Zuraida menyusuri sisi jalan. Ia baru pulang dari sekolah. Udara nyaman. Awan tipis bergayut di langit. Kota Liwa yang berada di kaki Gunung Pasagi ini sepanjang tahun diliputi awan tipis, sehingga udaranya selalu sejuk Sepanjang jalan ia merenungi Rambe, teman sekelasnya. Hari ini lelaki itu tampak murung. Kemurungan lelaki itu menghentak perasaannya, seperti ada roda yang menggelinding pada relung hati.
“Aneh,” keluh hatinya, “aku selalu memperhatikannya, tetapi dia tidak acuh. Barangkali kepada dirinya sendiri pun dia tidak pernah acuh.”
Diam-diam sebungkah tunas kasih mekar dan menggelitik hatinya. Namun, sebagai seorang gadis tentu tidak patut begitu saja mengobarkan perasaan hatinya. Paling-paling hanya mencoba menarik perhatian, memberikan isyarat. Tetapi, lelaki itu tetap saja tak acuh.
Rambe, yang berjalan agak di belakangnya memperhatikan langkah Zuraida yang terseok-seok. Ia bergegas mengejarnya, lalu menjajarinya. Sekilas Zuraida meliriknya, lalu cepat-cepat menunduk.
“Bagaimana ulanganmu?”
Zuraida tersentak mendapat pertanyaan yang tak terduga itu. Agak gagap dia menyahut, “Dua soal tak terjawab.”
“Mengapa begitu?”
“Mungkin aku gugup.”
“Atau .. barangkali kamu tidak belajar?”
Zuraida meliriknya lagi, tetapi pandangannya kemudian luruh ke sudut kaki. Hatinya membenarkan ucapan Rambe. Dia memang sejak beberapa bulan ini tidak pernah belajar. Setiap malam hanya mengenang wajah lelaki yang tengah berjalan di sisinya ini. Lelaki yang sudah sejak lama digaulinya, sejak awal masuk ke Sekolah Menengah Kejuruan sama-sama pula mengambil Jurusan Pertanian, sampai sekarang saat sama duduk di kelas terakhir. Beberapa bulan lagi mereka akan berpisah karena tamat belajar. Kapan lagi, jika tidak sekarang tunas ini dipadukan? Kesempatan tidak akan datang lagi. Tetapi, lelaki ini seakan tidak mengerti perasaanku, keluh hati Zuraida.
Zuraida mencoba menduga-duga hati lelaki yang sedang berjalan di sisinya ini. Apa gerangan yang sedang dipikirkan oleh Rambe?
Zuraida anak seorang petani kaya. Orang tuanya memiliki puluhan hektar kebun kopi. Hasil setiap tahunnya berlebih untuk dimakan. Zuraida anak yang tertua dari dua bersaudara. Adik lelakinya belajar di Pondok Pesantren Gontor, Jombang, Jawa Timur. Ayahnya yang menghendaki anak lelaki itu menjadi mubalig. Menjadi ahli agama Islam.
Saat ini Zuraida tengah memasuki jalur usia remaja. Sebuah jalur yang amat manis dan indah terasa di dalam relung hati. Jalur ini bila terpercik air sejuk akan mengembang, tetapi apabila tergores duri, sekecil apa pun duri itu akan kuncup. Dan, ia sedang jatuh hati kepada seorang pemuda. Pemuda itu adalah Rambe. Lelaki yang dingin sedingin bungkah es, lelaki yang beku bagai onggokan batu gunung. Lelaki yang hatinya sukar diduga. Namun, sebagai seorang gadis yang hidup di kota kecil, yang lingkungan masyarakatnya masih terikat oleh adat yang terpacak kuat, perasaan keremajaan Zuraida tidak meletup-letup.
“Hei, melamun!” sapa Rambe memecah kebisuan.
Zuraida terperangah mendengar sapaan itu. Dia tidak menyahut. Hanya tersenyum. Di dalam hati saja dia berujar, aku memang sedang melamunkan kamu. Kamu? Kamu juga pasti sedang melamun, tetapi melamunkan orang lain.
Rambe menarik napas dalam-dalam, seakan takut kehabisan zat asam yang terhambur di alam ini.
“Katanya akan ada Studi Kerja Nyata.”
“Ya,“ sahut Rambe.
“Kapan?”
“Semester akhir menjelang ujian.”
“Masih lama.”
Keduanya berdiam diri lagi
“Saya ingin cepat-cepat mengikuti SKN. Kita akan turun ke desa-desa. Alangkah senangnya, ” ujar Zuraida.
“Ya,” ujar Rambe.
“Kita bisa memilih desa yang kita kehendaki, ‘kan?”
Rambe mengangkat bahu, “Entahlah!”
“Berapa lama SKN ini?”
“Satu atau dua minggu, mungkin sampai sebulan.”
“Oh.”
“Kita akan dibagi dalam kelompok,” kata Rambe pula.
Aku berharap berada di kelompokmu, kata hati Zuraida. Ya, hanya di dalam hati dia berani berujar seperti itu. Tetapi itu adalah harapannya. Itu adalah dambaan, supaya bisa selalu berada di sisi lelaki yang diam-diam dia sukai ini.
Rambe menunduk menekuri langkah kakinya. Dia adalah anak tunggal yang telah lama ditinggal mati ayah. Ayahnya meninggal ketika dia masih duduk di kelas enam SD. Pesan ayah kepada ibunya agar anak lelakinya ini terus bersekolah sampai ke mana pun. Padahal sang ayah tidak mewarisi harta, kecuali sebidang kebun kopi yang pohon-pohonnya telah tua. Kebun kopi itu baru saja diremajakan dan tahun ini baru mulai berbuah lagi. Sedikit tanah yang tersisa dimanfaatkan untuk menanam kol, kentang, dan beberapa jenis sayuran. Itulah sumber pangan mereka sehari-hari. Sebentar lagi dia menyelesaikan studi di SMK Pertanian dan berniat akan melanjutkan ke IPB. Sudah tentu untuk melanjutkan studi akan memerlukan biaya yang banyak.
“Mudah-mudahan harga kopi tahun ini akan meningkat, Rambe. Dan, semoga pula hasil panen tahun ini akan memadai,” ujar ibu pada suatu hari.
“Ya, saya akan mengurus kebun dengan baik dan sungguh-sungguh, bu,” sahut Rambe.
Ibunya bangga. Bukan karena dorongannya saja, tetapi anak ini mampu memotivasi dirinya. Dia menyadari betapa pentingnya ilmu pengetahuan untuk menghadapi kemelut kehidupan di dunia. Tanpa ilmu kehidupan ini tidak berarti. Rambe bercita-cita kelak semua ilmu pengetahuan yang didapat akan ditrapkan di kampung halaman. Ia ingin memajukan pertanian di desanya. Ingin mengembangkan cara-cara bertani yang berlandaskan ilmu pengetahuan. Ingin mengubah sistem pertanian tradisional dengan sistem yang modern. Kalau mungkin mekanisasi pertanian.
Suara langkah kaki mereka berdetak-detak di atas jalan aspal yang sudah mulai bungkah-bungkah. Batu-batu jalan terserak di trotoir. Di dalam hati Zuraida terus berharap, mudah-mudahan aku berada di kelompokmu. Dan, aku akan selalu berada di sisimu. Dan, aku akan …. Zuraida tertunduk karena tiba-tiba Rambe menoleh ke arahnya. Diam-diam Rambe memuji kecantikan gadis yang berjalan di sisinya. Alangkah ayunya engkau, Zur. Ada secuil damba di hatinya. Namun, cepat-cepat dia membuang perasaannya itu. Engkau berada jauh di atas langit, di awan yang tinggi, yang tidak bakal terjangkau olehku, keluh hatinya. Perasaan itu membuat hatinya galau, sehingga langkah Rambe menjadi agak terpacu.
“Hei, mengapa tergesa-gesa?” sapa Zuraida.
“Ah… tidak”. Rambe tersenyum. Ia memperlambat langkah. Menjajari jalan Zuraida.
Angin pegunungan bertiup lembut, menggerakkan ujung-ujung rambut Zuraida.
Setiba di rumah Rambe mendapatkan ibunya baru saja selesai memetik kol dan mencabut kentang. Tangan ibunya masih penuh dengan tanah. Kerngat berbintik-bintik pada keningnya. Wajah tua dari ibunya ini menampakkan keceriaan. Sorot matanya lembut, menatap anak lelakinya yang baru pulang dari sekolah. Kentang dan kol terserak di kolong rumah.
Biasanya menjelang sore akan datagn sebuah mobil bak terbuka untuk mengangkut hasil sayur-mayur penduduk. Mobil itu berkeliling dari rumah ke rumah, mengumplkan sayur mayur. Kemudian dibawanya ke pasar.
“Akhir-akhir ini kamu tampak berubah,” sapa ibu ketika Rambe membuka tudung saji di meja makan.
Rambe menatap ibunya, “Ada apa, Bu?”
Perempuan setengah baya tampaknya sangat memperhatikan perubahan perangai anaknya. Anak ini murung, pikirnya. Apa penyebab kemurungannya? Ibunya tidak tahu. Bahkan hal itu menjadi tanda tanya di hatinya.
“Kalau ayahmu masih ada, beliau pasti senang melihat kamu sebentar lagi akan menamatkan sekolah,” ujar sang ibu seraya duduk di hadapannya. Lalu ia menyendokkan sepiring nasi untuk anak lelakiknya itu.
Rambe menatap sang ibu. Dia mencemasi orang tuanya ini, yang apabila mulai membicarakan tentang ayahnya akan selalu menangis. Air matanya tidak akan berhenti mengucur dari kelopak mata. Rambe berupaya mengalihkan pembicaraan.
“Kebun kopi kita nampak sudah mulai berbunga, ya Bu.”
Perempuan setengah baya itu tertegun sesaat. Ia menghapus air matanya.
“Ya,” meluncur sepatah kata dari mulutnya, lalu, “Tampaknya tahun ini pohon-pohon kopi kita akan berbuah lebat.”
Rambe terus mencoba mengembangkan keceriaan hati sang ibu.
“Saya membaca koran, menurut berita harga kopi tahun ini meningkat.
Sang ibu menatap Rambe. Seakan dia tidak percaya apa yang diucapkan anak lelakinya itu. Selama ini harga kopi sangat rendah, sehingga para petani kopi mengalihkan perhatiannya kepada tanaman lain, atau menderes damar di hutam-hutan.
“Benar, Bu. Harga kopi naik sangat tinggi,” kata Rambe.
“Alhamdulillah!” seru ibu, lalu lanjutnya.
“Kalau harga kopi menjadi baik, kebun yang sedikit ini mampu untuk membiayai kuliah saya kelak.”
“Ya, ya,” kata ibu bergairah, “betapapun sekolahmu harus dilanjutkan.”
Rambe menyelesaikan makannya. Usai membasuh tangan, ia beranjak dari tempat duduk.
“Hendak ke mana kamu?” tegur ibu.
“Saya ingin melihat kebun.”
*
Putik-putik bunga bermunculan pada setiap rumpun kopi. Warna putih bunga kopi itu menyeruak di antara hijau daun. Rambe bangga, ini adalah hasil kerja kerasnya. Tanah secupak dengan pohon-pohon kopi tua peninggalan ayah, kini sudah menjadi kebun yang segar.
Rambe bersandar pada sebatang pohon meranti di batas kebun. Matanya memandang ke seluruh kebun. Di hadapannya yang tampak adalah rimbunan batang pohon kopi dengan daun hijau dan bunga-bunga berwarna putih. Dia adalah pemuda yang menekan letupan-letupan keremajaannya. Dia seorang remaja yang prihatin, sadar akan keadaan lingkungan keluarganya. Tetapi dia bukan remaja yang pesimis. Dia adalah pemuda yang ditopang oleh idealisme yang tinggi. Segera setelah ayah meninggal, dia mulai meremajakan pohon-pohon kopi di kebun ini. Dia bekerja keras. Sejak sepulang sekolah sampai sore dia bekerja. Sekarang, dia mulai merasakan buah kerja kerasnya. Pohon-pohon kopinya sudah mulai berbunga. Beberapa bulan lagi akan berbuah dan selanjutnya dia akan memanennya. Rambe menghela napa. Baru saja dia akan beranjak, tampak seorang gadis menyeruak rumpun kopi.
“Abang Rambe!” sapa gadis itu.
“Hei, Seruni.”
Gadis semampai itu tersenyum kemudian mengembangkan kedua tangannya seakan tengah memperagakan gerak senam.
Rambe menatapinya.
“Alangkah segar udara di sini,” ujar Seruni lagi.
“Dari mana kau?”
Seruni menatap Rambe. Matanya berkerjap-kerjap layak bintang dini.Senyumnya kembang.
“Sengaja saya mencari abang.”
Ia mendekati Rambe. Lalu bersandar pada batang pohon di sisi Rambe. Rambe tersenyum. Namun, senyum Rambe tidak diperhatikannya. Karena, Seruni tengah menatap langit yang tersaput awan tipis.
Kehadiran Seruni salama ini mengobati rasa rindu Rambe. Rindu terhadap kehadiran adik perempuan. Adik yang belum sempat ia dapat dari ibunya. Oleh karena itu, terhadap gadis kecil ini dia menumpahkan kasih-sayang seorang kakak. Tidak lebih.
Disadarikah perasaan Rambe ini oleh Seruni?
“Kita jalan-jalan, yok, Bang.”
Ditariknya tangan Rambe. Gadis kecil itu bergayut di lengannya. Rambe mengikuti langkah Seruni. Harum bunga kopi menyebar sampai ke relung hati. Lebih-lebih bagi Seruni, wangi bunga kopi menyebabkn rasa nyaman di dalam hatinya. Sambil melangkah gadis kecil itu menggumankan sebuah lagu. Lagu yang tidak beraturan. Tetapi suaranya merdu, semerdu kicau murai di pagi hari. Dia sangat agresif dan manja. Gadis kecil ini berasal dari desa kecil Bintuhan, nun jauh di balik Bukit Barisan. Ia adik kelas Rambe. Dia tinggal di rumah kerabat dari ibunya yang tidak jauh dari rumah Rambe. Rambe heran terhadap sikap gadis kecil ini. Gadis kecil ini sangat manja kepada Rambe. Barangkali dia sudah tahu kalau aku menganggapnya adik, demikian pikir Rambe.
“Mengapa diam saja, Bang?”
Rambe tidak menyahut. Dia hanya tersenyum. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Seruni semakin menggayut di lengan Rambe. Ada sedikit perasaan rikuh juga di hati Rambe. Tetapi, dia membiarkan lengannya digayuti gadis kecil itu.
“Saya senang sekali di sini, Bang,” ujarnya seraya melepas cekalan tngannya dari lengan Rambe.
“Senang bagaimana maksudmu?”
“Saya senang tinggal di Liwa. Tadinya saya kira Liwa sepi…”
“Ternyata memang sepi, ‘kan?”
“Tidak sesepi Bintuhan.”
Sepasang burung perenjak hinggap di dahan kopi. Bercengkerama sambil mencericit dengan suara lembut. Pasangan perencak itu mengganggu seekor kupu-kupu yang tengah menghisap madu bunga. Kupu-kupu terbang menghindar ke dahan lain.
“Apalagi ada Abang di sini,” lanjut Seruni.
“Heem…” Rambe tersenyum sambil menatap ke wajah sang gadis.
Gadis manja itu tersipu, lalu menunduk menatap rerumputan yang tangah dipijak kakinya. Beberapa saat kemudian dia mengangkat wajah. Senyumnya mekar, bagai mawar merah yang merekah.
“Abang juga ‘kan?” Matanya menantang. Bibir yang bak seulas garis merah itu agak terbuka lebar, menampakkan barisan gigi-giginya yang putih.
Rambe tertawa seraya merangkul pundak gadis kecil itu.
“Ayok!” katanya seraya membimbing Seruni. Gadis kecil itu merasakan kenyamanan yang luar biasa. Lanjut Rambe, “Kamu harus rajin belajar.”
“Ya,” sahut Seruni.
Rambe menguakkan ranting kopi yang merunduk untuk mereka lalui. Sepasang perenjak masih melompat-lompat ria di dahan kopi. Cericitnya menampilkan musik alam yang merdu.
“Mengapa kamu memilih sekolah di Liwa?” tanya Rambe.
“Saya tidak memilih.”
“Jadi ….”
“Ayah saya menghendaki agar saya masuk Sekolah Menengah Kejuruan. Ayah menghendaki agar saya menjadi ahli pertanian. Sebenarnya saya ingin bersekolah di Jogya atau Bandung.”
“SMU?”
“Ya. Karena, saya berniat akan melanjutkan ke Institut Kesenian. Saya menyenangi musik.Siapa tahu saya bisa memadukan musik tradisional Lampung dengan instrumen modern.”
“Hem,” keluh Rambe sambil tersenyum. Sekarang, memang telah banyak para pemusik memadukan dua unsur alat musik tradisional dengan modern. Seperti gamelan Jawa, Bali, Sunda, dengan perangkat musik modern. Tampaknya dia terinspirasi oleh keadaan itu.
“Abang tentu akan melanjutkan studi ke jurusan yang sama, bukan?”
“Ya.”
“Ke mana?”
“Bogor.”
“Oh, say tahu. Pasti IPB.”
Rambe tersenyum menatap keceriaan gadis kecil ini.
“Kalau sudah jadi ahli pertanian, Abang akan bekerja di kota?”
“Tidak.”
“Hee?” dengan wajah serius Seruni menatap wajah Rambe. Dia belum pernah menemukan jawaban seperti itu dari anak-anak di desanya. Anak-anak di desa selalu ingin bekerja di kota manakala selesai studi. “Jadi … Abang mau bekerja di mana?”
“Di kebun sendiri.”
Semakin heran Seruni mendengarnya.
“Di kebun sendiri?”
Rambe mengangguk.
“Abang tidak mau menjadi pejabat di Kantor Pemerintahan?”
Rambe menggeleng lagi.
“Oh…”
Terdiam sesaat. Lalu Rambe berujar, “Desa adalah tempat pengabdian kerja yang paling sempurna.Desa adalah penunjang kehidupan kota. Kita harus mencintai desa.
“Ya,” kata Seruni. Sepenggal kata itu begitu saja meluncur dari mulutnya, tanpa ia sadari maknanya. Ia masih membayangkan keadaan kota besar yang ramai, yang menjadi dambaan tempat tinggalnya kelak. Namun, dambaan itu tiba-tiba redam oleh perkataan Rambe.
Matahari perlahan-lahan tergeser karena perputaran bumi. Sinarnya berbinar-binar menembus rimbunan pepohonan.
“Saya mau pulang,” ujar Seruni.
“Ya. Hari sudah sore,” kata Rambe sambil mengangguk
Seruni menatapnya. Sesungguhnya dia berharap Rambe mau menahannya, agak berlama-lama di kebun. Tetapi lelaki itu malah menganjurkan agar dia cepat pulang.
“Abang pulang?” Seruni tersenyum sambil menatap manja. Dia berharap bisa bersama-sama keluar dari kebun.
Rambe menggeleng dan tersenyum.
Senyum Rambe membuat hati Seruni luluh. Dia tertunduk sesaat, merasa rikuh. Lalu dia berbalik dan lari seperti seekor anak kijang melintas padang rumput. Rambe menatapinya sampai gadis kecil itu lenyap di sisi jalan raya.
Di jalan raya Seruni bersua dengan Arman, teman sekelasnya.
“Dari mana?”
“Dari situ!”
“Dari situ mana?” tanyanya menyelidik.
Seruni tidak manyahut. Ia menggegas langkah.
Arman menjajari jalannya. Dia memang tertarik kepada gadis ini. Gadis yang digelari murai, yang matanya bak bintang dini, kulitnya halus kuning sutera. Sejak lama ia berusaha mendekatinya, namun gadis ini selalu menjauh, jinak-jinak merpati. Menyebabkan Arman menjadi semakin penasaran. Dan, sore ini dia muncul dari balik rimbunan pohon kopi. Arman tahu itu adalah kebun Rambe. Mungkinkah dia baru berkencan dengan Rambe? Kalau begitu semakin lekat tampaknya gadis ini dengan Rambe.
Untuk bersaing, Rambe bagi Arman bukan apa-apa. Arman memiliki segalanya lebih dari Rambe. Tetapi ia belum tahu, gadis macam apa si Seruni ini.
“Saya dari rumah Abang Rambe,” ujar Seruni.
Ucapan Seruni ini membuat Arman tertegun. Kalau demikian, sudah semakin akrab gadis ini dengan Rambe, duganya. Arman tersenyum, sambil mencoba menekan rasa cemburu yang berkobar di hati.
“Abang Arman mau ke mana?” tanya Seruni lagi.
“Pulang,” sahut Arman, “kebetulan kita satu arah. Boleh aku berjalan bersamamu?”
Sekilas Seruni menatap wajah lelaki itu, seraya tersenyum. Tatapan yang sekilas itu tertangtap oleh mata Arman. Seruni segera meluruhkan pandangannya. Ee, lelaki ini selalu mengejar-ngejarku, keluh hatinya. Dalam setiap kesempatan selalu menggodaku. Kalau saja aku sedikit membuka hati, heem…, keluh hatinya. Anehnya justru gadis ini lebiht tertarik kepada lelaki yang selalu murung, Rambe. Sedangkan Rambe? Seruni tertegun sesaat menanggapi dialog di hatinya ini.
“Pacarmu tidak marah?” Arman menggoda sambil menatap tajam ke wajah gadis yang selincah murai ini.
Seruni membalas tatap itu dan tersenyum riang. Senang benar hatinya ia mendengar ucapan Arman.Pasti lelaki ini mengetahui kalau aku menyukai Rambe, kata hatinya. Lalu ia menggeleng. “Aku yakin pacarmu tidak marah, karena dia adala sahabatku.”
“Siapa?” Seruni heran.
“Rambe.”
Seruni terperanjat mendengar nama itu disebut Arman. Dia diam, tidak bereraksi, melangkah sambil menunduk. Ketika dia hendak membelok ke pekarangan rumah, dia tidak berucap sepatah kata.
Arman terus melangkah. Sendiri. Sepi merasuk ke dalam relung hati. Sekarang dia agak yakin, gadis kecil itu milik sahabatnya. Hm, akhirnya jatuh juga gunung batu yang kokoh. Akhirnya cair juga batu es yang beku. Hem, gumannya sambil tersenyum. Ia terus berjalan. Bayang-bayang tubuhnya memanjang di hadapannya, sebab matahari sudah semakin rebah ke arah barat. Sinar mentari yang berwarna merah kekuningan semakin pudar juga tersaput warna pekat senja.
Keesokan harinya, Arman menyambut Rambe di gerbang sekolah.
“Selamat,” ujar Arman sambil menyodorkan lengan mengajak bersalaman.
“Ada apa?” Rambe heran melihat sikap Arman.
“Jabat dululah tanganku!”
Rambe menjabat tangan Arman.
Sambil tersenyum Arman melanjutkan ucapannya, “Selamat atas keberhasilanmu mengaet murai yang cantik dari Bintuhan.”
Rambe baru mengerti, ia tertawa terbahak-bahak.
“Ada-ada saja,” katanya.
“Ala, jangan berpura-pura. Siapakah yang mampu menyembunyikan durian masak?” balas Arman sambil tertawa.
“Tak ada hubungan apa-apa aku dengan anak itu.”
Zuraida yang baru yang baru tiba di gerbang sekolah heran melihat dua orang itu tengah tertawa-tawa. Ia menghampiri mereka.
“Ada apa, kalian tampak sangat gembira?”
Arman menyahut, “Biasa, kalau cowok ketemu cowok apa lagi yang mereka bincangkan? Pasti cewek, bukan?”
“Hem!” guman Zuraida seraya meninggalkan mereka.
Saat melangkah hati Zuraida dipadati tanda tanya. Benarkah Rambe sudah mau membicarakan cewek-cewek? Ada kemajuan dia. Siapa pula cewek yang menjadi bahan pembicaraannya?
“Oh,” keluh hatinya, “pasti gadis kecil yang lincah bak anak kijang itu.Benarkah gadis kecil itu telah mampu merebut hati Rambe?” Tiba-tiba wajah Zuraida terasa hangat karena, teraliri darah kecemburuan. Dia geram. Dia terus melangkah.
Zuraida sampai ke teras gedung induk sekolahnya. Udara sejuk. Sinar matahari terlindung oleh kabut tipis. Sekitarnya menjadi teduh. Namun, keteduhan tidak menjadikan hatinya redam dari kecamuk kecemburuan. Dia terus juga melangkah, buku-bukunya terkepit di dada. Beberapa teman menyapanya, ia hanya mengangguk. Masih terdengar tawa Arman dalam gendang telinganya. Masih terbayang sinar mata Rambe yang sekilas menatapnya di pintu gerbang barusan. Benarkah Rambe sudah mulai membicarakn perihal gadis-gadis? Benarkah? Dan, tentu bukan aku yang menjadi bahan pembicaraan. Zuraida menggeretakkan giginya sambil menghenyakkan tubuh ke kursi. Kelas masih kosong. Hanya hamparan papan tulis berwarna hitam yang terpandang di hadapanya. Warna hitam papan tulis sekelam warna hatinya.
Kembali ia menyesali diri, mengapa tidak sejak dulu menyatakan cintanya kepada Rambe. Sebelum pemuda itu direbut oleh orang lain. Tradisi yang mentabukan perempuan untuk lebih dulu menyatakan cinta kepada lelaki, menjebabkan hampir semua perempuan di daerah ini tidak agresif. Mereka selalu menunggu, dan malu-malu. Tradisi menyebabkan perempuan selalu harus menerima, bukan menyerang. Sangatlah naif bila gadis yang lebih dulu menyatakan cintanya kepada seorang pemuda. Beruntunglah Seruni, gadis kecil itu berani melanggar tradisi, dia agresif, menyerang dan menaklukan lebih dulu. Sehingga, Rambe, pemuda yang telah lama didambakan lelbih tertarik kepadanya. Demikian berbagai dugaan muncul dan bertarung di benak Zuraida.
Sepanjang hari itu Zuraida tidak bisa konsentrasi kepada pelajaran-pelajaran yang diberikan guru. Pikirannya mengawang jauh, tidak terpusatkan kepada pelajaran. Ia hanya menjadi patung di dalam kelas.
Saat di rumah, pekarangan luas yang rimbun oleh tetanaman pun tidak dapat meredam kegalauan hatinya. Malah menyebabkan rasa sepi yang makin menyengat. Yang pada akhirnya dia tumpahkan dalam tangis. Di telungkupkan tubuhnya ke atas kasur, air matanya bingkas membasahi bantal.
“Ida, kamu tidak makan?” suara ibunya di ambang pintu kamar yang tertutup. Zuraida terkejut. Cepat-cepat menghapus air mata, khawatir ibnya masuk ke kamar.
“Sebentar, Mak.”
Ibu terus berlalu ke balakang.
Zuraida mendengarkan langkah kaki ibunya menjauh dari ambang pintu kamar. Ia bangkit, duduk di tepi ranjang.
“Masih ada harapan. Kalau aku bisa satu kelompok dengan Rambe saat praktek lapangan nanti akan kutembus kebekuan hati lelaki itu,” keluhnya. Dia bertekad akan bersikap agresif dalam menyampaikan rasa cinta. Dia akan mencoba menembus tabir tradisi yang mengekang kaum perempuan, hanya menerima tidak menyerang. Dia akan menyerang. Demi kebahagiaan masa depan bersama lelaki itu dia rela melanggar tradisi yang berlaku di dalam lingkungan kaumnya.
Manakala Bapak Suraji, pembimbing Studi Kerja Nyata mengumumkan kelompok-kelompok yang akan melaksanakan SKN, Zuraida merasa sangat tegang. Ia seperti sedang menghadapi saat-saat kematian di kursi listrik.
“Kelompok A…” kata Pak Suraji.
Ketegangan melanda hati Zuraida. Siapakah ketua kelompok A ini? Siapa pula anggota-anggotanya?
Pak Suraji melanjutkan membacakan pengumuman.
“Ketua kelompok Rambe, “ lalu ia menyebutkan anggota-anggota kelompoknya.
Zuraida semakin tegang. Kepalanya tegak, lubang telinganya terbuka lebar, takut kehilangan pendengarannya. Ketika pak Suraji membacakan nama-nama siswi, Zuraida berpindah duduk agak ke depan. Supaya ia tidak salah mendengar.
Tiba-tiba ia seperti mendengar halilintar yang menggelegar. Telinganya menjadi pekak. Pandangannya menjadi kabur. Ruang kelas ini seakan berputar-putar. Oh, keluhnya. Inilah rupanya yang dinamakan takdir. Inilah rupanya kenyataan apa yang sering-sering diucapkan orang-orang tua bahwa jodoh dan maut ditentukan oleh takdir. Benarkah? Benarkah?
Ia tidak lagi mendengarkan Pak Suraji menyebutkan nama-nama anggota kelompok lain. Kepalanya pusing. Pandangannya kabur. Sejenak ia menumpu kepalanya pada kedua tangan. Ia ingin menjerit. Ingin menangis. Mengapa naisb mempurukkannya ke lembah yang paling nestapa.
Zuraida tidak termasuk ke dalam kelompok Rambe. Dia masuk ke dalam kelompok B, bersama Arman.
Zuraida pulang membawa rasa sendu. Dia melangkah sambil menekuri tepi jalan. Rambe berjalan di sisinya. Zuraida heran, lelaki ini tetap saja dingin, pandangan matanya tetap sayu, cuma kemurungannya yang sudah mulai tampak sirna. Tetapi, juga dia tidak tampak seperti lelaki yang tengah jatuh cinta. Benarkah isu-isu yang dia dengar bahwa Rambe berpacaran dengan Seruni? Dia belum pernah memergoki Rambe berduaan dengan Seruni. Berita-berita bahwa lelaki ini memacari Seruni hanya dia dengar dari teman-teman. Benarkah semua isu itu?
“Engkau tidak dalam kelompokku,” ujar Rambe.
“Ya,” ujar Zuraida.
“Sebenarnya ….” Rambe diam.
Zuraida menunggu kelanjutan ucapan Rambe. Tetapi, lelaki itu terus membisu, membuat Zuraida makin penasaran.
“Sebenarnya apa?” tanya Zuraida.
“Tidak.”
“Ayo, jelaskan. Sebenarnya apa?” desak Zuraida.
Rambe menghela napas, ujarnya, “Yang menentukan anggota kelompok ini adalah Pak Suraji.”
“Ya, aku tahu,” ujar Zuraida, “tetapi apa yang kamu maksud dengan ucapanmu tadi?”
Rambe tersenyum.
“Tidak ada.”
Sesungguhnya, Rambe ingin mengatakan bahwa ia menghendaki agar Zuraida berada di dalam kelompoknya. Tetapi, mulutnya tidak sanggup membuka, kerongkongannya pun seakan tersumbat sehingga kata-kata itu tidak terucapkan.
Karena Rambe tetap diam, Zuraida pun pasrah. Ia pasrah kepada ketentuan, menyerah kepada takdir. Rupanya ia tidak ditakdirkan berada di sisi lelaki yang dia sukai. Lalu, apakah perasaan cinta bisa diredam oleh takdir ini? Cinta adalah sebuah rasa. Cinta adalah selera yang peka sekali. Cinta tidak akan padam. Walaupun Zuraida ditakdirkan tidak bisa memiliki Rambe sekalipun, namun cintanya tidak akan padam.
Benarkah dengan tidak termasuknya Zuraida ke dalam kolompok Rambe, itu berarti bahwa ia sudah ditakdrikan untuk tidak berhak memiliki Rambe?
Para pelajar Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian sudah disebar ke berbagai desa. Rambe bersama rombongannya ditempatkan di desa Ulokpandan, sebuah desa kecil di sebelah utara kota Krui. Sedangkan Arman bersama kelompoknya, yang di dalamnya terdapa Zuraida ditempatkan di desa Batu Kabayan, di sebelah selatan Liwa.
*
Sunyi benar desa ini. Hari-hari pertama Zuraid berada di desa ini terasa benar kesunyian itu. Bukan saja karena desanya yang sunyi, tetapi hati Zuraida juga sedang dilanda sepi. Sepi yang amat menyengat. Ia bersama beberapa teman puteri ditempatkan di rumah Kepala Kampung. Beberapa orang anak lelaki ditempatkan di rumah-rumah penduduk. Lapangan studi mereka berbeda-beda. Karenanya tempat penelitiannya pun tidak sama.
Setiap pagi Zuraida turun ke sungai. Jalan ke sungai melalui tebing yang agak curam. Tebing itu telah dibuatkan anak-anak tangga dari sususnan batu kali oleh para pelajar yang sedang studi lapangan. Kalau hujan jalan ini licin. Sungai ini tempat penduduk mandi dan mecuci. Pagi hari banyak ibu-ibu yang mandi, mengambil air, dan mencuci. Biasanya mereka saling berseloroh dengan sesamanya. Apabila sore hari banyak anak-anak muda mandi sambil berenang dan bercanda.
Suatu hari Zuraida agak segan ke lapangan. Ketika semua teman-temannya telah berangkat ke tempat praktek, ia pergi ke sungai. Ia mandi dan berenang. Air sungai yang jernih dan sejuk itu menyegarkan tubuhnya. Di hulu sungai tampak ibu-ibu sedang mencuci sambil berbincang-bincang. Tetapi mereka tidak memperhatikan Zuraida yang tengah berenang. Matahari sudah tinggi, ia segan ke lapangan praktek. Ia ingin istirahat di tempat tinggalnya. Setelah puas berenang ia menepi. Hanya beralaskan kain batik sebatas pundak ia tersembul dari air. Lalu ke tepian bersemak tempat pakaiannya ditinggalkan.
Sepasang mata tanpa sengaja menyaksikan gadis yang lampai itu tengah bersalin pakaian. Ia terpaku di balik rumpun semak, agak jauh dari tempat gadis lampai itu bersalin pakaian. Ia tegak terpaku menyaksikan keindahan tubuh sang gadis. Ketika Zuraida selesai berganti baju, cepat-cepat ia berlalu.
Zuraida keluar dari rumpun semak. Mereka berpapasan di tepi lereng tangga batu untuk naik ke atas.
“Arman,” sapa Zuraida.
“Aku mencarimu kemana-mana.”
“Aku sedang enggan ke lapangan. Aku ingin beristirahat.”
Berjingkat-jingkat Zuraida menaiki tangga batu. Arman mengiringi di belakangnya. Tiba-tiba Zuraida terpeleset batu yang berlumut, tubuhnya limbung. Arman menocba menjangganya. Tetapi tak tersentuh, Zuraida terjatuh. Wajahnya merah padam. Cepat-cepat ia bangkit.
“Maaf,” ujar Zuraida
“Kamu sakit?”
Zuraida menggeleng. Ia melangkah, kakinya sakit.
“Aduh,” keluhnya terpincang-pincang.
“Barangkali kakimu terkilir.”
Zuraida meraba tumitnya sambil menyeringai.
“Mari kuurut.”
Zuraida menggeleng. Ia mencoba melangkah. Sakitnya semakin menyengat. Ia menyeringai sambil mengaduh. Tetapi ditahan rasa sakitnya ia terus melangkah
“Ida…”
Seketika Zuraida menunduk, memandang anak-anak tangga. “Aduuh…”
“Masih sakit?”
Zuraida mengangguk.
“Mari kuurut.”
Suraida menggeleng. Dia terus melangkah, menahan rasa sakit dan tabu disentuh Arman.
Di langit matahari parak lohor menyinarkan cahaya lembut. Angin semilir. Rambut Zuraida yang panjang itu tergerai-gerai. Dan, hatinya terjalari rasa hangat. Bara api berpijar ke sekujur persendian. Lelaki ini sangat memperhatikanku, pikirnya. Dia kelewat care ketimbang Rambe yang dia harapkan seagresip selaki ini.
Bagii Arman pun, sejak peristiwa itu, Zuraida mulai terpacak di dalam hatinya. Sedang di hati Zuraida kegalauan melanda. Ia bimbang. Sepertinya, ada sesuatu yang hilang dari dirinya.
Lantas lupakah Zuraida kepada Rambe? Memang sukar untuk melupakan lelaki itu. Saat ini dia tengah berusaha melenyapkan bayangan wajah lelaki itu.
*
Akan halnya Rambe, sangat ini ia tengah dilanda kesepian di tengah pedesaan Ulokpandan. Bagi Rambe rasa sepi bagai satu siksaan. Wajah yang sering muncul dalam benaknya adalah Zuraida. Alangkah senang jika Zuraida berada dalam kelompokku, keluh hatinya. Bersama-sama melakukan penelitian. Bersama-sama melakukan bimbingan massa kepada para petani. Dan, yang lebih asyik berbimbingan tangan pada jalan-jalan desa yang sempit dan licin. Berteduh di dangau manakala hari hujan. Ah, sayang gadis itu tidak berada di sisiku.
Tiba-tiba Rambe tersentak dari lamunannya itu. Apakah aku mencintainya? Pantaskah aku mincintainya? Dia bangkit, berdiri di tepi jurang, menatap ke lembah yang curam. Rasa gamang menghentak diri, takut jatuh dan lebur di lembah bebatuan.
*
Hujan turun lebat di Batukabayan. Zuraida dan Arman berteduh di sebuah dangau kosong di tengah padang ilalang. Teman-teman lain sudah lebih dulu berlalu. Dulunya daerah ini adalah huma, sekarang sudah ditinggal oleh penggarapnya. Kebiasaan berladang berpindah masih ada di desa ini. Itulah yang menjadi bahan penyuluhan para siswa kepada para petani, agar kebiasaan berladang berpindah ditinggalkan. Mereka dianjurkan berladang tetap. Penduduk di desa ini umumnya pekebun tanaman keras, umumnya berupa cengkih, tetapi mereka juga biasa membuka lahan untuk menanam padi atau palawija musiman. Tanah garapan itu hanya ditanaman selama beberapa musim saja, setelah itu ditinggalkan untuk mencari lahan baru. Dangau tempat mereka berteduh atapnya tiris. Hanya ada sebuah sudut yang bisa dijadikan tempat berteduh. Mereka berhimpitan. Namun, air hujan sempat jgau membasahi pakaian mereka. Rasa dingin menjalari seluruh tubuh mereka.
“Tunggu,” ujar Arman, “akan kulihat kalau-kalau ada dangau yang lebih baik dari ini untuk berteduh.”
“Jangan tinggalkan aku sendirian,” kata Zuraida seraya meraih lengan Arman. Di bawah curah hujan mereka berlari-lari kecil saling berbimbingan. Sepanjang daerah bekas huma itu tidak mereka temui sebuah dangau.
“Tidak ada tempat berteduh,” ujar Arman.
Zuraida berlari ke bawah pohon. Tubuhnya gemetar karena dingin.
“Pakai jaketku,” ujar Arman pula seraya membuka jaket.
“Tidak. Kita pulang saja. Ayo!” ujar Zuraida seraya melangkah, tetapi ia terperosok ke sebuah lubang. Untung lubang itu dangkal. Secara refleks Arman meraih tangan Zuraida dan menariknya. Diangkatnya gadis itu. . Cepat-cepat Zuraida bangkit. Dia sangat rikuh. Sesaat dia mengibaskan tanah yang melekat di celana dan baju. Mereka saling berdiam diri.
Hujan semakin deras. Keduanya basah kuyup.
“Ayo, cepat kita pulang,” ajak Zuraida dengan perasaan yang galau tidak menentu. Bagai kerbau yang dijolok hidungnya, Arman mengikuti langkah Zuraida.
“Sebaiknya kamu pakai jaketku, supaya tidak dingin,” Arman membujuk sambil menjajari langkah Zuraida. Zuraida menggeleng. Namun, dia senang karena Arman berada di sisinya. Mereka berjalan dampingan di bawah curah hujan yang lebah. Hati mereka menjadi semakin lekat.
Bagi Zuraida dan Arman desa Batukabayan ini telah menimbulkan kenangan manis. Desa ini telah memadukan hati keduanya. Takdirkah ini? Zuraida mulai bertanya-tanya dalam hati. Barangkali ini bukan hanya suatu takdir, tetapi merupakah hikmah. Benarkah?
*
Bukan saja Kepala Kampung, tetapi segenap penduduk merasa sedih manakala kelompok siswa ini akan meninggalkan desa. Studi lapangan telah usai. Mereka akan kembali ke kota.
“Terlalu cepat rasanya kita harus berpisah,” kata Kepala Kampung.
“Ya, Pak. Tugas kami sudah selesai,” ujar Arman sebagai Ketua Kelompok.
“Kapan kalian akan kesini lagi?”
“Yang pasti tahun depan akan ada lagi yang datang ke desa ini. Adik-adik kami,” ujar Arman.
“Dengan senang hati akan kami terima,” kata Kepala Kampung, “Apalagi kalau kalian akan terus mengabdikan diri di sini,” lanjutnya.
“Kami masih akan terus belajar,” kata Arman.
“Ya, terima kasih atas segala bantuan Bapak,” sambung Zuraida.
Sedang bagi Rambe tidak banyak kesan yang diperolehnya, kecuali otaknya saja yang semakin dipadati ilmu. Ia malahan semakin murung. Selama melakukan studi lapangan ini dia sering berkeluh-kesah. Dia merasakan seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Kehilangan permata yang sangat berharga. Ketika studi lapangan ini usai, barulah dia agak cerah. Cepat-cepat ingin meninggalkan desa ini. Hidangan yang disediakan Kepala Kampung pada hari perpisahan hampir-hampir tidak disentuhnya.
Dalam perjalanan pulang mereka harus berjalan kaki menuju ke tempat bus antar-jemput mangkal. Kendaraan tidak bisa masuk ke desa ini, jalannya telah rusak, tergerus hujan yang tiada hentinya turun. Jarak dari pusat studi mereka sampai ke sisi jalan lebih kurang lima kilometer. Di tengah perjalanan Rambe merasa lapar. Teman-temannya mentertawakan.
“Kamu yang salah, mengapa makanmu sedikit!” kata teman-temannya.
“Aku sudah ingin cepat pulang,” ujar Rambe.
“Ada seseorang yang sangat kamu rindukan?” tanya Yati. Gadis ini berjalan di sisi Rambe. Di belakang mereka beberapa orang teman berjalan saling bercengkerama.
“Bukan begitu.”
“Lalu apa?” desa Yati.
Rambe tidak menjawab.
Yati berujar lagi, “Rindu kepada murai kecil itu, ‘kan?”
“Maksudmu apa?”
“Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.”
“Ya, aku memang tidak tahu.”
“Si murai kecil yang lincah, anak Bintuhan itu!”
“Ooo … bukan.Bukan!” ujar Rambe.
“Jangan mencoba menutupi buah durian masak dengan daun mawar. Wanginya pasti tersebar.”
“Apa pula ini, kalian saling berpantun,” ujar seorang teman yang berjalan di belakang Yati..
“Tidak, aku sedang menggugah hati Rambe.”
“Ada apa pula dengan dia?” tanya teman lain, Ruri namanya.
“Kalian tidak tahu?” Yati melempar tanya.
“Ada apa?” Ruri bertanya.
“Ada anak rusa di padang ilalang,” ujar Yati
Ruri membalasnya, “Ada hati resah ingin kekasih segera menjelang.”
Anak-anak lain riuh tertawa.
“Siapa pula kekasihmu, Rambe!” tanya teman lain.
“Si murai dari Bintuhan!”seru Yati.
“Oo, bukan!” seru Rambe.
“Jangan berpura-pura,” sergah Yati.
“Aku tidak mencintai dia!”
“Jadi dia cuma untuk permainanmu?” mata Yati tajam menatap wajah Rambe.
“Tidak. Aku menganggap dia sebagai adik,” ujar Rambe.
“”Hee?” wajah Yati menampakkan keraguan.
“Benar. Tak ada apa-apa di antara kami.”
Yati menatap Rambe. Yati menyadari bahwa selama brtahun-tahun bergaul dengan Rambe, ia belum pernah berdusta. Rambe orang yang selalu terbuka, berterus-terang, dan jujur. Mungkin juga ia memang hanya menganggap adik kepada si Seruni itu, pikir Yati. Tetapi, bagaimana anggapan Seruni? Tentu Seruni akan salah faham. Seperti juga Zuraida, gadis ini telah menduga lain terhadap hubungan Rambe dengan Seruni. Yati tahu, bahwa secara diam-diam Zuraida menyukai Rambe.
“Wah,” keluh Yati.
Rambe menatapnya.
Yati tertunduk.
“Ada apa?”
Yati mengalihkan pandangan ke jendela.
“Kamu tidak percaya, kalau aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Seruni?” tanya Rambe.
“Bukan itu soalnya.”
“Lalu apa?”
Mereka melintas jembatan. Air sungai sedang meluap, batu-batuan di dasar sungai yang biasa kelihatan sekarang terendam. Tidak tampak kegiatan di tepian. Air sungai berwarna kecoklatan berarus deras, rupanya semalam hujan lebat turun di hulu. Mereka berpapasan dengan sebuah sepeda yang bermuatan karung-karung berisi hasil bumi. Pengendara sepeda turun. Ia menepi agak ke sisi, rapat dengan besi railing jembatan memberi kesempatan jalan kepada rombongan anak-anak itu. Beberapa orang anak yang berjalan di belakang mulai menyanyi-nyanyi.
Yati menghela napas, memberanikan diri bertanya, “Apa perasaanmu terhadap Zuraida?”
Rambe terperangah mendengar pertanyaan itu. Beberapa ekor burung sriti terbang melayang di sisi mereka, lalu menukik ke tanah seperti ada sesutu yang dipatuknya. Kemudian sriti-sriti itu melayang naik ke angkasa. Hati Rambe galau.
“Mengapa kamu tanyakan itu?”
“Mengapa?”
Sorot mata Yati menghunjam tajam ke wajah Rambe.
Sebagai lelaki perasa Rambe mengerti makna sorot mata Yati. Lalu ujarnya, “Yah, sebenarnya aku mencintai dia.”
Yati menghela napas. Sekejap kemudian terdiam.
Cahaya matahari menerkam pasir pantai. Udara gerah. Angin mati. Laut tampak biru tak beriak. Anak-anak itu melangkah menjauhi tepian pantai, menghindari panas yang menyengat.
“Hooi… istirahat dulu!” teriak seorang teman yang teringgal di belakang.
Rambe menoleh, lalu mengangguk tanda setuju.
“Di rimbunan hutan bakau sana. Tempatnya teduh,” ujar Rambe.
Sepanjang pesisir pantai itu merupakan habitat hutan bakau. Di tepian tumbuh pohon-pohon bakau yang akar-akarnya mencuat ke atas, lalu pohon api-api, dan agak ke daratan tampak semak merimbun. Pada saat laut pasang habitat ini tergenang oleh air. Habitat ini merupakan rawa pasang surut. Pada saat ini hanya sebagian kecil yang masih digenangi air dangka, lainnya kering. Daerah yang kering dan teduh itu yang diusulkan Rambe sebagai tempat istirahat.
“Ada tempat yang lebih indah, dengan pemandagnan ke laut lepas.Kita ke sana saya,” ujar Yati.
“Dari mana kamu tahu?” tanya Rambe.
Yati tersenyum.
“Aku pernah ke sini.”
Yati mengajak masuk ke daratan. Lalu jalan agak mendaki, setelah itu mereka tiba di daerah pebukitan bertanah datar. Di sepanajng dataran pebukitan itu terdapat pesawahan yang kering. Di daerah pesisir ini sawah-sawah hanya ditanami satu kali saja, yaitu saat musim hujan. Di daerah ini tidak ada irigasi. Sungai-sungai berada di lembah dan dangkl. Daerah pebukitan ini dijadikan sawah tadah hujan. Kegiatan pokok penduduk di sini umumnya bertani cengkeh dan damar. Sawah merupakan tanaman selingan. Tanah persawahan pun sedikit sekali. Di sebelah baratnya, terbentang Samudera Indonesia. Ombaknya besar-besar. Sejauh mata memandang yang tampak warna biru terhampar dan sesekali tampak percikan warna perak dari buih ombak. Keluasan samudera ini seakan mencapai kaki langit.
Yati duduk di sisi Rambe. Mereka menatap ke kejauhan, ke hamparan laut nan luas terbentang.
“Tampaknya selama ini kamu menghindari Zuraida,” ujar Yati dengan tidak melepas pandangannya ke laut lepas.
“Kau tahu, Yati, siapa dia sebenarnaya. Dan, kau juga tahu siapa aku. Perbedaan kami terlalu jauh. Di antara aku dan dia terdapat jalur pemisah yang sukar ditembus. Dia anak bangsawan kaya dan aku….?” Rambe diam sesaat, lalu lanjutnya, “Itu yang membuat aku ragu mengutarakan isi hatiku.”
Yati mengalihkan pandangan ke arah Rambe, ujarnya, “Aku rasa….”
Rambe menukas, “Dalam persoalan ini bukan rasa yang berlaku. Kita adalah anak-anak asli daerah ini, kita mengenal betul tata kehidupan lingkunga sosial kita, bukan?”
“Hem,” guman Yati seraya memandang lagi ke arah samudaera lepas. Sinar matahari yang menimpa laut berubah berwarna perak saat ombak menghempas. Di atas permukaan lautan tidak tampak sesuatu, daerah itu kelihatan kosong, hanya warna biru terhampr sampai jauh nun di kaki langit.
“Pernahkah kamu menyatakan cinta kepadanya?” Yati bertanya.
“Belum.”
“Sadarkah kamu bahwa Zuraida sesungguhnya juga mencintaimu?”
Rambe diam. Di dalam hati dia berujar, “Aku merasakannya.” Tetapi, kata-kata itu tidak terucapkan. Dia menghela napas.Pandangannya kosong, jauh mengarah nun ke hamparan air biru.
“Rambe! Kamu melamun?”
“Tidak.”
“Kamu menyadari kalau Zuraida juga mencintaimu?”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Aku tidak tahu. Justru itu aku bertanya.”
“Aku rasa demikian.”
“Jadi menurutmu sebenarnya Zuraida mencintaimu?”
“Setidaknya menyukaiku,” ujar Rambe ragu..
“Mengapa tidak sejak awal kamu menyatakan cintamu kepadanya?”
Rambe diam.
Yati meneruskan,”Jika kalian sudah saling mencintai dan ternyata orang tua tidak menyetujui, bukankah kalian bisa sebambangan*?”
Sebambangan adalah tradisi kawin lari menurut adat Lampung, dengan cara membawa calon mempelai puteri ke rumah mempelai laki-laki. Cara perkawinan ini tidak melakukan peminangan lebih dulu. Sebelum meninggalkan rumah si calon mempelai puteri meninggalkan sepucuk surat untuk orang tuanya yang memberitahukan bahwa ia pergi ke rumah calon mempelai laki-laki yang dia cintai. Setelah calon mempelai puteri berada di rumah calon mempelai laki-laki fihak keluarga calon mempelai laki-laki datang ke rumah orang tua calon mempelai puteri dengan upacara adat. Dalam kurun waktu tertentu akan terjadi perundingan di antara kedua keluarga sampai ada kesepatan untuk menikahkan kedua calon mempelai itu.
Rambe mencabuti rumput-rumput yang berada di dekatnya. Lalu ujarnya, “Aku mengutamakan sekolah. Nanti kalau studiku sudah selesai, aku akan datang kepadanya, menyatakan cintaku, sekalian meminangnya.”
“Bagaimana kalau dia sudah dipersunting orang lain?”
Rambe terperangah. Ya, jika dia sudah disunting orang lain? Tanya itu berhumbalangan di dalam hatinya.
“Aaah….” Desahnya.
Yati tidak mengulang tanya itu lagi. Keduanya membisu. Serombongan burung layang-layang terbang di atas mereka. Lalu menghambur jauh menuju ke laut.
“Hei…!” terdengar seruan beberapa orang teman.
Rambe dan Yati menoleh.
Beberapa orang teman menghampiri.
“Asyik betul, seperti sedang pacaran!” goda mereka.
Yati tertawa seraya berdiri. Ia mengibaskan sisa-sisa pasir yang melekat di celana jeannya. Rambe juga berdiri.
“Kalau belum selesai, silakan diteruskan!” goda teman-teman.
“Kita berangkat,” ajak Rambe.
Yati menyandang ranselnya.
“Oke, kita berangkat!” ujarnya.
“Kamu masih lapar Rambe?” tanya Syahroni ketika mereka sudah melalui jalan desa lagi. Rambe hanya tersenyum.
“Tentu tidak. Dia sudah kenyang berpacaran,” ujar Suleman.
“Setan kalian!” bentak Yati.
Syahroni dan Suleman tertawa terbahak-bahak.
Pada sebuah desa di tepi sungai Way Ngison, anak-anak kecil mengerumi rombongan ini. Anak-anak itu senang melihat mereka menyandang rancel dan mengenakan topi pandan lebar. Seperi cowboy, pikir anak-anak desa itu. Beberapa waktu yang lalu mereka juga baru mengiringi rombongan siswa yang keluar dari desa ini. Ya, di desa Way Ngison ini pun ada kelompok studi lapangan yang baru selesai mengadakan penelitian. Ketua kelompoknya adalah Zainuddin. Kelompok Rambe sempat singgah ke kantor kepala kampung. Mereka mendapat keterangan bahwa rombongan siswa yang praktek di sini telah berangkat.
Beberapa orang siswa bernyani-nyanyi, melantunkan lagu anak-anak. Anak-anak kecil itu bertepuk tangan sambil bersorak-sorak. Yati hanya tersenyum saja. Sampai gerbang desa, anak-anak itu berhenti. Mereka tidak terus mengikuti para siswa. Mereka melambaikan tangan. “Selamat jalan, Kak!” seru anak-anak itu.
Rambe, Yati dan teman-teman lain membalas lambaian tangan anak-anak itu. Mereka terus berjalan, memasuki hutan kecil. Jalannya agak mendaki. Tanahnya kering berbatu-batu. Suasananya lengang dan teduh, karena pada kanan kiri jalan tumbuh pohon-pohon mahoni yang rindang. Dulu jalan ini beraspal, tetapi sekarang sisa-sisa aspalnya tidak tampak lagi. Yang ada bekas batu-batunya. Dan, di beberapa tempat telah ditumbuhi semak belukar. Jalan ini dulu tembus sampai ke Pugung.
Di simpang Pamong mereka berjumpa dengan rombongan Zainuddin. Yati memeluk Erni, sahabatnya yang gemuk pendek.
“Aduh, kamu langsing sekarang, Er,” kata Yati.
“Langsung kali!” ujar Erni sambil tertawa. Lanjutnya, “Malah bertambah gemuk. Habis, dijamu makan enak terus oleh Pak Kepala Kampung.
Mereka saling menceritakan pengalaman. Di simpang Pamong ini mereka menunggu bus dari Krui yang akan mereka tumpangi.
*
Siswa-siswi yang baru menyelesaikan studi lapangan diberi libur satu minggu. Libur ini diberikan untuk mereka menyelesaikan paper atau laporan tertulis masing-masing.
Sejak kembali dari studi lapangan Rambe baru sekali berjumpa dengan Zuraida. Wajah gadis itu tampak semakin berseri. Hanya sapaan basa-basi yang keluar dari mulut mereka. Pada hari yang sama Rambe juga bersua dengan Seruni. Setelah itu Rambe tidak pernah muncul lagi ke sekolah. Ia sibuk menyiapka papernya. Seruni sagnat merindukannya. Ia ingin jalan-jalan bersama Rambe lagi. Ke kebun, pancuran air, atau ke lereng-lereng bukit. Tetapi Rambe tidak pernah muncul. Seruni jemu dengan kesunyian yang amat menyesak. Dua belum sudah ia menahan perasaan rindu. Hampir mati rasanya. Padahal laki-laki itu berada di kota ini, tetapi sangat sukar untuk ditemui. Apakah ia sudah berubah? Bermacam-macam tanda tanya lagi terkumpul dalam benak. Mau ia menyerit-jerit rasanya.
“Sore ini akan kucari dia!”
Siang itu Rambe baru saja menyelesaikan beberapa bab dari papernya. Otaknya terasa lelah. Ia pergi ke kebun. Menampak bunga-bunga kopi menyebabkan kesegaran tubuhnya bangkit kembali. Sebagian dari pohon-pohon kopi itu pun sudah mulai berbuah. Buahnya hampir merah. Dua atau tiga bulan lagi seluruh pohon sudah rata berbuah dan masa panen pun akan segera tiba. Ia bangga terhadap hasil kerjanya. Lagi pula harga kopi saat ini tengah meningkat. Hal itu memungkinkan para petani kopi bergairah kembali.
Kebunya peninggal orang tuanya memang tidak luas. Tetapi jika harga kopi tinggi seperti sekarang ini, hasil kebun mampu untuk membiayai sekolahnya.Selain itu ia bertekad bila sudah kuliah nanti, akan menyambi bekerja. Sekedar untuk menambah biaya, supaya tidak bergantung dari kampung.
Rambe memandangi kebun kopinya yang subur dan tengah berbuah itu. Di sudut lain dari kebunnya, di daerah lereng bukit yang sejuk terhampar pohon-pohon kentang dan kubis. Lingkungan itu bagai hamparan permadani hijau. Rambe mendesahkan napas sambil tengadah memandang langit yang berawan tipis.
“Ya, Tuhan, luluslah hendaknya aku dari ujian ini. Aku tidak punya apa-apa dan buka apa-apa di desa ini. Aku ingin berilmu, itulah nanti sebagai kelebihanku dan akan kuabdikan bagi kepentingan desa ini.”
Kemudian perlahan-lahan dia melangkah meninggalkan kebunnya.Ia berputarmelalui jalan raya. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Ia sedang berpikir-pikir akan melanjutkan menulis papernya.
Seruni muncul di hapannya.
“Abang,” sapa gadis itu.
Rambe terpana sejenak, lalu bertanya, “Dari mana kamu?”
Dengan sikap manja Seruni menjawab,”Saya mencari Abang.”
“Hem, ada apa?”
Mendengar jawaban itu hati Seruni kesal. Ia agak merajuk. Tetapi, Rambe pura-pura tidak mengerti akan perubahan wajah seruni. Ia bersikap dingin saja. Seruni mendekatinya.
“Saya ingin jalan-jalan,” kata Seruni pula.
“Oya…”
Ucapan Rambe membuat hati Seruni dongkol lagi. Mengapa lelaki sekarang tidak mengacuhkan aku? Ia ingin menjerit-jerit menghadapi sikap Rambe ini. Namun, ia menahan perasaannya.
“Kita jalan-jalan, yok Bang!”
Rambe mengerjitkan keningnya.
“Aku sedang banyak kerja.”
“Oh,” keluh Seruni. Dia berusaha mendesak, “Ayoklah, Bang.
Rambe menghela napas. Sukar ia mengelaknya.
“Ayolah!” kata Rambe.
Seruni senang sekali. Berjingkat-jingkat ia berjalan di sisi Rambe.
“Kita ke pancuran air,” jaknya.
Rambe mengangguk.
Pancuran air ini sepi. Tidak ada orang mengambil air. Suasana sekitarnya pun senyap. Suara gerojok air yang memancur ke bawah yang memecah kesenyapa di sekitarnya. Pancuran air ini berasal dari sumber mata air di puncak bukit. Air ini mengalir melalui celah-celah batu sampai ke tepian lereng, kemudian terjun ke bawah. Pancaran air terjunnya tidak besar dan memang lebih tepat disebut air mancur. Oleh karena itu orang-orang menyebutnya pancuran air. Pemandangan di sini sangat indah. Batu-batu tempat air mengalir di lereng bukit berliku-liku. Bila tertimpa sinar matahari percik air akan memancarkan cahaya pelangi, kuning, mereah, hijau, dan ungu. Indah nian. Nun, di arah selatan, di balik pebukitan ini terdapat persawahan dan kolam-kolam ikan.
“Kalau lulus Abang akan melanjutkan ke mana?” tanya Seruni.
“Melanjutkan ke Bogor.”
“IPB?”
“Insya Allah.”
Seruni memandang ke lereng, melihat liku-liku air yang turun pada celah-celah bebatuan. Hatinya bergejolak, sederas gejolak air yang turun dari puncak bukit.
“Di sana ada SMK Pertanian, ‘kan?”
“Tentu ada. Kenapa?” tanya Rambe sambil menata tajam wajah gadis kecil itu.
“Saya ingin ikut Abang!” seru Seruni. Suaranya setengah berteriak meningkahi suara air yang bergejolak. Lanjutnya, “Saya ingin bersekolah di sana di tempat Abang kuliah. Saya ingin selalu berada di dekat Abang.”
“Sebaiknya kamu tamatkan dulu sekolahmu di sini, baru melanjutkan ke sana,” ujar Rambe.
“Tidak,” kata Seruni, “Saya ingin selalu berada di dekat Abang.”
“Untuk apa selalu berada di dekatku?”
Seruni terperagnah. Mata yang bak bintang dini itu terbelalak. Ia tampak geram. Sorot matanya tajam menatap wajah lelaki di hadapannya, seperti seekor kucing yang tengah mengintai tikus dan siap menerkamnya. Namun, beberapa saat kemudian pandangan mata itu luruh dan layu. Dengan suara tersendat-sendat ia berkata, “Saya ….”
Rambe menanti dengan tenang apa yang dikatakan gadis itu. Tetapi, gadis itu beberapa saat membisu. Hanya bunyi air yang jatuh ke bawah selokan kecil yang bergemuruh. Gadis kecil itu tertunduk. Hatinya berdegup-degup lebih keras dari suaru jatuhnya air pancuran. Rambe tetap tenang.
Seruni tiba-tiba menatap lekat ke wajah Rambe. Lalu katanya, “aku mencintai Abang.”
Rambe yang baru hendak berjalan seketika menghentikan langkahnya. Ia sangat terkejut mendengar ucapan gadis Bintuhan ini, seperti baru saja merasakan getaran gempa bumi yang dibarengi rentetan halilintar. Ia heran, seberani itu Seruni menyatakan cintanya. Rambe hanya mampu berdesah.
“Abang pun mencintai saya, bukan?”
“Seruni ….”
Belum loagi Rambe seleai meneruskan kata-katanya, seruni telah menukasnya, “Katakanlah, Abang Rambe mencitnai saya bukakn?
“Oh,” desah Rambe. Ia bingung menghadapi gadis yang agresif ini. Dan, jika sekiranya aku berterus-terang, akankah ia juga bisa tenang. Tidak merasa terpukulkah dia, begitu kata hatinya. Sambil mendesahkan napas, Rambe berujar, “Engkau masih terlalu kecil untuk mencintai seseorang, Seruni.”
Rambe menanti reaksi gadis itu.
“Jadi …. Jadi Abang tidak mencintai saya?”
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
“Abang mencintai kamu, Seruni ….”
“Oh,” desah Seruni dengan sinar mata berbinar dan wajah ceria.
“Tetapi….”
“Tetapi apa, Bang?”
Sukar untuk keluar kata yang hendak diucapkan Rambe. Namun dia memaksakannya juga, agar tidak terjadi kesalahfahaman.
“Tetapi, abang tidak mencintai kamu sebagai kekasih. Tidak seperti abang mencintai calon istri abang. Abang mencintai Seruni sebagai adik kandung abang sendiri,” ujar Rambe.
Seruni tegak bagai patung. Dari matanya berbintik bercak air. Tiba-tiba ia menangis. Raung tangisnya sangat dahsat. Rambe kebingungan.
“Abang menipu saya.Abang menipu. Abang menipuuu” pada kata yang terakhir terlontar dalam jerit yang panjang.
“Seruni,” Rambe ingin menjelaskan persoalannya.
“Tidaaaak!” teriaknya. Kemudian gadis ini lari menghambur, menuruni lereng bukit.
Rabme ingin mengejarnya.
“Seruniii!”
Gadis itu terus berlari sambil tersedu-sedu. Ia tidak menoleh.
Rambe menggelengkan kepala. Ia menyadari gadis itu masih terlalu muda. Gadis itu telah salah menerima sikapnya selama ini. Dan, ia khawatir peristiwa ini akan mempengaruhi jiwa gadis itu.
“Aaah,” keluh Rambe. Ia pun segera menuruni lereng bukit. Suara curah air bergemuruh, namun hati Rambe senyap membeku.
*
Zuraida tengah mengetik paper di kamarnya ketika terdengar ketukan pintu depan rumah. Ia menegakkan kepala dan membuka lebar telinganya. Ketukan pada daun pintu terdengar jelas.
“Ah, siapa pula ini. Mengapa dia tidak memberi salam? Setidaknya jika mendengar suaranya aku bisa mengenali orang yang datang,” keluh hati Zuraida. Ia berajak ke ruangan dan membuka pintu depan. “Oh, “keluhnya ketika menampak Seruni yang datang. Zuraida heran, sda apa gadis kecil datang ke rumahku? Mengapa pula ia menangis?
“Kak Ida,” ujarnya sambil terisak-isak sendu.
“Ada apa?”
Tangis Seruni semakin deras. Zuraida bingung. Ia menoleh ke kanan dan kiri mencari kalau-akalu ada seseorang di sekitar rumah. Sekitarnya sepi, tak tampak seorang pun berada di sekitar rumah. Kedua orang tua Zuraida pun sedang tidak ada.
“Mari masuk,” ajaknya seraya membimbing gadis kecil itu. Ia mengajaknya masuk ke kamar.
Di kamar tangis Seruni pun tidak reda. Zuraida membiarkn gadis kecil itu melampiaskan tangis sepuas-puasnya. Hatinya bertanya-tanya, ada apa gerangan dengan anak ini? Mau apa pula anak ini? Ah, aku selalu terganggu oleh anak ini. Dulu kau telah merampas Rambe dari tanganku, sekarang kamu datang kepadaku sambil menangis. Apakah kamu akan meminta Arman dariku?
Ketika tampak tangis Seruni sudah mulai reda, Zuraida bertanya lagi, “Ada apa sebenarya, Seruni?’
“Saya, “ katanya tersendat-sendat di antara isaknya.
“Tenang, Seruni,” bujuk Zuraida.
“Dia telah menipu saya, kak Ida,” seru Seruni dan isaknya semakin keras.
Zuraida bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan yang telah mnipunya? Seketika senyap, hanya isak tangis Seruni yang terdengar. Angin menerobos dari jendela yang terbuka lebar.
“Seruni, siapa yang telah menipumu?”
“Rambe!”
Zuraida terhenyap pada kursinya.
“Rambe?” tanyanya seakan bertanya kepada dirinya sendiri. Tak mungkin, sangkal hatinya. Ia kenal betul siapa Rambe. Selama ia bergaul, belum pernah ia merasa dikhianati Rambe.
Seruni masih terisak.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Zuraida.
“Ia tidak mencintai saya,” ujar Seruni dalam isaknya.
“Oh!” Zuraida terperangah.
“Dia bilang, hanya menganggap saya sebagai adik kandungnya,” kata Seruni seraya menangis terisak-isak.
Zuraida amat terkejut mendengar pengakuan Seruni. Secara tak langsung dia pun mulai menyadari kekeliruannya. Karena sikap tak acuh terhadapnya, dia menganggap Rambe mencintai Seruni. Kenyataannya, tidak, seperti apa yang diakui oleh gadis kecil itu. Tangis Seruni semakin menyayat hatinya.
“Tenang. Tenanglah, Seruni,” bukuk Zuraida.
Seruni menceritakan persoalannya, bahwa ia sejak berjumpa pertama dulu sudah mulai menaruh perhatian kepda Rambe. Sikap Rambe yang selama ini demikian lembut dan baik ditapsirkan bahwa Rambe mencintainya. Tetapi, setelh ia meminta ketegasan, ternyata sikap itu adalah sikap seorang kakak terhadap adiknya.
“Oo.” Keluh Zuraida ketika mendengar penjelasan Seruni. Ia baru megerti persoalannya. Ia ingin geli, tetapi ia meredam tawanya khawatir gadis kecil itu tersinggung. Tidak sampai hati dia melihat gadis kecil ini merana karena cinta.
Sepanjang malam itu Zuraida tidak dapat memejamkan mata barang sejenak. Hatinya berdalog dengan batinnya. Jadi jika Armbe tidak mencintai Seruni, gadis mana pula yang dicintainya? Adakah lelaki ini benar-benar beku, bagai seonggok gunung batu? Ia menatap langit-langit kamar. Pada langit-langit kamar itu bermunculan wajah Rambe, Arman, Rambe, Arman silih berganti. Ia memejamkan memejamkan mata, manakala ia membuka mata tampak wajah Seruni terpacak di langit-langit kamar. Gadis kecil itu menangis meraung-raung Suara tangis Seruni menghentak-menghentak telinga Zuraida. Ia menutup telinga sambil memicingkan mata untuk menghilangkan bayangan gadis kecil itu. Manakala matanya membuka lagi, yang tampak wajah Arman. Lelaki itu tersenyum lembut. Lambat-lambat wajah lelaki fade out, kemudian muncul gambar dia bersama Arman sedang berlari-lari kecil menurun lereng sambil berbimbingan. Alam tengah diguyur hujan deras. Kemudian tampak keduanya berlari-lari di rimbunan kebun, lalu berteduh di sebuah dangau dan berlari-lari sambil berbimbingan di tengah curah hujan. Baju mereka basah kuyup, tetapi tubuh keduanya terasa hangat. Rasa hangat itu mejalar dari tangan yang saling berpegangan erat-erat. Tiba-tiba gambar itu close up dan wajah yang tampak bukan lagi Arman, tetapi wajah Rambe menatap murung kepadanya.
“Oh,” keluh Zuraida seraya memicingkan mata dan menggeleng-gelengkan kepala. Ia berharap saat membuka mata lagi yang hadir gambar wajah Arman, ternyata yang tampak adalah wajah Rambe. Lelaki itu tersenyum lembut. Zuraida cepat memutup wajah dengan bantal. Takut dan enggan ia menatap langit-langit kamarnya lagi. Ia berbalik miring. Agak lama ia menutup wajah dengan bantal, ketika ia membukanya tampak warna putih dinding kamar. Pada dinding kamar itu tampak bayangan wajah Rambe.
“Auuu..” jeritnya. Cepat-cepat ia menelungkup menyembunyikan wajah pada bantal. Hatinya berdebar-debar. Napasnya menderu kencang tidak beraturan.
Di luar sunyi senyap. Malam terus menurun menguakkan warna kelam. Embun menyebar ke segenap tempat, ke pucuk-pucuk daun, ke atap rumah, serta ke rerumputan. Dingin menyengat
Menjelang fajar, baru Zuraida terlelap.
Keesokan harinya Zuraida berjumpa dengan Yati. Ia mencoba mencari tahu hubungan Rambe dengan Seruni.
“Ya, Ida, Rambe tidak ada hubungan apa-apa dengan Seruni selain pertemanan biasa,” kata Yati.
“Bagaimana kamu tahu?”
“Rambe bercerita kepadaku.”
“Oh,” desan Zuraida, “Kalau begitu selama ini gadis itu salah faham.”
“Mengapa kamu tanyakan soal itu?” tanya Yati ingin tahu.
“Tidak ada apa-apa,” sahut Zuraida.
Sebenarnya Zuraida ingin bertanya lagi, siapa sebenarnya yang dicintai Rambe. Tetapi ia tidak sanggup mengucapkannya. Yati sendiri tidak menceritakan apa yang didengarnya dari Rambe. Perihal Rambe mencintai Zuraida tidak pula ia singgung-singgung. Sebab Yati mendengar sas-sus bahwa Zuraida “ada main” dengan Arman. Yati tidak ingin ikut campur dalam persoalan ini.
“Papermu sudah selesai?” tanya Yati mengalihkan pembicaraan.
“Belum. Masih dua bab lagi.”
Hari ini Zuraida tidak menyentuh pekerjaannya. Hatinya kacau, tidak tenteram.
Kekacauan hati Zuraida makin menjadi-jadi lagi ketika pada suatu hari ia disuruh ibunya mengantarkan kue ke rumah paman. Pamannya sedang sakit. Ia terpaku di ambang pintu pagar halaman rumah pamannya ini. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki ke rumah pamannya. Ya, sejak Seruni kost di sana. Masih terngiang di telinga ucapan Seruni usai mapras dulu.
“Kakak kenal dengan Bapak Syahbuddin? Di sana saya tinggal.”
Syahbuddin adalah adik ibu Zuraida. Selama itu ia tidak pernah datang ke rumah pamannya ini. Nalurinya mengatakan bahwa gadis kecil ini akan merenggut dirinya dari seorang lelaki yang sangat dia sukai. Ternyata benar, kehadarian gadis kecil ini menyebabkan ia menjauhi Rambe. Sekarang, gadis ini muncul lagi membuat kekacau di hati Zuraida.
“Aduh, sudah lama sekali kau tidak muncul Ida,” sambut bibinya.
“Saya banyak kerja, Bi.”
“Kerja apa?”
“Maksud saya banyak pelajaran menjelang ujian akhir ini.”
“Ayo, masuklah. Pamanmu juga sudah rindu kepadamu.”
Pamannya terbaring di atas ranjang. Wajahnya pucat. Tetapi sinar matanya masih mempunyai gairah hidup yang besar. Keluarga ini tidak mempunyai seorang anak pun. Di dalam rumah yang besar dan megah ini tidak ada keriuhan anak-anak. Lengang saja. Seperti sebuah puri yang kosong.
“Saya dengar anak yang kost di sini, Bibi?” tanya Zuraida berpura-pura tidak tahu.
“Ya, kerabat bibi dari Bintuhan. Satu sekolah dengan kamu, bukan?”
“Ya, adik kelas saya. Kemana dia sekarang?”
“Dia sedang pulang ke kampung.”
Zuraida terperangah. Ada apa anak itu pulang kampung?
Bibi melanjutkan, “Sejak anak itu berada di sini, rumah ini seakan hidup. Anak itu lincah, riang dan penuh gairah. Kami senang dan menganggapnya sebagai anak sendiri.”
“Mengapa anak itu pulang, Bi?”
“Entahlah. Bibi juga heran. Beberapa hari sebelum pulang, ia tampak murung dan sedih. Kadang-kadang bibi mendapatkannya sedang menangis di kamarnya. Bibi sudah membujuknya, ingin tahu apa persoalan yang dihadapainya. Tetapi, ia tidak berkata apa-apa. Tiga hari lamanya ia tergolek sakit. Lalu ia memutuskan ingin pulang. Tidak dapat dicegah lagi,” kata bibi.
Zuraida tertunduk sedih mendengar penuturan bibinya itu.
Siapakah yang patut disalahkan? Rambe? Layakkah ia disalahkan? Setidaknya ini memang kesalahan Rambe, kata hati Zuraida. Sebab ia telah menumbuhkan setitik harap di hati Seruni. Ternyata harapan itu lain dari kenyataan yang didapatnya. Benarkah Rambe telah menumuhkan setitik harapan di hati Seruni? Benarkah? Sebenarnya Rambe tidak menumbuhkan harapan, ia hanya memberi secuil perhatian. Tidak lebih. Seruni terlalu dipengaruhi oleh gejolak jiwanya. Sebagai anak manja, di lingkungan keluarganya segala yang dikehendakinya tidak pernah ditampik. Ternyata di lingkungan luar ia tertumbuk seonggok batu karang.
“Barangkali ia patah hati karena ditinggalkan kekasihnya,” ujar bibi lagi. Lanjutnya, “Oya, bukankah kamu satu sekolah? Adakah barangkali kamu tahu ia punya pacar?”
Mata bibi menatap tajam ke arah Zuraida dan ucapannya bagai sebilah lembing yang menghunjam relung hati. Ia menggeleng. Wajahnya pucat. Perubahan wajah itu tampak jelas oleh bibinya.
“Kenapa kamu, Ida? Kamu sakit?”
Zuraida mengeleng, “Tidak, Bi.”
Ia cepat pamit kepada bibinya dan pamannya. Perasaan menyesal menyesak dada. Mengapa dulu aku tidak erus merapatkan diriku dengan Rambe. Jika saja aku mau bersikap aresif dan hbunganku dengan Rambe semakinintin, tentu gadis itu tidak mendambakan harap seperti sekarng ini. Oh, sekarang sudah terlambat. Ya, sudah terlambat. Aku sudah mengalihkan perhatian kepada laki-laki lain. Bahkan aku sudah menerima cintanya. Oleh karena itu, aku harus setia. Lagi pula keadaan ini sudah sangat kasib. Tidak ada lagi yang bisa diperbaiki. Tidak ada lagi rentangan jalan lurus.
Kegalauan hati Zuraida semakin berkepanjangan, tidak berkesudahan. Nanti, sekiranya Rambe datang kepadaku menyatakan cintanya, apa yang mesti aku buat? Padahal di relung hati ini masihada sebungkah cinta untuk Rambe yang tidak sempat keluar. Yang belum pernah diterimakan kepadanya.
Oh, apa sebenarnya cinta itu? Dia datang dan tenggelam, tindih menindih di dalam hati. Sekarang aku telah menimbulkan secuil cinta lagi yang langsung diserahkan kepada orang lain. Sebab orang itu lebih dlu yang mengoreh dari hatiku. Aneh, aku mampu menyerahkan inta kepada Arman. Sesuaut yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Inikah jodoh? Inikah takdir? Jika nanti Rambe dtang kepadaku mengoreh cintanya yang tersimpan dalam relung hatik ini? Patutkah aku juga menyerahkannya? Patutkah? Kalau aku menyerahkan kepada Rambe, berarti aku membelot dari Arman. Pembelotan adalah kecurangan. Tidak. Tidak. Walau sesungguhnya cinta yang pertama timbul karena Rambe, tetapi aku belum pernah memberikan kepadanya. Rambe belum pernah memintanya. Rambe tidak pernah mengorehnya dari relung hatiku. Ia beku saja. Hanya kemurungan yang selalu ditampakkannya. Oh, kemurugnan memang membuat salah tafsir orang lain. Jauhlah kemurungan dari diriku. Aku tetap memegang janji Arman. Janji yang telah di8ikrarkan. Biarlah secuil cinta yagn pernahtimbul bagi Rambe terindih di dalam relung hati ini. Terindih ole kesetiaan.
Demikianlah pertarungan perasaan di batin Zuraida. Ia mengerahkan sisa-sisa kekuatan dirinya untuk melenyapkan rasa murung dan galau yang menghantui perasaannya. Ia bertekad menegakkan kesetiaan. Kesetiaan adalah martabat. Ia terus mengayun langkah sambil menunduk.
“Hei, melamun!”
Zuraida terkejut oleh teguran ini. Ia mengangkat wajah. Kiranya lelaki yang baru saja diikrarkan untuk ditegakkan kesetiaanya berdiri dihadapannya. Di adalah Arman. Dan, lelaki itu tersenyum. Menampak senyum Arman, Zuraida merasa nyaman. Ia pun tersenyum.
“Hem, Arman.”
“Dari mana kau, Ida?”
“Dari rumah bibi.”
“Papermu sudah selesai?”
“Beberapa bagian lagi pada bab akhir.”
“Boleh aku bantu?”
Zuraida mengangguk bahagia. Benar-benar kemurungan dan galau hatinya sirna.Beberapa burung gereja menukik turun dan hinggap di tengah jalan. Cericitnya terdegnar sangat merdu mengelitik-gelitik perasaan hatinya.
Matahari akan segera terbenam. Di langit barat tempak kumparan warna merah, kuning, jingga, dan kelabu.
*
Kabut di atas langit kota Liwa masih seperti biasa, menghalangi yang akan menghunjamkan teriknya. Sehingga embun di pucuk-pucuk daun masih tersisa, kemilau bagai perak warnanya.
Ujian akhir SMK Pertanian sudah lama usai. Rambel lulus, demikian juga Zuraida dan Arman. Gekgembiraan meronai wajah-wajah mereka. Seagian dari mereka yang akan melanjtukan sekolah ke luar daerah, bahkan ada yang sudah berangkat.
Rambe pun sedang bersiap-sip. Ia akan melanjutkan pendidikannya ke IPB. Di sana ia akan tinggal atau kost di rumah seorang sahabat ayahnya. Semua keperluan untuk berangkat telah siap. Tinggal lagi menanti keberangkatannya saja. Saat-saat akan meninggalkan kampung perasaan sepi menyelinap ke dalam hatinya.
Sebagai seorng pemuda yang telah berangkat remaja, ia belum pernah melakukan “setekut”, yaitu bertandang kepada seorang gadis pada waktu malam dengan cara khas Lampung Barat (Krui, Liwa, dan sekitarnya). Pemuda mengetuk jendela kamar sanga gadis, kemudian sang gadis akan membalas ketukan itu. Lalu sang gadis membuka jendela kamar. Di sanalah bercengkerama dan berbincang-bincang. Bahkan saling mengikat janji. Sang gadis berada di balik jendela kamar dan si pemuda berada di luar.
Dan, Rambe mulai mengembangkan perasaan hatinya. Gadis satu-satunyaadalah Zuraida. Ia tidak tahu kalau selama ini Zuraida telah berhubungan dengan Arman. Ia bertekad sekarang akan menumpahkan perasaan cintanyakepada gadis itu. Sepanjang hati itu ia diperangi oleh perasaannya. Sepanjang hari itu wajah Zuraida tidak lepas-lepas dari ingatannya. Kapan lagi? Ya, kapal lagi jika tidak sekarang ini aku melimpahkan cintaku kepadanya. Kelak, bila aku sudah meraih gelar kesarjanaan aku akan meminangnya. Saat itu tentu orang tuanya tidak akan lagi mempermasalah keturunan dan harta bendaku, sebab di depan namaku telah tersandang gelar.
Sepanjang hari itu Rambe mengitari kota tanpa tujuan. Seakan ia mengucapkan selamat tinggal kepada kota kelahirannya. Ya, ya, selamat jalan hai Liwa, tanah tumpah darahku. Aku akan pergi untk kembali lagi ke kota ini dan membinamu menjadi daerah yang berjaya. Aku akan mengabdikan diri kepadamu wahai kotaku. Dan … wajah Zuraida muncul di benaknya. Sampai matahari akan luruh ke barat, baru ia pulang.
Malam ini ia berniat akan berkunjung atau manjau ke rumah Zuarida. Bulan di langit temaram melempar warna perak. Perlahan-lahan Rambe berjalan. Semua keraguan yang dipendam selama ini telah disingkirkan. Ia pun yakin, bahwa Zuraida juga menaruh perhatian kepadanya.
“Hai Rambe,” sapa seseorang dari gubuk penjagaan di persimpangan jalan. Beberapa anak-anak muda tengah berkumpul di gubuk itu. Kebiasaan anak-anak muda bila malam terang bulan berkumpul saling bercengkerama di suatu tempat sambil merencanakan manjau (berkunjung) ke rumah gadis mana malam ini.
“Ke sinilah!” seru seseorang lagi.
Rambe menatap ke langit. Bulan empat belas mengawang di angkasa tersaput awan putih kelabu, menyebabkan cahaya bulan hanya temaram sampai ke permukaan bumi. Sepotong awan bergerak agak kencang tertiup angin seakan melambai kepadanya. Hari masih sore, pikirnya. Ia membelok menghampiri teman-temannya.
“Hendak ke mana kamu?” tanya Zulkifli.
“Jalan-jalan saja.”
“Aku khawatir hujan akan turun deras malam ini,” ujar teman lain.
“Mengapa?” tanya Zulkifli.
“Sebab ada orang baru yang jalan-jalan di malam hari.”
Teman ini menyindir Rambe. Mereka tahu bahwa Rambe jarang sekali bahkan hampir tidak pernah keluyuran pada malam hari. Sedangkan teman-teman lainnya tertawa. Rambe hanya tersipu mendapt sindiran demikian.
“Ke rumah gadismu, Rambe?” goda yang lain.
“Tentu,” sambut teman lainnya lagi, “Dia ‘kan akan pergi jauh, tentu pada terang bulan seperti ini dimanfaatkan sebaik-baiknya utnuk berpisahan.”
Tawa lagi terhambur dari gerumbul anak-anak muda itu. Rambe hanya tersenyum. Ia senang berkumpul dengan tamn-teman sekampungnya ini. Di antara mereka terdapat teman seksekolah, Zulkifli dan Rasyid. Selainnya adalah anak-akan kampung yang putus sekolah. Mereka bekerja di kebun membantu rogn tua masing-masing. Ada juga yagn berdagang di pasar.
“Ikut aku saja!” ajak Zulkifli.
“Jangan,” sergah Rasyid, “Biar Rambe bersamaku.” Lalu ia berbicara kepada Rambe, “Rambe, ada bunga yang baru mekar di hilir.”
“He?” teman-teman lain terperangha, “Siapa?”
“Anak bungsu Pak Berawi,” ujar Rasyid.
“Hai, jangan ganggu dia milikku!” teriak seseorang.
“Pokoknya siapa yang lebih dulu, itu yang berhak memetiknya,” ujar Rasyid sambil menarik lengan Rambe.
“Aku ingin ke tempat lain,” kata Rambe.
“Ke mana?”
Rambe tidak menyahut.
“Kalau Rambe tidak mau, kau pergi bersamaku saja,” ujar teman lain, “Ayolah, aku juga mau melihat bunga itu.”
Rasyid bersama teman tadi meninggalkan mereka.
“Kamu tidak mau pergi bersamaku?” tanya Zulkifli pula.
“Tidak,” sahut Rambe seraya melangkah meninggalkan gerombul anak-anak muda di gardu penjagaan itu.
Tiba di ujung persimpangan jalan menuju ke rumah Zuraida ia berhenti. Ia menatap lorong jalan yang lengang. Warna kelabu terhampar sepanjang jalan itu. Pucuk-pucuk daun pepohonan bergoyang tertiup angin. Pada pintu pagar setiap halaman rumah menyala lampu gantung, apinya berkelip-kelip bagai bintang. Rambe menghela napas. Rasa ragu menyelinap lagi ke dalam hatinya. Ia tidak membelok ke arah rumah Zuraida. Ia mengayun langkah ke arah jalan lain. Seakan ada sesuatu yang menghalanginya untuk membelok ke arah rumah Zuraida. Jantungnya berdebar kencang, memompa deras darah ke sekujur tubuh. Wajahnya terasa hangat kena jalaran darah yang mengalir begitu deras. Napasnya menderu-deru tak teratur. Sambil melangkah ia berusaha menguasai perasaannya, meredakan napas, dan menenangkan debar jantung. Setelah ketenangannya pulih ia kembali ke simpang jalan tadi. Sejenak ia berhenti lagi.Lorong jalan tetap lengang dengan warna kelabu temaram. Cahaya bulan memantul lemah pada aspal jalan. Lampu-lampu gantung pada setiap pintu pagar halaman membantu menerangi lingkungan dari cahaya bulan yang temaram. Ia memaksakan langkahnya sambil menyingkirkan perasaan ragu yang menyentak-nyentak hati.
Halaman rumah Zuraida terasa lengang sekali. Jengkerik bernyanyi di rumpun semak bunga. Harum melati dan cempaka menyebar ke seluruh arah. Zuraida baru saja menggolekkan tubuh ke atas ranjang ketika terdengar ketukan daun jendela. Ia tersentak. Siapa gerangan yang bertandang ini, keluh hatinya. Mungkinkah ia datang lagi? Ia bergegas bangun dan membalas ketukan itu tiga kali. Kemudian dari luar terdengar ketukan yang meminta agar jendela dibuka. Zuraida membuka jendela. Betapa terkejutnya ia manakala tampak Rambe berdiri di balik jendela luar.
“Oh,” keluhnya. Dipandangnya lelaki itu dengan sorot mata tajam dan penuh tanda tanya. Heran. Aneh, lelaki ini mulai mau bertandang ke rumah gadis pada malam hari, pikir Zuraida. Beberapa saat Zuraida mematung.
“Aku ingin bicara, Ida,” ujar Rambe lembut.
“Tunggu. Aku keluar,” ujar Zuraida. Ia bergegas menutup jendela dan berlari ke luar.
Keduanya membisu saja ketika sudah duduk di bangku taman. Bulan di langit temaram karena tersaput awan. Di hati Rambe bukan berkobaran hasrat untuk menyampaikan perasaan cintanya. Tetapi tidak bisa mengalir, tersekat di tenggorokan. Dengan hati yang berdebar-debar Zuraida menanti apa yang hendak disampaikan Rambe.
Jika sekiranya ia menyampaikan rasa cintanya kepadaku apa yang mesti aku buat? Bagaimana sikapku dan apa yang mesti aku lakukan, pikirnya.
“Kau tidak melanjutkan sekolah?” Rambe memecah kebisuan.
Zuraida menghela napas panjang.
“Belum tentu,” sahutnya datar.
Seekor kelelawar terbang di atas kepala mereka, lalu menghambur ke pohon jambu air yang tengah berbuah. Beberapa buah jambu berjatuhan.
“Aku akan ke Bogor,” kata Rambe.
“Hem,” guman Zuraida. Di dalam hatinya ia berujar, jika cuma hendak menyampaikan itu tidak perlu kamu setekut ke rumahku. Tujuan bersetekut bukan untuk berpamitan, tetapi untuk merangkai jalinan hati supaya lebih rekat.Untuk menyampaikan sumpah setia atau janji segera menyuntingku. “Kapan kamu akan berangkat?” Zuraida berbasa-basi. Dia sudah lama tahu kalau Rambe becita-cita melanjtukan kuliah ke IPB. Rambe pernah mengutaranya saat bersama-sama pulang dari sekolah. Tetapi malam ini dia hanya bilang mau ke Bogor. Bukankah di sana pun banyak perguruan tinggi selain IPB?
“Mungkin besok atau selambatnya lusa.”
Sepotong awan lari tertiup angin menguakkan bulan yang bulat terang. Tibat-tiba cahaya sekitarnya menjadi bederang. Namun, sesaat kemudian potongan awan lain menutup sang purnama sehingga sekitarnya kembali temaram. Dari tersa rumah terdengar suara perkutut bernyanyi. Kata orang-orang kalau suara berung perkutut peliharaan suka bersuara pada malam hari keluarga si pemelihara akan senantiasa dilimpahkan rezeki.
Sejumput keluh menyesak ke dalam hati Zuaida. Betapapu aku tidak akan membelok janji, kata hatinya. Dan, lelaki ini, lelaki yang sejak lama didambakan malam ini hadir. Mungkin ini adalah malam untuk pertama kali baginya menandangi seorang gadis. Malam setekut pertama yang menghempaskan kegagalan. Ah, kasiha. Apa daya.
“Tidakkah terlalu cepat engkau berangkat?” Lagi Zuraida berbasa-basi.
“Aku harus mencari rumah pondokan. Lalu belajar untuk menghadapi tes masuk,” kata Rambe.
Biru lagi. Apa lagi yang harus kukatakan untuk menyibak kebisuan ini, pikir Zuraida.
“Kamu akan kuliah di IPB ‘kan?”
“Ya. Kalau lulus tes masuk.”
“Oh.”
Rambe meliriknya sekejap. Sekejap sekali, khawatir pandangannya akan tertangkap oleh mata oleh Zuraida. Ia sadar bahwa beberapa saat ini ia sudah sangat bertele-tele. Seharusnya langsung saja menyampaikan perasaan hatinya kepada Zuraida. Tetapi apa yang terpendam di dalam hati itu tidak mampu tercetus keluar dari celah bibir. Aneh. Aneh, pikirnya. Laki-laki macam apa aku ini, hanya sekedar meluap perasaan hati kepada seorang gadis saja tidak mampu. Sedang seberat apa pun pekerjaan dan serumit apa pun persoalan di luar dapat aku atasi. Ini hanya perasaan kasih yang harus disampaikan kepada seorang gadis saja tidak mampu. “Kau datang untuk menyampaikan selamat tinggal kepadaku?” tanya Zuraida memecah kebisuan yang mencekam.
Rambe menatap gadis di sisinya. Mata mereka beradu. Perlahan-lahan Zuaida menarik surut pandangannya. Kelelawar masih berpesta buah jambu masak.
“Bukan sekedar itu,” kata Rambe.
“Lantas?”
Bisu lagi. Jengkerik menyanyi di atas pohon bayur. Angin lembut bertiup menghantar udara sejuk. Embun sudah mulai berjatuhan menutupi rumput dan pucuk-pucuk daun.
Zuraida tidak sabar menanti jawab Rambe.
“Apa lagi Rambe?”
Rambe menghela napas, lalu katanya, “Aku juga ingin kau menantiku.”
Zuraida tersentak. Ia tahu apa maksudnya ini, namum ia melempar juga sebuah tanya, “Maksudmu?”
“Menanti sampai aku menyelesaikan kuliah.”
Zuraida meliriknya. Rambe tertunduk menekuri tanah.
“Untuk apa?” Zuraida bertanya lagi.
Rambe sekarang yang terkejut. Ia mengangkat wajah, mata mereka beradu. Bertatapan dalam sejuta galau. Tiba-tiba Rambe bangkit, menatap langit yang temaram. Lagi-lagi kebisuan menyesak. Namun kini jantung keduanya berdebar kencang. Galau menghentak perasaan mereka.
Rambe mendekati dan menatap lekat wajah Zuraida.
“Aku menicntaimu, Zuraida.”
Napas Zuraida sesak. Sekujur tubuh terasa linu, bak beribu-ribu duri menusuknya. Bahkan rasa nyeri itu menelusup ke relung hati. Tubuh Zuraida gemetar. Dalam cuaca yang sejuk itu keringat Zuraida mengucur. Perasaannya kacau tidak karuan. Dengan punggung tangan ia menyeka keringat di keningnya. Pandangannya kabur, berbinar-binar.
Zuraida teringat Arman. Baru beberapa jam lalu lelaki itu pergi, sebelum Rambe mengetuk daun jendela. Lelaki itu pamit akan berangkat ke Telukbetung sehubungan diterimanya bekerja di kantor Dinas Peternakan Provinsi. Masih terngiang ucapan Arman.
“Dalam waktu dekat orang tuaku akan datang meminangmu, Zuraida.” Arman membelai rambut Zuraida. Matanya berkaca-kaca. Melihat bercak air di mata Zuraida, Arman bertanya, “Apa yang sedang kamu rasakan?”
“Aku merasakan kebahagiaan yang bakal terhampar di dalam kehidupan kita.”
Perlahan-lahan Arman mengangkat tangan kiri Zuraida, meremas jemarinya. Rasa hangat menjalar Sebentuk cincin di masukkan ke jari manis lengan kiri Zuraida.
“Sebagai tanda cintaku. Sebagai tanda bahwa kita telah bertunangan. Minggu depan secara resmi orang tuaku akan datang meminangmu. Kita akan menikah setelah ada kepeutsan dari ayah-ibumu. Kemudian kita pindah ke Tanjungkarang, kota tempat aku bekerja.”
Zuraida terisak. Ia meresapi perasaan yang mengapung dalam sejuta kebahagiaan. Dalam sejuta kegembiraan. Dan ….
“Ida!”
Zuraida tersentak. “Oh,” keluhnya.
Semua bayangan Arman menjadi buyar. Rambe tegak di hadapannya.
“Kamu menangis?” Pada perasaan Rambe beginilah seorang gadis jika mendapat pernyataan cinta dari lelaki.
Karena semua bayangan Arman buyar, maka isak yang tercetus kini merupakan ungkapan kebimbangan bagi Zuraida. Sejam yang lalu ia telah dikukuhkan oleh Arman dengan sebentuk cincin. Dan, tidak lama lagi orang tuanya akan datang meminang. Sesuatu yang selama ini ditakutinya, malam ini datang. Rambe menyatakan cintanya. Sekelumit berkas-berkas cinta yang terpendam di hatinya terkuak kembali.
Oh, mengapa terjadi kemelut seperti ini. Jika tidak karena seorang gadis kecil yang selincah kijang di belantara, jika saja tidak karena murai yang pandai merayu, dan jika saja tidak terlalu beku hati lelaki ini. Oh, tentu tak akan ada kemelut. Dan, relung hati ini akan terisi oleh cintamu, Rambe. Tetapi sekarang? Apa yagn mesti aku lakukan? Apa? Apa?
Air mata Zuraida semakin deras mengalir.
Rambe kebingungan.
“Mengapa kamu menangis Ida? Mengapa?”
Sepotong awan lari menyibak rembulan. Cahaya benderang menerpa wajah Zuraida yang pasi. Bintik-bintik air menggenang pada pipinya.
“Adakah aku menyakiti hatimu, Ida?” taya Rambe masih dalam kebingungan.
“Oh,” keluh Zuraida seraya bangkit dari duduknya. Wajahnya disungkupkan ke dada bidang Rambe. Ia menangis lebih sendu. “Seungguhnya…” ia tak mampu melanjtukan kata-katanya. Hanya tangis yang semaki sarat. Air matanya membasahi kemeja Rambe. Sambil terisak Zuraida berujar, suaranya terbata-bata, “Sesungguhnya aku mencintaimu. Tetapi …. Tetapi…”
Zuraida beranjak dan berlari meninggalkan Rambe.
Rambe mengejarnya.
“Ida….”
Gadis itu berhenti. Diam tepekur dengan tatap kosong.
Rambe mendekatinya.
Zuraida membelakanginya.
“Engkau tentu tidak akan menimbulkan kekaburan di dalam hatiku, bukan Ida? Aku ingin kepastianmu!” ujar Rambe.
Isak tangis Zuraida merambati malam yang semakin menurun. Lalu, beberapa detik mereka saling membisu. Zuraida merasakan kegalauan dalam hatinya. Ia ingin berterus terang. Dan, memang harus berterus terang. Jangan menyebabkan hati lelaki ini lebih parah jika menerima kanyaan lain pada akhirnya. Malam ini juga harus ada ketentuan. Aku tidak mungkin membelok janji. Tabu buat gadis di sini. Sebab aku sudah menrima cinta Arman. Armanlah yang lebih dulu menerima kenyataan cintaku.
“Aku besok akan berangkat, Ida,” kata Rambe pula. “Dan aku sangat mengharapkan kamu mau menungguku sampai aku selesai kuliah. Aku pulang akan membawa gelar kesarjanaanku dan meminangmu.”
Tangis Zuraida semakin sendu.
“Rambe …” kata Zuraida seraya berbalik menatapnya. Pelan-pelan Zuriada mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan punggung lengan kirinya kepada lelaki itu.
Rambe meraih lengan Zuraida. Menatapnya dan merabai cincin itu dengan jari telunjuk dan jempolnya, seperti tidak percaya kalau ada sebentuk cincin melekat di sana. Kemudian tatapannya beralih ke wajah Zuraida. Mereka saling berpandangan. Dari celah binar matanya, Zuraida menatap mata Rambe yang tampak sayu.
“Kau ….”
“Ya … aku telah menerima lelaki lain,” tukas Zuraida tegar.
Beribu peluru terlontar dari moncong meriam, terlontar ke angkasa kemudian meluncur jatuh menghunjam dada Rambe. Dadanya sesak, napasnya tersekat.
Zuraida berlari meninggalkannya, seperti baru lepas dari cengkeraman maut.
“Ida!” Rambe mengejarnya, “Tunggu dulu!”
Zuraida menahan langkahnya.
Suara langkah kaki Rambe menusuk-nusuk perasaan, ketika lelaki itu menghampirinya. Semakin tegang manakala dia berdiri di hadapannya. Dia tertunduk dengan sejuta galau di hati.
“Selamatlah, Ida. Aku turut senang atas kebahagiaan yang bakal kamu raih kelak.”
Dan, sendu menyesak lagi hati Zuraida. Tidak ia sadari isak terhambur.
“Jangan menangis. Maafkah, aku keliru menyatakan perasaan,” ujar Rambe.
“Tidak Rambe … tidak….” Zuraida tidak kuasa lagi melanjutkan ucapannya.
“Jika boleh aku tahu, siapakah lelaki yang berbahagia itu?”
Sambil tertunduk dan dengan suara lemah Zuraida menyahut, “Arman.”
Awan menyaput lagi rembulan. Perlahan-lahan cahayanya menjadi redup. Redup dan redup lagi, lalu menghilang. Malam menurun. Warna kelam berpacu dengan pekat dan senyap.
*
Burung-burung bercericit di pepohoan. Awan tetap menyelimuti kota Liwa yang sejuk ini. Matahari menyeruak dari balik-balik Bukit Barisan.
Zuraida berdiri termangu di sisi jalan raya dekat terminal bus. Tak sadar air matanya merembes dari celah-celah kelopak mata yang jeli, membawa alur kedukaan. Sebuah bus dengan muatan sarat lalu di depannya. Seseorang melambaikan tangan kepadanya. Ia tahu itu pasti tangan Rambe, bukan tangan Arman yang juga ada di dalam bus itu duduk di sisi Rambe mengawasinya dari celah jendela.
Zuraida tak kuasa mengangkat tangannya untuk membalas lambaian tangan itu. Hatinya yang bicara,”Selamat jalan. Selamat jalan semua….” ***