- Untuk anak cucuku
Jangan kau tatap aku dengan mata nyalangmu
tak kan terduga berapa dalam lubukku
rongga jantungmu tak mampu memompa darah
sepanjang nadi dan syaraf rapuh di tubuhku
jangan resah karena jalanmu terantuk
batu sandung di halaman yang kosong dan suntuk
tak mampu kau menata kerapuhan raga di rongga tua ini
tak kuasa kau terjemahkan sekelumit isyarat nuraniku
sekali pun dengan sejuta penyihir dari kastil tua
di lembah bayang berkas samar kabut menjelaga
berpalinglah
hindari terpaan beliung
jangan kejar camar yang bertarung
jangan tebar dendam yang menggulung
karena kelak kau yang bakal terhempas
leleh jadi berkas kayu lapuk meranggas
raga rapuh ini pernah mengantarmu
ke tengah luasan hamparan angin yang mengelus batang
ranum di teras langit
tak kan bisa kau balas kendati dengan ringgit sebukit
atau dengan seribu bidadari yang kau turunkan dari alam gaib
maka sekaranglah sebaiknya kau tebar teratai
jangan tunda sampai segalanya tak lagi bisa kau gapai
Andy Wasis 24072010
7.24.2010
7.19.2010
DIA YANG SELALU BERTELANJANG DADA
Dia yang selalu bertelanjang dada
Berjalan gontai tanpa arah pasti
menyusuri serakan sisa-sisa jerami
dari rumah yang ramai oleh penghuni
kadang dia menyingkir bila berpapasan
berdiri dengan menadah tangan
sorot mata lugu meredam kenangan
bukan uang dia kehendak
cuma sebatang rokok
penokok lelah dan ingatan yang tak lagi menohok
Saat matahari bangkit menebar cahaya langit
Dia turun ke kali kecil menceburkan tubuh yang secuil
Segumpal urat dan belulang mencuat dari balik balutan kulit kerdil
Tak acuh kalau pada tepian ada yang menebar lihat
Tak peduli pada serangga pagi yang terbang menebar bau sangit
Di situ dia mengulas diri
Melepas kesegaran aroma pagi
Konon tak ada cerita pasti
Kecuali cericit murai lelah
Membawa darah dari sayatan masa lalu
Ketika sekelompok orang merampas dan menegakkan kepalsuan
Di pertiwi yang semestinya sarat keberagaman
Dia terkapar terhempas
Tersengat seribu besaran arus ganas
Konon sejak itulah dia mulai bertelanjang dada
Dan terus membiarkan dadanya yang kerempeng terbuka
Terbuai angin dan sengatan terik mentari
Sekarang dia telah tiada
Pergi meninggalkan sisa juang yang tak pernah tercapai
Diiring beribu bidadari menuju belaian lengan abadi
Selamat jalan lelaki kurus bertelanjang dada
Selamat jalan
Kami kenang kamu
Korban dari ketamakan masa lalu
Andy Wasis 18072010
Berjalan gontai tanpa arah pasti
menyusuri serakan sisa-sisa jerami
dari rumah yang ramai oleh penghuni
kadang dia menyingkir bila berpapasan
berdiri dengan menadah tangan
sorot mata lugu meredam kenangan
bukan uang dia kehendak
cuma sebatang rokok
penokok lelah dan ingatan yang tak lagi menohok
Saat matahari bangkit menebar cahaya langit
Dia turun ke kali kecil menceburkan tubuh yang secuil
Segumpal urat dan belulang mencuat dari balik balutan kulit kerdil
Tak acuh kalau pada tepian ada yang menebar lihat
Tak peduli pada serangga pagi yang terbang menebar bau sangit
Di situ dia mengulas diri
Melepas kesegaran aroma pagi
Konon tak ada cerita pasti
Kecuali cericit murai lelah
Membawa darah dari sayatan masa lalu
Ketika sekelompok orang merampas dan menegakkan kepalsuan
Di pertiwi yang semestinya sarat keberagaman
Dia terkapar terhempas
Tersengat seribu besaran arus ganas
Konon sejak itulah dia mulai bertelanjang dada
Dan terus membiarkan dadanya yang kerempeng terbuka
Terbuai angin dan sengatan terik mentari
Sekarang dia telah tiada
Pergi meninggalkan sisa juang yang tak pernah tercapai
Diiring beribu bidadari menuju belaian lengan abadi
Selamat jalan lelaki kurus bertelanjang dada
Selamat jalan
Kami kenang kamu
Korban dari ketamakan masa lalu
Andy Wasis 18072010
Langganan:
Postingan (Atom)