4.29.2008

BIDUK DI ALUR LAUT BIRU

1.

sepasang pengantin remaja
insan pilihan dan dambaan
saat mentari pagi cemerlang
langit cerah hari itu
walau kala musim penghujan
Februari, sepuluh, lima delapan
turun ke tepian
menaiki biduk menuju samudera

alangkah indah alam
alangkah ramah laut
biru mengundang
arungi sampai jauh tanpa batas
camar melayang mencanda bayu
merasuk hati Jaka mendorong biduk
menempuh riak warna perak ayu
kecil, lembut, mengakrabi
“Ayo, naik!”
Dara berdiri di haluan
senyum menyapa

Jaka naik ke biduk
menghampar layar
angin menerpa layar meregang

“hooiii biduk melaju!”
Dara riang berteriak dari haluan
jaka melambaikan tangan

puluhan camar mencanda layar
iringi sepasang mempelai
melaju sedesah angin
ke arah jauh laut impian
Dara dan Jaka
berdiri di buritan
memandang ke tepian
pada kerumunan banyak orang,
ibu, bibi, adik, paman, dan teman



Dara berkata
getar suaranya,
“Lihat mereka mengantar kita,
ibu, sanak saudara, kerabat,
dan sahabat!”

hati dilanda alun gelombang sendu
Dara dan Jaka terdiam
sebersit teriakan memecah kebisuan,
“Selamat jalan! Menempuh
pahit manis kehidupan!”

Dara dan Jaka membalas
lambaikan tangan,
“Selamat tinggal semua,
kami berdua mencari hakikat hidup
di samudera yang belum punya kepastian!”

angin berhembus
camar semakin tertinggal
layar bertambah kembang
biduk menjauh
tepian tak tersawang
tersaput samar kabut melayang

samudera terhampar
biru melingkar
asing

“Berdua saja kita,”
suara Dara melantun ragu
menyadari tak ada sesiapa
cuma laut dan gelombang
menghadang keluasan
yang tak tersentuh pandang

“Jangan resah, Dara
senyumlah sambut keluasan laut biru
inilah hakikat hidup yang kita cari
sejak kita jumpa
sampai kita rekat berdua.
Bukankah ini yang kita citakan?
laut mendukung gairah kehidupan
menghantar nyanyian menerjang riak.
insan ditakdirkan berpasangan
seperti Firman-Nya,
...di antara tanda-tanda
kekuasaan-Nya; diciptakan
pasangan hidup untukmu,
agar hatimu tenang dan
bangkit kasih-sayang...”
(30:21)

Dara senyum
rasa riang terbersit dalam di hati
benarkah aku
tulang rusuknya yang hilang?



2.

ketika malam turun
kelam menerpa
bintang-bintang jauh ramah menyapa
menebar cahaya samar
pada laut biru yang pekat
angin mati
layar terkulai lesu

laut masih ramah
riak menyeret biduk tanpa arah
di buritan Jaka dan Dara duduk pasrah
Dara meratap,
“Apa lagi yang bakal kita hadapi,
selain pekat seperti ini?”

“kata orang-orang tua dahulu,
laut tak mudah diduga
kadang mencanda ramah
tetapi sesekali akan datang
badai dan gemulung ombak..”

Suara Dara lirih,
“Jangan menakuti.”
“Tidak. Dan kita tidak akan
berpantang surut, bukan?”

Dalam pekat malam
senyum Dara terkulum
tegar dia berujar,
“Kita akan terus mengarung laut,
tak boleh ke belakang kita surut .


Aku akan berdoa kepada Tuhan.
Kata Tuhan,
...sesungguhnya Aku dekat,
akan Ku-perkenankan
permohonan mereka
apabila kepada-Ku mereka berdoa .”
“Ya, kamu benar, Dara,
hanya kepada Allah kita
menyembah, dan kepada-Nya
kita meminta tolong.”


tiba-tiba
berkilau sinar agung di angkasa
bagai permata memeluk persada
Jaka merintih dalam kesunyian sukma,
“Sarat beban yang kita emban
benih kita tebar, siapakah
bakal memetik buahnya?”

Dara merengkuh Jaka amat mesra
“Yang bakal memanen anggur
pusaka silam yang kita tanam
anak dan keturunan,
paduan darahmu dan darahku!”


3.

saat fajar memancar di suatu hari
pada awal ketigapuluh enam purnama
gadis kecil terlelap di lunas biduk
mengulum senyum
bercadar selubung hati

“Ooii Jaka,
lihatlah buah cinta
tersenyum menebar bahagia!”

“Ya,” balas Jaka dari haluan,
“tapi, lihat nun jauh di sana
awan pekat menggulung
bayu mendesah seru,
laut tak ramah mulai menghadang!”
Suara Dara membersit tegar,
“Jangan menyerah. Pastikan tujuan
ke satu arah!”
nun, dari jauh angin menderu
kencang membawa riak gemulung
menerpa sisi biduk limbung
Jaka menggulung layar
Dara menggagas haluan

gadis kecil yang terbaring di lunas
menebar tembang menating kenangan
menghapus rasa ketakutan

lelah bukan alang-kepalang
tetapi segera sirna
manakala di langit pekat
tiba-tiba bulan sabit seakan melekat
laut ramah mesra mencanda

Jaka menghela napas
suaranya lemah mendesau sesal,
“Masih adakah gemulung ombak
yang lebih ganas?”

Dara menghampiri
duduk dengan pandang menerawang
jauh ke ujung yang tak tersawang
dia bicara penuh asa,
“Katamu laut tak bisa diduga, tapi
kita akan mampu mengarunginya.
Ingat firman Tuhan,
... Kami meringankan beban
yang memberati punggungmu,
sesungguhnya
beserta kesukaran ada kemudahan,
beserta kesukaran ada kemudahan,
oleh karena itu,
apabila telah usai satu urusan
kerjakanlah urusan lain bersungguh- sungguh
kepada Tuhan hendaknya berharap.”
(94: 2-8)







4.

sudah lama nian
hamparan samudera penuh bahaya
diarungi bersama
pulau-pulau bertebing terjal di lewati
amukan badai dan taufan dihadapi
lilitan lapar dera dahaga dirasa bersama
jarak tempuh yang jauh telah dilampaui
santapan mewah pesta pengantin
tinggal kenangan yang sirna

air hampir menyentuh sisi biduk
muatan bertambah sarat
sepuluh anak-anak di atasnya
tapi, bagai tanduk rusa
berpuluh cabang di kepala
tubuh si induk tak limbung
tidak merasa terberati

tetap riang mereka
mengarungi laut tak berbatas
mereka bernasihat
kepada sepuluh anak,
“Walau kita dipisah samudera dan
benua, kita tetap sepelayaran
ke puncak tujuan yang suci!
Anak-anakku
tuturkan mutiara asli
dalam kesederhanaan kata-kata,
hindari kepalsuan
pada perbuatan apa pun jua.

Dengarkan tembang kebenaran
seperti mendengar kidung musim semi
tapi bila kaudengar suara si pengecam
dan si pencari kesalahan
tutup telingamu
hingga tuli sampai tulang-belulang
dan lemparkan sejauh khayalan
yang terbang!

ada orang-orang lidahnya berbisa
beri madu kepadanya
sebagai ganti kata-kata

ada orang bertanduk duri
berikan mahkota untaian melati

ada orang berkuku runcing
pencakar dan penggugah gunjing
berikan kepadanya mawar merah
pengganti jemarinya

akan kalian temui
orang pincang yang rela menjual
tongkat penopang
orang buta yang rela melepas pegangan
tempat bergayut

akan kautemui juga
orang kaya bersila menadah derma
berikanlah sedekah kepadanya
karena mereka
termiskin dari yang papa

Ingat
dan lakukan ini
jangan sudi menadah tangan
menanti runtuhnya iba
kalau tidak sungguh terpaksa

memberi yang kami ajarkan
menerima jerih karena pekerjaan
bukan penolakan
melainkan pemenuhan
dan bukan penyerahan
tetapi pengertian disertai maklum
yang terkulum di bibir senyum.

jangan bentangkan jarak di antaramu
pupuk perasaan persahabatan
memang perbedaan lebih lebar
dari yang terpancang
tetapi selalu ada ruang untuk pulang
yaitu keluarga
bukankah kalian dari satu tetes
darah ayah dan bunda



kami pun tak mengajar kebisuan
kami ajarkan nyanyian
selaras tak lepas arah!”


5.

anak-anak telah belia
biduk bertambah sarat
oleng walau tertimpa riak semilir

“Ayo, Dara!
telah tiba waktunya
kita singgah ke gosong pasir
ajari juga mereka
berbiduk ke lepas samudera
menyelesaikan cita kita
yang tak pernah tergapai!”



6.

telah jauh berlayar
biduk mulai rapuh
layar pekat debu dan lumut laut

sudah lima dasa warsa kini
kidung bintang hanya dalam mimpi
sirna lagi dikala jaga

Jaka dan Dara pun mulai rapuh
hanya tegar semangat
setegar karang pemagar samudera

“Ayo, kita terus berlayar
sampai ke batas kematian,
hidup akan langgeng di sana!”
“Tapi, di manakah batas kematian?”
suara Dara lirih bintang pudar
Jaka memayungi kedua mata dengan
jemari tangan
pandangannya menerawang
jauh ke depan


“Di sana tampak samar tepian
segaris cakrawala
itulah batas kematian
tempat akhir tujuan.”

lirih suara Dara
menghempas riak di sisi biduk,
rindu menghadang di dada,
“Gulung dulu layar,
perlambatlah biduk berlayar
aku ingin menyawang
ke biduk-biduk yang kita tinggalkan!”

Nun di batas kaki langit lain
jauh tertinggal di belakang
layar-layar biduk seperti titik
merpati putih terbang menembus
alur cakrawala

“Mereka jauh nun di sana
dalam perjalanan kembara arungi laut
Biarkan mereka raih manis madu
di alur pucuk-pucuk pepohonan
kala hujan menari di dedaunan
bagai restu dan hikmat dalam lembah.”

Lirih lagi Dara bertanya,
“Tapi adakah bekal kita
untuk mencapai tepian sana?”
“Ada Dara, ada bekal kita, yaitu
taqwa kepada Sang Pencipta!”

Ditatapnya lelaki di hadapannya itu
tembang sendu meluncur di hati,
“sudah rapuh kini dia
tak seperkasa awal mendorong biduk
dari tepian dulu, cuma jiwa dan
semangat yang tetap tegar.”

Jaka merengkuhnya
jemarinya lembut menerpa
bak sebungkah embun pagi hari
senyum di bibir Dara terkulum
“Ayo, teruskan pelayaran
sampai batas akhir tujuan!”






biduk yang sudah rapuh
dan kain layar lusuh
melaju membelah laut biru
menembus kabut awan beriringan
sampai gumpalan rindu disentuh
tangan Tuhan ....


Ciputat, Medio Agustus 2007

Tidak ada komentar: