lama nian tahun-tahun kulalui
jauh di tempat diri berlabuh
kini kuberada lagi ditepianmu
rindu riakmu
mencanda hati
mencanda keriangan
yang hilang tak lagi membayang
lautku
kembara telah pulang
ke tepianmu
dari labuh daratan tak berbatas
kini aku di tepianmu
menyawang sisimu yang luas
cuma langit
ujung bumi yang hijau pahit
yang marak terbersit
lautku
akan kau bawakah aku ke keluasanmu
nan tanpa batas
akan kau jadikankah aku
kembara di alur samudera
lautku
aku telah kembali
kalau akan kau hantar lagi
berkelana di samudera tanpa tepi
aku tak mau sendiri
biarkan aku bersama belahan hati
terapung di biduk nan abadi
Andy Wasis
Tangerang, Oktober 2009
10.04.2010
10.01.2010
MERAMBUNG
Merambung
desa kecil di lereng Rajabasa
saat garang matahari menebar cahaya
lahan dan ladang gersang
melebarkan derita
melepas cinta redam di dada
memudar rindu di rongga kata
Merambung
desa kecil di lereng rajabasa
sisa gunung api yang pernah jaya
merekam sejarah perlawanan
di abad delapan belas silam
lereng-lerengnya kini gersang
batang cengkeh dambaan
runtuh ditebas keserakahan
tak ada lagi gadis-gadis
bergelang kaki emas
berkain tapis serat nanas
berjalan ke pekan menyunggi keranjang
dengan bibir merah alami dan wajah riang
bila malam saat bulan sabit menyunggi langit
gardu jaga sepi
tak ada lagi bujang yang memetik mendolin
melagukan tembang kasih
seputih bunga kopi
Merambung
desa kecil di lereng Rajabasa
terpanggang kemarau berkepanjangan
puncak, lereng, lembah,
tak menyisakan rumput dan ilalang
dan anak sungainya
kehilangan aroma belerang
Merambung
rindu sejoli yang telah renta
hasrat meyambangi hijau dedaunan
merengkuh warna perak kabut
kini tinggal kenangan
Merambung
rinduku redam direnggut takdir
Andy Wasis
Pasuruan, Kalianda 2007
Merambung
desa kecil di lereng Rajabasa
saat garang matahari menebar cahaya
lahan dan ladang gersang
melebarkan derita
melepas cinta redam di dada
memudar rindu di rongga kata
Merambung
desa kecil di lereng rajabasa
sisa gunung api yang pernah jaya
merekam sejarah perlawanan
di abad delapan belas silam
lereng-lerengnya kini gersang
batang cengkeh dambaan
runtuh ditebas keserakahan
tak ada lagi gadis-gadis
bergelang kaki emas
berkain tapis serat nanas
berjalan ke pekan menyunggi keranjang
dengan bibir merah alami dan wajah riang
bila malam saat bulan sabit menyunggi langit
gardu jaga sepi
tak ada lagi bujang yang memetik mendolin
melagukan tembang kasih
seputih bunga kopi
Merambung
desa kecil di lereng Rajabasa
terpanggang kemarau berkepanjangan
puncak, lereng, lembah,
tak menyisakan rumput dan ilalang
dan anak sungainya
kehilangan aroma belerang
Merambung
rindu sejoli yang telah renta
hasrat meyambangi hijau dedaunan
merengkuh warna perak kabut
kini tinggal kenangan
Merambung
rinduku redam direnggut takdir
Andy Wasis
Pasuruan, Kalianda 2007
Langganan:
Postingan (Atom)