4.10.2008

LANGIT CERAH DI ATAS KA’BAH

ALIA, I LOVE YOU

Andy Wasis



26 Maret 2008
Jeddah I’m Coming

Saya bersyukur ke hadirat Allah SWT, setelah sepuluh tahun saya kembali menjejakkan kaki di Jeddah sebuah kota internasional, kota pelabuhan, pintu gerbang tanah suci. Kali ini saya bersama istri, anak-anak, dan cucu (Hj. Zainimar, Dian Larasati, Lisa Dwiharini, Indri Septiati, Ratih Mulyatina, Dilla Edithiana) kami melaksanakan Umrah Juma’tain bersama Alia Wisata. Berbeda dengan sepuluh tahun lalu, ketika itu istri saya masih gagah, sehat, walau tanda-tanda penyakit jantungnya sudah tampak. Tetapi dia lincah dan mandiri. Sekarang, dia harus berada di atas kursi roda, namun semangatnya masih menggebu-gebu.
Bersama kami ada pula rombongan sahabat-sahabat, Hartoyo Partowijono, Tutik Susanti, Nerri Suwarso Suranto, Roi Inanda, Yustin Angesti, Siti Sofiyah, Atikah, Suciatmi Iman Sayuti, Amos Soetojo, Dimas Bagus Priyowicaksono, Suwari Martai, Abdul Rachman, Dewi Nia Kurniatin, Dewi Lisnawati, Amirudin Rachmad, Faisal Ferdian Syahmir, Ida Herlina, Suhaeni. Rombongan umrah ini terdiri atas dua program, yaitu program 9 hari dan 13 hari. Saya bersama istri, anak-anak, dan cucu mengikuti program 13 hari.
Pada pukul 16.30 waktu setempat pesawat Garuda 747-400 dengan nomor penerbangan GA-9802 mendarat dengan mulus di Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz. Pesawat kami mendapat fasilitas mendarat di terminal Haji. Terminal ini sepi sedang bebedah menghadapi musim haji tahun depan, pelayanan imigrasinya simple dan bersahabat, tetapi karena personilnya sedikit jadi agak lama. Alhamdulillah dua keluarga yang mendorong kursi roda, keluarga saya dan keluarga Bapak Amirudin Rachmad keluar dari antrian. Kami diberi kemudahan pemeriksaan sehingga lebih dulu keluar dari ruang imigrasi.
Di luar ruang pemeriksaan imigrasi kami disambut oleh seorang anak muda bersahaja, lugu, dan rendah hati. Dia mengenalkan dirinya, Hasbi. Saya teringat ketika di pesawat mengisi form kedatangan ada nama Ustadz Hasbi. Dia ini ustadz yang akan membimbinng kami dalam tour umrah. Semula saya membayangkan yang akan membimbing kami adalah ustadz yang kearab-araban mengenakan gamis putih, tutup kepala kafiyeh belang merah, wajah yang dibuat agar kelihatan berwibawa, membawa bendera seperti layaknya pembimbing-pembimibing lain.Kirana pembimbing kami adalah anak muda dari Lombok yang sederhana, bersahaja, tawaduq tetapi tidak kalah pandainya dengan yang lain, yang kemudian kami kenal namanya Mohammad Hasby Assidiqin. Pada pertemuan pertama sudah terkesan baik. Saya jadi ingat sabda Rasulullah SAW, “Apabila pada pertemuan pertama terhadap seseorang kita sudah berkesan baik, maka orang ini pasti berhati baik.” Tentulah kalau kesan sebaliknya maka akan sebaliknya pula sifat orang yang ditemui itu. Wallahu alam.
Kami diantar ke pelataran Bandara, sekitarnya sepi hanya ada beberapa bus yang akan mengangkut penumpang Garuda menuju Madinah termasuk bus untuk rombongan kami. Langit Jedah berwarna agak kelabu sore itu, udara sejuk, angin tidak terlalu deras.

27-28 Maret 2008
Madinah, kota Rasul

Sebelum agama Islam lahir kota ini bernama Yatsrib, hanya sebuah oase yang subur dikelilingi oleh bukit gersang, cadas, dan tanah tandus berbatu. Di sini bermukim orang-orang Yahudi yang ketika pada tahun 135 M diusir oleh orang-orang Romawi dari Palestina, asal-usul mereka tidak jelas. Selain itu ada juga suku-suku Arab yang telah beralih kepada Yudaisme. Sampai pada abad ke-7 terdapat tiga suku asal Yahudi di Yatstrib, yaitu Bani Quraizhah, Bani Nadhir, dan Bani Qainuqa. Mereka pemeluk monotheisme yang mengecam penyembahan berhala oleh orang-orang Makkah. Mereka hidup dari bertani (kurma), hidup berkelompok saling berdekatan tetapi bermusuhan. Sebelum Islam, penduduk Yatsrib meyakini dari orang-orang Yahudi bahwa kelak akan turun seorang nabi dari keturunan bangsa Arab. Maka, ketika mereka mendengar bahwa di Makkah ada seorang bernama Muhammad yang berdakwah dan menyatakan dirinya nabi, mereka langsung mempercayainya. Dengan tangan terbuka mereka menerimanya dan mempersilakan sang Nabi bertempat tinggal di Jatsrib. (Akan saya ceritakan sejarahnya dalam buku khusus). Setelah Muhammad Rasulullah hijrah ke Jatsrib, kota ini berganti nama menjadi Madinatu Rasul atau kota Nabi yang kemudian lebih dikenal sebagai kota Madinah. (Madinah berasal dari bahasa Arab al-Madinat yang artinya kota).
Kami sampai di kota ini pada tengah malam. Kami menempati sebuah hotel berbintang lima Al-Harram berada dekat di mesjid Nabawi. Lagi-lagi saya tercengang, kota ini telah jauh berubah dibanding sepuluh tahun lalu ketika saya bersama istri menunaikan ibadah haji. Di tengah kota gedung-gedung tinggi menjulang, tidak ada lagi pedagang kaki lima. Yang masih sama adalah cahaya terang benderang dari penerangan lampu listrik.. Sepertinya malam dan siang hari Madinah adalah sama cemerlang. Saudi Arabia tampaknya kelebihan cahaya listrik, pada waktu malam di mana-mana terang benderang, layak siang hari. Saya jadi prihatin terhadap negeri tercinta, di daerah ada listrik yang bergiliran padam.
Di masjid Nabawi kami melaksanakan salat subuh pertama. Saya bersama anak-anak dan cucu keluar dari hotel pada pukul 03 dini hari (waktu setempat). Sekitarnya masih sepi. Kami melalui sebuah gang yang di kanan-kirinya berdapat crain-crain alat berat dan sesekali melintas truk tangki membawa coran semen. Berbeda dengan Makkah, di masjid Nabawi pintu untuk wanita dan lelaki terpisah. Istriku didorong oleh anak-anak menuju ke pintu untuk wanita dan saya mengikuti beberapa jamaah menuju ke pintu untuk lelaki. Ruang mesjid masih sepi ketika saya masuk. Mengikuti arus orang ramai saya terus ke depan dan duduk tidak jauh dari mimbar imam. Azan belum lagi dikumandangkan. Saya sempat melaksanakan beberapa salat sunah sampai azan pertama pada pukul 04.00 berkumandang. Pada pukul 5.15 azan subuh dikumandangkan. Usai salat subuh saya keluar, tetapi tidak berbalik ke arah belakang tempat pintu semula masuk, saya terus mengikuti arus ke depan. Keluar dari pintu saya berbalik ke arah kiri, saya tahu bahwa hotel berada di arah kiri mesjid. Namun, setiba di ujung pelataran mesjid saya tidak melihat gang-gang yang semula kami lalui, di sana justru banyak para pedagang menghampar berbagai jualan mereka, persis seperti pasar kaget atau pasar dadakan di Indonesia. Saya jadi keder, kehilangan arah. Dimana gerangan hotel saya? Saya bertanya kepada seorang Arab dalam bahasa Inggris, “Bisakah anda tunjukkan di mana hotel Al-Haram?” Orang Arab ini tidak mengerti rupanya, tetapi tiba-tiba seorang anak muda menyapa saya. “Hai, Bapak. Itu hotelnya.” (Kelak kuketahui dia bernama Roy).
Al-Haram ternyata ada di sisi kanan saya. Lagi-lagi saya pangling, sekarang pada kedua sisi koridor hotel toko-toko mulai buka. Setelah saya amati, ternyata pada dini hari tadi kami keluar di pintu sisi lain yang tidak ada pertokoannya.
Beberapa saat kemudian anak-anak datang mendorong mamanya di kursi roda.Kami makan pagi di restoran hotel. Hidangan yang disajikan adalah masakan Indonesia sehingga tidak mengubah selera makan.
Siang harinya jamaah lelaki berjiarah ke makam Baqi, sedangkan jamaah wanita langsung ke makam Rasulullah dan Raudah. Jamaah lelaki usai berjiarah ke makam Baqi langsung berjiarah ke makam Rasulullah dan Raudah, kemudian melanjutkan seluruh kegiatan salat di Masjid Nabawi.
Hari Jum’at 28-Maret2007 usai salat Jum’at kami berangkat ke Makkah. Sebelumnya kami berkunjung ke beberapa mesjid bersejarah di Madinah, di antaranya adalah mesjid yang dibangun Rasulullah saat hijrah menjelang memasuki kota Madinah, yaitu masjid Quba. Sesaat rombongan hendak berangkat kami mendapat kabar Mak Elok (Zaidar) kakak istri saya meninggal dunia di Jambi. Inalillahi wa ina ilaihi rajiun. Kami membacakan surah Fatihah untuk almarhumah, semoga arwahnya ditempatkan pada tempat yang layak di sisi Allah, diampuni segala dosa, dan diterima semua amal ibadahnya. Amin.

28 Maret – 6 April 2008
Makkah Al-Mukarramah

Pada zaman dulu Makkah berada di sebuah lembah sempit dan terkepung oleh bukit-bukit batu. Ada tiga jalur lintasan sebagai jalan yang menembus bukit-bukit itu menuju Mekah. Ketiga jalur jalan itu berasal dari arah Yaman; Laut Merah; dan Palestina. Di sini dulu Nabi Ibrahim menempatkan istrinya, Siti Hajar dan putranya Ismail. Barulah setelah Ismail dewasa, Ibrahim mencarinya kemudian mereka membangun Ka’bah atau Baitullah. Pada masa itu Makkah dihuni oleh suku Jurhum dari Yaman yang kemudian dikalahkan oleh kaum Khuza’ah. Selama beberapa abad kaum Khuza’ah mengusai kota ini. Sementara itu Ismail menikah dengan wanita suku Jurhum keturunannya disebut Bani Ismail. Keturunan Ismail berkembangbiak dan yang menetap di Makkah adalah suku Quraisy. Pada abad ke-5 suku Quraisy mengambil alih kekuasaan Makkah dari tangan kaum Khuza’ah. Dan, terus menguasai kota serta memelihara ka’bah berabad-abad lamanya.
(Sejarah singkat kota Makkah akan saya tulis dalam buku)
Saat ini Makkah sedang bebenah, bukit batu pada kedua sisi kota tengah diruntuhkan akan dibangun gedumg-gedung megah. Bagian Pintu Babu Sallam dari masjidil Haram pun sudah diruntuhkan, tampaknya masjid akan diperluas lagi. Pasar Seng yang telah terkenal sejak berabad lalu telah tiada, pasar seng tinggal kenangan bagi para jamaah haji masa lalu.

Makkah Mawadah Bintang Pudar

Kami berangkat dari Madinah ke Makkah melalui Bir Ali. Di sana rombongan mengambil miqot untuk umrah, melaksanakan niat dan salat sunah umrah. Menjelang malam kami memasuki kota Makkah. Kami diantar ke sebuah hotel bernama Makkah Mawadah. Masya Allah, ini hotel tua yang tidak sesuai dengan janji Alia di Jakarta. (Alia Wisata berjanji akan menempatkan rombongan di Makkah pada hotel bintang empat. Ternyata kami ditempatkan pada hotel bintang pudar). Aku menempati kamar 704 dengan 4 tempat tidur yang salah satunya ditempatkan di sebuah lorong. Dua orang anak dan cucuku menempati kamar 711 dengan AC window zadul (zaman dulu, alias ketinggalan zaman). Life-nya juga zadul, sudah ketinggalan zaman. Cucuku, Dilla “bete”. Ibunya panik menelepon Sdr Fajra, pengurus Alia di Makkah, meminta pindah hotel. (Tetapi sampai keesokan harinya sdr. Fajra tampaknya tidak bisa memenuhi permintaan pindah hotel ini) Tempat makan berada di ruang bawah dengan dua tangga yang berliku. Hal ini tidak memungkinkan untuk istriku turun. Suasananya pun tidak nyaman, seperti pasar pagi. Kami memutuskan untuk mengambil hidangan dan makan di kamar.
Ketidaknyamanan ini terobati oleh keramahan seorang mutawif yang lugu, bersahaja, tawaduq, anak Lombok bernama Hasbi. Saya membujuk anak-anak unuk menerima keadaan ini. Apalagi setelah saya mendengar seorang jamaah dari Bandung yang ikut dalam rombongan Perusahaan Wisata milik Kiyai kondang Bandung “terlantar”. Menurutnya, hotel kami jauh lebih baik dibanding tempatnya. Ia berniat akan kembali ke Jeddah dan pulang ke tanah air. Wallahu alam.
Tawaf umrah pertama dilakukan pada tengah malam. Saya terpisah dari rombongan dan anak-anak. Pada tawaf dan sai pertama ini saya sendiri mendorong istri di atas kursi roda. Saya melaksanakan tawaf dengan santai sambil membaca doa. Di atas kursi roda istri saya membaca buku doa tawaf yang diberikan oleh Alia Wisata. Usai tawaf kami melaksanakan salat sunah sesudah tawaf. Kami berdiri sejajar dengan makom (petilasan) Ibrahim. Kemudian saya mendorong kursi roda istri ke tempat sai. Menjelang ke tempat sai saya melihat anak-anak dan rombongan sedang berdoa menghadap ka’bah. Rupanya mereka juga baru menyelesaikan tawaf umrah.
Saya bersama istri melaksanakan sai. Apakah tujuan sai itu? Firman Allah dalam surat Albaqarah ayat 158 sebagai berikut, “Sesungguhnya Safa dan Marwa adalah sebagian dari syiar-syiar Allah. Maka barang siapa yang berhaji ke Baitullah atau umrah maka tidak salah baginya mengerjakan sai antara keduanya.”
Alhamdulillah saya mampu mendorong kursi roda menaiki dua bukit Safa dan Marwa. Pukul 02.45 dini hari kami menyelesaikan semua rangkaian umrah termasuk bertahalul. Kami pulang ke hotel, tetapi anak-anak dan rombongan ditunggu tak kunjung datang, sedangkan kunci kamar mereka bawa. Seorang petugas hotel bernama Husein (Arabi) berbaik hati meminjamkan kami kunci cadangan sehingga aku bisa mandi dan melepas pakaian ihrom. Menjelang pukul 04.00 aku bersama istri kembali ke Masjidil Haram melaksanakan rangkaian salat sampai usai salat subuh.

Polisi Malaysia yang Doyan Tempe

Selama di Makkah saya bertemu dengan berbagai bangsa, Mesir, Turki, Banglades, Pakistan, Colombo, Pilipina dan berbincang-bincang dengan mereka. Sama seperti masa haji, orang Turki paling banyak dan mendominasi masjidil Haram. Saya sempat berbincang, bahwa mereka memiliki suatu organisasi umrah dan haji, semacam koperasi yang menyediakan dana bagi keberangkatan mereka. Mereka menabung dan menggunakan tabungan itu untuk berhaji atau umrah. Setiap kali berjumpa dengan orang Mesir, mereka selalu memuji bahwa bangsa Indonesia adalah Muslim yang baik, “good Muslim.”
Pada suatu hari menjelang salat Magrib, saya bertegur sapa dengan orang Malaysia, dari Serawak, tinggal di Kucing. Dia seorang anggota polisi. Dia datang umrah mengantar ibundanya yang sudah uzur. Menurutnya sang ibu tidak lagi kuat untuk melaksanakan haji, maka diajaklah umrah. Ayahnya telah lebih dahulu melaksanakan haji. Dia menanyakan tentang harga-harga sembako di Indonesia. Menurutnya, harga bahan pangan di Indonesia mahal. Saya bilang, ada yang mahal tetapi juga ada yang murah. Kedelei termasuk yang mahal karena di impor dari Amerika. Sehingga harga tempe dan tahu mahal, kata saya. Lalu saya bertanya, “Anda mengenal tahu dan tempe?” Sambil tersenyum dia menjawab, “Saya ini keturunan Jawa. Kami makan tempe, tahu, bahkan tiwul, dan getuk.” Wau! Dia pun bercerita bahwa di lingkungan keluarganya bahasa Ibu masih digunakan, yaitu bahasa Jawa. Namanya, Haji Suparis bin Haji Abuyamin orang tuanya berasal dari Magelang, namun dia sendiri belum pernah ke sana dan tidak mengenal sanak kerabatnya.

Umrah Kedua

Setelah melaksanakan city Tour kami singgah di mesjid Jakronah. Jakronah adalah sebuah desa kecil di luar kota Makkah. Di sini terdapat sebuah mesjid yang kini lebih apik dan asri dibanding ketika saya melaksanakan haji sepuluh tahun lalu. Ada kisah yang menarik tentang Jakronah, yaitu sebuah legenda yang sangat terkenal di negeri ini.
Konon menurut kisah, sehabis perang Hunain Rasulullah berhenti di daerah gersang ini bersama tentaranya. Persediaan air bala tentaranya habis. Rasulullah berdoa kepada Allah, lalu memukulkan tongkatnya ke tanah. Di tempat itu keluar air yang kemudian berkembang menjadi sumur. Sumur itu diberi nama Bir Thoflah yang sampai sekarang masih ada di halaman samping mesjid. Sampai kini setiap jamaah berusaha untuk mengambil atau membawa pulang air sumur itu.
Sementara legenda lain berkisah bahwa Jakronah adalah nama seorang nenek tua. Ia berada di padang pasir yang gersang. Saat ia kehausan, ia bertemu dengan kafilah Nabi. Ia memohon agar Nabi menyediakan air baginya. Nabi berdoa kepada Allah. Doa Nabi Muhammad s.a.w dikabulkan Allah. Di tempat itu mengalir sebuah sungai kecil. Konon, sungai itu sekarang sudah tidak ada. Waullahu alam .
Di mesjid Jakronah kami migot untuk melaksanakan umrah kedua. Hari masih pagi, sehingga ketika kami sampai kembali ke Makkah menjelang zuhur. Atas kesepakatan bersama kami akan melaksanakan tawaf dan sai siang hari ini.
Matahari Makkah benderang, panasnya amat terik, kendati ada angin yang membawa arus suhu menjadi agak sejuk, yaitu 27 derajat Celsius. Walaupun matahari menyengat, namun lantai di halaman Ka’bah sangat sejuk. Sehingga, bertelanjang kaki pun tidak terasa panas. Kali ini saya bertawaf bersama anak-anak dan cucu, sehingga ada yang menggantikan untuk mendorong kursi roda istri saya.
Dalam dua kali umrah ini saya tidak melaksanakan umrah untuk diri sendiri, saya sudah haji, sehingga boleh melaksankan umrah untuk orang lain. Umrah pertama saya niatkan untuk Ibunda Rr. Rukmini, dan umrah kedua saya niatkan untuk ayahanda.

Alia I Love You

Rombongan umrah Program 9 hari telah berangkat ke Jeddah untuk meneruskan perjalanan pulang ke tanah air. Di Makkah tinggal 13 orang rombongan umrah program 13 hari. Hari ini, tanggal 1 April 2007 saya pindah ke kamar nomor 702. Kamar ini agak lebar dan tidak pengab. Lega juga rasanya menempati kamar yang lapang. Sisa waktu kami gunakan untuk melaksanakan ibadah semaksimal mungkin sampai pada tanggal 5 April 2007 kami meninggalkan Makkah menuju ke Jeddah.
Di Jedah kami menginap di Mercure Grand Golden Hotel, sebuah hotel berbintang lima yang megah. Saya bersama istri dan anak menempati sebuah kamar suite yang mewah. Wau, tampaknya ini adalah kompensasi Alia bagi rombongan setelah kami pengab di Makkah dengan hotel bintang pudarnya. Menu makanannya yang bagi sebagian rombongan tidak cocok, yang dihidangkan nasi kebuli ala Arab dengan daging kambing muda.
Malamnya kami berjalan-jalan ke Balad, yaitu pusat perbelanjaan. Di sini kami dapati orang-orang Indonesia yang bekerja pada toko-toko orang Arab. Nama toko-tokonya banyak menggunakan kata “murah” seperti Toko Amir Murah, Toko Abas Murah. Tampaknya memang untuk menarik para jamaah dari Indonesia yang konon suka belanja. Soal harga barang yang dijual, wallahu apa benar murah?
Seperti di kota-kota lain, di sini kami juga diajak tour ke Laut Merah menyaksikan Mesjid Terapung yang konon dibangun oleh seorang penyanyi. Istri saya tidak turun dari bus, saya juga tidak masuk ke mesjid. Sepuluh tahun yang lalu saya pernah salat di mesjid ini. Usai city tour kami diantar ke Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz pada pukul 16.00.
Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, saya bangga kepada Alia Wisata. Mereka tidak menelantarkan rombongan, kebutuhan makan dan minum tercukupi, bahkan melimpah, pelayanan mutawifnya cukup baik, demikian juga ketika mengantar kami pulang, semua cargo diurus oleh mereka.. Kalau Allah SWT berkenan memberi rezeki, saya akan umrah lagi dan tentu saja dengan Alisa Wisata. Alia, I love you

Tidak ada komentar: