10.20.2009

PEREMPUAN BERCADAR HITAM




Tiba-tiba saja rumah Etti, peremuan muda yang tinggal sendiri di pinggiran Jakarta, karena suaminya bekerja di Arab, menjadi perhatian orang banyak, tetangganya, perempuan-perempuan yang suka gosip. Pasalnya ada tamu perempuan dengan lirik mata gairah, tetapi menutup wajah dengan cadar hitam. Dari jilbab yang dikenakannya yang juga berwarna hitam terbayang tubuhnya yang langsing.
Orang-orang tak banyak tanya, mereka menunggu sampai hari ketiga. Bukankah pada hari ketiga jika orang itu masih ada di rumah Etti berarti bukan lagi tamu. Tamu cuma sebatas tiga hari. Setelah tiga hari dia sudah boleh dibilang warga baru.
Pada hari keempat, perempuan-perempuan muda mulai bergunjing di hadapan gerobak tukang sayur milik Imron, pedagang sayur keliling yang menjadi langganan ibu-ibu di desa itu.
“Siapa tuh tamu si Eti, pakai cadar segala,” si Onah, biang gossip membuka obrolan.
“Iye, gua jadi penasaran,” sambut Ipah, juga biang gossip.
Dua orang ibu muda datang ke tempat gerobak sayur. Lalu mereka berbisik-bisik sambil delapan pasang mata mereka mengarah ke rumah Eti. Rumah itu masih tampak sepi. Si Imron tukang sayur nimpali, “Ini mau beli sayur apa mau ngawasin rumah Bu Eti?
“Hess… diam lu Ron. Ini penting.”
Imron tukang sayur sabar menunggu.
Beberapa saat kemudian Etti keluar.
“Hesss tuh dia keluar. Mana perempuan bercadar hitamnya?’ ujar Onah.
“Di dalam.”
‘Eeeh, Pah menurut lu kenapa dia nutupin mukanya begitu ya?
“Takut cantiknya ketahuan,” timpal salah seorang ibu.
“Mending kalu cantik…”
Belum selesai kata-kata perempuan ini temannya menimpali, “Bibirnya sumbing kali …”
Riuhlah tawa ibu-ibu muda ini.
Imron, si tukang sayur menimpali, “Jangan su-uzon …. Itu kan pakaian muslimah.”
“Sok tahu lu, Ron!” sergah Ipah.
“Iya lu gak tahu perempuan-perempuan yang ditangkap polisi pakaiannya kayak gitu?”
“Nah tu, kan su-uzon.”
Eti sampai ke gerobak tukang sayur, dia memberi salam “Assalamualaikum ibu-bu.”
Ipah menegur, “Eii Ti, siapa tuh tamu lu?”
Eti tersenyum, “Emang kenapa?”
“Gua curiga,” sambut Onah.
“Curiga apaan?” dengan kalem Etti membalas.
Onah dan Ipah saling berbisik. Lalu mereka tertawa. Kata Ipah, “entar tau-tau desa kita terkenal masuk tipi.”
“Kenapa masuk tipi?” seorang ibu bertanya.
“Rumah Etti digerbek polisi, ditembakin….” Sahut Onah.
“Hebat tapi serem tuh,” ujar Ipah.
“Ah, macam-macam aja lu pada,” ujar Etti lalu dia berkata kepada Imron, “Ron, gua perlu sayur lodeh dua bungkus.” Imron menyerahkan dua bungkus bahan sayur lode. Etti membayarnya dengan sejumlah uang kemudian berlalu dari kerumunan ibu-ibu itu, “Gua pulang dulu!”
“Heeei, hati-hati lu, entar jadi korban peluru,” ujar Onah
Yang lain tertawa. Di tengah gemuruh tawa itu, Ipah nyeletuk, “Jangan ikut-ikut ditangkap dituduh teroris lu, Ti.”
“Kali emang elu juga terorissss…. “ujar Onah sambil tertawa.
Tetapi Etti kalem saja. Dia tidak marah dan tidak merasa tersinggung. Dia tersenyum ramah . Berlalu dari kerumunan ibu-ibu.
Usai subuh, seminggu kemudian Etti dan perempuan bercadar hitam keluar dari rumah. Mereka tampak tergesa-gesa.
“Cepat teh, nanti kita terlambat,” ujar si perempuan bercadar hitam
“Kita naik taksi di ujung gang mudah-mudahan ada taksi,” ujar Etti.
Kebetulan pada saat itu Onah membuka jendela. Dia terperangah menyaksikan Etti dan si perempuan bercadar hitam berjalan tergopoh-gopoh. “Mau kemana mereka sepagi ini,” pikirnya. Diam-diam dia mengikutnya. Di ujung gang dia melihat kedua orang itu naik taksi. “Wah pasti dia pindah dari desa ini, barangkali takut diloporin ke polisi,” pikir Onah lagi. Dan ini menjadi bahan gunjingan baru di kalangan ibu-ibu muda desa itu. Onah tidak langsung pulang, dia ke rumah Ipah. Ipah sedang mencuci pakaian di sumur. Sumur di desa itu berada agak jauh dari dapur rumah.
“Ada apa lu pagi-pagi? Kayak habis dikejar pocong?” sambut Ipah.
“Si cadar hitam dibawa pindah tuh. Mereka pergi terburu-buru. Naik taksi lagi.”
“Yang benar.”
“Gua liat. Gua ikutin sampai ke gang.”
“Waaah …” seru Ipah. Lanjutnya, “Tapi gak apa-apa, kampung kita aman.”
“Yaa… gak masuk tipi dong.”
Keduanya tertawa renyah.
“Eee perlu kita laporin RT?” tanya Ipah.
“Tunggu aja sampe si Etti pulang. Dibawa lagi gak tu perempuan,” kata Onah.
“Iya, kita tunggu ya.”
Malamnya Etti tidak tampak pulang. Bahkan sampai hari ketiga Etti tidak kembali ke rumah. Pergunjingan semakin seru. Onah yang rumahnya berhadapan dengan rumah Etti, yang selama ini mengawasinya menyebarkan gossip lagi.
“Etti juga hilang, gak pulang sudah tiga hari,” ujarnya.
Seorang ibu bertanya, “Apa mungkin Etti juga teroris?
Dengan bersemangat Ipah menimpali, “Kenapa gak? Kan suaminya kerja di Arab. Siapa tahu anggota…… apa tuh namanya Al….Al gitu?” Dia menatap Onah.
“Gua gak tahu apa namanya,” sergah Onah.
*
Beti, perempuan bercadar hitam itu terbaring segar di sebuah ruang perawatan RSCM. Etti duduk di sisinya. Beberapa saat kemudian dua orang perawat dan seorang dokter datang.
Si dokter memberi salam. Lalu ujarnya, “Wah udah segar. Coba saya periksa.”
Suster membuka perban di wajah Beti. Dokter meneliti hasil kerjanya. Sambil tersenyum dia berujar kepada Beti, “Tidak bakal ada bekas. Wajah Nona tetap cantik.”
Beti, si perempuan bercadar hitam itu bukan main gembiranya. “Jadi hari ini saya boleh pulang, Dok?
“Boleh. Uruslah administrasinya,” ujar sang dokter.
Beti, adalah gadis desa dari pedalaman Pelabuhan Ratu. Dia terkena musibah, dagu dan sebagian wajahnya tersiram air mendidih hingga melepuh. Dokter Puskesmas di desa itu merekomendasikan agar dia operasi plastic ke Jakarta, ke RSCM. Satu-satunya tempat untuk menumpang di Jakarta adalah rumah Etti, teman kecil, karibnya sekampung. Selama di rawat, Etti tidak pulang, dia menungguinya sampai masa perawatan usai.
Usai mengurus administrasi Etti kembali ke kamar. Karibnya telah mengenakan pakaian dan wajahnya ditutupi cadar hitam.
Karibnya itu menyambut, “Etti, terima kasih ya atas segalanya. Aku akan terus pulang, tidak singgah lagi ke rumahmu. Tidak apa-apa, kan?”
Etti tersenyum dan menggelengkan kepala. “Kamu akan berpakaian seperti itu selamanya?”
“Lihat saja nanti.”
“Kamu seperti Teh Oris,” gurau Etti. Keduanya lalu tertawa.
Setelah mengantar Beti naik bus jurusan Sukabumi, Etti pulang ke rumah. Baru saja dia memasuki gang menuju ke rumah, Ipah dan Onah menyongsongnya.
“Hei, ke mana aja lu, Ti?” tanya Onah.
“Kirain terus ngilang,” sambung Ipah.
“Mana temanlu?” tanya Onah lagi.
“Sudah gua suruh sembunyi jauh. Nanti kalau desa kita ditembaki polisi, kalian lari lintang pukang ketakutan,” ujar Etti dengan santainya seraya berlalu meninggalkan kedua sumber gossip itu.
***

10.16.2009

PUTERI BEUTIK HATI




Zaman dahulu di puncak Gunung Tanggamus tinggal menyendiri seorang puteri bernama Puteri Beutik Hati. Ia sangat cantik dan rupawan, sehingga banyak raja-raja dan pangeran yang meminangnya. Tetapi selau di tolak.
Di antara raja yang meminangnya adalah Raja Dimegow dari Negeri Skala Brak di Puncak Gunung Sekincau. Sekuat daya baginda berusaha mendapatkan sang puteri.
Raja Megow memerintahkan sang hulubalang ke puncak Tanggamus menemui sang puteri.
“Berangkatlah kamu ke istana Puteri Beutik Hati. Bawalah semua hadiah emas-permata ini. Katakanb ahwa aku meminangnya dan hendak menjadikan Puteri sebagai penggatni Permaisuriku yang telah lama wafat.”
“Baik, Tuanku. Perintah Tuanku akan segera hamba laksanakan,” sahut sang Hulubalang.
“Ingat perjalanan ke puncak Tanggamus tidak mudah. Kamu akan melewati belantara dan menjumpai berbagai binatang buas.Bawalah peralatlan dan pengawalsecukpnya. Selambat-lambatnya sebelum purnama terbit kamu harus sudah kembali! Aku ingin segera mendengar jawaban sang Puteri,” ujar Raja Dimegow.
Berangkatlah hulubalang menuju pundak Tanggamus.
Ia membawa dua puluh orang pelayan untuk mengangkut hadiah da bekal makan dalam perjalanan. Ia juga memawa sejumlah perajurit lengkap dengan persenjtaannya.
Pada awal perjalanan mereka tidak menemuai kesukaran.
Saat hendak menadaki Gunung Tanggamus, mulai mereka menghadapi rintangan semak belukar yang lebat.
“Ayo tebas dan buat jalan rintisan!” peritnah Hulubalang kepada para perajuritnya.
Para perajurit bekerja keras menebasi semak dan belukar.
Malam pun tiba. Alam di sekitarnya menjadi gelap. Dinginnya menyusup sampai ke tulang sumsum. Para pelayan dan perajurit menggigil bagai terserang demam.
“Nyalakan obor! Kita terus berjalan! Kita tidak punya waktu banyak. Besok kita harus sudah dampai ke puncak Tanggamus!” perintah sang Hulubalang.
Mereka beristirahat hanya untuk makan. Setelah itu mereka bergerak lagi.
“Hati-hati banyak binatang buas!” Hulubalang memperingatkan anak buahnya.
Tiba-tiba seekor harimau menghadang di hadapan mereka.
Para pelayan mundur ketakutan.
Para perajurit bersiaga degnan senjata.
Serta-merta pula harimau itu seakan membelah diri menjadi beratus-ratus ekor banyaknya. Para perajurit mundur.
Hulubalagn melompat maju. Ia sadar bahea ini bukan sembarang harimau, tetapi harimau jadi-jadian.
“Mohon ijin Datu, kami diutus Raja Dimegow dari Puncak Sekincau hendak menemui Puteri Beutik Hati,” ujar Hulubalang.
Dalam sekejap harimau-harimau yang lain lenyap. Tinggal yang seekor itu. Harimau ini bersikap hendak menerkam. Matanya yang bercahaya bagai bara api menatap tajam ke arah Hulubalang. Hulubalang pun menatapnya dengan mata nyalang tak berkedip. Mereka mengadu kekuatan tenaga dalam melalui pancaran sinar mata.
Sesaat kemudian harimau itu mengeram. Lalu ia berbalik dan berlari menghillang ke dalam kegelapan.
Hulubalang bernapas lega. Ia baru menyadari bahwa tubuhnya berkeringat karena rasa panas dari pancaran mata harimau.
“Ayo, terus berjalan!” perintahnya.
Seluruh rombongan bergerak kembali.
Malam semakin lalrut.Udara bertambah dingin. Tetes embun serasa sejuta bungkah es. Seluruh rombongan menggigil. Cahaya obor tak kuasa menembus kegelapan. Saat seluruh rombongan dicekam rasa takut, terdengar suara berdebam seperti pohon tumbang. Seluruh rombongan melompat mundur sambil mengamati keadaan di hadapan mereka.
Dalam samar cahaya oboar, tampak seekor ular piton bertubuh sebesar batang kelapa. Kepadanya besar dan lidahnya terjulur berkilauan seperti cahaya api.
“Ini pasti bukan ular sembarangan,” pikir Hulubalang.
Ia berjalan mendekati, bermaksud hendak menjelaskan kehadirannya di tempat ini.
Belum lagi sang hulubalang sempat berbicara, ia disambut oleh sabetan ekor ular itu. Hulubalang menghindar sambil melompat. Belum sempat ia sampai ke tanah, ekor ular itu telah menyabetnya lagi. Hulubalang melompot lagi dan mendarat agak jauh. Ular piton itu menyerang dengan lidah apinya. Hulubalang hanya mampu mengindar.
Setelah puas menyerang ular piton itu diam sambil menatap tajam ke arah Hulubalang.
“Maafkan kami, Datu,” ujar Hulubalang, “Kami tidak bermaksud jahat. Kami membawa hadiah dari Raja Dimegow untuk Pueteri Beutik Hati.
Tatapan ular itu beralih ke arah seluruh rombongan, seakan meneliti setiap orang. Lalu ular itu menghilang.
Hari menjelang dini. Di langit timur tampak sebuah bintang bercahaya benderang.
Hulubalang merasa sangat lelah.
“Mari kita beristirahat sebentar,” uajrnya.
Seluruh rombongan melepas lelah dan seperti tersihir mereka tertidur lelap.
Ketika hulubalang terbangn, fajar sudah menyingsing.
Yang lain masih tertidur lelap.
Di hadapan sang Hulubalang berdiri seorang perempuan berambut panjang terurai. Ia mengenakan pakaian serba hitam. Wajah tidak tampak karena tetutup cadar hitam.
Perempuan itu berkata dengan suara yang lembut dan halus, “Jika kalian hendak menemui Tuan Puteri seketiak fajar naik berjalanlah ke arah selatan.” Usai bicara ia lenyap dari pandangan.
“Wanita itu pasti Puteri Beutik Hati,” pikir Hulubalang.
Ia segera membangunkan anggota rombongan agar bersiap-siap bergerak lagi.
“Ayo, bangun kita segera berangkat!”
Perlahan-lahan fajar naik. Hutan itu riuh dengan kicau burung. Di arah selatan, tak jauh dari tempat mereka beristiraha, tampak sebuah istana yagn amat megah.
“Ayo berjalan ke arah istana itu!” perintah Hulubalang.
Hulubalang bersama rombongan diterima oleh Puteri Beutik Hati di teras belakang istanya.
“Jelaskan maksud kedatangan kalian,” ujar Puteri Beutik Hati.
“Kami membawa bingkisan raja Dimegow dari Puncak Sekincau. Baginda meminang Tuan Puteri, untuk dijadikan Permaisuri,” ujar Hulubalang seraya menyerahkan seluruh bingkisan.
Puteri Beutik Hati memeriksa barang-barang bingkisan itu. Lalu ujarnya, “Barang-barang ini belum cukup untuk meminangku. Katakan kepada rajamu, jika ia benar-benar mencintaiku,buatkan aku jembatan emas dari puncan Tanggamus sampai ke puncak Sekincau agar mudah aku pergi ke negerinya.”
Hulubalang kembali ke negerinya. Disampaikan pesan Puteri Beutik Hati kepada sang raja.
“Sang Puteri meminta agar Baginda membuatkan jembatan emas, ” ujar Hulubalang.
“Jembatan emas?” raja heran.
“Benar, Tuanku. Jembatan itu melintang dari Puncan Sekincau sampai ke Puncak Tanggamus.”
“Apa yang dia kehendaki akan kupenuhi!” seru sang raja.
Keesokan harinya raja memerintahkan aggar semua emas yang ada di negeri Skala Brak dikumpulkan. Para perajurti bergerak merampasi emas milik rakyat. Kaum wanita menangis karena harta perhiasan mereka dirampas.
Setelah emas terkumpul dikerahkan beribu-ribu penduduk bekerja membangun jembalatan emas. Mereka diperlakukan seperti budak, bekerja siang malam tanpa upah.
Setelah seminggu, jembatan itu pun siap. Bila tertimpa cahaya matahari pagi jembatan itu berkilauan bagai pelangi. Tampak jelas dari kejauhan.
Hulubalang kembali ke Puncak Tanggamus menemui sang puteri.
“Jembatan emas yang Tuan Puteri kehendaki telah siap,” ujar Hulubalang, Marilah segera berangkat ke negeri kami.”
“Ada satu lagi permintaanku. Sebagai permintaan terakhir. Sekaranya dia benar-benar mencintaiku bawakan aku semagnkuk darah segar dari urat nadi puteranya.”
Hulubalang terkejut mendengar permintaa itu, tetapi ia tidak dapat megnelaknya.
Hulubalang kembali ke negerinya. Disampaikan permintaan Puteri Beutik Hati kepada sang raja Dimegow.
“Dia akan mendapat apa yang dia kehendaki,” ujar Raja Dimegow yang sudah tergila-gila kepada sang puteri.
Malam itu raja masuk ke kamar puteranya yang baru berusia sepuluh tahun. Dipotognya naditangan anak itu. Ditandahi darahna dengan piala emas. Malam itu juga ia sendiri berangkat ke Pucak Tanggamus.
“Aku datang mempersembahkan apa yang kau pinta, Tuan Puteri,” ujar sang raja seraya mempersembahkan piala berisi darah.
Puteri Beutik Hati marah, “Aku tidak sudi menikah dengan seorang raja yang lalim. Demi seorang wanita kamu tega merampas harga rakyakmu dan membunuh anakmu!” ujar sang puteri seray ia mengubah diri menjadi beberapa putericantik. Namun, seketika pula dia lenyap.
Raja Dimegow sangat kecewa. Ia pun tidak kembali ke negerinya. Ia menjadi seorang pertapa di hutan itu.
Jembatan emas masih tetap melintang. Dan, sampai kini dari kejauhan masih sering tampai pelangi melintang dari Pncak Sekincau sampai ke Puncak Tanggamus.
Selesai.

10.12.2009

MENJARING MATAHARI


Dahulu kala di sebuah tepi hutan tinggal dua orang kakak beradik yatim piatu, lelaki dan perempuan. Yang lelaki menggunakan waktunya untuk berburu dan adiknya tinggal di rumah memasak, menenun pakaian, dan membersihkan rumah.
Pada suatu hari kakaknya pulang membawa seekor beruang madu yang telah mati dipanahnya.
“Adikku, aku mendapat buruan seekor beruang madu. Maukah kamu membuatkan aku mantel dari kulitnya?”
“Tentu saja aku mau,” jawab adiknya, “Kulitilah, dagingnya jadikan dendeng untuk persediaan makan kita.”
Kakaknya segera menguliti buruannya. Menyerahkan kulit beruang yang berbulu halus itu kepada adiknya. Lalu ia mengiris daging beruang dan menjemurnya.
“Akan memakan waktu satu minggu untuk membuat mantel ini. Kulit harus kering benar,” ujar adiknya.
“Ya, akan kupakai minggu depan. Bukankah minggu depan mulai musim penghujan,” ujar kakaknya.
Beberapa hari kemudian mantel kulit beruang pun selesai. Bukan main senang anak lelaki itu. Dikenakannya mantel itu. Lalu ia pergi berjalan mencari teman-temannya.
Perjalanannya sangat jauh. Sesudah menempuh perjalanan beberapa hari, dia sangat lelah. Dia beristirahat, dibukanya mantel kulitnya, lalu dibiarkan tergeletak di rumput. Sementara itu anak lelaki itu tertidur di bawah pohon.
Matahari bersinar sangat terik.
Ia terbangun ketika hari sudah hampir senja. Matahari memancarkan sinar merah di ufuk barat. Ia bergegas mengambil mantelnya, lalu mengenakannya. Betapa terkejutnya dia, mantel itu tak bisa dikenakan karena telah menciut menjadi kecil.
“Ini pasti karena ulah sinar matahari,” ujarnya dengan geram, “matahari jahat. Kamu telah mengkerutkan mantel kulit beruangku yang paling kusukai!”
Ia bergegas pulang. Adiknya heran melihat si kakak pulang dengan wajah murung.
“Mengapa engkau murung, kakakku? Mana mantelmu, mengapa tidak kaukenakan?” sapa sang adik.
“Jangan banyak tanya. Buatkan aku jaring yang besar dan kuat, aku akan menjaring sesuatu yang besar!” ujar sang kakak.
Adik perempuannya itu mulai bekerja. Ia menganyam rumput purun. Setiap kali selesai ia memperlihatkan kepada kakaknya.
“Kurang besar!” ujar kakaknya.
Adiknya terus menjalin rumput-rumput purun membuat jaring raksasa.
“Apa yang hendak dia jaring?” keluhnya. Tetapi ia tidak berani bertanya kepada kakaknya, khawatir kakaknya marah.
“Sebesar ini?” adiknya memperlihatkan jaring yang dibuatnya.
“Ya, ini baru cukup!” seru kakaknya girang.
Di dalam hatinya dia berujar, “Akan kujaring kau matahari. Kupasung dalam perangkap, karena kau sudah mengkerutkan mantel kesayanganku!”
Ia berangkat ke lembah yang luas. Ia tahu pasti dari mana matahari setiap pagi muncul. Matahari muncul dari tepi lembah. Ia masang jaringnya di tepi lembah, tempat matahari setiap pagi muncul menyentuh tanah tepi lembah.
Setelah segalanya siap, ia bersembunyi di balik pohon besar mengawasi. Dia yakin, begitu matahari muncul dari tepi lembah, akan terperangkap jaringnya.
Benar, ketika matahari muncul di tepi lembah, ia masuk ke dalam perangkap anak lelaki itu. Menyaksikan matahari terperangkap jaringnya, anak lelaki itu tertawa terbahak-bahak.
“Ha…ha…ha… Kutangkap kau, kupasung di dalam jaringku.” Lalu dia berteriak keras-keras, “Aku telah menjaring matahari. Kuhukum kau matahari, karena telah merusak pakaianku!”
Waktu berlalu. Matahari tak pernah terbit. Langit tampak pucat. Cuaca hari itu aneh, bukan siang bukan pula malam. Cahaya alam redup. Udara dingin. Susana mencekam, burung-burung dan binatang-binatang lainnya takut keluar dari sarang.
Burung-burung saling bertanya-tanya, “Ada apa gerangan? Ke mana matahari? Alam menjadi aneh!”
Burung-burung bersepakat akan mengadakan penyelidikan. Burung-burung terbang ke arah lembah, tempat biasa matahari muncul saat fajar. Mereka terkejut menyaksikan matahari terperangkap jaring.
“Kiranya ini yang membuat matahari tak bisa terbit, alam menjadi bernuansa tidak menentu, aneh, dan menyeramkan,” kata burung.
“Ayo, kita bebaskan!” ajak burung lainnya.
Sejumlah burung berusaha membebaskan matahari dari perangkap jaring. Tetapi, karena udaranya sangat panas, dan benang jaringnya sangat kuat, burung-burung tidak mampu membebaskan matahari. Akhirnya, burung-burung memanggil hewan-hewan lain. Datanglah berbagai hewan, gajah, pelanduk, harimau, singa, kera, landak, dan hewan-hewan lainnya. Mereka bermusyawarah menentukan siapa yang mampu membebaskan matahari. Hampir semua hewan tidak berani mencoba membebaskan matahari, selain panas karena benang jaringnya amat kuat. Semua hewan menjadi sangat putus asa. Mereka terdiam, tafakur sedih.
Jika tidak ada sinar matahari, semua makhluk di alam ini akan punah. Sinar matahari sangat penting bagi kehidupan.
Tiba-tiba seekor tupai muncul. Waktu itu tubuh tupai sangat besar. Lebih besar dari semua hewan yang ada, lebih besar dari gajah. Gigi taringnya sangat tajam.
“Aku yang akan membebaskan matahari. Kuputuskan benang-benang jaring dengan taringku,” kata si Tupai.
Kemunculan tupai di tengah para hewan dan kesediaannya berkorban untuk membebaskan matahari sangat menggembirakan para hewan.
“Ya, kamu pasti mampu membebaskan matahari,” ujar Pelanduk.
“Ya, taringmu kuat dan bulumu tebal, pasti tahan panas,” ujar gajah.
“Kamu akan menjadi pahlawan semua makhluk di alam ini, wahai Tupai,” ujar burung elang sambil mengepakkan sayapnya, “Mari kutunjukkan tempatnya!”
Sesampai di tempat matahari terjaring, si tupai segera melompat ke atas benang jariang. Lalu menggit mengeretnya. Digigit, dikerat, dan dikoyaknya benang-benang jaring. Akhrinya tupai mampu memutuskan seutas benang jaring, tetapi masih beratus-ratus jalinan benang lagi. Dia harus berjuang di tengah panasnya matahari.
Lama-lamam sang tupai menjadi lemah. Keringat bercucuran dari sekujur tubuh. Tetapi ia menyadari bahwa dirinya adalah yang paling besar dari semua binatang. Ia harus menjadi hewan yang paling berani. Ia terus berjuang memutuskan tali-temali jaring. Lama-lama ia merasakan tubuhnya menyusut. Walau demikian, tupai tak menyerah. Ia terus menggigit, mengerat, mengoyak, memutuskan tiap helai temali-temali jaring. Sampai pada benang yang terakhir ia kerat dan terputus.
Matahari terlepas dari jaring, terlontar ke angkasa. Alam terang benderang. Tumbuhan dan berbagai makhluk berseri kembali.
Para hewan berlarian ke lembah mencari tupai.
“Ke mana tupai?”
“Ya, kemana dia,” seru yang lain.
Hewan-hewan itu akan berterima kasih kepada tupai, tetapi mereka tidak menemukannya.
Tupai yang tubuhnya sudah menjadi kecil karena terpanggang sinar matahari melompat ke atas dahan. Ia bersembunyi, malu menampakkan diri. Sampai sekarang tupai hidup di atas pohon, menjadi hewan pengerat. (Gbr. ex. Khazanah PA)


- selesai