4.29.2008

BIDUK DI ALUR LAUT BIRU

1.

sepasang pengantin remaja
insan pilihan dan dambaan
saat mentari pagi cemerlang
langit cerah hari itu
walau kala musim penghujan
Februari, sepuluh, lima delapan
turun ke tepian
menaiki biduk menuju samudera

alangkah indah alam
alangkah ramah laut
biru mengundang
arungi sampai jauh tanpa batas
camar melayang mencanda bayu
merasuk hati Jaka mendorong biduk
menempuh riak warna perak ayu
kecil, lembut, mengakrabi
“Ayo, naik!”
Dara berdiri di haluan
senyum menyapa

Jaka naik ke biduk
menghampar layar
angin menerpa layar meregang

“hooiii biduk melaju!”
Dara riang berteriak dari haluan
jaka melambaikan tangan

puluhan camar mencanda layar
iringi sepasang mempelai
melaju sedesah angin
ke arah jauh laut impian
Dara dan Jaka
berdiri di buritan
memandang ke tepian
pada kerumunan banyak orang,
ibu, bibi, adik, paman, dan teman



Dara berkata
getar suaranya,
“Lihat mereka mengantar kita,
ibu, sanak saudara, kerabat,
dan sahabat!”

hati dilanda alun gelombang sendu
Dara dan Jaka terdiam
sebersit teriakan memecah kebisuan,
“Selamat jalan! Menempuh
pahit manis kehidupan!”

Dara dan Jaka membalas
lambaikan tangan,
“Selamat tinggal semua,
kami berdua mencari hakikat hidup
di samudera yang belum punya kepastian!”

angin berhembus
camar semakin tertinggal
layar bertambah kembang
biduk menjauh
tepian tak tersawang
tersaput samar kabut melayang

samudera terhampar
biru melingkar
asing

“Berdua saja kita,”
suara Dara melantun ragu
menyadari tak ada sesiapa
cuma laut dan gelombang
menghadang keluasan
yang tak tersentuh pandang

“Jangan resah, Dara
senyumlah sambut keluasan laut biru
inilah hakikat hidup yang kita cari
sejak kita jumpa
sampai kita rekat berdua.
Bukankah ini yang kita citakan?
laut mendukung gairah kehidupan
menghantar nyanyian menerjang riak.
insan ditakdirkan berpasangan
seperti Firman-Nya,
...di antara tanda-tanda
kekuasaan-Nya; diciptakan
pasangan hidup untukmu,
agar hatimu tenang dan
bangkit kasih-sayang...”
(30:21)

Dara senyum
rasa riang terbersit dalam di hati
benarkah aku
tulang rusuknya yang hilang?



2.

ketika malam turun
kelam menerpa
bintang-bintang jauh ramah menyapa
menebar cahaya samar
pada laut biru yang pekat
angin mati
layar terkulai lesu

laut masih ramah
riak menyeret biduk tanpa arah
di buritan Jaka dan Dara duduk pasrah
Dara meratap,
“Apa lagi yang bakal kita hadapi,
selain pekat seperti ini?”

“kata orang-orang tua dahulu,
laut tak mudah diduga
kadang mencanda ramah
tetapi sesekali akan datang
badai dan gemulung ombak..”

Suara Dara lirih,
“Jangan menakuti.”
“Tidak. Dan kita tidak akan
berpantang surut, bukan?”

Dalam pekat malam
senyum Dara terkulum
tegar dia berujar,
“Kita akan terus mengarung laut,
tak boleh ke belakang kita surut .


Aku akan berdoa kepada Tuhan.
Kata Tuhan,
...sesungguhnya Aku dekat,
akan Ku-perkenankan
permohonan mereka
apabila kepada-Ku mereka berdoa .”
“Ya, kamu benar, Dara,
hanya kepada Allah kita
menyembah, dan kepada-Nya
kita meminta tolong.”


tiba-tiba
berkilau sinar agung di angkasa
bagai permata memeluk persada
Jaka merintih dalam kesunyian sukma,
“Sarat beban yang kita emban
benih kita tebar, siapakah
bakal memetik buahnya?”

Dara merengkuh Jaka amat mesra
“Yang bakal memanen anggur
pusaka silam yang kita tanam
anak dan keturunan,
paduan darahmu dan darahku!”


3.

saat fajar memancar di suatu hari
pada awal ketigapuluh enam purnama
gadis kecil terlelap di lunas biduk
mengulum senyum
bercadar selubung hati

“Ooii Jaka,
lihatlah buah cinta
tersenyum menebar bahagia!”

“Ya,” balas Jaka dari haluan,
“tapi, lihat nun jauh di sana
awan pekat menggulung
bayu mendesah seru,
laut tak ramah mulai menghadang!”
Suara Dara membersit tegar,
“Jangan menyerah. Pastikan tujuan
ke satu arah!”
nun, dari jauh angin menderu
kencang membawa riak gemulung
menerpa sisi biduk limbung
Jaka menggulung layar
Dara menggagas haluan

gadis kecil yang terbaring di lunas
menebar tembang menating kenangan
menghapus rasa ketakutan

lelah bukan alang-kepalang
tetapi segera sirna
manakala di langit pekat
tiba-tiba bulan sabit seakan melekat
laut ramah mesra mencanda

Jaka menghela napas
suaranya lemah mendesau sesal,
“Masih adakah gemulung ombak
yang lebih ganas?”

Dara menghampiri
duduk dengan pandang menerawang
jauh ke ujung yang tak tersawang
dia bicara penuh asa,
“Katamu laut tak bisa diduga, tapi
kita akan mampu mengarunginya.
Ingat firman Tuhan,
... Kami meringankan beban
yang memberati punggungmu,
sesungguhnya
beserta kesukaran ada kemudahan,
beserta kesukaran ada kemudahan,
oleh karena itu,
apabila telah usai satu urusan
kerjakanlah urusan lain bersungguh- sungguh
kepada Tuhan hendaknya berharap.”
(94: 2-8)







4.

sudah lama nian
hamparan samudera penuh bahaya
diarungi bersama
pulau-pulau bertebing terjal di lewati
amukan badai dan taufan dihadapi
lilitan lapar dera dahaga dirasa bersama
jarak tempuh yang jauh telah dilampaui
santapan mewah pesta pengantin
tinggal kenangan yang sirna

air hampir menyentuh sisi biduk
muatan bertambah sarat
sepuluh anak-anak di atasnya
tapi, bagai tanduk rusa
berpuluh cabang di kepala
tubuh si induk tak limbung
tidak merasa terberati

tetap riang mereka
mengarungi laut tak berbatas
mereka bernasihat
kepada sepuluh anak,
“Walau kita dipisah samudera dan
benua, kita tetap sepelayaran
ke puncak tujuan yang suci!
Anak-anakku
tuturkan mutiara asli
dalam kesederhanaan kata-kata,
hindari kepalsuan
pada perbuatan apa pun jua.

Dengarkan tembang kebenaran
seperti mendengar kidung musim semi
tapi bila kaudengar suara si pengecam
dan si pencari kesalahan
tutup telingamu
hingga tuli sampai tulang-belulang
dan lemparkan sejauh khayalan
yang terbang!

ada orang-orang lidahnya berbisa
beri madu kepadanya
sebagai ganti kata-kata

ada orang bertanduk duri
berikan mahkota untaian melati

ada orang berkuku runcing
pencakar dan penggugah gunjing
berikan kepadanya mawar merah
pengganti jemarinya

akan kalian temui
orang pincang yang rela menjual
tongkat penopang
orang buta yang rela melepas pegangan
tempat bergayut

akan kautemui juga
orang kaya bersila menadah derma
berikanlah sedekah kepadanya
karena mereka
termiskin dari yang papa

Ingat
dan lakukan ini
jangan sudi menadah tangan
menanti runtuhnya iba
kalau tidak sungguh terpaksa

memberi yang kami ajarkan
menerima jerih karena pekerjaan
bukan penolakan
melainkan pemenuhan
dan bukan penyerahan
tetapi pengertian disertai maklum
yang terkulum di bibir senyum.

jangan bentangkan jarak di antaramu
pupuk perasaan persahabatan
memang perbedaan lebih lebar
dari yang terpancang
tetapi selalu ada ruang untuk pulang
yaitu keluarga
bukankah kalian dari satu tetes
darah ayah dan bunda



kami pun tak mengajar kebisuan
kami ajarkan nyanyian
selaras tak lepas arah!”


5.

anak-anak telah belia
biduk bertambah sarat
oleng walau tertimpa riak semilir

“Ayo, Dara!
telah tiba waktunya
kita singgah ke gosong pasir
ajari juga mereka
berbiduk ke lepas samudera
menyelesaikan cita kita
yang tak pernah tergapai!”



6.

telah jauh berlayar
biduk mulai rapuh
layar pekat debu dan lumut laut

sudah lima dasa warsa kini
kidung bintang hanya dalam mimpi
sirna lagi dikala jaga

Jaka dan Dara pun mulai rapuh
hanya tegar semangat
setegar karang pemagar samudera

“Ayo, kita terus berlayar
sampai ke batas kematian,
hidup akan langgeng di sana!”
“Tapi, di manakah batas kematian?”
suara Dara lirih bintang pudar
Jaka memayungi kedua mata dengan
jemari tangan
pandangannya menerawang
jauh ke depan


“Di sana tampak samar tepian
segaris cakrawala
itulah batas kematian
tempat akhir tujuan.”

lirih suara Dara
menghempas riak di sisi biduk,
rindu menghadang di dada,
“Gulung dulu layar,
perlambatlah biduk berlayar
aku ingin menyawang
ke biduk-biduk yang kita tinggalkan!”

Nun di batas kaki langit lain
jauh tertinggal di belakang
layar-layar biduk seperti titik
merpati putih terbang menembus
alur cakrawala

“Mereka jauh nun di sana
dalam perjalanan kembara arungi laut
Biarkan mereka raih manis madu
di alur pucuk-pucuk pepohonan
kala hujan menari di dedaunan
bagai restu dan hikmat dalam lembah.”

Lirih lagi Dara bertanya,
“Tapi adakah bekal kita
untuk mencapai tepian sana?”
“Ada Dara, ada bekal kita, yaitu
taqwa kepada Sang Pencipta!”

Ditatapnya lelaki di hadapannya itu
tembang sendu meluncur di hati,
“sudah rapuh kini dia
tak seperkasa awal mendorong biduk
dari tepian dulu, cuma jiwa dan
semangat yang tetap tegar.”

Jaka merengkuhnya
jemarinya lembut menerpa
bak sebungkah embun pagi hari
senyum di bibir Dara terkulum
“Ayo, teruskan pelayaran
sampai batas akhir tujuan!”






biduk yang sudah rapuh
dan kain layar lusuh
melaju membelah laut biru
menembus kabut awan beriringan
sampai gumpalan rindu disentuh
tangan Tuhan ....


Ciputat, Medio Agustus 2007

4.10.2008

LANGIT CERAH DI ATAS KA’BAH

ALIA, I LOVE YOU

Andy Wasis



26 Maret 2008
Jeddah I’m Coming

Saya bersyukur ke hadirat Allah SWT, setelah sepuluh tahun saya kembali menjejakkan kaki di Jeddah sebuah kota internasional, kota pelabuhan, pintu gerbang tanah suci. Kali ini saya bersama istri, anak-anak, dan cucu (Hj. Zainimar, Dian Larasati, Lisa Dwiharini, Indri Septiati, Ratih Mulyatina, Dilla Edithiana) kami melaksanakan Umrah Juma’tain bersama Alia Wisata. Berbeda dengan sepuluh tahun lalu, ketika itu istri saya masih gagah, sehat, walau tanda-tanda penyakit jantungnya sudah tampak. Tetapi dia lincah dan mandiri. Sekarang, dia harus berada di atas kursi roda, namun semangatnya masih menggebu-gebu.
Bersama kami ada pula rombongan sahabat-sahabat, Hartoyo Partowijono, Tutik Susanti, Nerri Suwarso Suranto, Roi Inanda, Yustin Angesti, Siti Sofiyah, Atikah, Suciatmi Iman Sayuti, Amos Soetojo, Dimas Bagus Priyowicaksono, Suwari Martai, Abdul Rachman, Dewi Nia Kurniatin, Dewi Lisnawati, Amirudin Rachmad, Faisal Ferdian Syahmir, Ida Herlina, Suhaeni. Rombongan umrah ini terdiri atas dua program, yaitu program 9 hari dan 13 hari. Saya bersama istri, anak-anak, dan cucu mengikuti program 13 hari.
Pada pukul 16.30 waktu setempat pesawat Garuda 747-400 dengan nomor penerbangan GA-9802 mendarat dengan mulus di Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz. Pesawat kami mendapat fasilitas mendarat di terminal Haji. Terminal ini sepi sedang bebedah menghadapi musim haji tahun depan, pelayanan imigrasinya simple dan bersahabat, tetapi karena personilnya sedikit jadi agak lama. Alhamdulillah dua keluarga yang mendorong kursi roda, keluarga saya dan keluarga Bapak Amirudin Rachmad keluar dari antrian. Kami diberi kemudahan pemeriksaan sehingga lebih dulu keluar dari ruang imigrasi.
Di luar ruang pemeriksaan imigrasi kami disambut oleh seorang anak muda bersahaja, lugu, dan rendah hati. Dia mengenalkan dirinya, Hasbi. Saya teringat ketika di pesawat mengisi form kedatangan ada nama Ustadz Hasbi. Dia ini ustadz yang akan membimbinng kami dalam tour umrah. Semula saya membayangkan yang akan membimbing kami adalah ustadz yang kearab-araban mengenakan gamis putih, tutup kepala kafiyeh belang merah, wajah yang dibuat agar kelihatan berwibawa, membawa bendera seperti layaknya pembimbing-pembimibing lain.Kirana pembimbing kami adalah anak muda dari Lombok yang sederhana, bersahaja, tawaduq tetapi tidak kalah pandainya dengan yang lain, yang kemudian kami kenal namanya Mohammad Hasby Assidiqin. Pada pertemuan pertama sudah terkesan baik. Saya jadi ingat sabda Rasulullah SAW, “Apabila pada pertemuan pertama terhadap seseorang kita sudah berkesan baik, maka orang ini pasti berhati baik.” Tentulah kalau kesan sebaliknya maka akan sebaliknya pula sifat orang yang ditemui itu. Wallahu alam.
Kami diantar ke pelataran Bandara, sekitarnya sepi hanya ada beberapa bus yang akan mengangkut penumpang Garuda menuju Madinah termasuk bus untuk rombongan kami. Langit Jedah berwarna agak kelabu sore itu, udara sejuk, angin tidak terlalu deras.

27-28 Maret 2008
Madinah, kota Rasul

Sebelum agama Islam lahir kota ini bernama Yatsrib, hanya sebuah oase yang subur dikelilingi oleh bukit gersang, cadas, dan tanah tandus berbatu. Di sini bermukim orang-orang Yahudi yang ketika pada tahun 135 M diusir oleh orang-orang Romawi dari Palestina, asal-usul mereka tidak jelas. Selain itu ada juga suku-suku Arab yang telah beralih kepada Yudaisme. Sampai pada abad ke-7 terdapat tiga suku asal Yahudi di Yatstrib, yaitu Bani Quraizhah, Bani Nadhir, dan Bani Qainuqa. Mereka pemeluk monotheisme yang mengecam penyembahan berhala oleh orang-orang Makkah. Mereka hidup dari bertani (kurma), hidup berkelompok saling berdekatan tetapi bermusuhan. Sebelum Islam, penduduk Yatsrib meyakini dari orang-orang Yahudi bahwa kelak akan turun seorang nabi dari keturunan bangsa Arab. Maka, ketika mereka mendengar bahwa di Makkah ada seorang bernama Muhammad yang berdakwah dan menyatakan dirinya nabi, mereka langsung mempercayainya. Dengan tangan terbuka mereka menerimanya dan mempersilakan sang Nabi bertempat tinggal di Jatsrib. (Akan saya ceritakan sejarahnya dalam buku khusus). Setelah Muhammad Rasulullah hijrah ke Jatsrib, kota ini berganti nama menjadi Madinatu Rasul atau kota Nabi yang kemudian lebih dikenal sebagai kota Madinah. (Madinah berasal dari bahasa Arab al-Madinat yang artinya kota).
Kami sampai di kota ini pada tengah malam. Kami menempati sebuah hotel berbintang lima Al-Harram berada dekat di mesjid Nabawi. Lagi-lagi saya tercengang, kota ini telah jauh berubah dibanding sepuluh tahun lalu ketika saya bersama istri menunaikan ibadah haji. Di tengah kota gedung-gedung tinggi menjulang, tidak ada lagi pedagang kaki lima. Yang masih sama adalah cahaya terang benderang dari penerangan lampu listrik.. Sepertinya malam dan siang hari Madinah adalah sama cemerlang. Saudi Arabia tampaknya kelebihan cahaya listrik, pada waktu malam di mana-mana terang benderang, layak siang hari. Saya jadi prihatin terhadap negeri tercinta, di daerah ada listrik yang bergiliran padam.
Di masjid Nabawi kami melaksanakan salat subuh pertama. Saya bersama anak-anak dan cucu keluar dari hotel pada pukul 03 dini hari (waktu setempat). Sekitarnya masih sepi. Kami melalui sebuah gang yang di kanan-kirinya berdapat crain-crain alat berat dan sesekali melintas truk tangki membawa coran semen. Berbeda dengan Makkah, di masjid Nabawi pintu untuk wanita dan lelaki terpisah. Istriku didorong oleh anak-anak menuju ke pintu untuk wanita dan saya mengikuti beberapa jamaah menuju ke pintu untuk lelaki. Ruang mesjid masih sepi ketika saya masuk. Mengikuti arus orang ramai saya terus ke depan dan duduk tidak jauh dari mimbar imam. Azan belum lagi dikumandangkan. Saya sempat melaksanakan beberapa salat sunah sampai azan pertama pada pukul 04.00 berkumandang. Pada pukul 5.15 azan subuh dikumandangkan. Usai salat subuh saya keluar, tetapi tidak berbalik ke arah belakang tempat pintu semula masuk, saya terus mengikuti arus ke depan. Keluar dari pintu saya berbalik ke arah kiri, saya tahu bahwa hotel berada di arah kiri mesjid. Namun, setiba di ujung pelataran mesjid saya tidak melihat gang-gang yang semula kami lalui, di sana justru banyak para pedagang menghampar berbagai jualan mereka, persis seperti pasar kaget atau pasar dadakan di Indonesia. Saya jadi keder, kehilangan arah. Dimana gerangan hotel saya? Saya bertanya kepada seorang Arab dalam bahasa Inggris, “Bisakah anda tunjukkan di mana hotel Al-Haram?” Orang Arab ini tidak mengerti rupanya, tetapi tiba-tiba seorang anak muda menyapa saya. “Hai, Bapak. Itu hotelnya.” (Kelak kuketahui dia bernama Roy).
Al-Haram ternyata ada di sisi kanan saya. Lagi-lagi saya pangling, sekarang pada kedua sisi koridor hotel toko-toko mulai buka. Setelah saya amati, ternyata pada dini hari tadi kami keluar di pintu sisi lain yang tidak ada pertokoannya.
Beberapa saat kemudian anak-anak datang mendorong mamanya di kursi roda.Kami makan pagi di restoran hotel. Hidangan yang disajikan adalah masakan Indonesia sehingga tidak mengubah selera makan.
Siang harinya jamaah lelaki berjiarah ke makam Baqi, sedangkan jamaah wanita langsung ke makam Rasulullah dan Raudah. Jamaah lelaki usai berjiarah ke makam Baqi langsung berjiarah ke makam Rasulullah dan Raudah, kemudian melanjutkan seluruh kegiatan salat di Masjid Nabawi.
Hari Jum’at 28-Maret2007 usai salat Jum’at kami berangkat ke Makkah. Sebelumnya kami berkunjung ke beberapa mesjid bersejarah di Madinah, di antaranya adalah mesjid yang dibangun Rasulullah saat hijrah menjelang memasuki kota Madinah, yaitu masjid Quba. Sesaat rombongan hendak berangkat kami mendapat kabar Mak Elok (Zaidar) kakak istri saya meninggal dunia di Jambi. Inalillahi wa ina ilaihi rajiun. Kami membacakan surah Fatihah untuk almarhumah, semoga arwahnya ditempatkan pada tempat yang layak di sisi Allah, diampuni segala dosa, dan diterima semua amal ibadahnya. Amin.

28 Maret – 6 April 2008
Makkah Al-Mukarramah

Pada zaman dulu Makkah berada di sebuah lembah sempit dan terkepung oleh bukit-bukit batu. Ada tiga jalur lintasan sebagai jalan yang menembus bukit-bukit itu menuju Mekah. Ketiga jalur jalan itu berasal dari arah Yaman; Laut Merah; dan Palestina. Di sini dulu Nabi Ibrahim menempatkan istrinya, Siti Hajar dan putranya Ismail. Barulah setelah Ismail dewasa, Ibrahim mencarinya kemudian mereka membangun Ka’bah atau Baitullah. Pada masa itu Makkah dihuni oleh suku Jurhum dari Yaman yang kemudian dikalahkan oleh kaum Khuza’ah. Selama beberapa abad kaum Khuza’ah mengusai kota ini. Sementara itu Ismail menikah dengan wanita suku Jurhum keturunannya disebut Bani Ismail. Keturunan Ismail berkembangbiak dan yang menetap di Makkah adalah suku Quraisy. Pada abad ke-5 suku Quraisy mengambil alih kekuasaan Makkah dari tangan kaum Khuza’ah. Dan, terus menguasai kota serta memelihara ka’bah berabad-abad lamanya.
(Sejarah singkat kota Makkah akan saya tulis dalam buku)
Saat ini Makkah sedang bebenah, bukit batu pada kedua sisi kota tengah diruntuhkan akan dibangun gedumg-gedung megah. Bagian Pintu Babu Sallam dari masjidil Haram pun sudah diruntuhkan, tampaknya masjid akan diperluas lagi. Pasar Seng yang telah terkenal sejak berabad lalu telah tiada, pasar seng tinggal kenangan bagi para jamaah haji masa lalu.

Makkah Mawadah Bintang Pudar

Kami berangkat dari Madinah ke Makkah melalui Bir Ali. Di sana rombongan mengambil miqot untuk umrah, melaksanakan niat dan salat sunah umrah. Menjelang malam kami memasuki kota Makkah. Kami diantar ke sebuah hotel bernama Makkah Mawadah. Masya Allah, ini hotel tua yang tidak sesuai dengan janji Alia di Jakarta. (Alia Wisata berjanji akan menempatkan rombongan di Makkah pada hotel bintang empat. Ternyata kami ditempatkan pada hotel bintang pudar). Aku menempati kamar 704 dengan 4 tempat tidur yang salah satunya ditempatkan di sebuah lorong. Dua orang anak dan cucuku menempati kamar 711 dengan AC window zadul (zaman dulu, alias ketinggalan zaman). Life-nya juga zadul, sudah ketinggalan zaman. Cucuku, Dilla “bete”. Ibunya panik menelepon Sdr Fajra, pengurus Alia di Makkah, meminta pindah hotel. (Tetapi sampai keesokan harinya sdr. Fajra tampaknya tidak bisa memenuhi permintaan pindah hotel ini) Tempat makan berada di ruang bawah dengan dua tangga yang berliku. Hal ini tidak memungkinkan untuk istriku turun. Suasananya pun tidak nyaman, seperti pasar pagi. Kami memutuskan untuk mengambil hidangan dan makan di kamar.
Ketidaknyamanan ini terobati oleh keramahan seorang mutawif yang lugu, bersahaja, tawaduq, anak Lombok bernama Hasbi. Saya membujuk anak-anak unuk menerima keadaan ini. Apalagi setelah saya mendengar seorang jamaah dari Bandung yang ikut dalam rombongan Perusahaan Wisata milik Kiyai kondang Bandung “terlantar”. Menurutnya, hotel kami jauh lebih baik dibanding tempatnya. Ia berniat akan kembali ke Jeddah dan pulang ke tanah air. Wallahu alam.
Tawaf umrah pertama dilakukan pada tengah malam. Saya terpisah dari rombongan dan anak-anak. Pada tawaf dan sai pertama ini saya sendiri mendorong istri di atas kursi roda. Saya melaksanakan tawaf dengan santai sambil membaca doa. Di atas kursi roda istri saya membaca buku doa tawaf yang diberikan oleh Alia Wisata. Usai tawaf kami melaksanakan salat sunah sesudah tawaf. Kami berdiri sejajar dengan makom (petilasan) Ibrahim. Kemudian saya mendorong kursi roda istri ke tempat sai. Menjelang ke tempat sai saya melihat anak-anak dan rombongan sedang berdoa menghadap ka’bah. Rupanya mereka juga baru menyelesaikan tawaf umrah.
Saya bersama istri melaksanakan sai. Apakah tujuan sai itu? Firman Allah dalam surat Albaqarah ayat 158 sebagai berikut, “Sesungguhnya Safa dan Marwa adalah sebagian dari syiar-syiar Allah. Maka barang siapa yang berhaji ke Baitullah atau umrah maka tidak salah baginya mengerjakan sai antara keduanya.”
Alhamdulillah saya mampu mendorong kursi roda menaiki dua bukit Safa dan Marwa. Pukul 02.45 dini hari kami menyelesaikan semua rangkaian umrah termasuk bertahalul. Kami pulang ke hotel, tetapi anak-anak dan rombongan ditunggu tak kunjung datang, sedangkan kunci kamar mereka bawa. Seorang petugas hotel bernama Husein (Arabi) berbaik hati meminjamkan kami kunci cadangan sehingga aku bisa mandi dan melepas pakaian ihrom. Menjelang pukul 04.00 aku bersama istri kembali ke Masjidil Haram melaksanakan rangkaian salat sampai usai salat subuh.

Polisi Malaysia yang Doyan Tempe

Selama di Makkah saya bertemu dengan berbagai bangsa, Mesir, Turki, Banglades, Pakistan, Colombo, Pilipina dan berbincang-bincang dengan mereka. Sama seperti masa haji, orang Turki paling banyak dan mendominasi masjidil Haram. Saya sempat berbincang, bahwa mereka memiliki suatu organisasi umrah dan haji, semacam koperasi yang menyediakan dana bagi keberangkatan mereka. Mereka menabung dan menggunakan tabungan itu untuk berhaji atau umrah. Setiap kali berjumpa dengan orang Mesir, mereka selalu memuji bahwa bangsa Indonesia adalah Muslim yang baik, “good Muslim.”
Pada suatu hari menjelang salat Magrib, saya bertegur sapa dengan orang Malaysia, dari Serawak, tinggal di Kucing. Dia seorang anggota polisi. Dia datang umrah mengantar ibundanya yang sudah uzur. Menurutnya sang ibu tidak lagi kuat untuk melaksanakan haji, maka diajaklah umrah. Ayahnya telah lebih dahulu melaksanakan haji. Dia menanyakan tentang harga-harga sembako di Indonesia. Menurutnya, harga bahan pangan di Indonesia mahal. Saya bilang, ada yang mahal tetapi juga ada yang murah. Kedelei termasuk yang mahal karena di impor dari Amerika. Sehingga harga tempe dan tahu mahal, kata saya. Lalu saya bertanya, “Anda mengenal tahu dan tempe?” Sambil tersenyum dia menjawab, “Saya ini keturunan Jawa. Kami makan tempe, tahu, bahkan tiwul, dan getuk.” Wau! Dia pun bercerita bahwa di lingkungan keluarganya bahasa Ibu masih digunakan, yaitu bahasa Jawa. Namanya, Haji Suparis bin Haji Abuyamin orang tuanya berasal dari Magelang, namun dia sendiri belum pernah ke sana dan tidak mengenal sanak kerabatnya.

Umrah Kedua

Setelah melaksanakan city Tour kami singgah di mesjid Jakronah. Jakronah adalah sebuah desa kecil di luar kota Makkah. Di sini terdapat sebuah mesjid yang kini lebih apik dan asri dibanding ketika saya melaksanakan haji sepuluh tahun lalu. Ada kisah yang menarik tentang Jakronah, yaitu sebuah legenda yang sangat terkenal di negeri ini.
Konon menurut kisah, sehabis perang Hunain Rasulullah berhenti di daerah gersang ini bersama tentaranya. Persediaan air bala tentaranya habis. Rasulullah berdoa kepada Allah, lalu memukulkan tongkatnya ke tanah. Di tempat itu keluar air yang kemudian berkembang menjadi sumur. Sumur itu diberi nama Bir Thoflah yang sampai sekarang masih ada di halaman samping mesjid. Sampai kini setiap jamaah berusaha untuk mengambil atau membawa pulang air sumur itu.
Sementara legenda lain berkisah bahwa Jakronah adalah nama seorang nenek tua. Ia berada di padang pasir yang gersang. Saat ia kehausan, ia bertemu dengan kafilah Nabi. Ia memohon agar Nabi menyediakan air baginya. Nabi berdoa kepada Allah. Doa Nabi Muhammad s.a.w dikabulkan Allah. Di tempat itu mengalir sebuah sungai kecil. Konon, sungai itu sekarang sudah tidak ada. Waullahu alam .
Di mesjid Jakronah kami migot untuk melaksanakan umrah kedua. Hari masih pagi, sehingga ketika kami sampai kembali ke Makkah menjelang zuhur. Atas kesepakatan bersama kami akan melaksanakan tawaf dan sai siang hari ini.
Matahari Makkah benderang, panasnya amat terik, kendati ada angin yang membawa arus suhu menjadi agak sejuk, yaitu 27 derajat Celsius. Walaupun matahari menyengat, namun lantai di halaman Ka’bah sangat sejuk. Sehingga, bertelanjang kaki pun tidak terasa panas. Kali ini saya bertawaf bersama anak-anak dan cucu, sehingga ada yang menggantikan untuk mendorong kursi roda istri saya.
Dalam dua kali umrah ini saya tidak melaksanakan umrah untuk diri sendiri, saya sudah haji, sehingga boleh melaksankan umrah untuk orang lain. Umrah pertama saya niatkan untuk Ibunda Rr. Rukmini, dan umrah kedua saya niatkan untuk ayahanda.

Alia I Love You

Rombongan umrah Program 9 hari telah berangkat ke Jeddah untuk meneruskan perjalanan pulang ke tanah air. Di Makkah tinggal 13 orang rombongan umrah program 13 hari. Hari ini, tanggal 1 April 2007 saya pindah ke kamar nomor 702. Kamar ini agak lebar dan tidak pengab. Lega juga rasanya menempati kamar yang lapang. Sisa waktu kami gunakan untuk melaksanakan ibadah semaksimal mungkin sampai pada tanggal 5 April 2007 kami meninggalkan Makkah menuju ke Jeddah.
Di Jedah kami menginap di Mercure Grand Golden Hotel, sebuah hotel berbintang lima yang megah. Saya bersama istri dan anak menempati sebuah kamar suite yang mewah. Wau, tampaknya ini adalah kompensasi Alia bagi rombongan setelah kami pengab di Makkah dengan hotel bintang pudarnya. Menu makanannya yang bagi sebagian rombongan tidak cocok, yang dihidangkan nasi kebuli ala Arab dengan daging kambing muda.
Malamnya kami berjalan-jalan ke Balad, yaitu pusat perbelanjaan. Di sini kami dapati orang-orang Indonesia yang bekerja pada toko-toko orang Arab. Nama toko-tokonya banyak menggunakan kata “murah” seperti Toko Amir Murah, Toko Abas Murah. Tampaknya memang untuk menarik para jamaah dari Indonesia yang konon suka belanja. Soal harga barang yang dijual, wallahu apa benar murah?
Seperti di kota-kota lain, di sini kami juga diajak tour ke Laut Merah menyaksikan Mesjid Terapung yang konon dibangun oleh seorang penyanyi. Istri saya tidak turun dari bus, saya juga tidak masuk ke mesjid. Sepuluh tahun yang lalu saya pernah salat di mesjid ini. Usai city tour kami diantar ke Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz pada pukul 16.00.
Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, saya bangga kepada Alia Wisata. Mereka tidak menelantarkan rombongan, kebutuhan makan dan minum tercukupi, bahkan melimpah, pelayanan mutawifnya cukup baik, demikian juga ketika mengantar kami pulang, semua cargo diurus oleh mereka.. Kalau Allah SWT berkenan memberi rezeki, saya akan umrah lagi dan tentu saja dengan Alisa Wisata. Alia, I love you