Pada tahun 1985 aku batuk darah. Lima tahun yang lalu ketika aku masih tinggal di kebayoran Lama aku muntah darah segar. Aku dirawat selama dua minggu di sebuah rumah sakit swasta di daerah Kemayoran. Dokter yang merawatku adalah Dr. Sutoyo, Sepesialis Paru. Selama perawatan itu dokter menjelaskan bahwa ada pendarahan pada bronhitase paru (mangkok-mangkok kecil yang tak kasat mata yang berada pada paru). Usai perawatan selama enam bulan aku terus berobat dengan dia.
Pada tahun 1985 ini setelah aku tinggal di Serua, aku batuk darah lagi. Kupikir aku terkena TB, maka kuminta diantar ke Sanatorium TB di Cisarua Puncak. Setelah diperiksa, dokter di sana mengatakan bahwa ini bukan TB, beliau menyarankan agar ke dokter spesialis paru. Aku rawat jalan dengan salah seorang dokter
Pada tahun 1999 usai aku memberi kultum pada salat tawareh, bulan Desember waktu itu bersamaan dengan bulan Ramadhan, aku batuk darah lagi. Aku mengambil inisiatif ke RS Fatmatawati melalui dr Joko, Spesialis Penyakit Dalam urusan paru nanti biar beliau yang merujuknya ke ahli paru. Aku dirawat selama dua minggu di RS Fatmawati. Dr paru yang merawatku seorang wanita yang aku lupa namanya. Beliau menganjurkan agar aku di CT Scan. Tapi aku tidak segera melakukan CT Scan, sampai akhirnya kambuh lagi.
Aku sekarang berobat ke dokter Suratman yang sudah menjadi spesialis paru. Menilik hasil rongent torak dia menganjurkan agar aku CT Scan tapi dia tidak bicara langsung kepadaku. Dia memanggil anakku Leo, kami memang akrab dg dr. Suratman, bahkan dia menganggap aku sebagai ayah.
“Babe suruh CT Scan tuh,” katanya kekpada Leo. Leo menyampaikan pesan dr.Suratman kepadaku.
Awal tahun 2000 aku di CT Scan lewat RS Pertamina Kebayoran Baru Ku serahkan hasilnya kepada dokter Sruatman. Dia memeriksanya, lalu dia menatapku tajam. Dia tak mau bicara, ujarnya, “Be ke profesor Soetoyo aja ya.”
Besok malamnya aku ke dokter Soetoyo. Beberapa tahun lalu aku dirawat olehnya ketika pendarahan dulu. Setelah memeriksa hasil CT Scan dan tubuhku, dia diam menatapku.
Aku tak sabar, “Kenapa Dok? Jelaskan.”
“Berani mendengarnya?”
“ya saya berani dok,” sahutku.
“ Ada sesutu yang tumbuh di paru-paru kira-kira ukurannya 1 x 1,1 x1cm. Kalau menilik bentuknya ini kanker. Kanker paru!”
Shok juga aku mendengarnya. Dia memeriksa tensinya, 190/80.
“Nah takut kan?” katanya menilik tensiku.
Aku menggeleng.
Lalu lanjutnya, “Harus dibiopsi, diteropong untuk mengetahui jenisnya dan tingkat keganasannya. Saya siapkan kamar di RS Jakarta.”
“Dibiopsi hanya untuk mengetahui saja Dok?”
“ya, setelah itu baru kita lakukan pengobatan yang terbaik.”
“Ya, baiklah,” jawabku.
Aku minta waktu. Malam itu aku pulang . Istriku menangis. Dia dibisiki sang dokter bahwa umurku hanya empat bulan.Berita ini menyebar ke semua anak-anak dan famili di Lampung dan Bandung. Keesokan harinya Dian mendapat telpon dari kerabat suaminya di Bandung yang melarang aku dibiopsi. Menurutnya setelah dibiopsi akan ada tindak lanjutnya, kemoterapi dan sebagainya. Ekses dari kemoterapi itu melemahkan tubuh. Dia menganjurkan ke sinshe dan memberi alamatnya.
Satu tahun aku berobat di sinshe. Kesehatanku pulih, ketika di rongent tak ada tanda-tanda bercak pada paru-paruku. Selama tahun-tahun berjalan aku tidak pernah lagi merasakan tentang penyakitku itu. Selama ini aku juga terus mengkonsumsi ekstrak Keladi Tikus.
Bulan Maret 2010 usus dua belas jariku luka aku dirawat di RSI Biontaro. Pada saat itu aku mulai merasakan sakit di dada, tetapi belum parah. Kepada dokter penyakit dalam kuberitahukan tentang sakit di dada ini. Dia menganjurkan periksa jantung. Jantung cukup baik. Lalu dia anjurkan periksa paru-paru. Aku kontrol paru di RS Fatmawati. Dokter paru RS Fatmawati tidak menduga rasa sakit ini bersumber pada paru-paru. Dia justru menduga aku terkena TBC paru. Dia memberi obat TB, dia salah diagnose. Sebab ketika periksa lab. Tak ada tanda-tanda TB.
Aku tak lagi kontrok ke dokter paru. Sakit di dada semakin menjadi. Kupikir ini pasti syarat. Aku teraspi di RS Veteran, tidak membuahkan hasil. Lalu kontrol ke dokter ahli syaraf, juga di RS Dr Suyoto Veteran. Dua kali injeksi lokal tak juga menghilangkan rasa sakit. Tampaknya dokter ahli syaraf ini cukup jeli.
“Rongent torak, periksa paru-paru,” anjurnya .
“Kenapa mesti periksa paru-paru, Dok?” tanyaku.
“Mungkin saja karena ada bercak putih pada sisi paru-paru menyebabkan rasa sakit,” katanya.
Aku rongent. Resume dokter Radiologi lagi-lagi TB paru. Karena ada bercak putih seperti awan di sudut kiri paru-paruku. Aku kembali ke dokter ahli syaraf. Oleh dokter ahli syaraf aku dirujuk ke dokter ahli paru. Dokter ahli paru-paru memeriksa hasil roncent torak. Katanya, “Ini bukan TB. Sebaiknya CT Scan.”
Kuceritakan riwayat paru-paruku. Mendengar penuturanku, dia menekankan supaya aku di CT Scan. Aku malaksanakan CXT Scan di RS Dr. Suyoto juga. Setelah ia memeriksa hasilnhya, dia mengambil kesimpulan, “Ada tumor di sudut kiri paru yang mendesak tulang iga. Itu penyebab rasa sakitnya.”
“Apa jalan keluarnya, Dok?” tanyaku.
“Eksplorasi diangkat tumor itu dari paru-paru dengan mematahkan beberapa tulang rusuk.”
Mendengar kata ‘eksplorasi’ aku membayangkan pengeboran minyak bumi. Ngeri.
“Tidak ada jalan lain?”
“Pada dunia kedokteran tidak ada jalan lain.Atau dibiopsi diteropong untuk mengambil semple memastikan jenis apa itu dan ganas atau tidak. Sebagai pribadi saya anjurkan coba pengobatan alternatif. “ Dia bercerita tentang ibundanya yang pada rahimnya terdapat tumor. Pada waktu itu dia belum menjadi dokter. Dokter akan membiopsi, tapi ayahnya tidak mengizinkan. Sang ibu berobat pada seorang tabib di Solo. Setelah berobat di sana, tumornya hilang.
Aku minta alamatnya.
“Saya tidak berani merekomendasikan, karena sang tabib telah meninggal sekarang digantikan oleh anaknya, belum tentu manjur pengobatannya.”
Aku mulai mencari-cari sinshe. Lewat sebuah iklan di surat kabar aku dapat alamat sinse Cina. Aku ke sana. Sinse ini totok Cina hanya bisa berbahasa Mandarin. Kuceritakan tentang penyakitku dan dia memeriksa lewat detak nadi di tangan. Dia menawarkan obat. Waauu mahalnya, satu paket untuk sepuluh hari harganya ‘sebelas juta’. Semula aku tak mau, tetapi putriku Lisa dan Dian mengambilnya.
“Biar kita coba, Pih,” ujar mereka.
Obat berupa racikan dan cairan kumakan. Tak ada hasilnhya. Rasa sakit tetap menyengat dada. Sepuluh hari kemudian pun tak ada perubahan apa-apa. Kami memutuskan untuk tidak kembali.
Aku mulaia stres. Seorang teman mengantar aku ke RSCM. Hasil diagnbosa di sana tetap biopsi. Aku pasrah dan mulai putus asa, aku menyerah dan menerima untuk dibiopsi. Kami membuat janji dengan dokter, menentukan jadwal biopsi.
Putriku Lisa menegaskan, “Apa papi sudah siap dibiopsi? Kalau sudah dibiopsi lalu dikemo, papi gak bisa beraktifitas seperti biasa. Anak-anak juga tidak bisa kumpul bercanda-canda dengan papi.”
Jawabku,”Biarlah. Gak tahan merasakan rasa sakit.”
Mereka tak lagi bicara apa-apa. Tampaknya di antara anak-anak bahkan istriku secara diam-diam di belakangku membicarakan masalah biopsiku. Mereka tidak setuju. Menjelang sehari lagi aku akan dibiopsi (sesuai jadwal dokter RSCM) Dian dan Lisa membujukku.
“Gak usah dibiosi ya, pih,” ujar Dian,”nanti papi makin lemah.”
“Ya, mending kita jalan-jalan, mumpung papi masih segar,” bujuk Lisa.
“Kita ke Kuala Lumpur,” lanjut Dian.
Oleh karena semua biaya pengobatan ditanggung oleh mereka (anak-anakku) untuk tidak mengecewakan mereka, kuturuti kemaun mereka.
Sekembali dari Kuala Lumpur aku kontrol ke dokter ahli paru di RS Dr. Suyoto. Diamemberi penjelasan tentang tumor paru ini serta efek samping bila di kemografi. Intinya tidak ada obat khusus untuk ini.
“Kalau gitu tolong saya obat penahan sakit saja, Dok.”
Dia memberi dua resep. Resep yang pertama langsung ditebus dan yang berikutnya sepuluh hari kemudian. Sementara itu aku mengkonsumi ‘keladi tikus’.
Hari ini obat penahan nyeri yang pertama habis. Resep yang kedua kutebus di apotek RS Dr. Suyoto tapi tidak tersedia. Pada obat racikan yang kedua ini ada campuran MSt (Morfin Sintetis) 1/9 bagian. Pada semua apotik swasta obat semacam itu tidak tersedia. Kebetulan hari ini Minggu 9 Januari 2011. Jadi kuputuskan akan menebusnya di apotek RS Fatmawati esok hari.
Semalam aku merasakan rasa sakit yang cukup lumayan.
Aku akan bertahan melawan penyakit yang menggerogotiku dengan obat herba, terutama ekstrak keladi tikus yang memang telah kugunakan sebelumnya dan rebusan daun sirsak.
Kalau ada pembaca yang punya saran atau baran gkali tempat pengobotan untuk ini, tolong sampaikan lewat komentar di bawah ini.(Andhy Wasis)
2.13.2011
Langganan:
Postingan (Atom)