
Tiba-tiba saja rumah Etti, peremuan muda yang tinggal sendiri di pinggiran Jakarta, karena suaminya bekerja di Arab, menjadi perhatian orang banyak, tetangganya, perempuan-perempuan yang suka gosip. Pasalnya ada tamu perempuan dengan lirik mata gairah, tetapi menutup wajah dengan cadar hitam. Dari jilbab yang dikenakannya yang juga berwarna hitam terbayang tubuhnya yang langsing.
Orang-orang tak banyak tanya, mereka menunggu sampai hari ketiga. Bukankah pada hari ketiga jika orang itu masih ada di rumah Etti berarti bukan lagi tamu. Tamu cuma sebatas tiga hari. Setelah tiga hari dia sudah boleh dibilang warga baru.
Pada hari keempat, perempuan-perempuan muda mulai bergunjing di hadapan gerobak tukang sayur milik Imron, pedagang sayur keliling yang menjadi langganan ibu-ibu di desa itu.
“Siapa tuh tamu si Eti, pakai cadar segala,” si Onah, biang gossip membuka obrolan.
“Iye, gua jadi penasaran,” sambut Ipah, juga biang gossip.
Dua orang ibu muda datang ke tempat gerobak sayur. Lalu mereka berbisik-bisik sambil delapan pasang mata mereka mengarah ke rumah Eti. Rumah itu masih tampak sepi. Si Imron tukang sayur nimpali, “Ini mau beli sayur apa mau ngawasin rumah Bu Eti?
“Hess… diam lu Ron. Ini penting.”
Imron tukang sayur sabar menunggu.
Beberapa saat kemudian Etti keluar.
“Hesss tuh dia keluar. Mana perempuan bercadar hitamnya?’ ujar Onah.
“Di dalam.”
‘Eeeh, Pah menurut lu kenapa dia nutupin mukanya begitu ya?
Orang-orang tak banyak tanya, mereka menunggu sampai hari ketiga. Bukankah pada hari ketiga jika orang itu masih ada di rumah Etti berarti bukan lagi tamu. Tamu cuma sebatas tiga hari. Setelah tiga hari dia sudah boleh dibilang warga baru.
Pada hari keempat, perempuan-perempuan muda mulai bergunjing di hadapan gerobak tukang sayur milik Imron, pedagang sayur keliling yang menjadi langganan ibu-ibu di desa itu.
“Siapa tuh tamu si Eti, pakai cadar segala,” si Onah, biang gossip membuka obrolan.
“Iye, gua jadi penasaran,” sambut Ipah, juga biang gossip.
Dua orang ibu muda datang ke tempat gerobak sayur. Lalu mereka berbisik-bisik sambil delapan pasang mata mereka mengarah ke rumah Eti. Rumah itu masih tampak sepi. Si Imron tukang sayur nimpali, “Ini mau beli sayur apa mau ngawasin rumah Bu Eti?
“Hess… diam lu Ron. Ini penting.”
Imron tukang sayur sabar menunggu.
Beberapa saat kemudian Etti keluar.
“Hesss tuh dia keluar. Mana perempuan bercadar hitamnya?’ ujar Onah.
“Di dalam.”
‘Eeeh, Pah menurut lu kenapa dia nutupin mukanya begitu ya?
“Takut cantiknya ketahuan,” timpal salah seorang ibu.
“Mending kalu cantik…”
Belum selesai kata-kata perempuan ini temannya menimpali, “Bibirnya sumbing kali …”
Riuhlah tawa ibu-ibu muda ini.
Imron, si tukang sayur menimpali, “Jangan su-uzon …. Itu kan pakaian muslimah.”
“Sok tahu lu, Ron!” sergah Ipah.
“Iya lu gak tahu perempuan-perempuan yang ditangkap polisi pakaiannya kayak gitu?”
“Nah tu, kan su-uzon.”
Eti sampai ke gerobak tukang sayur, dia memberi salam “Assalamualaikum ibu-bu.”
Ipah menegur, “Eii Ti, siapa tuh tamu lu?”
Eti tersenyum, “Emang kenapa?”
“Gua curiga,” sambut Onah.
“Curiga apaan?” dengan kalem Etti membalas.
Onah dan Ipah saling berbisik. Lalu mereka tertawa. Kata Ipah, “entar tau-tau desa kita terkenal masuk tipi.”
“Kenapa masuk tipi?” seorang ibu bertanya.
“Rumah Etti digerbek polisi, ditembakin….” Sahut Onah.
“Hebat tapi serem tuh,” ujar Ipah.
“Ah, macam-macam aja lu pada,” ujar Etti lalu dia berkata kepada Imron, “Ron, gua perlu sayur lodeh dua bungkus.” Imron menyerahkan dua bungkus bahan sayur lode. Etti membayarnya dengan sejumlah uang kemudian berlalu dari kerumunan ibu-ibu itu, “Gua pulang dulu!”
“Heeei, hati-hati lu, entar jadi korban peluru,” ujar Onah
Yang lain tertawa. Di tengah gemuruh tawa itu, Ipah nyeletuk, “Jangan ikut-ikut ditangkap dituduh teroris lu, Ti.”
“Kali emang elu juga terorissss…. “ujar Onah sambil tertawa.
Tetapi Etti kalem saja. Dia tidak marah dan tidak merasa tersinggung. Dia tersenyum ramah . Berlalu dari kerumunan ibu-ibu.
Usai subuh, seminggu kemudian Etti dan perempuan bercadar hitam keluar dari rumah. Mereka tampak tergesa-gesa.
“Cepat teh, nanti kita terlambat,” ujar si perempuan bercadar hitam
“Kita naik taksi di ujung gang mudah-mudahan ada taksi,” ujar Etti.
Kebetulan pada saat itu Onah membuka jendela. Dia terperangah menyaksikan Etti dan si perempuan bercadar hitam berjalan tergopoh-gopoh. “Mau kemana mereka sepagi ini,” pikirnya. Diam-diam dia mengikutnya. Di ujung gang dia melihat kedua orang itu naik taksi. “Wah pasti dia pindah dari desa ini, barangkali takut diloporin ke polisi,” pikir Onah lagi. Dan ini menjadi bahan gunjingan baru di kalangan ibu-ibu muda desa itu. Onah tidak langsung pulang, dia ke rumah Ipah. Ipah sedang mencuci pakaian di sumur. Sumur di desa itu berada agak jauh dari dapur rumah.
“Ada apa lu pagi-pagi? Kayak habis dikejar pocong?” sambut Ipah.
“Si cadar hitam dibawa pindah tuh. Mereka pergi terburu-buru. Naik taksi lagi.”
“Yang benar.”
“Gua liat. Gua ikutin sampai ke gang.”
“Waaah …” seru Ipah. Lanjutnya, “Tapi gak apa-apa, kampung kita aman.”
“Yaa… gak masuk tipi dong.”
Keduanya tertawa renyah.
“Eee perlu kita laporin RT?” tanya Ipah.
“Tunggu aja sampe si Etti pulang. Dibawa lagi gak tu perempuan,” kata Onah.
“Iya, kita tunggu ya.”
Malamnya Etti tidak tampak pulang. Bahkan sampai hari ketiga Etti tidak kembali ke rumah. Pergunjingan semakin seru. Onah yang rumahnya berhadapan dengan rumah Etti, yang selama ini mengawasinya menyebarkan gossip lagi.
“Etti juga hilang, gak pulang sudah tiga hari,” ujarnya.
Seorang ibu bertanya, “Apa mungkin Etti juga teroris?
Dengan bersemangat Ipah menimpali, “Kenapa gak? Kan suaminya kerja di Arab. Siapa tahu anggota…… apa tuh namanya Al….Al gitu?” Dia menatap Onah.
“Gua gak tahu apa namanya,” sergah Onah.
*
Beti, perempuan bercadar hitam itu terbaring segar di sebuah ruang perawatan RSCM. Etti duduk di sisinya. Beberapa saat kemudian dua orang perawat dan seorang dokter datang.
Si dokter memberi salam. Lalu ujarnya, “Wah udah segar. Coba saya periksa.”
Suster membuka perban di wajah Beti. Dokter meneliti hasil kerjanya. Sambil tersenyum dia berujar kepada Beti, “Tidak bakal ada bekas. Wajah Nona tetap cantik.”
Beti, si perempuan bercadar hitam itu bukan main gembiranya. “Jadi hari ini saya boleh pulang, Dok?
“Boleh. Uruslah administrasinya,” ujar sang dokter.
Beti, adalah gadis desa dari pedalaman Pelabuhan Ratu. Dia terkena musibah, dagu dan sebagian wajahnya tersiram air mendidih hingga melepuh. Dokter Puskesmas di desa itu merekomendasikan agar dia operasi plastic ke Jakarta, ke RSCM. Satu-satunya tempat untuk menumpang di Jakarta adalah rumah Etti, teman kecil, karibnya sekampung. Selama di rawat, Etti tidak pulang, dia menungguinya sampai masa perawatan usai.
Usai mengurus administrasi Etti kembali ke kamar. Karibnya telah mengenakan pakaian dan wajahnya ditutupi cadar hitam.
Karibnya itu menyambut, “Etti, terima kasih ya atas segalanya. Aku akan terus pulang, tidak singgah lagi ke rumahmu. Tidak apa-apa, kan?”
Etti tersenyum dan menggelengkan kepala. “Kamu akan berpakaian seperti itu selamanya?”
“Lihat saja nanti.”
“Kamu seperti Teh Oris,” gurau Etti. Keduanya lalu tertawa.
Setelah mengantar Beti naik bus jurusan Sukabumi, Etti pulang ke rumah. Baru saja dia memasuki gang menuju ke rumah, Ipah dan Onah menyongsongnya.
“Hei, ke mana aja lu, Ti?” tanya Onah.
“Kirain terus ngilang,” sambung Ipah.
“Mana temanlu?” tanya Onah lagi.
“Sudah gua suruh sembunyi jauh. Nanti kalau desa kita ditembaki polisi, kalian lari lintang pukang ketakutan,” ujar Etti dengan santainya seraya berlalu meninggalkan kedua sumber gossip itu.
***
“Mending kalu cantik…”
Belum selesai kata-kata perempuan ini temannya menimpali, “Bibirnya sumbing kali …”
Riuhlah tawa ibu-ibu muda ini.
Imron, si tukang sayur menimpali, “Jangan su-uzon …. Itu kan pakaian muslimah.”
“Sok tahu lu, Ron!” sergah Ipah.
“Iya lu gak tahu perempuan-perempuan yang ditangkap polisi pakaiannya kayak gitu?”
“Nah tu, kan su-uzon.”
Eti sampai ke gerobak tukang sayur, dia memberi salam “Assalamualaikum ibu-bu.”
Ipah menegur, “Eii Ti, siapa tuh tamu lu?”
Eti tersenyum, “Emang kenapa?”
“Gua curiga,” sambut Onah.
“Curiga apaan?” dengan kalem Etti membalas.
Onah dan Ipah saling berbisik. Lalu mereka tertawa. Kata Ipah, “entar tau-tau desa kita terkenal masuk tipi.”
“Kenapa masuk tipi?” seorang ibu bertanya.
“Rumah Etti digerbek polisi, ditembakin….” Sahut Onah.
“Hebat tapi serem tuh,” ujar Ipah.
“Ah, macam-macam aja lu pada,” ujar Etti lalu dia berkata kepada Imron, “Ron, gua perlu sayur lodeh dua bungkus.” Imron menyerahkan dua bungkus bahan sayur lode. Etti membayarnya dengan sejumlah uang kemudian berlalu dari kerumunan ibu-ibu itu, “Gua pulang dulu!”
“Heeei, hati-hati lu, entar jadi korban peluru,” ujar Onah
Yang lain tertawa. Di tengah gemuruh tawa itu, Ipah nyeletuk, “Jangan ikut-ikut ditangkap dituduh teroris lu, Ti.”
“Kali emang elu juga terorissss…. “ujar Onah sambil tertawa.
Tetapi Etti kalem saja. Dia tidak marah dan tidak merasa tersinggung. Dia tersenyum ramah . Berlalu dari kerumunan ibu-ibu.
Usai subuh, seminggu kemudian Etti dan perempuan bercadar hitam keluar dari rumah. Mereka tampak tergesa-gesa.
“Cepat teh, nanti kita terlambat,” ujar si perempuan bercadar hitam
“Kita naik taksi di ujung gang mudah-mudahan ada taksi,” ujar Etti.
Kebetulan pada saat itu Onah membuka jendela. Dia terperangah menyaksikan Etti dan si perempuan bercadar hitam berjalan tergopoh-gopoh. “Mau kemana mereka sepagi ini,” pikirnya. Diam-diam dia mengikutnya. Di ujung gang dia melihat kedua orang itu naik taksi. “Wah pasti dia pindah dari desa ini, barangkali takut diloporin ke polisi,” pikir Onah lagi. Dan ini menjadi bahan gunjingan baru di kalangan ibu-ibu muda desa itu. Onah tidak langsung pulang, dia ke rumah Ipah. Ipah sedang mencuci pakaian di sumur. Sumur di desa itu berada agak jauh dari dapur rumah.
“Ada apa lu pagi-pagi? Kayak habis dikejar pocong?” sambut Ipah.
“Si cadar hitam dibawa pindah tuh. Mereka pergi terburu-buru. Naik taksi lagi.”
“Yang benar.”
“Gua liat. Gua ikutin sampai ke gang.”
“Waaah …” seru Ipah. Lanjutnya, “Tapi gak apa-apa, kampung kita aman.”
“Yaa… gak masuk tipi dong.”
Keduanya tertawa renyah.
“Eee perlu kita laporin RT?” tanya Ipah.
“Tunggu aja sampe si Etti pulang. Dibawa lagi gak tu perempuan,” kata Onah.
“Iya, kita tunggu ya.”
Malamnya Etti tidak tampak pulang. Bahkan sampai hari ketiga Etti tidak kembali ke rumah. Pergunjingan semakin seru. Onah yang rumahnya berhadapan dengan rumah Etti, yang selama ini mengawasinya menyebarkan gossip lagi.
“Etti juga hilang, gak pulang sudah tiga hari,” ujarnya.
Seorang ibu bertanya, “Apa mungkin Etti juga teroris?
Dengan bersemangat Ipah menimpali, “Kenapa gak? Kan suaminya kerja di Arab. Siapa tahu anggota…… apa tuh namanya Al….Al gitu?” Dia menatap Onah.
“Gua gak tahu apa namanya,” sergah Onah.
*
Beti, perempuan bercadar hitam itu terbaring segar di sebuah ruang perawatan RSCM. Etti duduk di sisinya. Beberapa saat kemudian dua orang perawat dan seorang dokter datang.
Si dokter memberi salam. Lalu ujarnya, “Wah udah segar. Coba saya periksa.”
Suster membuka perban di wajah Beti. Dokter meneliti hasil kerjanya. Sambil tersenyum dia berujar kepada Beti, “Tidak bakal ada bekas. Wajah Nona tetap cantik.”
Beti, si perempuan bercadar hitam itu bukan main gembiranya. “Jadi hari ini saya boleh pulang, Dok?
“Boleh. Uruslah administrasinya,” ujar sang dokter.
Beti, adalah gadis desa dari pedalaman Pelabuhan Ratu. Dia terkena musibah, dagu dan sebagian wajahnya tersiram air mendidih hingga melepuh. Dokter Puskesmas di desa itu merekomendasikan agar dia operasi plastic ke Jakarta, ke RSCM. Satu-satunya tempat untuk menumpang di Jakarta adalah rumah Etti, teman kecil, karibnya sekampung. Selama di rawat, Etti tidak pulang, dia menungguinya sampai masa perawatan usai.
Usai mengurus administrasi Etti kembali ke kamar. Karibnya telah mengenakan pakaian dan wajahnya ditutupi cadar hitam.
Karibnya itu menyambut, “Etti, terima kasih ya atas segalanya. Aku akan terus pulang, tidak singgah lagi ke rumahmu. Tidak apa-apa, kan?”
Etti tersenyum dan menggelengkan kepala. “Kamu akan berpakaian seperti itu selamanya?”
“Lihat saja nanti.”
“Kamu seperti Teh Oris,” gurau Etti. Keduanya lalu tertawa.
Setelah mengantar Beti naik bus jurusan Sukabumi, Etti pulang ke rumah. Baru saja dia memasuki gang menuju ke rumah, Ipah dan Onah menyongsongnya.
“Hei, ke mana aja lu, Ti?” tanya Onah.
“Kirain terus ngilang,” sambung Ipah.
“Mana temanlu?” tanya Onah lagi.
“Sudah gua suruh sembunyi jauh. Nanti kalau desa kita ditembaki polisi, kalian lari lintang pukang ketakutan,” ujar Etti dengan santainya seraya berlalu meninggalkan kedua sumber gossip itu.
***

