AKU DAN BUNDA
1.
Hanya secabik kain kasa
bertuliskan
tanggal
bulan
tahun
dan sepenggal nama
dari julukan nabi terakhir
yang menandai kelahiranku
Kasih ayah bunda
tenggelam dalam samar
rengkuhan
kakek tua etnis Cina
dan perempuan renta
berkebaya tradisi Jawa
lugu bersahaja
mengelus tebarkan cinta
Nama yang tertera
pada cabikan kain kasa
hampir tenggelam
aku lebih dikenal
dengan nama pemberian
kakek tua dari Hokian
masa kanak
menggayut awan kelabu
perang
bumihangus kota
serdadu Belanda menyandang bedil
menebar beribu peluru mortir
jenazah pejuang
lenyap ditelan tanah berlumpur
ketika orang mulai berani
menyanyikan lagu sorak gembira
negeri telah merdeka
muncul sepasang orang muda
laki dan wanita
bercerita tentang bapak
yang gugur di medan laga
tentang ibu
bersama tiga anak yang tersisa
tersia di seberang Selat Sunda
Aku terperangah
menyadari ada ibu
ada adik
jauh di balik laut biru
di tanah Periangan
tanah asal nenek moyang
Kemudian terkuak
siapa kiranya
kakek dan perempuan renta berkebaya Jawa
mereka orang tua bunda
berasal dari balik Selat Sunda
negeri yang dulu berjaya
bandar yang pertama
disinggahi orang Belanda
telah puluhan tahun
merajut hidup
di semenanjung tanah rua jurai
di sana pula
kelak aku hidup
bergayut
baur dan hanyut
2.
serentak sendu menyengat
menghujam hangat
menebar damba
dalam hati sendu rindu
ibu
adik
bila jumpa
di tanah rua jurai
yang penuh tebaran warna putih
bunga cengkih dan kopi
suatu pagi
dalam kurun waktu pendek
bersama aroma pagi yang terkuak
empat sosok menuju teras
loyo
lemah
rapuh
usai melawan ombak ganas
dan perahu yang terhempas
perempuan tengah baya
berambut hitam ikal
berkisah
tentang pelayaran
dari ujung pantai Banten Selatan
dengan perahu bercadik dua
tapi ombak tidak kenal kasihan
badai mematahkan tiang
dan mengoyak layar
laut ganas
gelombang menggemulung
hempaskan perahu
ke tepian Krakatau
jerit
tangis
teriakan doa kepada yang kuasa
lenyap tertelan kelam
dan badai
Ketika esok hari
fajar bangkit
jauh dari kaki langit
alam benderang
laut tenang
sebuah perahu motor
bermuatan kelapa
menyelamatkan mereka
menghantar ke pantai Kalianda
seratus dua puluh kilo meter
perempuan setengah baya berambut ikal
bersama anak-anak yatim
peninggalan perang kemerdekaan
tertatih merambah jalan setapak
menuju ke pencarian
ujung kota perkebunan
Tanjungkarang
tempat tumpuan harapan
di sana
perempuan berambut hitam ikal
bersama tiga anak lelaki lainnya
bersua anak pertama
yang dititipkan
pada kakek dari etnis Cina
dan nenek dari tanah Jawa
bunda, aku dan adik-adik
insan peninggalan perang kemerdekaan
bertualang di keluasan semesta
merengkuh hidup yang tersisa
2007
9.21.2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar