuluh tahun lalu, ketika itu istri saya masih gagah, sehat, walau tanda-tanda penyakit jantungnya sudah tampak. Tetapi dia lincah dan mandiri. Sekarang, dia harus berada di atas kursi roda, namun semangatnya masih menggebu-gebu.
Bersama kami ada pula rombongan sahabat-sahabat, Hartoyo Partowijono, Tutik Susanti, Nerri Suwarso Suranto, Roi Inanda, Yustin Angesti, Siti Sofiyah, Atikah, Suciatmi Iman Sayuti, Amos Soetojo, Dimas Bagus Priyowicaksono, Suwari Martai, Abdul Rachman, Dewi Nia Kurniatin, Dewi Lisnawati, Amirudin Rachmad, Faisal Ferdian Syahmir, Ida Herlina, Suhaeni. Rombongan umrah ini terdiri atas dua program, yaitu program 9 hari dan 13 hari. Saya bersama istri, anak-anak, dan cucu mengikuti program 13 hari.
Pada pukul 16.30 waktu setempat pesawat Garuda 747-400 dengan nomor penerbangan GA-9802 mendarat dengan mulus di Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz. Pesawat kami mendapat fasilitas mendarat di terminal Haji. Terminal ini sepi sedang bebedah menghadapi musim haji tahun depan, pelayanan imigrasinya simple dan bersahabat, tetapi karena personilnya sedikit jadi agak lama. Alhamdulillah dua keluarga yang mendorong kursi roda, keluarga saya dan keluarga Bapak Amirudin Rachmad keluar dari antrian. Kami diberi kemudahan pemeriksaan sehingga lebih dulu keluar dari ruang imigrasi.
Di luar ruang pemeriksaan imigrasi kami disambut oleh seorang anak muda bersahaja, lugu, dan rendah hati. Dia mengenalkan dirinya, Hasbi. Saya teringat ketika di pesawat mengisi form kedatangan ada nama Ustadz Hasbi. Dia ini ustadz yang akan membimbinng kami dalam tour umrah. Semula saya membayangkan yang akan membimbing kami adalah ustadz yang kearab-araban mengenakan gamis putih, tutup kepala kafiyeh belang merah, wajah yang dibuat agar kelihatan berwibawa, membawa bendera seperti layaknya pembimbing-pembimibing lain.Kirana pembimbing kami adalah anak muda dari Lombok yang sederhana, bersahaja, tawaduq tetapi tidak kalah pandainya dengan yang lain, yang kemudian kami kenal namanya Mohammad Hasby Assidiqin. Pada pertemuan pertama sudah terkesan baik. Saya jadi ingat sabda Rasulullah SAW, “Apabila pada pertemuan pertama terhadap seseorang kita sudah berkesan baik, maka orang ini pasti berhati baik.” Tentulah kalau kesan sebaliknya maka akan sebaliknya pula sifat orang yang ditemui itu. Wallahu alam.
Kami diantar ke pelataran Bandara, sekitarnya sepi hanya ada beberapa bus yang akan mengangkut penumpang Garuda menuju Madinah termasuk bus untuk rombongan kami. Langit Jedah berwarna agak kelabu sore itu, udara sejuk, angin tidak terlalu deras.
27-28 Maret 2008
Madinah, kota Rasul
Sebelum agama Islam lahir kota ini bernama Yatsrib, hanya sebuah oase yang subur dikelilingi oleh bukit gersang, cadas, dan tanah tandus berbatu. Di sini bermukim orang-orang Yahudi yang ketika pada tahun 135 M diusir oleh orang-orang Romawi dari Palestina, asal-usul mereka tidak jelas. Selain itu ada juga suku-suku Arab yang telah beralih kepada Yudaisme. Sampai pada abad ke-7 terdapat tiga suku asal Yahudi di Yatstrib, yaitu Bani Quraizhah, Bani Nadhir, dan Bani Qainuqa. Mereka pemeluk monotheisme yang mengecam penyembahan berhala oleh orang-orang Makkah. Mereka hidup dari bertani (kurma), hidup berkelompok saling berdekatan tetapi bermusuhan. Sebelum Islam, penduduk Yatsrib meyakini dari orang-orang Yahudi bahwa kelak akan turun seorang nabi dari keturunan bangsa Arab. Maka, ketika mereka mendengar bahwa di Makkah ada seorang bernama Muhammad yang berdakwah dan menyatakan dirinya nabi, mereka langsung mempercayainya. Dengan tangan terbuka mereka menerimanya dan mempersilakan sang Nabi bertempat tinggal di Jatsrib. (Akan saya ceritakan sejarahnya dalam buku khusus). Setelah Muhammad Rasulullah hijrah ke Jatsrib, kota ini berganti nama menjadi Madinatu Rasul atau kota Nabi yang kemudian lebih dikenal sebagai kota Madinah. (Madinah berasal dari bahasa Arab al-Madinat yang artinya kota).
Kami sampai di kota ini pada tengah malam. Kami menempati sebuah hotel berbintang lima Al-Harram berada dekat di mesjid Nabawi. Lagi-lagi saya tercengang, kota ini telah jauh berubah dibanding sepuluh tahun lalu ketika saya bersama istri menunaikan ibadah haji. Di tengah kota gedung-gedung tinggi menjulang, tidak ada lagi pedagang kaki lima. Yang masih sama adalah cahaya terang benderang dari penerangan lampu listrik.. Sepertinya malam dan siang hari Madinah adalah sama cemerlang. Saudi Arabia tampaknya kelebihan cahaya listrik, pada waktu malam di mana-mana terang benderang, layak siang hari. Saya jadi prihatin terhadap negeri tercinta, di daerah ada listrik yang bergiliran padam.
Di masjid Nabawi kami melaksanakan salat subuh pertama. Saya bersama anak-anak dan cucu keluar dari hotel pada pukul 03 dini hari (waktu setempat). Sekitarnya masih sepi. Kami melalui sebuah gang yang di kanan-kirinya berdapat crain-crain alat berat dan sesekali melintas truk tangki membawa coran semen. Berbeda dengan Makkah, di masjid Nabawi pintu untuk wanita dan lelaki terpisah. Istriku didorong oleh anak-anak menuju ke pintu untuk wanita dan saya mengikuti beberapa jamaah menuju ke pintu untuk lelaki. Ruang mesjid masih sepi ketika saya masuk. Mengikuti arus orang ramai saya terus ke depan dan duduk tidak jauh dari mimbar imam. Azan belum lagi dikumandangkan. Saya sempat melaksanakan beberapa salat sunah sampai azan pertama pada pukul 04.00 berkumandang. Pada pukul 5.15 azan subuh dikumandangkan. Usai salat subuh saya keluar, tetapi tidak berbalik ke arah belakang tempat pintu semula masuk, saya terus mengikuti arus ke depan. Keluar dari pintu saya berbalik ke arah kiri, saya tahu bahwa hotel berada di arah kiri mesjid. Namun, setiba di ujung pelataran mesjid saya tidak melihat gang-gang yang semula kami lalui, di sana justru banyak para pedagang menghampar berbagai jualan mereka, persis seperti pasar kaget atau pasar dadakan di Indonesia. Saya jadi keder, kehilangan arah. Dimana gerangan hotel saya? Saya bertanya kepada seorang Arab dalam bahasa Inggris, “Bisakah anda tunjukkan di mana hotel Al-Haram?” Orang Arab ini tidak mengerti rupanya, tetapi tiba-tiba seorang anak muda menyapa saya. “Hai, Bapak. Itu hotelnya.” (Kelak kuketahui dia bernama Roy).
Al-Haram ternyata ada di sisi kanan saya. Lagi-lagi saya pangling, sekarang pada kedua sisi koridor hotel toko-toko mulai buka. Setelah saya amati, ternyata pada dini hari tadi kami keluar di pintu sisi lain yang tidak ada pertokoannya.
Beberapa saat kemudian anak-anak datang mendorong mamanya di kursi roda.Kami makan pagi di restoran hotel. Hidangan yang disajikan adalah masakan Indonesia sehingga tidak mengubah selera makan.
Siang harinya jamaah lelaki berjiarah ke makam Baqi, sedangkan jamaah wanita langsung ke makam Rasulullah dan Raudah. Jamaah lelaki usai berjiarah ke makam Baqi langsung berjiarah ke makam Rasulullah dan Raudah, kemudian melanjutkan seluruh kegiatan salat di Masjid Nabawi.
Hari Jum’at 28-Maret2007 usai salat Jum’at kami berangkat ke Makkah. Sebelumnya kami berkunjung ke beberapa mesjid bersejarah di Madinah, di antaranya adalah mesjid yang dibangun Rasulullah saat hijrah menjelang memasuki kota Madinah, yaitu masjid Quba. Sesaat rombongan hendak berangkat kami mendapat kabar Mak Elok (Zaidar) kakak istri saya meninggal dunia di Jambi. Inalillahi wa ina ilaihi rajiun. Kami membacakan surah Fatihah untuk almarhumah, semoga arwahnya ditempatkan pada tempat yang layak di sisi Allah, diampuni segala dosa, dan diterima semua amal ibadahnya. Amin.
28 Maret – 6 April 2008
Makkah Al-Mukarramah
Pada zaman dulu Makkah berada di sebuah lembah sempit dan terkepung oleh bukit-bukit batu. Ada tiga jalur lintasan sebagai jalan yang menembus bukit-bukit itu menuju Mekah. Ketiga jalur jalan itu berasal dari arah Yaman; Laut Merah; dan Palestina. Di sini dulu Nabi Ibrahim menempatkan istrinya, Siti Hajar dan putranya Ismail. Barulah setelah Ismail dewasa, Ibrahim mencarinya kemudian mereka membangun Ka’bah atau Baitullah. Pada masa itu Makkah dihuni oleh suku Jurhum dari Yaman yang kemudian dikalahkan oleh kaum Khuza’ah. Selama beberapa abad kaum Khuza’ah mengusai kota ini. Sementara itu Ismail menikah dengan wanita suku Jurhum keturunannya disebut Bani Ismail. Keturunan Ismail berkembangbiak dan yang menetap di Makkah adalah suku Quraisy. Pada abad ke-5 suku Quraisy mengambil alih kekuasaan Makkah dari tangan kaum Khuza’ah. Dan, terus menguasai kota serta memelihara ka’bah berabad-abad lamanya.
(Sejarah singkat kota Makkah akan saya tulis dalam buku)
Saat ini Makkah sedang bebenah, bukit batu pada kedua sisi kota tengah diruntuhkan akan dibangun gedumg-gedung megah. Bagian Pintu Babu Sallam dari masjidil Haram pun sudah diruntuhkan, tampaknya masjid akan diperluas lagi. Pasar Seng yang telah terkenal sejak berabad lalu telah tiada, pasar seng tinggal kenangan bagi para jamaah haji masa lalu.
Makkah Mawadah Bintang Pudar
Kami berangkat dari Madinah ke Makkah melalui Bir Ali. Di sana rombongan mengambil miqot untuk umrah, melaksanakan niat dan salat sunah umrah. Menjelang malam kami memasuki kota Makkah. Kami diantar ke sebuah hotel bernama Makkah Mawadah. Masya Allah, ini hotel tua yang tidak sesuai dengan janji Alia di Jakarta. (Alia Wisata berjanji akan menempatkan rombongan di Makkah pada hotel bintang empat. Ternyata kami ditempatkan pada hotel bintang pudar). Aku menempati kamar 704 dengan 4 tempat tidur yang salah satunya ditempatkan di sebuah lorong. Dua orang anak dan cucuku menempati kamar 711 dengan AC window zadul (zaman dulu, alias ketinggalan zaman). Life-nya juga zadul, sudah ketinggalan zaman. Cucuku, Dilla “bete”. Ibunya panik menelepon Sdr Fajra, pengurus Alia di Makkah, meminta pindah hotel. (Tetapi sampai keesokan harinya sdr. Fajra tampaknya tidak bisa memenuhi permintaan pindah hotel ini) Tempat makan berada di ruang bawah dengan dua tangga yang berliku. Hal ini tidak memungkinkan untuk istriku turun. Suasananya pun tidak nyaman, seperti pasar pagi. Kami memutuskan untuk mengambil hidangan dan makan di kamar.
Ketidaknyamanan ini terobati oleh keramahan seorang mutawif yang lugu, bersahaja, tawaduq, anak Lombok bernama Hasbi. Saya membujuk anak-anak unuk menerima keadaan ini. Apalagi setelah saya mendengar seorang jamaah dari Bandung yang ikut dalam rombongan Perusahaan Wisata milik Kiyai kondang Bandung “terlantar”. Menurutnya, hotel kami jauh lebih baik dibanding tempatnya. Ia berniat akan kembali ke Jeddah dan pulang ke tanah air. Wallahu alam.
Tawaf umrah pertama dilakukan pada tengah malam. Saya terpisah dari rombongan dan anak-anak. Pada tawaf dan sai pertama ini saya sendiri mendorong istri di atas kursi roda. Saya melaksanakan tawaf dengan santai sambil membaca doa. Di atas kursi roda istri saya membaca buku doa tawaf yang diberikan oleh Alia Wisata. Usai tawaf kami melaksanakan salat sunah sesudah tawaf. Kami berdiri sejajar dengan makom (petilasan) Ibrahim. Kemudian saya mendorong kursi roda istri ke tempat sai. Menjelang ke tempat sai saya melihat anak-anak dan rombongan sedang berdoa menghadap ka’bah. Rupanya mereka juga baru menyelesaikan tawaf umrah.
Saya bersama istri melaksanakan sai. Apakah tujuan sai itu? Firman Allah dalam surat Albaqarah ayat 158 sebagai berikut, “Sesungguhnya Safa dan Marwa adalah sebagian dari syiar-syiar Allah. Maka barang siapa yang berhaji ke Baitullah atau umrah maka tidak salah baginya mengerjakan sai antara keduanya.”
Alhamdulillah saya mampu mendorong kursi roda menaiki dua bukit Safa dan Marwa. Pukul 02.45 dini hari kami menyelesaikan semua rangkaian umrah termasuk bertahalul. Kami pulang ke hotel, tetapi anak-anak dan rombongan ditunggu tak kunjung datang, sedangkan kunci kamar mereka bawa. Seorang petugas hotel bernama Husein (Arabi) berbaik hati meminjamkan kami kunci cadangan sehingga aku bisa mandi dan melepas pakaian ihrom. Menjelang pukul 04.00 aku bersama istri kembali ke Masjidil Haram melaksanakan rangkaian salat sampai usai salat subuh.
Polisi Malaysia yang Doyan Tempe
Selama di Makkah saya bertemu dengan berbagai bangsa, Mesir, Turki, Banglades, Pakistan, Colombo, Pilipina dan berbincang-bincang dengan mereka. Sama seperti masa haji, orang Turki paling banyak dan mendominasi masjidil Haram. Saya sempat berbincang, bahwa mereka memiliki suatu organisasi umrah dan haji, semacam koperasi yang menyediakan dana bagi keberangkatan mereka. Mereka menabung dan menggunakan tabungan itu untuk berhaji atau umrah. Setiap kali berjumpa dengan orang Mesir, mereka selalu memuji bahwa bangsa Indonesia adalah Muslim yang baik, “good Muslim.”
Pada suatu hari menjelang salat Magrib, saya bertegur sapa dengan orang Malaysia, dari Serawak, tinggal di Kucing. Dia seorang anggota polisi. Dia datang umrah mengantar ibundanya yang sudah uzur. Menurutnya sang ibu tidak lagi kuat untuk melaksanakan haji, maka diajaklah umrah. Ayahnya telah lebih dahulu melaksanakan haji. Dia menanyakan tentang harga-harga sembako di Indonesia. Menurutnya, harga bahan pangan di Indonesia mahal. Saya bilang, ada yang mahal tetapi juga ada yang murah. Kedelei termasuk yang mahal karena di impor dari Amerika. Sehingga harga tempe dan tahu mahal, kata saya. Lalu saya bertanya, “Anda mengenal tahu dan tempe?” Sambil tersenyum dia menjawab, “Saya ini keturunan Jawa. Kami makan tempe, tahu, bahkan tiwul, dan getuk.” Wau! Dia pun bercerita bahwa di lingkungan keluarganya bahasa Ibu masih digunakan, yaitu bahasa Jawa. Namanya, Haji Suparis bin Haji Abuyamin orang tuanya berasal dari Magelang, namun dia sendiri belum pernah ke sana dan tidak mengenal sanak kerabatnya.
Umrah Kedua
Setelah melaksanakan city Tour kami singgah di mesjid Jakronah. Jakronah adalah sebuah desa kecil di luar kota Makkah. Di sini terdapat sebuah mesjid yang kini lebih apik dan asri dibanding ketika saya melaksanakan haji sepuluh tahun lalu. Ada kisah yang menarik tentang Jakronah, yaitu sebuah legenda yang sangat terkenal di negeri ini.
Konon menurut kisah, sehabis perang Hunain Rasulullah berhenti di daerah gersang ini bersama tentaranya. Persediaan air bala tentaranya habis. Rasulullah berdoa kepada Allah, lalu memukulkan tongkatnya ke tanah. Di tempat itu keluar air yang kemudian berkembang menjadi sumur. Sumur itu diberi nama Bir Thoflah yang sampai sekarang masih ada di halaman samping mesjid. Sampai kini setiap jamaah berusaha untuk mengambil atau membawa pulang air sumur itu.
Sementara legenda lain berkisah bahwa Jakronah adalah nama seorang nenek tua. Ia berada di padang pasir yang gersang. Saat ia kehausan, ia bertemu dengan kafilah Nabi. Ia memohon agar Nabi menyediakan air baginya. Nabi berdoa kepada Allah. Doa Nabi Muhammad s.a.w dikabulkan Allah. Di tempat itu mengalir sebuah sungai kecil. Konon, sungai itu sekarang sudah tidak ada. Waullahu alam .
Di mesjid Jakronah kami migot untuk melaksanakan umrah kedua. Hari masih pagi, sehingga ketika kami sampai kembali ke Makkah menjelang zuhur. Atas kesepakatan bersama kami akan melaksanakan tawaf dan sai siang hari ini.
Matahari Makkah benderang, panasnya amat terik, kendati ada angin yang membawa arus suhu menjadi agak sejuk, yaitu 27 derajat Celsius. Walaupun matahari menyengat, namun lantai di halaman Ka’bah sangat sejuk. Sehingga, bertelanjang kaki pun tidak terasa panas. Kali ini saya bertawaf bersama anak-anak dan cucu, sehingga ada yang menggantikan untuk mendorong kursi roda istri saya.
Dalam dua kali umrah ini saya tidak melaksanakan umrah untuk diri sendiri, saya sudah haji, sehingga boleh melaksankan umrah untuk orang lain. Umrah pertama saya niatkan untuk Ibunda Rr. Rukmini, dan umrah kedua saya niatkan untuk ayahanda.
Alia I Love You
Rombongan umrah Program 9 hari telah berangkat ke Jeddah untuk meneruskan perjalanan pulang ke tanah air. Di Makkah tinggal 13 orang rombongan umrah program 13 hari. Hari ini, tanggal 1 April 2007 saya pindah ke kamar nomor 702. Kamar ini agak lebar dan tidak pengab. Lega juga rasanya menempati kamar yang lapang. Sisa waktu kami gunakan untuk melaksanakan ibadah semaksimal mungkin sampai pada tanggal 5 April 2007 kami meninggalkan Makkah menuju ke Jeddah.
Di Jedah kami menginap di Mercure Grand Golden Hotel, sebuah hotel berbintang lima yang megah. Saya bersama istri dan anak menempati sebuah kamar suite yang mewah. Wau, tampaknya ini adalah kompensasi Alia bagi rombongan setelah kami pengab di Makkah dengan hotel bintang pudarnya. Menu makanannya yang bagi sebagian rombongan tidak cocok, yang dihidangkan nasi kebuli ala Arab dengan daging kambing muda.
Malamnya kami berjalan-jalan ke Balad, yaitu pusat perbelanjaan. Di sini kami dapati orang-orang Indonesia yang bekerja pada toko-toko orang Arab. Nama toko-tokonya banyak menggunakan kata “murah” seperti Toko Amir Murah, Toko Abas Murah. Tampaknya memang untuk menarik para jamaah dari Indonesia yang konon suka belanja. Soal harga barang yang dijual, wallahu apa benar murah?
Seperti di kota-kota lain, di sini kami juga diajak tour ke Laut Merah menyaksikan Mesjid Terapung yang konon dibangun oleh seorang penyanyi. Istri saya tidak turun dari bus, saya juga tidak masuk ke mesjid. Sepuluh tahun yang lalu saya pernah salat di mesjid ini. Usai city tour kami diantar ke Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz pada pukul 16.00.
Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, saya bangga kepada Alia Wisata. Mereka tidak menelantarkan rombongan, kebutuhan makan dan minum tercukupi, bahkan melimpah, pelayanan mutawifnya cukup baik, demikian juga ketika mengantar kami pulang, semua cargo diurus oleh mereka.. Kalau Allah SWT berkenan memberi rezeki, saya akan umrah lagi dan tentu saja dengan Alisa Wisata. Alia, I love you
2.10.2008
Anak-anak Lampu Merah
Anak-anak Lampu Merah
Cerpen Andy Wasis
Lampu lalu lintas sedang menyala hijau. Kendaraan melaju cepat. Jono, Iming, dan Dedi, anak-anak jalanan duduk santai di bawah pohon. Mereka menunggu sampai lampu lalu lintas di sisi jalan ini menyala merah. Pada saat lampu lalu lintas merah, mereka akan kembali ke sisi jalan menadahkan tangan mengemis lagi. Anak-anak di sisi yang lain akan duduk beristirahat. Anak-anak jalanan itu sudah mempunyai masing-masing kavling mereka tidak saling mengganggu. Usia mereka belasan tahun. Mestinya mereka masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Tuntutan hidup menyebabkan mereka harus mengemis.
“Kalau besar aku pingin jadi dokter,” ujar Jono.
“Aku mau jadi insinyur,” kata Iming.
Dedi berdiam diri saja. Duduk tafakur sambil mengawasi kendaraan-kendaraan yang melaju kencang. Di sisi lain, tempat lampu lalu lintas menyala merah temam-teman mereka mengemis dari mobil ke mobil.
“Kenapa kamu mau jadi insinyur?” tanya Jono.
“Mau bangunkan rumah buat makku.”
“Sekarang makmu di mana?”
“Itu!” Dia menunjuk ke arah gubuk-gubuk dari karton yang tersandar pada dinding pagar gedung mewah.
“Makmu di sana?”
“Ya. Sedang sakit.”
Jono menghela napas, “Kalau aku sudah jadi dokter, biar aku yang mengobati makmu. Tidak bayar.” Dia tertawa. Lalu menoleh kepada Dedi, “Hei, Ded, kalau besar kamu mau jadi apa?”
“Jadi tukang pengantar surat. Tukang pos!”
Jono dan Iming tertawa terbahak.
“Ha, jadi pengantar pos,” ejek mereka.
“Jangan mengejek, pekerjaan pengantar pos itu mulia.. Menyampaikan pesan orang lain. Silaturahmi. Sama dengan pekerjaan para nabi, mengantar pesan Tuhan kepada umatnya.”
“Iming, kamu mau jadi insinyur?”
“Kenapa?” “Dari mana biaya sekolahmu?”
Iming tertawa terkekeh. Lantas bertanya kepada temannya itu, “Kamu Jono, dari mana pula biayamu untuk sekolah dokter?”
“Aku mau belajar nyuntik saja sama Pak Mantri. Lalu keliling kampung mengobati orang, pasti orang-orang kampung memanggilku dokter. He..hee.”
“Apa ada mantri yang mau ngajari kamu nyuntik?”
Jono tercenung sesaat. Dia teringat di kampungnya dulu, pak liknya menjadi mantri kesehatan. Penduduk kampung datang kepadanya meminta diobati. Tetapi itu dulu, ketika dia masih amat kecil. Ketika disunat dulu, pak liknya yang memotong ujung kemaluannya. Sekarang? Entahlah di mana orang tua itu. Masih hidupkah? Desanya telah lebur dilanda musibah gempa bumi, disertai banjir dan angin puting beliung. Sanak kerabat saling terpisah. Itu pula yang menyebabkan dia terdampar di kota menjadi anak gelandangan.
Tiba-tiba saja Jono jadi sedih.
“Ah, itu ‘kan cuma mimpi!” seraya berlari menjauh.“Hei, lampu sudah merah!” teriak Iming.
Iming, Dedi bangkit dan bergegas lari ke arah mobil-mobil yang mulai berhenti. Jono juga segera berlari ke sana. Tetapi baru saja Dedi hendak melangkah dari trotoar, ada suara memanggil namanya.
“Dedi!” seorang anak perempuan berpakain kumuh membawa kaleng bekas susu manggilnya. Usia anak itu terpaut dua tahun lebih muda dari Dedi.
Dedi menghampiri.
“Ada apa, Rah?”
“Aku belum makan. Dari pagi.”
“Ya, sudah beli sana.”
Irah menungkingkan kalengnya. Kaleng itu kosong.
“Kamu belum dapat uang?”
Irah menggeleng.
Dedi merogoh saku, mengambil sejumput uang logam.
“Ini! Sana beli!”
Tolonglah, Ded, belikan. Kakiku sakit.” Rengek anak perempuan kecil itu seraya memperlihatkan borok di kakinya yang terbungkus kain lusuh. Pada kain lusuh itu terdapat bercak-bercak darah bercampur nanah. Irah tahu, Dedi amat berperhatian kepadanya. Dia memanfaatkan situasi itu.
Dedi berlari ke arah kedai nasi di pinggir proyek bangunan gedung. Ia membeli sebungkus nasi dengan tempe goreng dan mengambil sejumput garam dan cabe rawit. Ia bergegas kembali ke tempat Irah menanti. Setelah bungkus penganan itu diserahkan kepada Irah, lampu menyala merah. Jono dan Iming berlari ke trotoar, mereka duduk santai di rerumputan.
“Dapat berapa?”
“Lumayan,” sahut Jono .
“Kamu?” bertanya kepada Dedi.
Dedi menggeleng.
“Tidak sempat.”
“Kenapa?”
“Si Irah minta belikan nasi.”
“Anak ceking itu makannya banyak!” ujar Iming.
Jono berdiri, berpindah tempat duduk agak jauh dari mereka. Ia mengeluarkan kaleng kecil, membuka tutupnya lalu asyik menghirupnya. Sesaat kemudian ia merebahkan diri ke rumputan sambil terus menghirup aroma lem aica aibon.
“Mulai teler dia!” ujar Iming, “bagaimana mau jadi dokter, tukang mabok!”
Dedi tidak berkomentar. Anak ini diam saja. Dia memang anak pendiam. Sudah dua tahun dia menggelandang dan mengemis di perempatan jalan ini. Dia mulai menggelandang sejak ibunya hilang tertelan gelombang sunami yang menerjang desanya di pinggiran pantai Pelabuhanratu. Tidak ada lagi sanak famili di desa. Dengan menumpang truk bermuatan ikan dia terdampar di keramaian ibukota. Untuk biaya makan, tidak ada jalan lain kecuali mengemis. Memang bertentangan dengan hati nuraninya, tetapi nasib tidak bisa dihindari. Malam hari dia tidur di emper gedung yang tengah dibangun. Di sana juga anak-anak lainnya tidur. Kecuali Iming, dia tidur di gubuk maknya, karena harus menunggui maknya yang sedang sakit.
Lampu menyala merah kembali. Jono bergegas. Dedi yang baru saja mau duduk segera pula bangkit. Dia sudah kehilangan satu peluang karena membelikan nasi untuk si Irah. Tiba-tiba terjadi keributan di tempat gubuk-gubuk liar. Ada razia gelandangan dan gepeng. Sepasukan Satpol PP membongkari gubuk-gubuk yang terbuat dari karton bekas serta menangkapi para gelandangan.
Anak-anak di sudut lain lampu lalu lintas itu segera berlari.
“Makku!” teriak Iming. Dia akan berlari ke arah gubuk maknya.
Dedi mencegahnya.
“Jangan, nanti kamu ditangkap! Ayo, lari!”
Dedi menyeretnya.
“Makku.”
“Makmu pasti bisa menyelamatkan diri. Nanti kamu bisa bertemu lagi dengannya. Ayo, lari!”
“Dia sakit, Ded.”
“Apakah mau kamu ditangkap, dijebloskan ke kurungan?” Dedi belum pernah terkena razia, tetapi ada anak lainnya yang bercerita kepadanya. Kalau anak gelandagnan terkena razia, akan dimasukkan tahanan. Mendengar kata tahanan, dia teringat tahanan polisi, jadi dia sangat takut.;
Dengan perasaan cemas Iming berlari bersama Dedi. Tetapi di suatu tempat yang agak aman dia berhenti.
“Ayo, Iming!” seru Dedi.
“Duluan. Aku ingin melihat makku!”
Dedi meninggalkan Iming. Ketika dia akan menyeberang jalan di perempatan lain, tiba-tiba lampu lalu lintasnya menyala hijau. Kendaraan-kendaraan melaju kencang. Dedi berhenti di sisi jalan menunggau saat tepat untuk menyeberang. Tiba-tiba terdengar suara rem kendaraan menciut kencang. Terjadi tabrakan beruntun. Sesaat jalan macet, penuh oleh kendaraan yang berhenti. Beberapa orang dari sisi-sisi jalan berlarian ke arah terjadinya kecelakaan. Dedi berdiri terpaku di sisi jalan. Ia ingin mendekat ke arah terjadinya kecelakkan, tetapi takut tertangkap Satpol PP.
Dua orang perempuan lewat di sisi Dedi.
Salah seorang berujar, “Hi, ngeri ya, kepalanya pecah!”
“Pasti anak gelandangan itu!” ujar yang seorang.
Mendengar kata “anak gelandangan” Dedi terkejut.
“Ada apa, Bu?” dia bertanya.
“Anak gelandangan tertabrak mobil!” jawab perempuan itu tak acuh.
Dedi makin terperanjat. Tadi dia melihat Jono berlari menyeberang jalan saat banyak kendaraan melaju cepat.
“Jono!” keluhnya. Secara refleks dia akan berlari ke sana. Namun langkahnya segera tertahan karena tampak polisi telah berada di sana. Mobil pickup Satpol PP yang memuat orang-orang yang terkana razia pun melintas. Dedi takut. Dia lari berbalik arah memasuki gang kecil ke arah kampung. Tiba di daerah perkampungan dia duduk di sebuah teras rumah gubuk sederhana. Teras itu terbuka dan di san ada sebuah bale-bale bambu yang sudah reot.
“Mudah-mudahan bukan Jono,” keluhnya.
Dedi tidak tahu telah berapa lama dia tertidur di bale bambu itu, ketika tiba-tiba dia mendengar ada benda yang disandarkan di sisinya. Dedi terjaga, ia melihat sebuah sepeda ontel yang dibagian goncengannya tersampir tas dari terpal. Dedi teringat pada sepeda tukang pos di desanya. Itu sebabnya dia ingin menjadi tukang pos, banyak kenalan dan selalu berkeliling ke desa-desa.
“Hai, kamu siapa?” seorang lelaki tua menegurnya.
“Maaf, Pak saya tertidur karena cape.”
“Ya, sudah kalau masih ngantuk, tidur lagi saja.”
“Tidak, saya mau pergi,” ujar Dedi seraya turun dari bale bambu itu.
“Kamu mau pulang? Di mana rumahmu?”
Dedi menggeleng, “Saya ….”
Lelaki tua itu memperhatikannya. Dia teringat akan anak lelakinya yang meninggal ketika masih kecil dulu. Seandainya dia tidak meninggal pasti sudah sebaya anak ini, pikirnya. Istrinya juga sudah meninggal, dia tinggal sendiri di rumah gubuk ini.
“Kamu tidak punya rumah?” duga lelaki tua itu.
Dedi mengangguk.
“Kalau kamu mau, boleh tinggal di sini. Bapak tinggal sendirian.”
Tawaran itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Dedi.
“Boleh saya tinggal bersama Bapak?”
“Boleh.”
“Saya akan membantu membersihkan rumah dan pekarangan ini, jika bapak mengijinkan saya tinggal di sini.”
“Ya,” ujar lelaki tua itu. Alih-alih anak ini menggantikan keberadaan anakku, pikirnya.
Kehadiran Dedi di lingkungannya, menyebabkan orang tua itu tidak merasa kesepian. Bahkan Dedi disekolahkan sampai tamat SMP. Setamat Dedi dari SMP, bersamaan pula lelaki tua itu pensiun dari tempat kerjanya, di kantor pos desa. Atas usulnya, Dedi diterima bekerja menggantikanya sebagai tukang pengantar surat.
*
Lima tahun telah berlalu. Dedi menuntun sepedanya melewati sisi pagar seng sebuah pekarangan yang bangunannya baru dirobohkan. Tampaknya di tanah ini akan dibangun gedung baru. Tiba-tiba pintu pagar seng terkuak, seorang lelaki bertopi caping menarik gerobak penuh muatan besi-besi beton bekas. Melihat ada tukang pos, lelaki pemulung itu memanggilnya.
“Hei, tukang pos!”
Dedi berhenti. Lelaki itu mehampirinya.
“Kamu Dedi?” tanya lelaki itu.
“Ya.”
Lelaki itu tertawa terbahak-bahak.
“Akhirnya, aku bisa bertemu dengan si tukang pos. Dedi.”
“Bagaimana kamu mengenali aku?”
“Tidak aku hanya menduga-duga. Setiap kali aku bertemu dengan orang yang membawa sepeda seperti ini, aku menegurnya. Tetapi semua tidak mengaku Dedi, baru kamu yang mengaku bernama Dedi. Benar kamu Dedi anak lampu merah di sudut perempatan kota dulu?”
“Ya,” ujar Dedi, “siapa kiranya kamu?”
Lelaki pemulung itu tertawa terbahak-bahak lagi.
“Kamu ingat anak yang bermimpi menjadi insinyur?”
Serta-merta Dedi teringat temannya.
“Iming. Kamu Iming?”
Dedi menyandarkan sepedanya, lalu menyalami Iming, bahkan dia hendak memeluknya.
“Hei, pakaianku kumuh, kotor, bau. Kamu sudah bukan Dedi yang dulu lagi. Kamu sudah berpakaian rapi.”
“Tapi kamu tetap sahabatku,” ujar Dedi.
“Impianmu tercapai, ya. Jadi tukang pengantar surat, tukang pos! Ha..ha..ha… Aku naik tingkat juga, tidak mengemis lagi. Lebih terhormat sedikit, menjadi pemulung. Bukankah pemulung juga sebuah profesi, he?”
Dedi tersenyum.
“Tunggu!” ujarnya lagi. Iming memanggil seseorang, “Irah….”
“Irah?”
Dari balik pagar seorang perempuan muncul. Dia menggendong seorang bayi kecil sambil memanggul sebuah karung berisi berbagai barang pulungan. Perempuan itu menghampiri mereka. Di hatinya bertanya-tanya, siapa gerangan kenalan Iming itu? Setelah dekat, Iming mengenalkannya.
“Kamu ingat dia?”
Perempuan itu menatapnya. Wajah lelaki yang ditatapnya itu seperti akrab dan pernah sangat dikenalnya. Tetapi dia ragu. Dia menggeleng.
“Dedi!” ujar Iming, “dia Dedi, kamu pasti ingat.”
“Ya,” keluh perempuan itu.
“Irah… Masya Allah, aku tidak mengenalinya. Bukankah dulu kamu tertangkap Satpol PP?”
“Ya, tetapi saya lari dari tempat penampungan.”
“Sekarang dan itu anak siapa?”
Irah menatap Iming sambil tersenyum.
Iming berujar, “Kami sudah kawin. Punya anak satu.”
“Kalian sudah menikah?” tanya Dedi menegaskan.
“Bukan menikah, tetapi kawin. Kamu harus dapat membedakan kata “kawin” dengan kata “nikah.” Ujar Iming.
“Maksudmu?”
“Kami kawin tanpa surat-surat resmi. Kami ijab kabul hanya di hadapan amil,” Iming menjelaskan.
Dedi menghela napas.
Irah bertanya, “Di mana Jono?”
“Jono?” Dedi kembali teringat peristiwa anak gelandangan yang tertabrak kendaraan sangat menyelamatkan diri dari razia Satpol PP. “Kalian tidak pernah bertemu Jono selama ini?”
Irah dan Iming menggeleng.
Dedi menghela napas. Di dalam hatinya dia berujar, “Kalau begitu, Jono sudah di alam baka.” Tetapi tidak dia ucapkan apa yang tersirat di dalam hatinya ini. Dia menggelengkan kepala sambil menatap tajam dua orang sahabatnya itu.
***
Cerpen Andy Wasis
Lampu lalu lintas sedang menyala hijau. Kendaraan melaju cepat. Jono, Iming, dan Dedi, anak-anak jalanan duduk santai di bawah pohon. Mereka menunggu sampai lampu lalu lintas di sisi jalan ini menyala merah. Pada saat lampu lalu lintas merah, mereka akan kembali ke sisi jalan menadahkan tangan mengemis lagi. Anak-anak di sisi yang lain akan duduk beristirahat. Anak-anak jalanan itu sudah mempunyai masing-masing kavling mereka tidak saling mengganggu. Usia mereka belasan tahun. Mestinya mereka masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Tuntutan hidup menyebabkan mereka harus mengemis.
“Kalau besar aku pingin jadi dokter,” ujar Jono.
“Aku mau jadi insinyur,” kata Iming.
Dedi berdiam diri saja. Duduk tafakur sambil mengawasi kendaraan-kendaraan yang melaju kencang. Di sisi lain, tempat lampu lalu lintas menyala merah temam-teman mereka mengemis dari mobil ke mobil.
“Kenapa kamu mau jadi insinyur?” tanya Jono.
“Mau bangunkan rumah buat makku.”
“Sekarang makmu di mana?”
“Itu!” Dia menunjuk ke arah gubuk-gubuk dari karton yang tersandar pada dinding pagar gedung mewah.
“Makmu di sana?”
“Ya. Sedang sakit.”
Jono menghela napas, “Kalau aku sudah jadi dokter, biar aku yang mengobati makmu. Tidak bayar.” Dia tertawa. Lalu menoleh kepada Dedi, “Hei, Ded, kalau besar kamu mau jadi apa?”
“Jadi tukang pengantar surat. Tukang pos!”
Jono dan Iming tertawa terbahak.
“Ha, jadi pengantar pos,” ejek mereka.
“Jangan mengejek, pekerjaan pengantar pos itu mulia.. Menyampaikan pesan orang lain. Silaturahmi. Sama dengan pekerjaan para nabi, mengantar pesan Tuhan kepada umatnya.”
“Iming, kamu mau jadi insinyur?”
“Kenapa?” “Dari mana biaya sekolahmu?”
Iming tertawa terkekeh. Lantas bertanya kepada temannya itu, “Kamu Jono, dari mana pula biayamu untuk sekolah dokter?”
“Aku mau belajar nyuntik saja sama Pak Mantri. Lalu keliling kampung mengobati orang, pasti orang-orang kampung memanggilku dokter. He..hee.”
“Apa ada mantri yang mau ngajari kamu nyuntik?”
Jono tercenung sesaat. Dia teringat di kampungnya dulu, pak liknya menjadi mantri kesehatan. Penduduk kampung datang kepadanya meminta diobati. Tetapi itu dulu, ketika dia masih amat kecil. Ketika disunat dulu, pak liknya yang memotong ujung kemaluannya. Sekarang? Entahlah di mana orang tua itu. Masih hidupkah? Desanya telah lebur dilanda musibah gempa bumi, disertai banjir dan angin puting beliung. Sanak kerabat saling terpisah. Itu pula yang menyebabkan dia terdampar di kota menjadi anak gelandangan.
Tiba-tiba saja Jono jadi sedih.
“Ah, itu ‘kan cuma mimpi!” seraya berlari menjauh.“Hei, lampu sudah merah!” teriak Iming.
Iming, Dedi bangkit dan bergegas lari ke arah mobil-mobil yang mulai berhenti. Jono juga segera berlari ke sana. Tetapi baru saja Dedi hendak melangkah dari trotoar, ada suara memanggil namanya.
“Dedi!” seorang anak perempuan berpakain kumuh membawa kaleng bekas susu manggilnya. Usia anak itu terpaut dua tahun lebih muda dari Dedi.
Dedi menghampiri.
“Ada apa, Rah?”
“Aku belum makan. Dari pagi.”
“Ya, sudah beli sana.”
Irah menungkingkan kalengnya. Kaleng itu kosong.
“Kamu belum dapat uang?”
Irah menggeleng.
Dedi merogoh saku, mengambil sejumput uang logam.
“Ini! Sana beli!”
Tolonglah, Ded, belikan. Kakiku sakit.” Rengek anak perempuan kecil itu seraya memperlihatkan borok di kakinya yang terbungkus kain lusuh. Pada kain lusuh itu terdapat bercak-bercak darah bercampur nanah. Irah tahu, Dedi amat berperhatian kepadanya. Dia memanfaatkan situasi itu.
Dedi berlari ke arah kedai nasi di pinggir proyek bangunan gedung. Ia membeli sebungkus nasi dengan tempe goreng dan mengambil sejumput garam dan cabe rawit. Ia bergegas kembali ke tempat Irah menanti. Setelah bungkus penganan itu diserahkan kepada Irah, lampu menyala merah. Jono dan Iming berlari ke trotoar, mereka duduk santai di rerumputan.
“Dapat berapa?”
“Lumayan,” sahut Jono .
“Kamu?” bertanya kepada Dedi.
Dedi menggeleng.
“Tidak sempat.”
“Kenapa?”
“Si Irah minta belikan nasi.”
“Anak ceking itu makannya banyak!” ujar Iming.
Jono berdiri, berpindah tempat duduk agak jauh dari mereka. Ia mengeluarkan kaleng kecil, membuka tutupnya lalu asyik menghirupnya. Sesaat kemudian ia merebahkan diri ke rumputan sambil terus menghirup aroma lem aica aibon.
“Mulai teler dia!” ujar Iming, “bagaimana mau jadi dokter, tukang mabok!”
Dedi tidak berkomentar. Anak ini diam saja. Dia memang anak pendiam. Sudah dua tahun dia menggelandang dan mengemis di perempatan jalan ini. Dia mulai menggelandang sejak ibunya hilang tertelan gelombang sunami yang menerjang desanya di pinggiran pantai Pelabuhanratu. Tidak ada lagi sanak famili di desa. Dengan menumpang truk bermuatan ikan dia terdampar di keramaian ibukota. Untuk biaya makan, tidak ada jalan lain kecuali mengemis. Memang bertentangan dengan hati nuraninya, tetapi nasib tidak bisa dihindari. Malam hari dia tidur di emper gedung yang tengah dibangun. Di sana juga anak-anak lainnya tidur. Kecuali Iming, dia tidur di gubuk maknya, karena harus menunggui maknya yang sedang sakit.
Lampu menyala merah kembali. Jono bergegas. Dedi yang baru saja mau duduk segera pula bangkit. Dia sudah kehilangan satu peluang karena membelikan nasi untuk si Irah. Tiba-tiba terjadi keributan di tempat gubuk-gubuk liar. Ada razia gelandangan dan gepeng. Sepasukan Satpol PP membongkari gubuk-gubuk yang terbuat dari karton bekas serta menangkapi para gelandangan.
Anak-anak di sudut lain lampu lalu lintas itu segera berlari.
“Makku!” teriak Iming. Dia akan berlari ke arah gubuk maknya.
Dedi mencegahnya.
“Jangan, nanti kamu ditangkap! Ayo, lari!”
Dedi menyeretnya.
“Makku.”
“Makmu pasti bisa menyelamatkan diri. Nanti kamu bisa bertemu lagi dengannya. Ayo, lari!”
“Dia sakit, Ded.”
“Apakah mau kamu ditangkap, dijebloskan ke kurungan?” Dedi belum pernah terkena razia, tetapi ada anak lainnya yang bercerita kepadanya. Kalau anak gelandagnan terkena razia, akan dimasukkan tahanan. Mendengar kata tahanan, dia teringat tahanan polisi, jadi dia sangat takut.;
Dengan perasaan cemas Iming berlari bersama Dedi. Tetapi di suatu tempat yang agak aman dia berhenti.
“Ayo, Iming!” seru Dedi.
“Duluan. Aku ingin melihat makku!”
Dedi meninggalkan Iming. Ketika dia akan menyeberang jalan di perempatan lain, tiba-tiba lampu lalu lintasnya menyala hijau. Kendaraan-kendaraan melaju kencang. Dedi berhenti di sisi jalan menunggau saat tepat untuk menyeberang. Tiba-tiba terdengar suara rem kendaraan menciut kencang. Terjadi tabrakan beruntun. Sesaat jalan macet, penuh oleh kendaraan yang berhenti. Beberapa orang dari sisi-sisi jalan berlarian ke arah terjadinya kecelakaan. Dedi berdiri terpaku di sisi jalan. Ia ingin mendekat ke arah terjadinya kecelakkan, tetapi takut tertangkap Satpol PP.
Dua orang perempuan lewat di sisi Dedi.
Salah seorang berujar, “Hi, ngeri ya, kepalanya pecah!”
“Pasti anak gelandangan itu!” ujar yang seorang.
Mendengar kata “anak gelandangan” Dedi terkejut.
“Ada apa, Bu?” dia bertanya.
“Anak gelandangan tertabrak mobil!” jawab perempuan itu tak acuh.
Dedi makin terperanjat. Tadi dia melihat Jono berlari menyeberang jalan saat banyak kendaraan melaju cepat.
“Jono!” keluhnya. Secara refleks dia akan berlari ke sana. Namun langkahnya segera tertahan karena tampak polisi telah berada di sana. Mobil pickup Satpol PP yang memuat orang-orang yang terkana razia pun melintas. Dedi takut. Dia lari berbalik arah memasuki gang kecil ke arah kampung. Tiba di daerah perkampungan dia duduk di sebuah teras rumah gubuk sederhana. Teras itu terbuka dan di san ada sebuah bale-bale bambu yang sudah reot.
“Mudah-mudahan bukan Jono,” keluhnya.
Dedi tidak tahu telah berapa lama dia tertidur di bale bambu itu, ketika tiba-tiba dia mendengar ada benda yang disandarkan di sisinya. Dedi terjaga, ia melihat sebuah sepeda ontel yang dibagian goncengannya tersampir tas dari terpal. Dedi teringat pada sepeda tukang pos di desanya. Itu sebabnya dia ingin menjadi tukang pos, banyak kenalan dan selalu berkeliling ke desa-desa.
“Hai, kamu siapa?” seorang lelaki tua menegurnya.
“Maaf, Pak saya tertidur karena cape.”
“Ya, sudah kalau masih ngantuk, tidur lagi saja.”
“Tidak, saya mau pergi,” ujar Dedi seraya turun dari bale bambu itu.
“Kamu mau pulang? Di mana rumahmu?”
Dedi menggeleng, “Saya ….”
Lelaki tua itu memperhatikannya. Dia teringat akan anak lelakinya yang meninggal ketika masih kecil dulu. Seandainya dia tidak meninggal pasti sudah sebaya anak ini, pikirnya. Istrinya juga sudah meninggal, dia tinggal sendiri di rumah gubuk ini.
“Kamu tidak punya rumah?” duga lelaki tua itu.
Dedi mengangguk.
“Kalau kamu mau, boleh tinggal di sini. Bapak tinggal sendirian.”
Tawaran itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Dedi.
“Boleh saya tinggal bersama Bapak?”
“Boleh.”
“Saya akan membantu membersihkan rumah dan pekarangan ini, jika bapak mengijinkan saya tinggal di sini.”
“Ya,” ujar lelaki tua itu. Alih-alih anak ini menggantikan keberadaan anakku, pikirnya.
Kehadiran Dedi di lingkungannya, menyebabkan orang tua itu tidak merasa kesepian. Bahkan Dedi disekolahkan sampai tamat SMP. Setamat Dedi dari SMP, bersamaan pula lelaki tua itu pensiun dari tempat kerjanya, di kantor pos desa. Atas usulnya, Dedi diterima bekerja menggantikanya sebagai tukang pengantar surat.
*
Lima tahun telah berlalu. Dedi menuntun sepedanya melewati sisi pagar seng sebuah pekarangan yang bangunannya baru dirobohkan. Tampaknya di tanah ini akan dibangun gedung baru. Tiba-tiba pintu pagar seng terkuak, seorang lelaki bertopi caping menarik gerobak penuh muatan besi-besi beton bekas. Melihat ada tukang pos, lelaki pemulung itu memanggilnya.
“Hei, tukang pos!”
Dedi berhenti. Lelaki itu mehampirinya.
“Kamu Dedi?” tanya lelaki itu.
“Ya.”
Lelaki itu tertawa terbahak-bahak.
“Akhirnya, aku bisa bertemu dengan si tukang pos. Dedi.”
“Bagaimana kamu mengenali aku?”
“Tidak aku hanya menduga-duga. Setiap kali aku bertemu dengan orang yang membawa sepeda seperti ini, aku menegurnya. Tetapi semua tidak mengaku Dedi, baru kamu yang mengaku bernama Dedi. Benar kamu Dedi anak lampu merah di sudut perempatan kota dulu?”
“Ya,” ujar Dedi, “siapa kiranya kamu?”
Lelaki pemulung itu tertawa terbahak-bahak lagi.
“Kamu ingat anak yang bermimpi menjadi insinyur?”
Serta-merta Dedi teringat temannya.
“Iming. Kamu Iming?”
Dedi menyandarkan sepedanya, lalu menyalami Iming, bahkan dia hendak memeluknya.
“Hei, pakaianku kumuh, kotor, bau. Kamu sudah bukan Dedi yang dulu lagi. Kamu sudah berpakaian rapi.”
“Tapi kamu tetap sahabatku,” ujar Dedi.
“Impianmu tercapai, ya. Jadi tukang pengantar surat, tukang pos! Ha..ha..ha… Aku naik tingkat juga, tidak mengemis lagi. Lebih terhormat sedikit, menjadi pemulung. Bukankah pemulung juga sebuah profesi, he?”
Dedi tersenyum.
“Tunggu!” ujarnya lagi. Iming memanggil seseorang, “Irah….”
“Irah?”
Dari balik pagar seorang perempuan muncul. Dia menggendong seorang bayi kecil sambil memanggul sebuah karung berisi berbagai barang pulungan. Perempuan itu menghampiri mereka. Di hatinya bertanya-tanya, siapa gerangan kenalan Iming itu? Setelah dekat, Iming mengenalkannya.
“Kamu ingat dia?”
Perempuan itu menatapnya. Wajah lelaki yang ditatapnya itu seperti akrab dan pernah sangat dikenalnya. Tetapi dia ragu. Dia menggeleng.
“Dedi!” ujar Iming, “dia Dedi, kamu pasti ingat.”
“Ya,” keluh perempuan itu.
“Irah… Masya Allah, aku tidak mengenalinya. Bukankah dulu kamu tertangkap Satpol PP?”
“Ya, tetapi saya lari dari tempat penampungan.”
“Sekarang dan itu anak siapa?”
Irah menatap Iming sambil tersenyum.
Iming berujar, “Kami sudah kawin. Punya anak satu.”
“Kalian sudah menikah?” tanya Dedi menegaskan.
“Bukan menikah, tetapi kawin. Kamu harus dapat membedakan kata “kawin” dengan kata “nikah.” Ujar Iming.
“Maksudmu?”
“Kami kawin tanpa surat-surat resmi. Kami ijab kabul hanya di hadapan amil,” Iming menjelaskan.
Dedi menghela napas.
Irah bertanya, “Di mana Jono?”
“Jono?” Dedi kembali teringat peristiwa anak gelandangan yang tertabrak kendaraan sangat menyelamatkan diri dari razia Satpol PP. “Kalian tidak pernah bertemu Jono selama ini?”
Irah dan Iming menggeleng.
Dedi menghela napas. Di dalam hatinya dia berujar, “Kalau begitu, Jono sudah di alam baka.” Tetapi tidak dia ucapkan apa yang tersirat di dalam hatinya ini. Dia menggelengkan kepala sambil menatap tajam dua orang sahabatnya itu.
***
Langganan:
Postingan (Atom)