1.27.2010

RASUL / Bagian Pertama


PENGANTAR

“Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagi kamu, bagi orang yang mengharap (rakhmat) Allah dan hari kemudian dan banyak mengingat Allah (QS: 33 # 21)

Saya sangat bersyukur, berkat Allah SWT rangkaian tulisan riwayat Nabi Muhammad SAW sebanyak 4 seri dapat saya selesaikan. (Pada blog ini pun akan saya tampilkan 4 bagian, ini adalah bagian pertama). Buku ini ditulis dalam bentuk novel khusus untuk pembaca umum dengan bahasa dan penyampaian cerita secara sederhana supaya isi cerita mudah dicerna dan dimengerti pembaca. Adapun tujuan meriwayatkan tokoh nabi dengan harapan agar akhlak, perangai, dan perilaku nabi yang sangat sempurna itu akan menjadi teladan dan anutan kita semua. Saya menyadari keterbatasan diri saya, oleh karena itu apa yang diungkapkan dalam riwayat ini pastilah jauh dari sempurna. Maka, apabila ada hal-hal yang salah sepenuhnya adalah karena diri saya. Saya meminta ampun kepada Allah dan meminta maaf kepada semua. Apabila yang saya ungkapkan benar adanya, itu semata karena Allah.
Akhirnya, saran anda sangat saya harapkan demi perbaikan buku ini pada penerbitan mendatang. Demikian, semoga tujuan dan niat baik ini mendapat ridha Allah. Amin.

Ciputat, Februari 2007
Pengarang
H. Andy Wasis

BAGIAN PERTAMA

ABDULLAH DAN AMINAH BINTI WAHAB

Di kota Mekah ada seorang lelaki bernama Abdullah. Ayahnya bernama Abdul Muttalib; bangsawan suku Quraisy yang terkenal. Abdul Muttalib pemimpin Ka’bah dan pengurus sumur Zamzam.
Sejak dahulu suku Quraisy telah menetap di Mekah. Leluhur mereka turun-temurun dipercaya untuk memimpin dan mengurus Ka’bah; rumah Allah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim.
Setahun sekali orang-orang dari berbagai negeri datang berhaji ke Mekah. Setiap tahun semakin bertambah saja yang berziarah. Mekah berkembang menjadi kota niaga yang ramai.
Tugas Abdul Muttalib melayani tamu-tamu itu. Bahkan hampir setiap saat ada tamu yang datang berziarah ke Ka’bah. Terutama para kafilah dagang yang menyinggahi kota Mekah. Mereka menyempatkan diri berziarah ke Ka’bah.
Pada masa itu di sekeliling Ka’bah ditempatkan berbagai macam patung yang menjadi sembahan orang-orang Arab. Di antara patung-patung itu ada dua yang sangat terkenal dan dihormati, Latta dan Uzza.
Abdullah menikah dengan seorang perempuan bernama Aminah binti Wahab. Suami istri ini bukan orang kaya. Mereka hidup sederhana. Bila dibanding dengan saudara-saudaranya yang lain, mereka tergolong miskin. Tetapi, mereka berasal dari suku yang dihormati di seluruh tanah Arab.
Beberapa bulan setelah mereka menikah Abdullah pamit kepada istrinya.
“Adinda, aku akan pergi berdagang ke negeri Syam.”
Aminah menyadari bahwa kepergian suaminya akan lama. Bisa memakan waktu berbulan-bulan. Namun, ia menyambutnya dengan wajah cerah dan hati riang.
“Berangkatlah, Kanda. Aku iringi dengan doa,” ujarnya.
Dari negeri Syam, Abdullah pergi ke kota Madinah. Malang kiranya, di kota Madinah Abdullah jatuh sakit. Semakin hari sakitnya bertambah parah. Tidak ada tanda-tanda akan segera sembuh.
Mendengar anaknya sakit Abdul Muttalib sangat cemas. Ia menyuruh Harith segera mejemputnya.
“Berangkatlah segera ke Madinah. Jemput adikmu yang sedang sakit di sana.”
“Baik, Ayahanda,” sahut Harith.Harith adalah kakak Abdullah.
Harith segera memacu kudanya. Namun, setiba di Madinah Abdullah telah meninggal dunia. Bahkan jenazahnya telah dimakamkan oleh sanak keluarga di sana. Dengan hati duka ia kembali pulang ke Mekah.
Aminah sangat sedih menerima berita kematian suaminya. Apalagi saat ini dia tengah mengandung. Kandungannya telah berusia enam bulan.
Abdullah tidak mewariskan harta yang
banyak. Ia hanya meninggalkan lima ekor unta, beberapa ekor kambing, dan seorang budak perempuan bernama Ummu Aiman.
Sepeninggal suaminya, Aminah tinggal di rumah mertuanya. Ia ditemani oleh Ummu Aiman, budak yang setia itu.
Abdul Muttalib merasa sangat terpukul batinnya. Untuk menghibur hatinya, ia lebih banyak berada di Ka’bah. Ia bekerja keras mengurus Ka’bah, sumur Zamzam, dan melayani tamu-tamu yang datang berziarah.

*

TELAH LAHIR ANAK YANG TERPUJI

Menjelang fajar pada hari Senin 12 Rabi’ul Awal bersamaan dengan tanggal 20 April 571 lahirlah seorang bayi laki-laki dari rahim Aminah binti Wahab. Bayi laki-laki itu sehat dan tangisnya nyaring memecah kesunyian . Bagaikan cerahnya matahari di saat fajar, secerah itu pula hati Aminah. Ia sangat gembira karena anak yang dikandungnya telah lahir.
Aminah segera mengirim utusan ke Ka’bah mengabari Abdul Muttalib tentang kelahiran ini.
“Tuan, cucunda telah lahir,” ujar sang utusan.
Bukan main senang hati Abdul Muttalib. “Benarkah cucuku telah lahir?”
“Benar, Tuan.”
“Laki-laki atau ...?” Abdul Muttalib menatap wajah sang utusan dengan rasa cemas. Ia sangat berharap cucunya lelaki. Pada masa itu penduduk Mekah tidak suka bila mendapat anak perempuan. Ada sebagian orang tua yang menguburkan bayi perempuannya ketika baru dilahirkan.
Pada masa itu kaum perempuan tidak dihormati. Perempuan sering disiksa. Ada yang diikat pada seekor unta. Lalu unta itu dilecut supaya berlari. Si perempuan yang malang itu terseok-seok mengikuti lari unta. Bila lari unta semakin kencang, perempuan itu terjatuh, terseret, dan luka parah.
“Laki-laki, bukan?” Abdul Muttalib tidak sabar menunggu jawaban sang utusan.
“Seorang bayi laki-laki, Tuan.”
Abdul Muttalib menarik napas lega.
“Bayi yang tampan dan sehat.”
Orang tua itu menghadap ke Ka’bah, berdoa. Lalu bergegas ia pulang.
Setiba di rumah, digendongnya cucu dari putera kesayangannya. Bayi kecil yang sehat itu dibawanya ke Ka’bah. Di hadapan Ka’bah Abdul Muttalib berbisik di telinga cucunya, “Kunamai kau Muhammad, artinya Yang Terpuji.”
Orang yang berada di sekitar Ka’bah menyaksikan kegembiraan Abdul Muttalib. Mereka bertanya, “Cucumukah itu wahai Abdul Muttalib?”
“Ya, cucu dari anak kesayanganku Abdullah,” sahutnya dengan bangga.
“Kau beri nama siapakah cucumu itu, wahai Abdul Muttalib?”
Jawab Abdul Muttalib, “Kuberi nama Muhammad”.
“Mengapa tidak kauberi nama yang berasal dari nama pahlawan nenek moyangmu?”
“Karena aku ingin ia kelak menjadi orang yang terpuji.”
Pada hari ketujuh, Abdul Muttalib menyembelih seekor unta. Para pemuka Quraisy diundang makan bersama. Mereka merasa heran mengapa Abdul Muttalib memberi nama Muhammad kepada cucunya.
Abdul Muttalib memberi penjelasan bahwa ia memberi nama Muhammad, supaya kelak cucunya ini menjadi orang terpuji.

*

TAHUN GAJAH


Tahun kelahiran Muhammad disebut juga tahun gajah. Mengapa tahun itu disebut tahun gajah? Kisahnya demikian.
Sejak Abdul Muttalib menjadi pemimpin Ka’bah, kota Mekah tumbuh menjadi kota niaga yang ramai. Suku-suku bangsa Arab dari seluruh jazirah setiap tahun datang berziarah ke Ka’bah, rumah Allah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim.
Konon, negeri Yaman adalah sebuah negeri yang makmur. Pada tahun 571 seorang Nasrani dari Ethiopia bernama Abraha merebut Yaman. Ia menjadi raja di Yaman.
Di ibukota kerajaan yang bernama Sanna, Abraha mendirikan gereja megah. Ia mengharapkan agar orang-orang Arab berziarah ke gerejanya. Namun, mereka lebih suka berziarah ke Ka’bah, rumah Allah yang didirikan Nabi Ibrahim. Abraha menjadi marah.
Menjelang Muhammad lahir, Abraha bersama pasukan gajahnya berangkat ke Mekah.
“Akan kuhancurkan Ka’bah dan kuratakan kota Mekah agar tidak ada lagi tempat ziarah bagi orang Arab,” demikian tekadnya. Harapan Abraha apabila Ka’bah hancur orang-orang Arab akan pindah berjiarah ke Sanna.
“Semua orang Arab akan datang berjiarah ke gerejaku!”
Abdul Muttalib sebagai pemimpin Ka’bah mendengar kedatangan ribuan pasukan gajah tidak merasa gentar. Ia tidak mau menyerah.
Ia berseru kepada penduduk Mekah, “Jangan menyerah kepada Abraha. Pertahankan rumah Allah yang dibangun oleh nenek moyang kita ini!”
Penduduk Mekah siap bertempur menghadapi Abraha. Mereka siap menghadang pasukan Abraha. Tiba-tiba mereka mendengar derap langkah kaki yang berdegap riuh.Bumi bergoyang, pasir beterbangan, tenda-tenda bergetar. Mereka bertanya-tanya, “Apa gerangan yang datang?”
“Terjadi gempa bumikah?”
Belum lagi hilang rasa cemas mereka, tiba-tiba muncul serombongan pasukan gajah. Menyaksikan kedatangan ribuan gajah, mereka gentar juga.
“Bagaimana mungkin melawan pasukan gajah sebanyak itu?” pikir mereka.
“Jangan cemas,” ujar Adul Muttalib, “Ka’bah ini rumah Allah. Pasti Allah akan melindungi rumah-Nya.”
Sebelum menyerang Ka’bah, pasukan Abraha berkesempatan merampas unta-unta milik penduduk Mekah. Di antaranya terdapat 50 ekor unta milik Abdul Muttalib. Abdul Muttalib datang menghadap Abaraha.
“Kembalikan untaku!” pintanya.
“Wahai Abdul Muttalib, tampaknya kamu hanya meyayangi untamu saja. Kamu tidak menyinggung soal Ka’bah. Aku datang ke sini untuk menghancurkan Ka’bah.
Bagaimana pendapatmu?”
“Ini adalah urusan untaku. Persoalan Ka’bah itu urusan Tuhan. Urusan itu sepenuhnya saya serahkan kepada-Nya,” ujar Abdul Muttalib seraya membawa pulang untanya.
Abaraha geram. “Serang kota Mekah dan hancurkan Ka’bah,” perintahnya.
Gajah yang paling besar dilecut untuk merobohkan Ka’bah. Tetapi gajah itu tidak mau bergerak. Malah ia jatuh terduduk. Abaraha semakin geram, “Hayo, semua pasukan maju!”
Namun, sebelum pasukan itu menyerang terjadi mukjizat. Allah tidak hendak Abraha merusak rumah-Nya. Allah mengirim beribu-ribu ekor burung Ababil menyerang pasukan gajah dengan batu panas. Tubuh tentara-tentara Abraha itu terbakar hangus. Mereka menjerit sangat memilukan. Mereka juga terserang penyakit cacar.
Menghadapi keadaan demikian, Abraha memerintahkan pasukannya mundur. Ia itu pulang ke Yaman dan meninggal dunia setiba di sana. Oleh karena serangan tentara gajah itu maka tahun kelahiran Muhammad disebut juga sebagai “Tahun Gajah”.

*

DI BAWAH ASUHAN HALIMAH

Sesuai dengan adat-istiadat bangsawan Quraisy anak bayi biasanya diserahkan kepada penduduk di pedalaman untuk diasuh dan susui. Mereka meyakini bahwa alam pedesaan lebih sehat daripada kota. Perempuan-perempuan suku Badui yang tinggal di pedesaan suka sekali menerima titipan bayi untuk disusui. Karena, mereka akan mendapat hadiah yang besar.
Aminah adalah keluarga yang miskin. Oleh karena Aminah miskin, tidak ada orang yang mau menerima bayinya. Lebih-lebih tahun itu adalah tahun yang buruk di tanah Arab. Banyak daerah yang penduduknya dilanda kelaparan.
Alkisah, ada seorang perempuan
bernama Halimah. Ia berasal dari Bani Sa’ad. Keluarga Halimah sangat miskin. Karena sering kelaparan, air susunya kering. Bahkan susu untanya pun kering. Ia mendengar di Mekah masih ada seorang bayi yang belum diterima orang lain. Ia mengajak suaminya berangkat ke Mekah.
“Tetapi, kudengar ibu bayi itu pun miskin. Itu sebabnya orang tidak mau menerima bayinya. Bagaimana dia memberi hadiah kita?”
“Kita juga miskin. Apa salahnya jika kita mengurus anak yang miskin,” ujar Halimah.
“Baiklah kalau begitu. Mari kita berangkat,” sambut suaminya.
Suami istri itu berangkat ke Mekah. Halimah menunggang keledai yang kurus. Unta yang air susunya kering pun dibawanya.
Di tengah perjalanan mereka diejek oleh orang-orang sedesanya.
“Kapan kalian akan sampai ke Mekah dengan tunggangan seperti itu?”
Halimah dan suaminya tidak menanggapi ejekan itu.
Setiba di Mekah, mereka langsung ke rumah Abdul Muttalib. Mereka menemui Aminah, ibunda Muhammad.
“Jika diperkenankan, aku bersedia menyusui dan mengasuh anakmu,” ujar Halimah.
Aminah memperhatikan perempuan itu. Ia melihat wajah yang tulus dan jujur dari perempuan desa ini. Hatinya tertarik untuk memberikan anaknya disusui dan diasuh.
“Bawalah bayiku ini. Aku mempercayakannya kepadamu. Susui dan asuhlah dia,” ujar Aminah.
“Terima kasih anda percaya kepada kami,” sahut Halimah seraya mendekap bayi yang bernama Muhmmad itu ke dadanya.
Dalam perjalanan, bayi yang bernama Muhammad itu terus didekap di dadanya. Ajaib, tiba-tiba air susu Halimah penuh. Ia segera menyusui bayi asuhnya. Muhammad menyusu sampai kekenyangan.
Keledai yang kurus dan lemah itu pun tiba-tiba segar. Langkahnya tegap. Air susu untanya tiba-tiba berisi. Halimah dan suaminya dengan puas dapat mereguk susu untanya.
Orang-orang desa yang berpapasan heran. Mereka bertanya, “Apakah itu keledai yang kemarin kamu tunggangi?”
“Ya,” sahut Halimah.
“Kau beri makan apa keledai itu?”
“Tidak kuberi apa-apa.”
Halimah melecut keledainya. Keledai itu melangkah dengan gagahnya meninggalkan teman-teman sekampungnya.
Sejak itu Muhammad tinggal di daerah padang pasir yang gersang. Ia disusui oleh Halimah dan diasuh Sayima puteri Halimah.Di daerah yang terpencil itu Muhammad tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, kuat, dan berwajah tampan.
Bagi keluarga Halimah, kedatangan Muhammad membawa berkah tersendiri. Tanaman di kebunnya tumbuh subur, mendatangkan hasil panen yang berlebih. Hewan ternak mereka menghasilkan susu yang melimpah. Sehingga mereka hidup dalam kecukupan.

*

PENSUCIAN LAHIR BATIN

Ketika Muhammad berusia dua tahun, Halimah mengantarnya pulang ke Mekah. Pada masa itu kota Mekah tengah dilanda wabah penyakit. Khawatir anaknya terjangkit wabah, Aminah meminta agar Muhammad terus diasuh Halimah di desa. Dengan senang hati Halimah menerimanya.
Dalam perjalanan pulang dari Mekah, Halimah bersua dengan serombongan orang Nasrani dari Ethiopia. Beberapa orang di antara mereka melihat Muhammad. Mereka sangat tertarik menyaksikan penampilannya.
“Boleh kami melihat anak ini?” tanya mereka. Halimah tidak menyahut. Tetapi, dia juga tidak melarang orang itu melihat sekujur tubuh Muhammad.
Setelah melihat tanda pada pundak
Muhammad, orang itu berkata, “Biarkan aku membawa anak ini kepada rajaku. Anak ini kelak akan menjadi orang penting. Aku telah melihat tanda-tandanya.”
Halimah ketakutan. “Tidak!” ujarnya. Ia bergegas menyingkir dari orang-orang itu.
Selanjutnya sampai umur lima tahun. Muhammad berada di bawah asuhan Halimah
Pada suatu hari, Muhammad bersama saudara angkatnya bermain di padang pasir. Tiba-tiba datang dua orang lelaki mengenakan pakaian serba putih. Kedua lelaki itu menangkap Muhammad dan membedah dadanya. Saudara angkatnya ketakutan. Ia berlari pulang. “Ayahanda, Ibunda, Muhammad dicederai orang!” serunya.
Halimah dan suaminya terkejut mendengar pengaduan anaknya ini. Halimah segera berlari ke tempat anak-anak itu bermain. Di sana Halimah menemukan Muhammad terbaring lemah.
“Ada apa, Muhammad?” tanya Halimah dengan perasaan cemas.
“Tidak ada apa-apa, Ibu,” sahut Muhammad. Kemudian ia bercerita, “Dua orang lelaki membelah dadaku. Lalu
mengambil jantungku dan mencucinya dengan salju.Akhirnya salah seorang dari mereka mencium keningku sambil berkata dengan lembut.Wahai kekasih Tuhan, kau tidak akan pernah merasa takut. Dan, jika kau tahu apa yang telah dipersiapkan untukmu, kau akan bahagia”
Halimah dan suaminya, Harits tidak tahu apa-apa tentang ini. Sesungguhnya ini adalah masa pensucian diri Muhammad. Mereka sangat ketakutan. Khawatir Muhammad terkena tenung dan jatuh sakit.
“Sebaiknya kita antar pulang saja anak ini ke Mekah,” usul Harits, suami Halimah.
Hari itu juga mereka membawa Muhammad pulang ke Mekah. Dengan hati cemas ia menceritakan tentang kedatangan dua orang lelaki menemui Muhammad. Halimah khawatir Muhammad dicederainya.
Aminah menenangkannya, “Jangan cemas, Halimah. Anak ini luar biasa dan sebuah masa depan yang hebat telah
diramalkan untuknya.”
Aminah lantas memutuskan akan mengurus sendiri anaknya di Mekah.

*


MASA DUKA CITA

Selanjutnya Muhammad tinggal bersama ibu dan kakeknya, Abdul Muttalib. Pada suatu hari Muhammad diajak oleh ibunya ke Madinah. Mereka berangkat bersama Ummu Aiman.
Muhammad diperkenalkan kepada kerabat ibunya di Madinah. Ia juga diajak menjiarahi makam ayahandanya. Mereka tinggal selama sebulan di sana.
Setelah sebulan mereka pulang ke Mekah. Di tengah perjalanan Aminah jatuh sakit. Mereka singgah di desa Abwa. Desa ini hanya berjarak 37 km dari kota Mekah. Penyakit Aminah semakin parah. Ibunda Muhammad itu meninggal di desa Abwa dan dimakamkan di sana.
Bukan main sedih hati Muhammad. Ia kini sebatang kara, tidak beribu dan berayah. Ia pulang ke Mekah bersama Ummu Aiman.
Abdul Muttalib menyambut kedatangan cucunya dengan rasa haru. Dipeluknya cucu kesayangan yang telah yatim-piatu itu. Kasih sayangnya makin bertambah.
Baru dua tahun Muhammad merasakan kasih sayang kakeknya, sang kakek pun meninggal dunia. Ini merupakan masa duka cita yang beruntun saat ia kecil. Ia bagaikan sebatang pohon yang tercabut dari akarnya. Baru saja kematian ibunda tercinta, kini ditinggalkan pula oleh kakek tersayang. Padahal setelah kematian ibunda, Abdul Muttalib adalah sandaran hidupnya. Ketika itu Muhammad baru berusia delapan tahun.
Sebelum wafat, Abdul Muttalib berwasiat kepada Abu Thalib agar mengurus Muhammad. Abu Thalib adalah paman Muhammad yang paling miskin di antara paman-paman yang lain. Tetapi ia berhati tulus, jujur, dan setia. Abu Thalib sangat dihormati di kalangan Quraisy. Ia pun sangat sayang kepada Muhammad.

*

PENGGEMBALA YANG YATIM PIATU

Abu Thalib bukan orang kaya. Anaknya banyak. Tetapi, ia tidak pernah mengeluh akan keadaannya. Ketika ayahnya, Abdul Muttalib mulai sakit-sakitan; sang ayah berwasiat agar ia mengasuh Muhammad. Dengan senang hati ia menerimanya. Ia pun sangat menyayangi kemenakannya itu.
“Muhammad anakku juga, Ayah. Aku akan berusaha mengasuhnya dengan baik,” demikan janjinya.
Janjinya itu dipenuhi. Sepeninggal Adul Muttalib, Muhammad tinggal bersama pamannya.
Muhammad, walau masih kanak-kanak menyadari benar kehidupan pamannya. Maka, untuk menunjang kehidupan pamannya Muhammad rela bekerja sebagai penggembala kambing. Upah dari hasil menggembala itu ia
serahkan kepada pamannya.
Muhammad senang sekali menjadi penggembala. Dengan menggembalakan ternak ia selalu berada di alam terbuka. Di sana ia dapat merenung sebebas-bebasnya. Pada siang hari ia merenungi pemandangan alam yang terbentang indah. Angin padang pasir yang panas diresapinya. Pada malam hari ia merenungi ribuan bintang yang memenuhi angkasa raya. Ia pandangi bulan yang berawal bagaikan sabit, lalu purnama terang benderang, dan bila telah tiba masanya bulan kembali tenggelam. Perubahan-perubahan alam itu meyakini Muhammad bahwa di balik semua ini ada Sang Maha Pencipta. Dia yang menciptakan alam semesta beserta segala makhluknya. Dan, Dia pula yang mengaturnya. Dia-lah yang patut disembah, bukan patung-patung yang berada di sekeliling Ka’bah.
Berada di alam terbuka, di padang penggembalaan itu menyebabkan Muhammad terjauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota yang penuh dengan sarana berfoya-foya. Muhammad terjauh dari pemikiran duniawi. Cara pandang dan pemikirannya semakin dewasa. Hati dan jiwanya bersih. Pemikirannya selalu tentang hakikat dan kebenaran hidup.
Hatinya menentang penyembahan terhadap patung. Patung adalah benda mati dan buatan manusia. Mengapa orang-orang menyembahnya?
Ia juga menentang sikap kaum bangsawan Arab yang tidak menghormati perempuan. Mereka sangat kejam terhadap kaum perempuan. Terutama kepada bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup semasa baru dilahirkan. Itu perbuatan dosa.
Muhammad juga menentang perbudakan. Orang dijual-belikan seperti hewan.Tenaga para budak diperas; dipekerjakan tanpa upah. Budak yang sesungguhnya juga manusia diperlakukan tidak manusiawi.
Hal-hal itu menjadi renungannya sejak ia kecil Kelak setelah ia dewasa, martabat kaum perempuan dijunjung tinggi dan para budak dibebaskannya.
Pengalaman sebagai penggembala kambing benar-benar amat berkesan dalam hidupnya. Kesan itu tertanam sangat dalam di relung kalbu. Sampai ia dewasa dan menjadi rasul kenangan menjadi penggembala kambing itu tidak terlupakan.
Kelak ketika ia menjadi rasul ia bercerita kepada para sahabat. “Ketika kecil, aku pernah menjadi penggembala kambing. Ternyata nabi-nabi yang diutus Allah pernah juga menjadi penggembala kambing. Seperti Musa, Daud, dan aku yang diutus Allah juga pernah menggembala kambing.”

*

MENCARI BENTUK AGAMA BARU

Sejak kecil sampai dewasa Muhammad tetap hidup bermasyarakat dengan penduduk Mekah. Ia bergaul akrab saling hormat-menghormati. Karena kepribadiannya yang baik dan jujur, penduduk Mekah sangat menghargainya.
Kendati bergaul akrab dengan masyarakat Mekah, Muhammad tidak ikut menyembah berhala seperti yang lainnya. Ia yakin bahwa Yang Maha Kuasa adalah Allah. Apabila ada upacara keagamaan di sekitar Ka’bah, Muhammad segera menghindar.
Ternyata banyak juga masyarakat Quraisy yang tidak suka pada penyembahan berhala. Mereka menganggap menyembah berhala tidak ada manfaatnya.
Pada suatu hari masyarakat Quraisy berkumpul di Ka’bah merayakan berhala Uzza. Secara diam-diam ada empat orang meninggalkan upacara itu. Mereka adalah Waraqah bin Naufal, Usman bin’l-Huwairith, Zaid bin Amr dan Ubaidillah bin Jahsy.
Tampaknya mereka mulai sadar, bahwa menyembah berhala adalah jalan yang sesat.
“Ketahuilah, bahwa masyarakat Quraisy ini tidak punya tujuan. Mereka dalam kesesatan,” ujar Waraqah.
“Ya, apa artinya kita mengelilingi patung itu. Patung tidak bisa mendengar dan melihat,” ujar Usman.
“Patung dibuat oleh manusia. Mengapa harus disembah,” sambut yang lain.
“Orang sesat yang menyembah patung,” ujar Waraqah.
Tampaknya orang-orang ini mulai menyadari bahwa yang Mahakuasa itu bukanlah patung. Menurut ajaran Nabi terdahulu yang Mahakuasa dan Mahaesa adalah Allah. Mereka mulai mencari bentuk agama baru.
“Menyembah patung tak bermanfaat. Lebih baik ktia tinggalkan kepercayaan semacam itu,” ujar Zaid.
“Hanya darah korban yang mengalir di atas patung itu. Saudara-saudara, marilah kita mencari agama lain. Bukan ini!” ajak Waraqah.
“Tetapi agama apa?” tanya Ubaidillah bin Jahsy.
“Ada agama Nasrani dan Yahudi. Kedua agama itu telah masuk ke tanah Arab. Itu dapat menjadi pilihan. Kedua agama itu bukan menyembah patung. Agama itu menyembah
Allah,” sahut Waraqah.
Ubaidillah tidak masuk Kristen. Ia tetap tinggal di Mekah dan menjauhi berhala. Kelak ketika agama Islam berkembang, ia masuk Islam. Ia menjadi sahabat Nabi saw yang kemudian hijrah ke Abesinia.
Usman bin Hawairith pergi ke Byzantium. Ia memeluk agama Nasrani. Di sana ia memperoleh kedudukan yang baik pada Kaisar Byzantium. Ia ingin menjadi Gubernur Byzantium di Mekah. Namun, sebelum cita-citanya kesampaian ia mati diracun orang.
. Zaid mengembara ke Syam dan Irak.
Ia tidak menganut sesuatu agama. Kemudian ia pulang kembali ke Mekah. Di hadapan Ka’bah ia berkata, “Ya, Allah tunjukkanlah bagaimana cara aku menyembah-Mu?”
Akan halnya Waraqah; ia menganut Nasrani. Ia mempelajari kitab Injil dengan sungguh-sungguh. Konon, ia menterjemahkan Injil ke dalam bahasa Arab. Di kalangan penduduk Mekah, Waraqah dikenal sebagai pemeluk Kristen yang berhati lurus dan jujur.
Dari kitab Injil yang ia pelajari, diketahuinya bahwa kelak akan lahir seorang nabi akhir zaman. Nabi itu berasal dari keturunan masyarakat Arab. Waraqah menanti-nanti kedatangan sang Nabi.
Waraqah sudah tua. Ia sering mengeluh dalam penantian itu. Ia sering berkata di dalam hati, “Jika saja masih muda; aku akan mendampingi dan berjuang bersama nabi akhir zaman ini.”
Dan, dia selalu berdoa kepada Allah mohon agar dapat berjumpa dengan nabi yang ditunggu-tunggu ini.

*

DALAM PERJALANAN NIAGA

Muhammad telah berusia dua belas tahun. Ia semakin tumbuh menjadi seorang pemuda yang cakap, cerdas, dan jujur. Abu Thalib sangat menyayanginnya.
Pada suatu hari Abu Thalib hendak mengadakan perjalanan niaga ke Syiria. Muhammad ingin ikut dalam perjalanan itu. “Ijinkan saya ikut, Paman.”
Abu Thalib menatap wajah keponakannya yang baru berusia 12 tahun itu. “Kamu masih terlalu kecil. Ini perjalanan jauh. Bukan perjalanan yang ringan,” kata Abu Thalib. Pamannya keberatan karena Muhammad masih terlalu muda, baru berusia dua belas tahun. Perjalanan dari Mekah ke Syiria sangatlah panjang, melewati gurun
pasir, pegunungan batu, dan beberbagai kota. Bagi anak seusia Muhammad perjalanan ini sangat melelahkan.
Tetapi Muhammad tetap ingin ikut serta. “Saya mampu, Paman. Ijinkanlah saya ikut dalam perjalanan niaga ini.”
Abu Thalib mengalah,”Baiklah. Kamu boleh ikut!”
Bukan main senang hati Muhammad. Ini akan merupakan pengalaman yang sangat berharga baginya. Untuk pertama kalinya dia mengikuti kafilah dagang ke luar negeri.
Kafilah Abu Thalib melewati daerah Madyan dan Wadil-Qura. Di daerah ini Muhammad melihat sisa-sisa bangunan bersejarah peninggalan peradaban Thamud. Selain kota-kota besar, kafilah ini juga melewati daerah pertanian. Di daerah itu Muhammad menyaksikan kebun-kebun anggur dan berbagai tanaman tumbuh subur. Tanah-tanah yang subur ini menjadi bahan perbandingan dengan keadaan alam di negerinya, Mekah. Yang disaksikan di Mekah hanyalah gurun gersang berbatu-batu. Tidak disangka ada daerah lain yang subur. Perjalanan ini telah membuka mata dan pandangannya semakin luas.Dalam perjalanan ini pula Muhammad mendengar cerita tentang adanya Kekaisaran Romawi yang terkuat dan beragama Kristen.
Ia juga mendengar adanya sebuah kerajaan besar di daerah timur yaitu, Kerajaan Persia. Menurut cerita yang dia dengar, penduduk Persia menjembah api. Kedua kerajaan ini bermusuhan, di antara mereka sering terjadi perang. Orang menganggap negeri Romawi dan Syiria adalah negeri orang beradab. Timbul pertanyaan di hatinya, “Apakah penduduk Mekah belum menjadi orang beradab?”
Penduduk Mekah masa itu suka berjudi, minum arak, bermabuk-mabukan. Tetapi ada hal yang positif dari mereka yaitu, umumnya orang Arab pandai bersyair. Syair-syair yang mereka ciptakan bertema kepahlawanan nenek moyang. Syair-syair itu mereka bacakan di muka umum. Syair-syair yang indah ditulis dengan tinta emas, lalu digantungkan di Ka’bah.
Semua yang didapatnya dalam perjalanan berniaga bersama pamannya itu menambah luas wawasan berpikirnya.


TANDA KEBESARAN MUHAMMAD

Kafilah dagang Abu Thalib memasuki kota Basrah. Ketika itu udara sangat panas.
Saat kafilah melewati sebuah biara, seorang rahib bernama Bahira tengah berdiri di ambang pintu. Ia menatapi rombongan itu. Ia sangat terkejut ketika melihat di atas rombongan itu ada awan cerah memayungi.
“Itu tanda kenabian,” ujarnya, “Pasti di antara rombongan ini ada orang yang bakal menjadi nabi seperti dijanjikan di dalam kitab Injil!” kata hatinya.
Bahira adalah seorang rahib yang tekun. Ia selalu membaca kitab suci Injil yang dianutnya. Di dalam kitab itu ia membaca ada
pesan Nabi Isa bahwa kelak akan lahir seorang Nabi dari keturunan Arab bernama Ahmad. Salah satu tanda dari orang itu adalah, bila berjalan di terik matahari akan dipayungi oleh
awan cerah. Maka, ketika melihat awan cerah yang mengikuti rombongan kafilah Abu Thalib itu, rahib Bahira tertarik.
“Tidak salah lagi, pasti ada calon nabi di antara mereka. Aku ingin mengetahuinya,” ujar Rahib Bahira.
Orang-orang Kristen Arab percaya, bahwa kelak akan lahir seorang nabi dari keturunan bangsa Arab. Dia adalah nabi terakhir yang akan menyempurnakan ajaran agama samawi yang menyembah Allah.
Rahib Bahira bergegas menghampiri kafilah dagang itu. Padahal, biasanya rahib ini tidak pernah menghiraukan kafilah yang lewat.
“Berhentilah!” serunya.
Abu Thalib heran melihat Rahib Bahira mengentikan rombongannya. Ia memberi aba-aba agar rombongan berhenti Lalu bertanya, “Ada apa, Tuan?”
“Saya ingin menjamu kalian makan.”
Abu Thalib semakin heran. Bukan pertama kali kafilahnya melalui kota Basrah. Dan, setiap kali mereka lewat, rahib ini tidak pernah menghiraukannya. Keluar dari rumah pun tidak.
“Mari turun, singgah ke rumahku,” rahib Bahira mengulangi ajakannya.
“Ini sebuah kehormatan,” ujar Abu Thalib
seraya memandang ke arah rombongan. Semua anggota rombongan kelihatan lelah. Kecuali Muhammad yang berada di bagian paling belakang tampak segar.
Abu Thalib memberi aba-aba agar rombongan berhenti untuk beristirahat.
Bukan main senang hati rahib Bahira ketika ada jawaban mau menerima undangannya. Ia ingin tahu, siapakah di antara rombongan ini yang mempunyai tanda-tanda kenabian.
“Mari, silakan masuk ke dalam. Hidangan akan segera tersedia,” ujar sang rahib.
Rombongan turun dari unta masing-masing. Lalu mereka memasuki ruangan rumah sang rahib yang luas. Muhammad, karena masih dianggap anak kecil ia tidak diperkenankan ikut masuk oleh pamannya. Ia disuruh menjaga barang dagangan dan unta di luar.
Semua rombongan duduk bersila di ruangan. Berbagai hidangan tersedia di hadapan mereka. Sebelum mempersilakan menyantap
hidangan, rahib Bahira memperhatikan setiap orang. Ia tidak melihat ada sesuatu tanda seperti yang dilihatnya di luar. Ia heran. Lalu ia bertanya, “Apakah masih ada rombongan yang tertinggal di luar?”
Abu Thalib merasa malu mendapat pertanyaan seperti itu. Mereka malu karena telah meninggalkan cucu almarhum Abdul Muttalib yang terhomat di luar seperti seorang budak.
“Ya, masih ada seorang di luar,” jawab Abu Thalib..
“Suruh dia masuk.”
“Dia masih kanak-kanak, belum layak duduk bersama kaum dewasa,” Abu Thalib mengemukakan alasan..
“Tidak mengapa, panggil dia masuk,” ujar sang rahib.
Muhammad dipanggil ke dalam. Ketika Muhammad melangkah menuju ke ambang pintu, rahib Bahira melihat awan cerah memayunginya dari terik matahari. Dan, selama dalam jamuan makan itu rahib Bahira memperhatikan Muhammad dengan seksama.
Usai jamuan makan rahib Bahira menghampiri Muhammad.
“Saya ingin berbicara dengan anda,” ujar sang rahib.
“Ada apa gerangan, Tuan?” tanya Muhammad heran.
“Nanti anda akan tahu. Mari ke sudut ruang.”
Rahib Bahira meminta ijin kepada Abu Thalib untuk berbicara dengan Muhammad.
“Ijinkan saya berbicara berdua dengan kemenakanmu ini, wahai Abu Thalib.”
Abu Thalib tidak keberatan.
“Silakan.”
Mereka berjalan ke sudut ruang. Di sana mereka berbicara berdua saja.
“Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan kepadamu, wahai Muhammad,” ujar sang rahib.
“Apa gerangan, Tuan?” tanya Muhammad.
“Sebelumnya saya ingin kamu bersumpah demi Lata dan Uzza,” kata rahib Bahira.
Muhammad memprotes, “Jangan suruh aku bersumpah demi kedua patung itu!”
“Mengapa? Bukankah itu dewa yang disembah oleh sukumu?”
“Karena, demi Allah tidak ada yang lebih kubenci daripada kedua patung itu!”
“Katamu tadi demi Allah, berarti kamu yakin akan adanya Allah?”
“Ya.”
“Kalau begitu, bersumpahlah demi Allah.”
Muhammad bersumpah demi Allah.
“Saya bersumpah demi Allah.”
“Sekarang ceritakanlah masa kecilmu,” pinta sang rahib.
Muhammad menceritakan semua pengalaman masa kecilnya. Tentang kedua
orang tuanya yang telah meningal dunia. Diceritakannya juga tentang ibu asuhnya di daerah gurun.
Rahib Bahira mendengarkan dengan sepenuh hati. Lalu ia berkata, “Ijinkanlah saya melihat tanda-tanda di tubuhmu!”
Muhammad mengijinkan rahib itu memeriksa sekujur tubuhnya. Rahib Bahira menemukan tanda khusus kenabian di antara lekukan pundaknya.
“Tidak salah. Engkau adalah orang yang dijanjikan,” katanya.
Ketika rombongan kafilah ini hendak meneruskan perjalanan, rahib Bahira berpesan kepada Abu Thalib.
“Bawalah kemenakanmu pulang ke negerimu dan jagalah dia dengan hati-hati terhadap kaum Yahudi. Karena, demi Allah jika mereka melihatnya dan tahu tentang apa yang kuketahui, mereka akan bertindak jahat kepadanya. Sebuah masa depan yang besar terletak di tangan kemenakanmu ini, maka cepat bawalah dia pulang!”

*

PERANG FIJAR

Sampai usia dua puluh lima tahun Muhammad. tumbuh sebagai sosok laki-laki yang terampil dan gagah. Dia memiliki kemampuan bercakap yang baik, berkepribadian tegas dan tekun dalam mengerjakan sesuatu.
Paman-pamannya melatih Muhammad berperang, memanah, bermain pedang, dan bergulat. Walau pun tidak secakap paman-pamannya, Muhammad berkemampuan memanah cukup baik. Bahkan dia mempunyai kelebihan dari paman-pamannya, yakni pandai mengatur siasat dalam bertempur. Kepandaian ini kelak digunakan dalam medan perang pada saat Muhammad telah menjadi Rasul.
Pengalaman yang juga tidak terlupakan pada masa remajanya, yakni ketika Muhammad ikut di dalam Perang Fijar. Perang Fijar terjadi sebagai akibat dilanggarnya aturan bulan suci oleh Barradz bin Qais dari kabilah Kirana. Barradz membunuh Urwa bin Utba dari kabilah Hawzin.
Walaupun kabilah-kabilah di tanah Arab sering berperang, tetapi ada aturan yang menetapkan bahwa pada bulan suci semua kabilah harus berdamai. Di dalam bulan suci tidak boleh ada pembunuhan. Ketentuan itu tidak boleh dilanggar. Bagi yang melanggar akan mendapat hukuman. Pada bulan suci itu semua kabilah-kabilah di Jazirah Arab datang berjiarah ke Ka’bah. Pada suatu masa dalam bulan suci, terjadi suatu pertengkaran antara Barrad bin Qais dengan Urwa bin Utba . Akibat dari pertengkaran itu Barrad bin Qais membunuh Urwa bin Utba. Tentu saja kaum dari kabilah Hawzin sangat marah. Mereka menyerang kabilah Kirana. Terjadilah peperangan di antara mereka. Sebagai akibatnya Mekah terbawa bencana.
Peperangan ini menjadi meluas. Maka,
Suku Quraisy yang sejak turun-temurun menguasai Mekah dan menjadi pengurus Ka’bah terlibat dalam perang. Suku Quraisy mempertahankan kota suci dari bencana. Mereka tidak mau Mekah dan Ka’bah binasa akibat perang ini. Seluruh kabilah Arab terlibat dalam peperangan.
Muhammad sebagai warga Quraisy berkewajiban membantu paman-pamannya.
Peperangan itu usai setelah empat hari. Banyak korban berjatuhan dari berbagai pihak. Ini adalah pertama kalinya Muhammad terlibat dalam peperangan. Ia merasakan betapa kejamnya peperangan itu, pertumbahan darah terjadi dari kabilah-kabilah.
Usai perang, kota Mekah kembali tenang. Para pedagang dari penjuru jazirah Arab mulai berdatangan. Pada hari pekan banyak penyair membacakan syair-syair mereka. Lalu mereka minum arak bermabuk-mabukan. Muhammad hanya sebagai penonton. Tetapi, keadaan tanah Arab yang bobrok yang dikenal dengan sebutan jahiliyah itu terus menjadi renungannya.
*
LANGKAH MENUJU MASA DEPAN

Selama masa damai, Muhammad kembali melakukan pekerjaan sehari-hari, membantu menggembala kambing milik pamannya.
Pada suatu hari Abu Thalib berkata kepadanya, “Anakku Muhammad, paman ini bukan saudagar kaya. Paman ini hidup miskin, selain itu banyak pula anak yang harus ditanggung. Kehidupan kita semakin susah. Aku mendengar Khadijah mencari orang dengan upah dua ekor unta untuk mengurus dagangannya ke negeri Syam. Jika kau mau akan kubicarakan dengan Khadijah. Dan aku akan minta upah yang lebih, “ kata Abu Thalib.
Muhammad yang terkenal penurut dan suka berbakti terutama kepada pamannya itu, berkata, “Jika menurut paman itu baik, saya siap melakukannya.”
”Tentu saja itu baik. Bukankah kamu sudah berpengalaman berniaga bersamaku?”
“Ya, Paman,” sahut Muhammad.
“Segera aku akan menemui Khadijah. Aku akan meminta dia mengupahmu sebanyak empat ekor unta setiap kali pergi berniaga,” lanjut pamannya.
Khadijah binti Khuwalid adalah puteri bangsawan Quraisy dari bani Asad. Pada abad ke-7 keluarga ini lebih terkenal daripada bani Hasyim. Khadijah seorang saudagar kaya raya. Sudah lama ia menjanda. Ia berwajah cantik dan berperangai mulia.
Setelah mengetahui bahwa Muhammad setuju akan tawarannya, Abu Thalib datang kepada Khadijah. Abu Thalib dengan Khadijah sebenarnya masih ada pertalian darah.
“Aku mendengar kabar, engkau akan mengupah orang untuk menjajakan daganganmu ke Syam.,” tanya Abu Thalib.
“Benar,” sahut Khadijah.
“Setujukah engkau mengupah kemenakanku Muhammad?”
“Maukah dia melaksanakan pekerjaan
ini?” Khadijah bertanya untuk meyakininya.
“Dia mau.”
Khadijah binti Khuwalid adalah puteri bangsawan Quraisy dari bani Abad. Pada abad ke-7 keluarga ini lebih terkenal daripada bani Hasyim. Khadijah seorang saudagar kaya raya. Sudah lama ia menjanda. Ia berwajah cantik dan berperangai mulia.
Setelah mengetahui bahwa Muhammad setuju akan tawarannya, Abu Thalib datang kepada Khadijah. Abu Thalib dengan Khadijah sebenarnya masih ada pertalian darah.
“Aku mendengar kabar, engkau akan mengupah orang untuk menjajakan daganganmu ke Syam.,” tanya Abu Thalib.
“Benar,” sahut Khadijah.
“Setujukah engkau mengupah kemenakanku Muhammad?”
“Maukah dia melaksanakan pekerjaan
ini?” Khadijah bertanya untuk meyakininya.
“Dia mau.”
“Kalau begitu, senanglah hati saya.
Saya belum pernah bertemu, tetapi saya sudah mendengar tentang kebaikan budi pekertinya.”
Khadijah sudah sering mendengar nama Muhammad yang jujur dan berakhlak mulia. Lagi pula secara tidak langsung antara mereka masih ada pertalian darah.
“Tapi untuk kemenakanku ini kau harus membayarnya empat ekor unta. Setujukah engkau, Khadijah?”
“Untuk orang lain saja aku setuju. Apa lagi untuk Muhammad. Tentu aku tidak keberatan akan upah yang Paman pinta.”
“Baiklah kalau begitu. Saya akan memberi tahu Muhammad. Supaya dia datang kepadamu.”
Abu Thalib pamit untuk mengabari Muhammad. Setiba di rumah, kabar gembira ini disampaikan kepada Muhammad.
“Aku telah menemui Khadijah,” ujar Pamannya dengan wajah berseri.
“Tentu kabar gembira yang Paman bawa.”
“Ya, kabar gembira.”
Muhammad tersenyum.
Paman melanjutkan ucapannya, “Khadijah bersedia membayarmu empat ekor unta untuk pekerjaan ini,” katanya.
“Terima kasih, Paman. Saya akan bekerja sungguh-sungguh,” ujar Muhammad.
Lalu Abu Thalib memberi petunjuk dan nasihat kepada Muhammad.
Dengan cermat didengarnya nasihat dan petunjuk pamannya itu.
“Terima kasih, Paman. Nasihat dan petunjuk Paman akan saya laksanakan sebaik-baiknya,” kata Muhammad.
“Paman percaya engkau mampu dan akan menjalankan pekerjaan ini.”
Ternyata ini merupakan langkah awal bagi Muhammad untuk menuju ke masa depannya.

*
MUHAMMAD MENJADI SAUDAGAR

Beberapa hari kemudian Abu Thalib mengantar Muhammad menemui Khadijah.
“Inilah kemenakanku,” Abu Thalib mengenalkannya.
“Sudah lama saya mendengar nama dan sifat-sifat muliamu dari orang-orang Mekah. Saya sangat bersyukur anda mau menjalankan usaha niaga saya,” ujar Khadijah.
Sebagaimana sifatnya, Muhammad tidak banyak berbicara.
“Saya akan berusaha semampu saya,” kata Muhammad. Ia bertekad akan menjalankan usaha niaga ini sebaik-baiknya.
“Segera akan saya siapkan barang-barang niaga yang akan anda bawa,” ujar Khadijah. Ia segera memerintahkan budak setianya untuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawa oleh Muhammad.
Setelah segala sesuatunya siap, berangkatlah Muhammad membawa kafilah dagang milik Khadijah. Ia ditemani oleh Maisarah, budak setia Khadijah. Ini adalah perjalanan pertama Muhammad sebagai saudagar. Ia berangkat dan bertanggung jawab sendiri.
Muhammad membawa kafilahnya melalui Wadi’l Qura dan Madyan mengikuti jalur pamannya dulu. Perjalanan ini membangkitkan kenangan saat dia ikut kafilah pamannya dulu. Dalam perjalanan ini ia semakin banyak merenungi dan memikirkan kembali hal-hal yang didengarnya dulu. Terutama tentang peribadatan dan kepercayaan orang-orang Romawi dan Persia.
Ketika sampai di Basrah ia bertemu dengan beberapa orang pendeta. Di antara mereka ada yang berasal dari Nestoria. Mereka mengajak Muhammad berdebat tentang agama dan kepercayaan yang mereka anut.
Di negeri Syam semua barang dagangan yang dibawanya terjual habis. Ia memperoleh
keuntungan yang memadai dari perniagaan ini.
Setelah semua dagangannya terjual, ia membeli barang-barang yang bakal laku dijual di Mekah. Lalu mereka pulang.
Pada musim lain Muhammad berangkat ke Syiria. Di sana dagangannya pun mudah terjual. Ia memperoleh laba yang cukup besar.
Setiap kali pulang, setiba di tempat kediaman Khadijah, Muhammad melaporkan semua hasil perdagangannya. Ia menyerahkan semua uang hasil niaganya kepada Khadijah. Ia juga menyampaikan tentang barang-barang yang dibeli di Syam atau Syiria untuk dijual di Mekah.
Khadijah amat senang mendengar laporan itu. Usaha perdagangannya di bawah Muhammad semakin berkembang.

*
BERSAMBUNG











1 komentar:

uzk mengatakan...

salam kenal, pak. senang sekali bisa menemukan blog ini. saya terkesan dengan buku cerita Raden Intan II yang pernah tulis dan saya baca sewaktu saya masih kelas SD dulu (1980-an).