4.15.2011
PERJUANGAN MELAWAN SAKIT
aku ngeri menjalaninya
dokter juga ragu melakukannya
karena kadar usia
kulawan dengan obat-obat tradisional
hanya rasa sakit yang sulit dilawan
ini yang menyebabkan aku konsul kepada dokter secara berkala
meminta obat penahan nyeri
pada akhirnya aku mendapat mst
yang kukonsumsi setengah
obat penahan nyeri tidak dapat bertahan lama
obat ini hanya mampu bertahan kurang dari 10 jam
yang menyakitnya setiap dini
aku pasti merasakan rasa nyeri yang amat sangat
bayangkan
pukul 03 rasa sakit mulai merayap di punggung dan dada
aku terus bertahan dan beraktivitas
biarkan sampai batas waktu yang ditentukan Tuhan
3.26.2011
MINGGU YANG SEGAR
3.12.2011
DARI TANAH PALESTINA KE LEMBAH HEJAZ
1
dari tanah Palestina nan jauh di seberang
tiga insan dambaan
Ibrahim, Siti Hajar, dan bayi kecil dalam dukungan
menempuh padang pasir dan lembah garang
tempat tujuan nan tak tersawang
harapan mengawang jauh dari bayang-bayang
Siti Hajar dan
Ismail
dari keturunan Ibrahim
terdampar di lembah kering
lahan berpasir gersang
siang mentari membara
malam embun menebar kesejukan tiada tara
saat fajar merambah kaki langit
kepada istri dan anaknya Ibrahim pamit
pesan tertinggal hanya sekelumit;
- menetaplah kalian di ini lembah
tempat yang dekat dengan Baitullah
Siti Hajar
berserah diri dan pasrah
yakin perlindungan akan datang dari Allah
dalam perjalanan pulang ke Palestina
Ibrahim berdoa
- Ya Rabbi
aku telah menempatkan sebagian keturunanku
di lembah gersang dekat rumah-Mu
agar mereka mendirikan salat
gerakkan hati manusia tertuju kepada mereka
Ya Rabbi
Engkau mengetahui apa yang terhunjam di hati
bagi-Mu tak ada yang tersembunyi
di langit mau pun di bumi
Rabbi
segala puji bagi-Mu
yang telah menganugerahkan dua putera kepadaku
jadikanlah aku beserta anak cucu
orang-orang yang mendirikan salat
Engkau Maha Memperkenankan segala doa
(QS 14 : 37-40)
2
mentari membara
panas menghanguskan segala
tangis baji kecil Ismail membahana
dicekam haus dan dahaga
paniklah sang bunda
dicari sumber air tak bersua
cuma pasir dan bukit batu yang tersedia
bertopang tongkat kayu
berlari-lari kecil bunda
dari bukit Saffa sampai bukit Marwa
dambakan sumber air tak bersua
di tengah rasa lelah sedih dan putus asa
seperti ada suara membahana
terdengar dekat kemudian sayup mengelana
- hentakkan tongkatmu, Hajar
air akan segera terpancar
Siti Hajar menghentakkan tongkat
dari tanah gersang di antara Safa dan Marwa
air deras memancar
melimpah ruah pelepas lelah dan dahaga
Siti Hajar teriak gembira disertai rasa syukur
- terima kasih, Rabbi
- terima kasih, Rabbi
aku yakin perlindungan hanya dari-Mu
lembah gersang tak sesiapa pun ingin bersaba
berubah menjadi kota niaga
Mekah kota suci lindungan Illahi
tempat melaksankan umrah dan haji
Ramadhan 1428
September 2007
3.07.2011
MASIH TERUS BERJUANG MELAWAN KANKER PARU
2.13.2011
BERJUANG MELAWAN KANKER PARU
Pada tahun 1985 ini setelah aku tinggal di Serua, aku batuk darah lagi. Kupikir aku terkena TB, maka kuminta diantar ke Sanatorium TB di Cisarua Puncak. Setelah diperiksa, dokter di sana mengatakan bahwa ini bukan TB, beliau menyarankan agar ke dokter spesialis paru. Aku rawat jalan dengan salah seorang dokter
Pada tahun 1999 usai aku memberi kultum pada salat tawareh, bulan Desember waktu itu bersamaan dengan bulan Ramadhan, aku batuk darah lagi. Aku mengambil inisiatif ke RS Fatmatawati melalui dr Joko, Spesialis Penyakit Dalam urusan paru nanti biar beliau yang merujuknya ke ahli paru. Aku dirawat selama dua minggu di RS Fatmawati. Dr paru yang merawatku seorang wanita yang aku lupa namanya. Beliau menganjurkan agar aku di CT Scan. Tapi aku tidak segera melakukan CT Scan, sampai akhirnya kambuh lagi.
Aku sekarang berobat ke dokter Suratman yang sudah menjadi spesialis paru. Menilik hasil rongent torak dia menganjurkan agar aku CT Scan tapi dia tidak bicara langsung kepadaku. Dia memanggil anakku Leo, kami memang akrab dg dr. Suratman, bahkan dia menganggap aku sebagai ayah.
“Babe suruh CT Scan tuh,” katanya kekpada Leo. Leo menyampaikan pesan dr.Suratman kepadaku.
Awal tahun 2000 aku di CT Scan lewat RS Pertamina Kebayoran Baru Ku serahkan hasilnya kepada dokter Sruatman. Dia memeriksanya, lalu dia menatapku tajam. Dia tak mau bicara, ujarnya, “Be ke profesor Soetoyo aja ya.”
Besok malamnya aku ke dokter Soetoyo. Beberapa tahun lalu aku dirawat olehnya ketika pendarahan dulu. Setelah memeriksa hasil CT Scan dan tubuhku, dia diam menatapku.
Aku tak sabar, “Kenapa Dok? Jelaskan.”
“Berani mendengarnya?”
“ya saya berani dok,” sahutku.
“ Ada sesutu yang tumbuh di paru-paru kira-kira ukurannya 1 x 1,1 x1cm. Kalau menilik bentuknya ini kanker. Kanker paru!”
Shok juga aku mendengarnya. Dia memeriksa tensinya, 190/80.
“Nah takut kan?” katanya menilik tensiku.
Aku menggeleng.
Lalu lanjutnya, “Harus dibiopsi, diteropong untuk mengetahui jenisnya dan tingkat keganasannya. Saya siapkan kamar di RS Jakarta.”
“Dibiopsi hanya untuk mengetahui saja Dok?”
“ya, setelah itu baru kita lakukan pengobatan yang terbaik.”
“Ya, baiklah,” jawabku.
Aku minta waktu. Malam itu aku pulang . Istriku menangis. Dia dibisiki sang dokter bahwa umurku hanya empat bulan.Berita ini menyebar ke semua anak-anak dan famili di Lampung dan Bandung. Keesokan harinya Dian mendapat telpon dari kerabat suaminya di Bandung yang melarang aku dibiopsi. Menurutnya setelah dibiopsi akan ada tindak lanjutnya, kemoterapi dan sebagainya. Ekses dari kemoterapi itu melemahkan tubuh. Dia menganjurkan ke sinshe dan memberi alamatnya.
Satu tahun aku berobat di sinshe. Kesehatanku pulih, ketika di rongent tak ada tanda-tanda bercak pada paru-paruku. Selama tahun-tahun berjalan aku tidak pernah lagi merasakan tentang penyakitku itu. Selama ini aku juga terus mengkonsumsi ekstrak Keladi Tikus.
Bulan Maret 2010 usus dua belas jariku luka aku dirawat di RSI Biontaro. Pada saat itu aku mulai merasakan sakit di dada, tetapi belum parah. Kepada dokter penyakit dalam kuberitahukan tentang sakit di dada ini. Dia menganjurkan periksa jantung. Jantung cukup baik. Lalu dia anjurkan periksa paru-paru. Aku kontrol paru di RS Fatmawati. Dokter paru RS Fatmawati tidak menduga rasa sakit ini bersumber pada paru-paru. Dia justru menduga aku terkena TBC paru. Dia memberi obat TB, dia salah diagnose. Sebab ketika periksa lab. Tak ada tanda-tanda TB.
Aku tak lagi kontrok ke dokter paru. Sakit di dada semakin menjadi. Kupikir ini pasti syarat. Aku teraspi di RS Veteran, tidak membuahkan hasil. Lalu kontrol ke dokter ahli syaraf, juga di RS Dr Suyoto Veteran. Dua kali injeksi lokal tak juga menghilangkan rasa sakit. Tampaknya dokter ahli syaraf ini cukup jeli.
“Rongent torak, periksa paru-paru,” anjurnya .
“Kenapa mesti periksa paru-paru, Dok?” tanyaku.
“Mungkin saja karena ada bercak putih pada sisi paru-paru menyebabkan rasa sakit,” katanya.
Aku rongent. Resume dokter Radiologi lagi-lagi TB paru. Karena ada bercak putih seperti awan di sudut kiri paru-paruku. Aku kembali ke dokter ahli syaraf. Oleh dokter ahli syaraf aku dirujuk ke dokter ahli paru. Dokter ahli paru-paru memeriksa hasil roncent torak. Katanya, “Ini bukan TB. Sebaiknya CT Scan.”
Kuceritakan riwayat paru-paruku. Mendengar penuturanku, dia menekankan supaya aku di CT Scan. Aku malaksanakan CXT Scan di RS Dr. Suyoto juga. Setelah ia memeriksa hasilnhya, dia mengambil kesimpulan, “Ada tumor di sudut kiri paru yang mendesak tulang iga. Itu penyebab rasa sakitnya.”
“Apa jalan keluarnya, Dok?” tanyaku.
“Eksplorasi diangkat tumor itu dari paru-paru dengan mematahkan beberapa tulang rusuk.”
Mendengar kata ‘eksplorasi’ aku membayangkan pengeboran minyak bumi. Ngeri.
“Tidak ada jalan lain?”
“Pada dunia kedokteran tidak ada jalan lain.Atau dibiopsi diteropong untuk mengambil semple memastikan jenis apa itu dan ganas atau tidak. Sebagai pribadi saya anjurkan coba pengobatan alternatif. “ Dia bercerita tentang ibundanya yang pada rahimnya terdapat tumor. Pada waktu itu dia belum menjadi dokter. Dokter akan membiopsi, tapi ayahnya tidak mengizinkan. Sang ibu berobat pada seorang tabib di Solo. Setelah berobat di sana, tumornya hilang.
Aku minta alamatnya.
“Saya tidak berani merekomendasikan, karena sang tabib telah meninggal sekarang digantikan oleh anaknya, belum tentu manjur pengobatannya.”
Aku mulai mencari-cari sinshe. Lewat sebuah iklan di surat kabar aku dapat alamat sinse Cina. Aku ke sana. Sinse ini totok Cina hanya bisa berbahasa Mandarin. Kuceritakan tentang penyakitku dan dia memeriksa lewat detak nadi di tangan. Dia menawarkan obat. Waauu mahalnya, satu paket untuk sepuluh hari harganya ‘sebelas juta’. Semula aku tak mau, tetapi putriku Lisa dan Dian mengambilnya.
“Biar kita coba, Pih,” ujar mereka.
Obat berupa racikan dan cairan kumakan. Tak ada hasilnhya. Rasa sakit tetap menyengat dada. Sepuluh hari kemudian pun tak ada perubahan apa-apa. Kami memutuskan untuk tidak kembali.
Aku mulaia stres. Seorang teman mengantar aku ke RSCM. Hasil diagnbosa di sana tetap biopsi. Aku pasrah dan mulai putus asa, aku menyerah dan menerima untuk dibiopsi. Kami membuat janji dengan dokter, menentukan jadwal biopsi.
Putriku Lisa menegaskan, “Apa papi sudah siap dibiopsi? Kalau sudah dibiopsi lalu dikemo, papi gak bisa beraktifitas seperti biasa. Anak-anak juga tidak bisa kumpul bercanda-canda dengan papi.”
Jawabku,”Biarlah. Gak tahan merasakan rasa sakit.”
Mereka tak lagi bicara apa-apa. Tampaknya di antara anak-anak bahkan istriku secara diam-diam di belakangku membicarakan masalah biopsiku. Mereka tidak setuju. Menjelang sehari lagi aku akan dibiopsi (sesuai jadwal dokter RSCM) Dian dan Lisa membujukku.
“Gak usah dibiosi ya, pih,” ujar Dian,”nanti papi makin lemah.”
“Ya, mending kita jalan-jalan, mumpung papi masih segar,” bujuk Lisa.
“Kita ke Kuala Lumpur,” lanjut Dian.
Oleh karena semua biaya pengobatan ditanggung oleh mereka (anak-anakku) untuk tidak mengecewakan mereka, kuturuti kemaun mereka.
Sekembali dari Kuala Lumpur aku kontrol ke dokter ahli paru di RS Dr. Suyoto. Diamemberi penjelasan tentang tumor paru ini serta efek samping bila di kemografi. Intinya tidak ada obat khusus untuk ini.
“Kalau gitu tolong saya obat penahan sakit saja, Dok.”
Dia memberi dua resep. Resep yang pertama langsung ditebus dan yang berikutnya sepuluh hari kemudian. Sementara itu aku mengkonsumi ‘keladi tikus’.
Hari ini obat penahan nyeri yang pertama habis. Resep yang kedua kutebus di apotek RS Dr. Suyoto tapi tidak tersedia. Pada obat racikan yang kedua ini ada campuran MSt (Morfin Sintetis) 1/9 bagian. Pada semua apotik swasta obat semacam itu tidak tersedia. Kebetulan hari ini Minggu 9 Januari 2011. Jadi kuputuskan akan menebusnya di apotek RS Fatmawati esok hari.
Semalam aku merasakan rasa sakit yang cukup lumayan.
Aku akan bertahan melawan penyakit yang menggerogotiku dengan obat herba, terutama ekstrak keladi tikus yang memang telah kugunakan sebelumnya dan rebusan daun sirsak.
Kalau ada pembaca yang punya saran atau baran gkali tempat pengobotan untuk ini, tolong sampaikan lewat komentar di bawah ini.(Andhy Wasis)
1.08.2011
SELAMAT JALAN SAHABAT
engaku sahabat yang paling tahu aku
kini engkau telah pergi
jauh
menghadap Tuhanmu
menyerahkan pengabdianmu kepada-Nya
aku sangat kehilangan
kesepian tanpamu
maafkan
saat-saat menjelang kepergianmu
aku tak berbuat apapun untukmu
masa itu aku tengah berjuang
melawan sesuatu yang merongrong tubuh
sahabat
selamat jalan
semoga Allah memberi tempat layak bagimu
Serua, 09-01011
10.04.2010
KEMBARA YANG PULANG
jauh di tempat diri berlabuh
kini kuberada lagi ditepianmu
rindu riakmu
mencanda hati
mencanda keriangan
yang hilang tak lagi membayang
lautku
kembara telah pulang
ke tepianmu
dari labuh daratan tak berbatas
kini aku di tepianmu
menyawang sisimu yang luas
cuma langit
ujung bumi yang hijau pahit
yang marak terbersit
lautku
akan kau bawakah aku ke keluasanmu
nan tanpa batas
akan kau jadikankah aku
kembara di alur samudera
lautku
aku telah kembali
kalau akan kau hantar lagi
berkelana di samudera tanpa tepi
aku tak mau sendiri
biarkan aku bersama belahan hati
terapung di biduk nan abadi
Andy Wasis
Tangerang, Oktober 2009
10.01.2010
Merambung
desa kecil di lereng Rajabasa
saat garang matahari menebar cahaya
lahan dan ladang gersang
melebarkan derita
melepas cinta redam di dada
memudar rindu di rongga kata
Merambung
desa kecil di lereng rajabasa
sisa gunung api yang pernah jaya
merekam sejarah perlawanan
di abad delapan belas silam
lereng-lerengnya kini gersang
batang cengkeh dambaan
runtuh ditebas keserakahan
tak ada lagi gadis-gadis
bergelang kaki emas
berkain tapis serat nanas
berjalan ke pekan menyunggi keranjang
dengan bibir merah alami dan wajah riang
bila malam saat bulan sabit menyunggi langit
gardu jaga sepi
tak ada lagi bujang yang memetik mendolin
melagukan tembang kasih
seputih bunga kopi
Merambung
desa kecil di lereng Rajabasa
terpanggang kemarau berkepanjangan
puncak, lereng, lembah,
tak menyisakan rumput dan ilalang
dan anak sungainya
kehilangan aroma belerang
Merambung
rindu sejoli yang telah renta
hasrat meyambangi hijau dedaunan
merengkuh warna perak kabut
kini tinggal kenangan
Merambung
rinduku redam direnggut takdir
Andy Wasis
Pasuruan, Kalianda 2007
9.28.2010
SETEGUK ANGGUR PAHIT
= Buat seseorang di ujung penantian
Kutinggalkan kau di lembah penderitaan
lembah yang kita gali
dalam ketidak pastian dan perselingkuhan
tapi kau amat tegar
mereguk cawan berisi anggur pahit memuakkan
tak juga kau muntahkan
walau perutmu mual menyebalkan
dari ku,
kau memang layak menerima pujian
tetapi dari perempuan lain di sisiku
kau layak mendapat makian
telah kau cabik-cabik lembar kisah keagungannya
maafkan aku
aku harus memilih bukit pertama pendakian
ketimbang menuruni lereng tersia dipenantian
karena di puncak bukit
ada rumput purun hijau menanti elusan tangan lembut
dan siraman manis madu kehidupan yang beruntut
sebagai penelusuran hayat yang berlanjut
yang akan gersang bila kuturuni lereng sampai ke lembah
pintaku
setitik pengertian
hapus angan yang tak pasti
jagalah dari mimpi
biarkan mentari membara di keluasan
menghanguskan takdir yang nyalang
Catatan: Ini puisi lawas kuposting kembali karena syarat kenangan masa lalu
7.24.2010
JANGAN DUGA LUBUKKU
Jangan kau tatap aku dengan mata nyalangmu
tak kan terduga berapa dalam lubukku
rongga jantungmu tak mampu memompa darah
sepanjang nadi dan syaraf rapuh di tubuhku
jangan resah karena jalanmu terantuk
batu sandung di halaman yang kosong dan suntuk
tak mampu kau menata kerapuhan raga di rongga tua ini
tak kuasa kau terjemahkan sekelumit isyarat nuraniku
sekali pun dengan sejuta penyihir dari kastil tua
di lembah bayang berkas samar kabut menjelaga
berpalinglah
hindari terpaan beliung
jangan kejar camar yang bertarung
jangan tebar dendam yang menggulung
karena kelak kau yang bakal terhempas
leleh jadi berkas kayu lapuk meranggas
raga rapuh ini pernah mengantarmu
ke tengah luasan hamparan angin yang mengelus batang
ranum di teras langit
tak kan bisa kau balas kendati dengan ringgit sebukit
atau dengan seribu bidadari yang kau turunkan dari alam gaib
maka sekaranglah sebaiknya kau tebar teratai
jangan tunda sampai segalanya tak lagi bisa kau gapai
Andy Wasis 24072010