2.10.2008

Anak-anak Lampu Merah

Anak-anak Lampu Merah

Cerpen Andy Wasis

Lampu lalu lintas sedang menyala hijau. Kendaraan melaju cepat. Jono, Iming, dan Dedi, anak-anak jalanan duduk santai di bawah pohon. Mereka menunggu sampai lampu lalu lintas di sisi jalan ini menyala merah. Pada saat lampu lalu lintas merah, mereka akan kembali ke sisi jalan menadahkan tangan mengemis lagi. Anak-anak di sisi yang lain akan duduk beristirahat. Anak-anak jalanan itu sudah mempunyai masing-masing kavling mereka tidak saling mengganggu. Usia mereka belasan tahun. Mestinya mereka masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Tuntutan hidup menyebabkan mereka harus mengemis.
“Kalau besar aku pingin jadi dokter,” ujar Jono.
“Aku mau jadi insinyur,” kata Iming.
Dedi berdiam diri saja. Duduk tafakur sambil mengawasi kendaraan-kendaraan yang melaju kencang. Di sisi lain, tempat lampu lalu lintas menyala merah temam-teman mereka mengemis dari mobil ke mobil.
“Kenapa kamu mau jadi insinyur?” tanya Jono.
“Mau bangunkan rumah buat makku.”
“Sekarang makmu di mana?”
“Itu!” Dia menunjuk ke arah gubuk-gubuk dari karton yang tersandar pada dinding pagar gedung mewah.
“Makmu di sana?”
“Ya. Sedang sakit.”
Jono menghela napas, “Kalau aku sudah jadi dokter, biar aku yang mengobati makmu. Tidak bayar.” Dia tertawa. Lalu menoleh kepada Dedi, “Hei, Ded, kalau besar kamu mau jadi apa?”
“Jadi tukang pengantar surat. Tukang pos!”
Jono dan Iming tertawa terbahak.
“Ha, jadi pengantar pos,” ejek mereka.
“Jangan mengejek, pekerjaan pengantar pos itu mulia.. Menyampaikan pesan orang lain. Silaturahmi. Sama dengan pekerjaan para nabi, mengantar pesan Tuhan kepada umatnya.”
“Iming, kamu mau jadi insinyur?”
“Kenapa?” “Dari mana biaya sekolahmu?”
Iming tertawa terkekeh. Lantas bertanya kepada temannya itu, “Kamu Jono, dari mana pula biayamu untuk sekolah dokter?”
“Aku mau belajar nyuntik saja sama Pak Mantri. Lalu keliling kampung mengobati orang, pasti orang-orang kampung memanggilku dokter. He..hee.”
“Apa ada mantri yang mau ngajari kamu nyuntik?”
Jono tercenung sesaat. Dia teringat di kampungnya dulu, pak liknya menjadi mantri kesehatan. Penduduk kampung datang kepadanya meminta diobati. Tetapi itu dulu, ketika dia masih amat kecil. Ketika disunat dulu, pak liknya yang memotong ujung kemaluannya. Sekarang? Entahlah di mana orang tua itu. Masih hidupkah? Desanya telah lebur dilanda musibah gempa bumi, disertai banjir dan angin puting beliung. Sanak kerabat saling terpisah. Itu pula yang menyebabkan dia terdampar di kota menjadi anak gelandangan.
Tiba-tiba saja Jono jadi sedih.
“Ah, itu ‘kan cuma mimpi!” seraya berlari menjauh.“Hei, lampu sudah merah!” teriak Iming.
Iming, Dedi bangkit dan bergegas lari ke arah mobil-mobil yang mulai berhenti. Jono juga segera berlari ke sana. Tetapi baru saja Dedi hendak melangkah dari trotoar, ada suara memanggil namanya.
“Dedi!” seorang anak perempuan berpakain kumuh membawa kaleng bekas susu manggilnya. Usia anak itu terpaut dua tahun lebih muda dari Dedi.
Dedi menghampiri.
“Ada apa, Rah?”
“Aku belum makan. Dari pagi.”
“Ya, sudah beli sana.”
Irah menungkingkan kalengnya. Kaleng itu kosong.
“Kamu belum dapat uang?”
Irah menggeleng.
Dedi merogoh saku, mengambil sejumput uang logam.
“Ini! Sana beli!”
Tolonglah, Ded, belikan. Kakiku sakit.” Rengek anak perempuan kecil itu seraya memperlihatkan borok di kakinya yang terbungkus kain lusuh. Pada kain lusuh itu terdapat bercak-bercak darah bercampur nanah. Irah tahu, Dedi amat berperhatian kepadanya. Dia memanfaatkan situasi itu.
Dedi berlari ke arah kedai nasi di pinggir proyek bangunan gedung. Ia membeli sebungkus nasi dengan tempe goreng dan mengambil sejumput garam dan cabe rawit. Ia bergegas kembali ke tempat Irah menanti. Setelah bungkus penganan itu diserahkan kepada Irah, lampu menyala merah. Jono dan Iming berlari ke trotoar, mereka duduk santai di rerumputan.
“Dapat berapa?”
“Lumayan,” sahut Jono .
“Kamu?” bertanya kepada Dedi.
Dedi menggeleng.
“Tidak sempat.”
“Kenapa?”
“Si Irah minta belikan nasi.”
“Anak ceking itu makannya banyak!” ujar Iming.
Jono berdiri, berpindah tempat duduk agak jauh dari mereka. Ia mengeluarkan kaleng kecil, membuka tutupnya lalu asyik menghirupnya. Sesaat kemudian ia merebahkan diri ke rumputan sambil terus menghirup aroma lem aica aibon.
“Mulai teler dia!” ujar Iming, “bagaimana mau jadi dokter, tukang mabok!”
Dedi tidak berkomentar. Anak ini diam saja. Dia memang anak pendiam. Sudah dua tahun dia menggelandang dan mengemis di perempatan jalan ini. Dia mulai menggelandang sejak ibunya hilang tertelan gelombang sunami yang menerjang desanya di pinggiran pantai Pelabuhanratu. Tidak ada lagi sanak famili di desa. Dengan menumpang truk bermuatan ikan dia terdampar di keramaian ibukota. Untuk biaya makan, tidak ada jalan lain kecuali mengemis. Memang bertentangan dengan hati nuraninya, tetapi nasib tidak bisa dihindari. Malam hari dia tidur di emper gedung yang tengah dibangun. Di sana juga anak-anak lainnya tidur. Kecuali Iming, dia tidur di gubuk maknya, karena harus menunggui maknya yang sedang sakit.
Lampu menyala merah kembali. Jono bergegas. Dedi yang baru saja mau duduk segera pula bangkit. Dia sudah kehilangan satu peluang karena membelikan nasi untuk si Irah. Tiba-tiba terjadi keributan di tempat gubuk-gubuk liar. Ada razia gelandangan dan gepeng. Sepasukan Satpol PP membongkari gubuk-gubuk yang terbuat dari karton bekas serta menangkapi para gelandangan.
Anak-anak di sudut lain lampu lalu lintas itu segera berlari.
“Makku!” teriak Iming. Dia akan berlari ke arah gubuk maknya.
Dedi mencegahnya.
“Jangan, nanti kamu ditangkap! Ayo, lari!”
Dedi menyeretnya.
“Makku.”
“Makmu pasti bisa menyelamatkan diri. Nanti kamu bisa bertemu lagi dengannya. Ayo, lari!”
“Dia sakit, Ded.”
“Apakah mau kamu ditangkap, dijebloskan ke kurungan?” Dedi belum pernah terkena razia, tetapi ada anak lainnya yang bercerita kepadanya. Kalau anak gelandagnan terkena razia, akan dimasukkan tahanan. Mendengar kata tahanan, dia teringat tahanan polisi, jadi dia sangat takut.;
Dengan perasaan cemas Iming berlari bersama Dedi. Tetapi di suatu tempat yang agak aman dia berhenti.
“Ayo, Iming!” seru Dedi.
“Duluan. Aku ingin melihat makku!”
Dedi meninggalkan Iming. Ketika dia akan menyeberang jalan di perempatan lain, tiba-tiba lampu lalu lintasnya menyala hijau. Kendaraan-kendaraan melaju kencang. Dedi berhenti di sisi jalan menunggau saat tepat untuk menyeberang. Tiba-tiba terdengar suara rem kendaraan menciut kencang. Terjadi tabrakan beruntun. Sesaat jalan macet, penuh oleh kendaraan yang berhenti. Beberapa orang dari sisi-sisi jalan berlarian ke arah terjadinya kecelakaan. Dedi berdiri terpaku di sisi jalan. Ia ingin mendekat ke arah terjadinya kecelakkan, tetapi takut tertangkap Satpol PP.
Dua orang perempuan lewat di sisi Dedi.
Salah seorang berujar, “Hi, ngeri ya, kepalanya pecah!”
“Pasti anak gelandangan itu!” ujar yang seorang.
Mendengar kata “anak gelandangan” Dedi terkejut.
“Ada apa, Bu?” dia bertanya.
“Anak gelandangan tertabrak mobil!” jawab perempuan itu tak acuh.
Dedi makin terperanjat. Tadi dia melihat Jono berlari menyeberang jalan saat banyak kendaraan melaju cepat.
“Jono!” keluhnya. Secara refleks dia akan berlari ke sana. Namun langkahnya segera tertahan karena tampak polisi telah berada di sana. Mobil pickup Satpol PP yang memuat orang-orang yang terkana razia pun melintas. Dedi takut. Dia lari berbalik arah memasuki gang kecil ke arah kampung. Tiba di daerah perkampungan dia duduk di sebuah teras rumah gubuk sederhana. Teras itu terbuka dan di san ada sebuah bale-bale bambu yang sudah reot.
“Mudah-mudahan bukan Jono,” keluhnya.
Dedi tidak tahu telah berapa lama dia tertidur di bale bambu itu, ketika tiba-tiba dia mendengar ada benda yang disandarkan di sisinya. Dedi terjaga, ia melihat sebuah sepeda ontel yang dibagian goncengannya tersampir tas dari terpal. Dedi teringat pada sepeda tukang pos di desanya. Itu sebabnya dia ingin menjadi tukang pos, banyak kenalan dan selalu berkeliling ke desa-desa.
“Hai, kamu siapa?” seorang lelaki tua menegurnya.
“Maaf, Pak saya tertidur karena cape.”
“Ya, sudah kalau masih ngantuk, tidur lagi saja.”
“Tidak, saya mau pergi,” ujar Dedi seraya turun dari bale bambu itu.
“Kamu mau pulang? Di mana rumahmu?”
Dedi menggeleng, “Saya ….”
Lelaki tua itu memperhatikannya. Dia teringat akan anak lelakinya yang meninggal ketika masih kecil dulu. Seandainya dia tidak meninggal pasti sudah sebaya anak ini, pikirnya. Istrinya juga sudah meninggal, dia tinggal sendiri di rumah gubuk ini.
“Kamu tidak punya rumah?” duga lelaki tua itu.
Dedi mengangguk.
“Kalau kamu mau, boleh tinggal di sini. Bapak tinggal sendirian.”
Tawaran itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Dedi.
“Boleh saya tinggal bersama Bapak?”
“Boleh.”
“Saya akan membantu membersihkan rumah dan pekarangan ini, jika bapak mengijinkan saya tinggal di sini.”
“Ya,” ujar lelaki tua itu. Alih-alih anak ini menggantikan keberadaan anakku, pikirnya.
Kehadiran Dedi di lingkungannya, menyebabkan orang tua itu tidak merasa kesepian. Bahkan Dedi disekolahkan sampai tamat SMP. Setamat Dedi dari SMP, bersamaan pula lelaki tua itu pensiun dari tempat kerjanya, di kantor pos desa. Atas usulnya, Dedi diterima bekerja menggantikanya sebagai tukang pengantar surat.

*

Lima tahun telah berlalu. Dedi menuntun sepedanya melewati sisi pagar seng sebuah pekarangan yang bangunannya baru dirobohkan. Tampaknya di tanah ini akan dibangun gedung baru. Tiba-tiba pintu pagar seng terkuak, seorang lelaki bertopi caping menarik gerobak penuh muatan besi-besi beton bekas. Melihat ada tukang pos, lelaki pemulung itu memanggilnya.
“Hei, tukang pos!”
Dedi berhenti. Lelaki itu mehampirinya.
“Kamu Dedi?” tanya lelaki itu.
“Ya.”
Lelaki itu tertawa terbahak-bahak.
“Akhirnya, aku bisa bertemu dengan si tukang pos. Dedi.”
“Bagaimana kamu mengenali aku?”
“Tidak aku hanya menduga-duga. Setiap kali aku bertemu dengan orang yang membawa sepeda seperti ini, aku menegurnya. Tetapi semua tidak mengaku Dedi, baru kamu yang mengaku bernama Dedi. Benar kamu Dedi anak lampu merah di sudut perempatan kota dulu?”
“Ya,” ujar Dedi, “siapa kiranya kamu?”
Lelaki pemulung itu tertawa terbahak-bahak lagi.
“Kamu ingat anak yang bermimpi menjadi insinyur?”
Serta-merta Dedi teringat temannya.
“Iming. Kamu Iming?”
Dedi menyandarkan sepedanya, lalu menyalami Iming, bahkan dia hendak memeluknya.
“Hei, pakaianku kumuh, kotor, bau. Kamu sudah bukan Dedi yang dulu lagi. Kamu sudah berpakaian rapi.”
“Tapi kamu tetap sahabatku,” ujar Dedi.
“Impianmu tercapai, ya. Jadi tukang pengantar surat, tukang pos! Ha..ha..ha… Aku naik tingkat juga, tidak mengemis lagi. Lebih terhormat sedikit, menjadi pemulung. Bukankah pemulung juga sebuah profesi, he?”
Dedi tersenyum.
“Tunggu!” ujarnya lagi. Iming memanggil seseorang, “Irah….”
“Irah?”
Dari balik pagar seorang perempuan muncul. Dia menggendong seorang bayi kecil sambil memanggul sebuah karung berisi berbagai barang pulungan. Perempuan itu menghampiri mereka. Di hatinya bertanya-tanya, siapa gerangan kenalan Iming itu? Setelah dekat, Iming mengenalkannya.
“Kamu ingat dia?”
Perempuan itu menatapnya. Wajah lelaki yang ditatapnya itu seperti akrab dan pernah sangat dikenalnya. Tetapi dia ragu. Dia menggeleng.
“Dedi!” ujar Iming, “dia Dedi, kamu pasti ingat.”
“Ya,” keluh perempuan itu.
“Irah… Masya Allah, aku tidak mengenalinya. Bukankah dulu kamu tertangkap Satpol PP?”
“Ya, tetapi saya lari dari tempat penampungan.”
“Sekarang dan itu anak siapa?”
Irah menatap Iming sambil tersenyum.
Iming berujar, “Kami sudah kawin. Punya anak satu.”
“Kalian sudah menikah?” tanya Dedi menegaskan.
“Bukan menikah, tetapi kawin. Kamu harus dapat membedakan kata “kawin” dengan kata “nikah.” Ujar Iming.
“Maksudmu?”
“Kami kawin tanpa surat-surat resmi. Kami ijab kabul hanya di hadapan amil,” Iming menjelaskan.
Dedi menghela napas.
Irah bertanya, “Di mana Jono?”
“Jono?” Dedi kembali teringat peristiwa anak gelandangan yang tertabrak kendaraan sangat menyelamatkan diri dari razia Satpol PP. “Kalian tidak pernah bertemu Jono selama ini?”
Irah dan Iming menggeleng.
Dedi menghela napas. Di dalam hatinya dia berujar, “Kalau begitu, Jono sudah di alam baka.” Tetapi tidak dia ucapkan apa yang tersirat di dalam hatinya ini. Dia menggelengkan kepala sambil menatap tajam dua orang sahabatnya itu.

***

Tidak ada komentar: