10.12.2009

MENJARING MATAHARI


Dahulu kala di sebuah tepi hutan tinggal dua orang kakak beradik yatim piatu, lelaki dan perempuan. Yang lelaki menggunakan waktunya untuk berburu dan adiknya tinggal di rumah memasak, menenun pakaian, dan membersihkan rumah.
Pada suatu hari kakaknya pulang membawa seekor beruang madu yang telah mati dipanahnya.
“Adikku, aku mendapat buruan seekor beruang madu. Maukah kamu membuatkan aku mantel dari kulitnya?”
“Tentu saja aku mau,” jawab adiknya, “Kulitilah, dagingnya jadikan dendeng untuk persediaan makan kita.”
Kakaknya segera menguliti buruannya. Menyerahkan kulit beruang yang berbulu halus itu kepada adiknya. Lalu ia mengiris daging beruang dan menjemurnya.
“Akan memakan waktu satu minggu untuk membuat mantel ini. Kulit harus kering benar,” ujar adiknya.
“Ya, akan kupakai minggu depan. Bukankah minggu depan mulai musim penghujan,” ujar kakaknya.
Beberapa hari kemudian mantel kulit beruang pun selesai. Bukan main senang anak lelaki itu. Dikenakannya mantel itu. Lalu ia pergi berjalan mencari teman-temannya.
Perjalanannya sangat jauh. Sesudah menempuh perjalanan beberapa hari, dia sangat lelah. Dia beristirahat, dibukanya mantel kulitnya, lalu dibiarkan tergeletak di rumput. Sementara itu anak lelaki itu tertidur di bawah pohon.
Matahari bersinar sangat terik.
Ia terbangun ketika hari sudah hampir senja. Matahari memancarkan sinar merah di ufuk barat. Ia bergegas mengambil mantelnya, lalu mengenakannya. Betapa terkejutnya dia, mantel itu tak bisa dikenakan karena telah menciut menjadi kecil.
“Ini pasti karena ulah sinar matahari,” ujarnya dengan geram, “matahari jahat. Kamu telah mengkerutkan mantel kulit beruangku yang paling kusukai!”
Ia bergegas pulang. Adiknya heran melihat si kakak pulang dengan wajah murung.
“Mengapa engkau murung, kakakku? Mana mantelmu, mengapa tidak kaukenakan?” sapa sang adik.
“Jangan banyak tanya. Buatkan aku jaring yang besar dan kuat, aku akan menjaring sesuatu yang besar!” ujar sang kakak.
Adik perempuannya itu mulai bekerja. Ia menganyam rumput purun. Setiap kali selesai ia memperlihatkan kepada kakaknya.
“Kurang besar!” ujar kakaknya.
Adiknya terus menjalin rumput-rumput purun membuat jaring raksasa.
“Apa yang hendak dia jaring?” keluhnya. Tetapi ia tidak berani bertanya kepada kakaknya, khawatir kakaknya marah.
“Sebesar ini?” adiknya memperlihatkan jaring yang dibuatnya.
“Ya, ini baru cukup!” seru kakaknya girang.
Di dalam hatinya dia berujar, “Akan kujaring kau matahari. Kupasung dalam perangkap, karena kau sudah mengkerutkan mantel kesayanganku!”
Ia berangkat ke lembah yang luas. Ia tahu pasti dari mana matahari setiap pagi muncul. Matahari muncul dari tepi lembah. Ia masang jaringnya di tepi lembah, tempat matahari setiap pagi muncul menyentuh tanah tepi lembah.
Setelah segalanya siap, ia bersembunyi di balik pohon besar mengawasi. Dia yakin, begitu matahari muncul dari tepi lembah, akan terperangkap jaringnya.
Benar, ketika matahari muncul di tepi lembah, ia masuk ke dalam perangkap anak lelaki itu. Menyaksikan matahari terperangkap jaringnya, anak lelaki itu tertawa terbahak-bahak.
“Ha…ha…ha… Kutangkap kau, kupasung di dalam jaringku.” Lalu dia berteriak keras-keras, “Aku telah menjaring matahari. Kuhukum kau matahari, karena telah merusak pakaianku!”
Waktu berlalu. Matahari tak pernah terbit. Langit tampak pucat. Cuaca hari itu aneh, bukan siang bukan pula malam. Cahaya alam redup. Udara dingin. Susana mencekam, burung-burung dan binatang-binatang lainnya takut keluar dari sarang.
Burung-burung saling bertanya-tanya, “Ada apa gerangan? Ke mana matahari? Alam menjadi aneh!”
Burung-burung bersepakat akan mengadakan penyelidikan. Burung-burung terbang ke arah lembah, tempat biasa matahari muncul saat fajar. Mereka terkejut menyaksikan matahari terperangkap jaring.
“Kiranya ini yang membuat matahari tak bisa terbit, alam menjadi bernuansa tidak menentu, aneh, dan menyeramkan,” kata burung.
“Ayo, kita bebaskan!” ajak burung lainnya.
Sejumlah burung berusaha membebaskan matahari dari perangkap jaring. Tetapi, karena udaranya sangat panas, dan benang jaringnya sangat kuat, burung-burung tidak mampu membebaskan matahari. Akhirnya, burung-burung memanggil hewan-hewan lain. Datanglah berbagai hewan, gajah, pelanduk, harimau, singa, kera, landak, dan hewan-hewan lainnya. Mereka bermusyawarah menentukan siapa yang mampu membebaskan matahari. Hampir semua hewan tidak berani mencoba membebaskan matahari, selain panas karena benang jaringnya amat kuat. Semua hewan menjadi sangat putus asa. Mereka terdiam, tafakur sedih.
Jika tidak ada sinar matahari, semua makhluk di alam ini akan punah. Sinar matahari sangat penting bagi kehidupan.
Tiba-tiba seekor tupai muncul. Waktu itu tubuh tupai sangat besar. Lebih besar dari semua hewan yang ada, lebih besar dari gajah. Gigi taringnya sangat tajam.
“Aku yang akan membebaskan matahari. Kuputuskan benang-benang jaring dengan taringku,” kata si Tupai.
Kemunculan tupai di tengah para hewan dan kesediaannya berkorban untuk membebaskan matahari sangat menggembirakan para hewan.
“Ya, kamu pasti mampu membebaskan matahari,” ujar Pelanduk.
“Ya, taringmu kuat dan bulumu tebal, pasti tahan panas,” ujar gajah.
“Kamu akan menjadi pahlawan semua makhluk di alam ini, wahai Tupai,” ujar burung elang sambil mengepakkan sayapnya, “Mari kutunjukkan tempatnya!”
Sesampai di tempat matahari terjaring, si tupai segera melompat ke atas benang jariang. Lalu menggit mengeretnya. Digigit, dikerat, dan dikoyaknya benang-benang jaring. Akhrinya tupai mampu memutuskan seutas benang jaring, tetapi masih beratus-ratus jalinan benang lagi. Dia harus berjuang di tengah panasnya matahari.
Lama-lamam sang tupai menjadi lemah. Keringat bercucuran dari sekujur tubuh. Tetapi ia menyadari bahwa dirinya adalah yang paling besar dari semua binatang. Ia harus menjadi hewan yang paling berani. Ia terus berjuang memutuskan tali-temali jaring. Lama-lama ia merasakan tubuhnya menyusut. Walau demikian, tupai tak menyerah. Ia terus menggigit, mengerat, mengoyak, memutuskan tiap helai temali-temali jaring. Sampai pada benang yang terakhir ia kerat dan terputus.
Matahari terlepas dari jaring, terlontar ke angkasa. Alam terang benderang. Tumbuhan dan berbagai makhluk berseri kembali.
Para hewan berlarian ke lembah mencari tupai.
“Ke mana tupai?”
“Ya, kemana dia,” seru yang lain.
Hewan-hewan itu akan berterima kasih kepada tupai, tetapi mereka tidak menemukannya.
Tupai yang tubuhnya sudah menjadi kecil karena terpanggang sinar matahari melompat ke atas dahan. Ia bersembunyi, malu menampakkan diri. Sampai sekarang tupai hidup di atas pohon, menjadi hewan pengerat. (Gbr. ex. Khazanah PA)


- selesai

1 komentar:

Donay mengatakan...

a very interesting story.. :)