Dia yang selalu bertelanjang dada
Berjalan gontai tanpa arah pasti
menyusuri serakan sisa-sisa jerami
dari rumah yang ramai oleh penghuni
kadang dia menyingkir bila berpapasan
berdiri dengan menadah tangan
sorot mata lugu meredam kenangan
bukan uang dia kehendak
cuma sebatang rokok
penokok lelah dan ingatan yang tak lagi menohok
Saat matahari bangkit menebar cahaya langit
Dia turun ke kali kecil menceburkan tubuh yang secuil
Segumpal urat dan belulang mencuat dari balik balutan kulit kerdil
Tak acuh kalau pada tepian ada yang menebar lihat
Tak peduli pada serangga pagi yang terbang menebar bau sangit
Di situ dia mengulas diri
Melepas kesegaran aroma pagi
Konon tak ada cerita pasti
Kecuali cericit murai lelah
Membawa darah dari sayatan masa lalu
Ketika sekelompok orang merampas dan menegakkan kepalsuan
Di pertiwi yang semestinya sarat keberagaman
Dia terkapar terhempas
Tersengat seribu besaran arus ganas
Konon sejak itulah dia mulai bertelanjang dada
Dan terus membiarkan dadanya yang kerempeng terbuka
Terbuai angin dan sengatan terik mentari
Sekarang dia telah tiada
Pergi meninggalkan sisa juang yang tak pernah tercapai
Diiring beribu bidadari menuju belaian lengan abadi
Selamat jalan lelaki kurus bertelanjang dada
Selamat jalan
Kami kenang kamu
Korban dari ketamakan masa lalu
Andy Wasis 18072010
7.19.2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar