10.16.2009

PUTERI BEUTIK HATI




Zaman dahulu di puncak Gunung Tanggamus tinggal menyendiri seorang puteri bernama Puteri Beutik Hati. Ia sangat cantik dan rupawan, sehingga banyak raja-raja dan pangeran yang meminangnya. Tetapi selau di tolak.
Di antara raja yang meminangnya adalah Raja Dimegow dari Negeri Skala Brak di Puncak Gunung Sekincau. Sekuat daya baginda berusaha mendapatkan sang puteri.
Raja Megow memerintahkan sang hulubalang ke puncak Tanggamus menemui sang puteri.
“Berangkatlah kamu ke istana Puteri Beutik Hati. Bawalah semua hadiah emas-permata ini. Katakanb ahwa aku meminangnya dan hendak menjadikan Puteri sebagai penggatni Permaisuriku yang telah lama wafat.”
“Baik, Tuanku. Perintah Tuanku akan segera hamba laksanakan,” sahut sang Hulubalang.
“Ingat perjalanan ke puncak Tanggamus tidak mudah. Kamu akan melewati belantara dan menjumpai berbagai binatang buas.Bawalah peralatlan dan pengawalsecukpnya. Selambat-lambatnya sebelum purnama terbit kamu harus sudah kembali! Aku ingin segera mendengar jawaban sang Puteri,” ujar Raja Dimegow.
Berangkatlah hulubalang menuju pundak Tanggamus.
Ia membawa dua puluh orang pelayan untuk mengangkut hadiah da bekal makan dalam perjalanan. Ia juga memawa sejumlah perajurit lengkap dengan persenjtaannya.
Pada awal perjalanan mereka tidak menemuai kesukaran.
Saat hendak menadaki Gunung Tanggamus, mulai mereka menghadapi rintangan semak belukar yang lebat.
“Ayo tebas dan buat jalan rintisan!” peritnah Hulubalang kepada para perajuritnya.
Para perajurit bekerja keras menebasi semak dan belukar.
Malam pun tiba. Alam di sekitarnya menjadi gelap. Dinginnya menyusup sampai ke tulang sumsum. Para pelayan dan perajurit menggigil bagai terserang demam.
“Nyalakan obor! Kita terus berjalan! Kita tidak punya waktu banyak. Besok kita harus sudah dampai ke puncak Tanggamus!” perintah sang Hulubalang.
Mereka beristirahat hanya untuk makan. Setelah itu mereka bergerak lagi.
“Hati-hati banyak binatang buas!” Hulubalang memperingatkan anak buahnya.
Tiba-tiba seekor harimau menghadang di hadapan mereka.
Para pelayan mundur ketakutan.
Para perajurit bersiaga degnan senjata.
Serta-merta pula harimau itu seakan membelah diri menjadi beratus-ratus ekor banyaknya. Para perajurit mundur.
Hulubalagn melompat maju. Ia sadar bahea ini bukan sembarang harimau, tetapi harimau jadi-jadian.
“Mohon ijin Datu, kami diutus Raja Dimegow dari Puncak Sekincau hendak menemui Puteri Beutik Hati,” ujar Hulubalang.
Dalam sekejap harimau-harimau yang lain lenyap. Tinggal yang seekor itu. Harimau ini bersikap hendak menerkam. Matanya yang bercahaya bagai bara api menatap tajam ke arah Hulubalang. Hulubalang pun menatapnya dengan mata nyalang tak berkedip. Mereka mengadu kekuatan tenaga dalam melalui pancaran sinar mata.
Sesaat kemudian harimau itu mengeram. Lalu ia berbalik dan berlari menghillang ke dalam kegelapan.
Hulubalang bernapas lega. Ia baru menyadari bahwa tubuhnya berkeringat karena rasa panas dari pancaran mata harimau.
“Ayo, terus berjalan!” perintahnya.
Seluruh rombongan bergerak kembali.
Malam semakin lalrut.Udara bertambah dingin. Tetes embun serasa sejuta bungkah es. Seluruh rombongan menggigil. Cahaya obor tak kuasa menembus kegelapan. Saat seluruh rombongan dicekam rasa takut, terdengar suara berdebam seperti pohon tumbang. Seluruh rombongan melompat mundur sambil mengamati keadaan di hadapan mereka.
Dalam samar cahaya oboar, tampak seekor ular piton bertubuh sebesar batang kelapa. Kepadanya besar dan lidahnya terjulur berkilauan seperti cahaya api.
“Ini pasti bukan ular sembarangan,” pikir Hulubalang.
Ia berjalan mendekati, bermaksud hendak menjelaskan kehadirannya di tempat ini.
Belum lagi sang hulubalang sempat berbicara, ia disambut oleh sabetan ekor ular itu. Hulubalang menghindar sambil melompat. Belum sempat ia sampai ke tanah, ekor ular itu telah menyabetnya lagi. Hulubalang melompot lagi dan mendarat agak jauh. Ular piton itu menyerang dengan lidah apinya. Hulubalang hanya mampu mengindar.
Setelah puas menyerang ular piton itu diam sambil menatap tajam ke arah Hulubalang.
“Maafkan kami, Datu,” ujar Hulubalang, “Kami tidak bermaksud jahat. Kami membawa hadiah dari Raja Dimegow untuk Pueteri Beutik Hati.
Tatapan ular itu beralih ke arah seluruh rombongan, seakan meneliti setiap orang. Lalu ular itu menghilang.
Hari menjelang dini. Di langit timur tampak sebuah bintang bercahaya benderang.
Hulubalang merasa sangat lelah.
“Mari kita beristirahat sebentar,” uajrnya.
Seluruh rombongan melepas lelah dan seperti tersihir mereka tertidur lelap.
Ketika hulubalang terbangn, fajar sudah menyingsing.
Yang lain masih tertidur lelap.
Di hadapan sang Hulubalang berdiri seorang perempuan berambut panjang terurai. Ia mengenakan pakaian serba hitam. Wajah tidak tampak karena tetutup cadar hitam.
Perempuan itu berkata dengan suara yang lembut dan halus, “Jika kalian hendak menemui Tuan Puteri seketiak fajar naik berjalanlah ke arah selatan.” Usai bicara ia lenyap dari pandangan.
“Wanita itu pasti Puteri Beutik Hati,” pikir Hulubalang.
Ia segera membangunkan anggota rombongan agar bersiap-siap bergerak lagi.
“Ayo, bangun kita segera berangkat!”
Perlahan-lahan fajar naik. Hutan itu riuh dengan kicau burung. Di arah selatan, tak jauh dari tempat mereka beristiraha, tampak sebuah istana yagn amat megah.
“Ayo berjalan ke arah istana itu!” perintah Hulubalang.
Hulubalang bersama rombongan diterima oleh Puteri Beutik Hati di teras belakang istanya.
“Jelaskan maksud kedatangan kalian,” ujar Puteri Beutik Hati.
“Kami membawa bingkisan raja Dimegow dari Puncak Sekincau. Baginda meminang Tuan Puteri, untuk dijadikan Permaisuri,” ujar Hulubalang seraya menyerahkan seluruh bingkisan.
Puteri Beutik Hati memeriksa barang-barang bingkisan itu. Lalu ujarnya, “Barang-barang ini belum cukup untuk meminangku. Katakan kepada rajamu, jika ia benar-benar mencintaiku,buatkan aku jembatan emas dari puncan Tanggamus sampai ke puncak Sekincau agar mudah aku pergi ke negerinya.”
Hulubalang kembali ke negerinya. Disampaikan pesan Puteri Beutik Hati kepada sang raja.
“Sang Puteri meminta agar Baginda membuatkan jembatan emas, ” ujar Hulubalang.
“Jembatan emas?” raja heran.
“Benar, Tuanku. Jembatan itu melintang dari Puncan Sekincau sampai ke Puncak Tanggamus.”
“Apa yang dia kehendaki akan kupenuhi!” seru sang raja.
Keesokan harinya raja memerintahkan aggar semua emas yang ada di negeri Skala Brak dikumpulkan. Para perajurti bergerak merampasi emas milik rakyat. Kaum wanita menangis karena harta perhiasan mereka dirampas.
Setelah emas terkumpul dikerahkan beribu-ribu penduduk bekerja membangun jembalatan emas. Mereka diperlakukan seperti budak, bekerja siang malam tanpa upah.
Setelah seminggu, jembatan itu pun siap. Bila tertimpa cahaya matahari pagi jembatan itu berkilauan bagai pelangi. Tampak jelas dari kejauhan.
Hulubalang kembali ke Puncak Tanggamus menemui sang puteri.
“Jembatan emas yang Tuan Puteri kehendaki telah siap,” ujar Hulubalang, Marilah segera berangkat ke negeri kami.”
“Ada satu lagi permintaanku. Sebagai permintaan terakhir. Sekaranya dia benar-benar mencintaiku bawakan aku semagnkuk darah segar dari urat nadi puteranya.”
Hulubalang terkejut mendengar permintaa itu, tetapi ia tidak dapat megnelaknya.
Hulubalang kembali ke negerinya. Disampaikan permintaan Puteri Beutik Hati kepada sang raja Dimegow.
“Dia akan mendapat apa yang dia kehendaki,” ujar Raja Dimegow yang sudah tergila-gila kepada sang puteri.
Malam itu raja masuk ke kamar puteranya yang baru berusia sepuluh tahun. Dipotognya naditangan anak itu. Ditandahi darahna dengan piala emas. Malam itu juga ia sendiri berangkat ke Pucak Tanggamus.
“Aku datang mempersembahkan apa yang kau pinta, Tuan Puteri,” ujar sang raja seraya mempersembahkan piala berisi darah.
Puteri Beutik Hati marah, “Aku tidak sudi menikah dengan seorang raja yang lalim. Demi seorang wanita kamu tega merampas harga rakyakmu dan membunuh anakmu!” ujar sang puteri seray ia mengubah diri menjadi beberapa putericantik. Namun, seketika pula dia lenyap.
Raja Dimegow sangat kecewa. Ia pun tidak kembali ke negerinya. Ia menjadi seorang pertapa di hutan itu.
Jembatan emas masih tetap melintang. Dan, sampai kini dari kejauhan masih sering tampai pelangi melintang dari Pncak Sekincau sampai ke Puncak Tanggamus.
Selesai.

Tidak ada komentar: