
Air sumur terasa sejuk mengguyur tubuhnya yang semampai itu. Matahari masih tersaput awan. Akhir Januari yang berangin, lembab, dan dingin. Zuraida cepat-cepat menyelesaikan mandinya. Pagi ini ia harus segera ke sekolah. Ia harus memberi pelajaran seni suara.
Ketika ia keluar dari kamar mandi, ibunya menegur.
“Kamu ke sekolah hari ini?”
“Ya.”
“Umi ingin bicara.”
“Saya berpakaian dulu.”
“Duduklah dulu.”
Zuraida duduk menghadapi ibunya di ruang dapur. Ayahnya telah pergi pagi-pagi sekali. Tampaknya ia akan bepergian ke luar kota.
“Ada apa, Umi?”
Orang tua itu menghela napas, sepertinya berat hendak menyampaikan ucapannya. Hal itu membuat munculnya berbagai tanda tanya di benak Zuraida. Ada persoalan apa gerangan? Tampaknya sangat penting dan mendesak, sampai-sampai ibu tidak mau menunggunya berpakain.
“Ada apa, Umi? Penting betulkah? Tentang abak barangkali?” Zuraida mendesak. Semalam ia mendengar kedua orang tuanya terlibat pembicaraan yang serius. Tetapi, dia tidak mau menguping. Pikirnya hanya pembicaraan biasa saja. Mungkinkah ada masalah di antara mereka? Bertengkarkah mereka?
“Bukan.”
Lega hati Zuriada mendengar jawaban itu. Dia bertanya lagi, “Tentang apa, umi?”
“Tentang kau!”
Zuraida terkejut. Ditatapnya wajah ibu. Orang tua itu tampak gelisah, tetapi wajahnya tetap jernih, dan tatapan matanya bening, hanya senyumnya saja yang tidak muncul dari bibirnya yang merah alami. Dia tampak tegang dan serius.
Setelah beberapa kali menghela napas, sang ibu melanjutkan ucapannya.
“Bagaimana hubunganmu dengan si Hardi?”
Zuraida makin terkejut lagi. Selama beberapa tahun berhubungan dengan lelaki itu, ibu tidak pernah menanyainya. Ada apa gerangan maka kali ini dengan serius ia menanyakan hubungannya dengan Hardi? Zuraida mencoba menjawab sewajarnya.
“Biasa saja, umi.”
“Apakah kamu sungguh-sungguh mencintai dia?”
Zuraida terperangah. Ada apa gerangan? Tiba-tiba seekor ayam betina berlari sambil berkotek-kotek dikejar jantannya. Si betina berlari ke arah dapur. Namun, sebelum sempat masuk seekor kucing jantan menggertak dengan geramnya. Ayam betina itu ketakutan, ia melompat dan menghambur ke luar. Di depan pintu dapur si betina disergap oleh si jantan. Betina itu tidak berdaya, tertekan oleh tubuh jantan yang besar. Suara koteknya melemah dan semakin lemah juga. Sepi.
Ruangan dapur tempat Zuraida dan ibunya duduk pun sepi sesaat. Hanya debar jantung Zuraida yang berdetak kencang, mengalahkan detak bandul jam dinding. Setelah agak lama dicekam kebisuan, ibu berujar lagi.
“Jawablah pertanyaan umi dengan jujur.”
Sambil mendesahkan napas, Zuraida berujar, suaranya lemah, hampir-hampir tidak terdengar.
“Ya, umi.”
“Benar, kamu mencintai dia?”
Zuraida menatap ibunya, ia merasa aneh dengan pertanyaan ini. Ibunya juga menatap dengan wajah mengharap kejujuran hati anaknya. Zuraida mengangguk.
“Bagaimana dengan Hardi. Apakah kamu tidak bertepuk sebelah tangan?”
Zuraida ragu, benarkah dia mencintaiku? Tidakkah dia hanya main-main saja? Dia mencoba untuk mengintrospeksi dirinya. Dia memang telah bertekad, sejak awal hatinya tertarik kepada Hardi hanya lelaki itu yang dipilih bakal menjadi teman hidupnya. lalu bagaimana dengan Hardi? Sudah tiga tahun mereka menjalin kasih. Bagi Zuraida, Hardi adalah cinta pertamanya.
“Mengapa diam? Kamu ragu?”
Zuraida menggeleng..
“Kalau begitu cari dia...”
Belum sempat ibunya melanjutkan ucapannya, Zuraida menukas, “Tetapi, saya sudah lama tidak bertemu dia, umi. Sudah sebulan ini.”
“Ke mana dia?”
“Kata temannya, dia sedang bertugas ke luar daerah.”
“Cari dia sekarang, mudah-mudahan sudah pulang.”
“Untuk apa menemui dia, umi?”
“Katakan kepadanya, kalau dia sungguh-sungguh mencintai kamu, segeralah meminangmu!”
Mata Zuraida terbelalak menatap ibunya.
“Meminang?”
“Ya, kalian harus segera menikah!”
“Tetapi kami belum ada persiapan untuk menikah, umi.”
“Ada atau tidak, ini keadaan mendesak.”
Zuraida tertunduk sesaat. Pasti ada sesuatu yang terjadi, sehingga ibunya menghendaki agar ia segera menikah.
“Ada apa sebenarnya, umi?”
Dia memberanikan diri bertanya.
“Kamu akan dijodohkan Abdk dengan kemenakannya.”
Jantung Zuraida berdebar kencang. Cemas, khawatir, dan berbagai perasaan berkecamuk di hati. Dia tertunduk. Keceriaan dan kegairahannya pudar seketika.
“Pagi ini abakmu berangkat ke Palembang untuk membicarakan hal itu kepada fihak keluarga laki-laki.”
Bagaikan mendengar petir di siang terik, Zuraida menatap tajam ke arah ibunya. Orang tua itu tampak tegar. Sebuah tanda tanya muncul di benak Zuraida, mengapa ibu tidak memihak ayah? Tampaknya ibu memberi keleluasaan kepadanya untuk memilih. Dia ingin bertanya, “Mengapa umi tidak mendukung gagasan abak?” Namun, pertanyaan itu hanya ada di benaknya, tidak mampu terucapkan.
Seperti mengerti apa yang terkandung di hati anaknya, ibu berujar, “Umi tidak mau kau menikah dengan saudara.” Orang tua itu diam sejenak, menghela napas. Dengan suara yang agak tersendat dia melanjutkan ucapannya, “Umi tidak ingin apa yang telah umi alami terulang kepadamu. Umi setuju kamu menikah dengan Hardi, walau pun dia dari suku lain. Umi ingin, agar kamu menjadi istri satu-satunya dari seorang lelaki yang kamu cintai.”
“Apakah hal ini sangat mendesak, umi?” dia bertanya. Sebelum ibunya berujar dia melanjutkan, “Saya akan berbicara kepada abak, bahwa saya belum siap untuk menikah.” Diam sejenak, lalu lanjutnya, “Saya akan mencoba memberi pengertian kepada abak, bahwa sekarang bukan zaman Siti Nurbaya lagi. Anak perempuan berhak untuk memilih pasangannya sendiri.”
Ibu menghela napas mendengar ucapan anaknya ini. Lalu ujarnya, “Jika kamu tidak segera menikah dengan Hardi, kamu akan kehilangan kesempatan selamanya. Abakmu, bukan orang yang mau diajak berunding. Keputusannya adalah mutlak. Umi tidak bisa melindungimu.”
Zuraida tertunduk.
Ibu bangkit. Dia berdiri di sisi anaknya sambil memeluknya dia berkata, “Terserah. Umi telah memberi jalan, nasibmu berada di tangan kamu sendiri.” Dielusnya rambut anaknya yang masih basah itu, kemudian ia ke luar.
Zuraida tinggal sendiri. Ia merenung. Hatinya gundah. Sesuatu yang rumit tengah dihadapinya. Berbagai gejolak bertarung di hatinya. Mustahil aku akan mendesak Hardi untuk segera mengawiniku. Tetapi, kalau aku tidak mau menyampaikan kehendak umi, kesempatan untuk hidup bersama lelaki yang kucintai akan pupus. Aku akan masuk ke dalam genggaman lelaki yang belum aku kenal, kerabat ayah. Separah itukah nasibku? Benar kata umi, nasibku berada di tanganku. Akulah yang mesti menentukannya. Tidak berubah nasib suatu kaum, tanpa kaum itu sendiri yang mengubahnya. Aku harus tegar. Aku harus berani menyampaikan hal ini kepada Hardi. Buruk atau baik putusannya akan kuterima.
Zuraida bergegas masuk ke kamar. Ia berpakaian dan mematut diri sesaat di cermin. Sesosok gadis semampai berdiri di hadapannya, memantul di dalam cermin. Zuraida seperti melihat gadis asing. Sebuah pertanyaan muncul di benaknya, layak sudahkah gadis yang berada di dalam cermin itu menjadi seorang istri, seorang ibu rumah tangga? Dia tersenyum, sesuatu keanehan tiba-tiba muncul di hati. Aneh, hal yang selama ini tidak pernah dipikirnya, tiba-tiba akan menjadi kenyataan, menjadi istri dari seorang lelaki. Siapa gerangankah lelaki itu? Hardi atau kerabat ayah? Dia menghela napas dan berharap Hardilah yang akan menjadi suaminya, bukan lelaki lain. Ia memejamkan mata sesaat, memohon kepada Tuhan agar harapannya terkabul.
Zuraida bergegas berangkat ke sekolah. Beberapa genangan air bekas hujan semalam masih mengisi celuk-celuk sisi jalan aspal yang pecah dan berlubang. Warna air yang coklat silau memantulkan cahaya matahari. Uapnya membumbung ke udara. Zuraida berjalan cepat. Sampai di halaman sekolah bel tanda masuk kelas berbunyi. Ia tidak sempat lagi ke ruang kantor. Ia langsung ke ruang kelas tempatnya mengajar.
Pagi ini siswa-siswanya dibebaskan dari mata pelajaran. Dia enggan mengajarkan seni suara. Mereka diminta membaca pelajaran untuk jam kedua, tetapi tetap tinggal di kelas. Pada jam pelajaran kedua, dia minta ijin pulang kepada kepala sekolah.
Zuraida tidak pulang. Bukan fisiknya yang sakit. Diasedang tegang, menghadapi peristiwa yang amat pelik. Dia ke kantor Hardi.
“Hai, ada apa?” Ningsih, seorang resepsionis yang sudah mengenal akrab menyambutnya, “Kamu sakit. Kamu kelihatan pucat, Aida”. Zuraida menggeleng. Ningsih lanjut bertanya, “Kamu mencari Hardi?” tanyanya lagi.
“Ya.”
“Dia belum pulang.”
Seorang lelaki bernama Zailani, sahabat Hardi yang duduk di seberang meja Ningsih berujar, “Hardi pasti sudah di rumah.”
“Dari mana kamu tahu dia sudah pulang?” tanya Ningsih.
“Firasat. Kalau mau jumpa dia, pergilah ke rumahnya, Aida,” ujar Zailani.
Zuraida tidak banyak berbicara, ia segera meninggalkan kantor itu. Ia berjalan menuju ke rumah Hardi. Mudah-mudahan dia sudah pulang dari luar daerah, guman hatinya. Kalau belum? Ya, semua tergantung kepada Tuhan. Manusia hanya mampu berusaha, ketentuannya berada di tangan Tuhan.
Baru saja Hardi hendak memasuki pekarangan rumah tampak sosok seorang gadis menghampirinya dari arah yang berlawanan. Gadis itu sangat dikenalnya, gadis yang dirindukannya. Sebulan lebih dia pergi tanpa pamit. Dari jauh tampak senyumnya yang manis, lenggangnya yang khas dengan tekanan sebelah kaki sehingga pada saat dia jalan tampak seperti sedang menari atau hendak berancang-ancang terbang ke angkasa.
“Hei,” sapa Hardi setelah dekat.
“Ke mana saja kamu?” sapa Zuraida.
“Maaf, aku tidak sempat pamit. Aku bertugas ke luar daerah. Berangkatnya pagi sekali, sehingga tidak sempat menemuimu. ”
Zuraida hanya tersenyum.
“Juda tak sempat menelepon?”
Hardi rikuh dan merasa bersalah.
“Baru sampai?”
“Ya, baru turun dari kereta.”
Mereka masuk ke rumah
“Ada sesuatu yang akan kusampaikan.”
“Penting benar?”
“Sangat penting.”
Hardi menanggapi biasa saja.
“Apa gerangan?”
Zuraida terdiam. Agak lama baru mampu dia melontarkan ucapannya.
“Apakah kamu sungguh-sungguh dengan saya?”
“Sungghu-sungguh apa? Sungguh cinta?” goda Hardi sambil menatap tajam ke wajah gadis itu.
Zuraida menunduk.
“Tentu saja saya sangat mencintai kamu,” ujar Hardi lagi sambil menatap dan mendekatkan wajahnya ke wajah Zuraida. Lanjutnya, “Kamu ragu?”
Zuraida menggeleng.
“Nah, lalu ada apa?”
“Ibu meminta agar kamu segera meminang saya.”
“Ha?” Hardi terperanjat. Tetapi, dia masihmenganggap ini adalah gurauan, “Kamu bergurau?”
“Tidak.”
“Mengapa begitu mendadak. Bukankah kita belum merencanakan untuk menikah?”
“Menurut ibu ini sangat mendesak.”
“Ada apa sebenarnya,” Hardi ingin tahu.
“Aku tidak bisa menjelaskan. Kalau kamu benar-benar mencintai saya, segera meminang saya. Kita akan segera menikah.”
“Ala, mak....” keluh Hardi.
“Kalau kamu keberatan, ya sudah, kita berpisah. Dan, jangan harap akan bertemu lagi.”
“Aida...!”
Dia menunduk dan diam.
Hardi bangkit dari kursinya, menghampiri.
“Kamu tidak bisa menjelaskan, ada apa sebenarnya?”
Aida menggeleng.
“Baik, kalau begitu saya akan bicara dengan ibuku.”
“Hari ini juga saya minta kabar.”
“Ya, di mana kita ketemu?”
“Telpon saja.”
“Oke.”
“Saya harus ke sekolah lagi. Kelas saya tinggalkan. Saya masih harus mengajar siang.”
“Saya antar?”
Aida menggeleng.
Setiba di rumah, Hardi berbicara kepada ibunya.
“Saya ingin menikah, Mak.”
“Menikah?”
Perempuan yang pendiam ini menatap anak sulungnya. Telah lebih dua puluh tahun umurnya. Memang sudah layak menikah.
“Ya.”
“Dengan gadis Padang itu?”
“Siapa lagi kalau bukan dia.”
“Ya, siapa lagi kalau bukan dia,” ulang ibunya, “Tetapi, mengapa tergesa-gesa.”
Hardi berbohong.
“Tidak tergesa-gesa. Sudah lama kami merencanakannya.”
“Sudah punya persiapan untuk pinangan?”
Hardi mendesahkan napas. Pertanyaan ini yang amat berat untuk dijawab. Persiapan? Apa yang mesti dipersiapkan? Direncanakan pun tidak. Selama ini dia terlalu asyik dengan pekerjaannya. Terlalu mencintai profesinya. Selama menjalin cinta dengan Zuraida, belum pernah mereka membicarakan rencana perkawinan. Mereka hanya berpacaran layaknya anak remaja, bersenang-senang, berasyik-masyuk melampiaskan rindu dendam, tidak pernah tercetuskan apa rencana dan bagaimana kelanjutan perjalanan cinta-kasih ini. Tiba-tiba Hardi ditodong oleh Zuraida untuk segera meminang dan menikahinya.
*
Zuraida tidak kembali ke sekolah, pada pikirnya untuk apa kembali ke sekolah. Bukankah aku tadi sudah minta ijin untuk pulang? Lebih baik aku pulang, untuk mengabarkan berita baik ini kepada umi.
Setiba di rumah ia disambut oleh ibunya.
“Sudah bertemu Hardi?”
“Sudah, umi.”
“Kamu sampaikan permintaan umi?”
“Ya.”
“Apa tanggapannya?”
“Dia siap untuk meminang saya, umi.”
“Alhamdulillah. Kalau begitu kau tunggu di rumah. Jangan pergi ke mana-mana. Umi ada urusan sebentar.”
Menjelang waktu magrib ibunya pulang. Perempuan setengah baya itu telah membuat perencanaan yang matang dan rapi. Ia telah menghubungi kerabat-kerabatnya. Untuk mengantisipasi kepulangan suaminya pada hari Minggu, maka mereka sepakat pernikahan akan dilangsungkan pada hari Jum’at.
“Mintalah agar keluarga Hardi datang meminangmu pada malam Jum’at ini,” ujar ibunya kepada Zuraida.
Keesokan harinya, Zuraida menemui Hardi. Ia menyampaikan pesan ibunya kepada Hardi.
“Ya, Insya Allah malam Jum’at ibuku datang untuk meminangmu,” ujar Hardi.
Pagi Kamis ini udara sejuk. Mendung menggantung di langit. Angin deras menggoyangkan pucuk-pucuk daun. Walau pun masih musim penghujan, tetapi pada bulan Februari ini hujan jarang turun. Lebih-lebih apa bila angin deras, awan sirna, hanyut terbawa arus angin. Dalam beberapa saat langit menjadi jernih. Biasanya hujan akan turun pada sore atau malam hari. Zuraida tidak berharap hari ini turun hujan.
Sejak pagi itu Zuraida gelisah. Malam ini Hardi berjanji akan datang bersama orang tuanya. Ibu Zuraida bersama beberapa kerabat sibuk membuat penganan untuk menjamu tamu yang berkunjung. Tamu penting, penentu jalan hidup anak gadisnya.
Zuraida tidak terlibat dalam kegiatan persiapan itu. Usai mandi ia langsung pergi ke sekolah. Ia mencoba meredam rasa gelisahnya. Waktu terasa amat panjang. Perubahan detik ke menit, dan menit ke jam seakan sangat lambat.Di kelas berulang-ulang Zuraida melihat jam tangannya, terlihat seakan jarum jam tidak pernah berpindah. Ia pun tidak konsentrasi mengajar anak-anak. Ia biarkan anak-anak untuk mengerjakan soal-soal yang ada di buku. Sampai jam terakhir, papan tulis tetap bersih, tidak tersentuh kapur.
Usai sekolah, ia meminta ijin kepada Kepala Sekolah untuk tidak masuk pada hari Jumat. Ada keperluan keluarga, demikian alasannya. Lalu ia bergegas pulang. Erni masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, sehingga tidak pulang bersamanya.
Setiba di rumah, ia dapati keadaan yang berbeda dari biasanya, ramai, banyak orang perempuan tua dan muda, ada beberapa lelaki setengah baya yang duduk-duduk santai di teras. Hal ini berbeda dengan keadaan sehari-hari, hanya berdua dengan ibunya pada siang hari. Pada malam hari baru ayahnya berada di rumah.
Hari ini banyak orang datang, mereka mengaku kerabat ibu. Sungguh, sebelumnya Zuraida tidak pernah melihat wajah-wajah mereka. Hanya beberapa orang saja yang dia akrabi, yang semuanya dia panggil etek, sedangkan yang muda-muda belum pernah dijumpainya.
Usai salat magrib, ibu Zuraida dan perempuan-perempuan di rumah itu mulai berdandan rapi. Perempuan muda yang mengaku kawin dengan orang Jawa, berinisiatip mendadani Zuraida. Gadis Minang ini mengenakan kebaya putih berenda dengan kain batik lereng berwarna coklat gelap. Selendangnya kain satin halus juga berwarna putih. Dalam kebaya, gadis yang semampai ini tampak semakin kurus.
“Wau, rancak kau, Pik!” seru perempuan muda itu sambil menatapnya tajam.
Zuraida rikuh. Ia hanya tersenyum.
Usai waktu Isya, rombongan tamu yang dinanti-nanti tiba. Mereka disambut oleh dua orang lelaki di bawah teras. Perempuan-perempuan, terutama yang muda berdesakan di mulut pintu masuk. Mereka ingin melihat calon mempelai lelaki.
Upacara peminangan ini berlangsung singkat. Ibu Hardi tampak akrab dengan ibu Zuraida, seakan mereka telah saling kenal sejak lama. Ibu Zuraida banyak mengambil inisiatip untuk berbicara. Sedangkan ibu Hardi lebih banyak diam atau menganggukkan kepala. Ibu Zuraida langsung membicarakan rencana pernikahan,“Sebaiknya Jumat depan saja hari pernikahannya. Hari Jum’at, hari baik.”
“Ya, terserah ibu saja. Kami menurut,” ujar Ibu Hardi ketika ibu Zuraida mengusulkan waktu pernikahan.
*
Upacara pernikahan dilaksanakan sangat sederhana. Saat ijab kabul hanya dihadiri oleh ibu Zuraida, serta ibu dan nenek Hardi, selebihnya tetangga dekat.
Sebelum Zuraida keluar menghadap penghulu, ibu mengenakan seuntai kalung emas ke lehernya. Leher yang jenjang itu tampak semakin indah dengan hiasan kalung emas berliontin batu permata.
“Ini, pemberian mempelai lelaki,” kata ibunya.
Zuraida tersenyum riang.
“Ayo, penghulu telah menanti,” lanjut ibunya.
Zuraida keluar dari kamar dan duduk di sisi Hardi. Di hadapan mereka duduk penghulu dengan seorang stafnya dan beberapa orang kerabat sebagai saksi.
Usai Penghulu melaksanakan ijab kabul Hardi bersama Zuraida menyalami kedua orang tua mereka. Lalu mereka sujud di hadapan nenek. Perempuan tua itu menitikkan air mata. Tangannya yang mulai keriput mengelus punggung kedua mempelai. Semua yang hadir haru menyaksikan adegan ini. Ruangan sesaat terasa senyap. Hanya isak perempuan tua itu saja yang terdengar. Hardi dan Zuraida pun menitikkan air mata.
“Panjang jodoh, murah rejeki, dan semoga Tuhan berkenan menitipkan amanah-Nya, yaitu keturunan kepada kalian,” ujar ibu Hardi
“Amiiiin....” terdengar serempak suara yang hadir.
Ia membetulkan letak selendang Zuraida.
Lalu ujarnya, “Hardi, istri jangan hanya kau cintai, tetapi hormati juga dia sebagai perempuan. Perempuan adalah lambang kehidupan dan penghidupan, sumbu dari mana kita berasal. Hormati ibumu, dan ibu mertuamu, keduanya adalah tempat asal kehidupan dan penghidupan kalian berdua.”
Hardi dan Zuraida berdiam diri. Kepala mereka merunduk di pangkuan perempuan tua itu
“Ayo, bangun! Salami kerabat dan teman-teman kalian!”
Ketika kedua mempelai menyalami perempuan-perempuan muda yang ikut hadir dalam acara pernikahan itu, mereka mencandainya sambil tertawa-tawa riuh-rendah. Berubahlah suasana haru menjadi riang gembira.
Keesokan harinya, Hardi memboyong Zuraida ke rumah ibunya.
Seminggu setelah Zuraida dan Hardi menikah, Sutan, ayah Zuraida pulang. Orang tua ini mendapatkan rumah sepi hanya istrinya berada di rumah.
“Mana Si Upik?”
Dengan tegar perempuan itu menyampaikan bahwa Zuraida, anak tunggal mereka telah menikah.
“Ia telah menikah dengan Hardi, kekasihnya. Lelaki yang dia cintai,” ujar nya.
Orang tua itu seperti tertimpa bom. Pandangannya kabur dan seluruhnya tampak menjadi hitam. Beberapa detik ia kehilangan kesadaran. Manakala kesadarannya berangsur pulih, dia marah sejadi-jadinya. Dia sangat malu, karena telah membuat kesepatakan dengan kerabat untuk saling menjodohkan anak mereka. Alangkah malu hendak membatalkannya. Ia merasa telah ditohok dari belakang oleh istrinya. Nyaris ia menjatuhkan talak kepada istrinya.
Dalam keadaan frustrasi, orang tua itu menyampaikan kepada semua kerabat dan orang sekampung di rantau kota itu bahwa anak perempuannya telah mati. Telah putus hubungan kekerabatan. Semua orang memakluminya. Dan, mereka tetap yakin betapa pun marahnya, harimau tidak akan memakan anaknya sendiri. Tetapi, tidak ada orang yang berani menasihatinya, atau memberi saran agar dia mau bersabar, dan menerima kenyataan.
Akhirnya, Sutan memutuskan untuk meninggalkan kota yang dianggap telah membawa malapetaka, membuat mukanya tercoreng oleh arang.
Sebelum berangakt ibu datang mengunjungi Zuraida. Ketika itu Hardi berada di kantor.
“Umi akan pindah dari kota ini,” ujarnya.
“Mengapa harus pindah, umi?”
“Sebagai seorang istri, umi harus patuh kepada suami. Abakmu mengajak pindah dari Tanjungkarang. “
“Umi akan meninggalkan saya?”
“Telah ada orang yang melindungimu, seorang lelaki yang kamu cintai. Patuhlah kepadanya, uruslah dengan baik. Umi mendoakan, semoga kalian berbahagia dan panjang jodoh.”
Zuraida tidak kuat menahan tangis. Ia tersedu-sedu. Dipeluknya ibu yang amat menyayanginya itu. Betapa besar kasih orang tua ini. Gunung yang paling tinggi dan besar pun tidak mampu menyaingi kasih ibu.
“Jangan menangis. Hadapkan wajahmu ke depan. Perjalanan hidup kamu masih panjang. Raihlah masa depan dengan bekerja keras dan berdoa,” ujar ibunya.
“Ke mana ibu akan pergi?”
“Entahlah. Terserah abakmu.”
“Abak marah?”
“Jangan kau hiraukan kemarahan abak. Suatu saat nanti, kemarahannya akan reda.”
“Apakah saya telah menyebabkan umi susah?”
“Tidak. Umi bahagia. Lebih-lebih telah mengantarkan kamu ke jenjang kehidupan bersama lelaki yang kamu cintai. Ibu sangat senang. Ayolah, jangan menangis.”
Perempuan itu melepaskan diri dari pelukan Zuraida. Dipegangnya kedua bahu Zuraida, diseka air yang menggenang di matanya. Ujarnya, “Salam umi untuk Hardi. Umi tidak bisa menemuinya. Nanti umi berkirim surat. Kalau Tuhan menghendaki, kita akan berkumpul lagi. Yakinlah.”
Sepeninggal ibu, Zuraida merenung. Betapa agungnya kasih seorang ibu. Dia sadari bahwa tidak mungkin terbalas kasih seorang ibu. Dan, dia pun sadar adalah berdosa menentang kehendak seorang ayah.
“Semoga Tuhan mengampuniku, demi cinta aku berani menentang kehendak abak. Ya, Allah sayangilah kedua orang tuaku, seperti mereka menyayangi aku.”
Ketika Hardi pulang, ia mendapatkan Zuraida masih tampak bersedih. Matanya masih sembab karena tangis.
“Kamu habis menangis? Ada apa?”
Zuraida menceritakan tentang rencana kepindahan ibunya. Ujarnya, “Ibu akan pindah mengikuti abak. Abak saya marah karena kita menikah. Sekarang saya sebatangkara, tidak punya siapa-siapa.”
Ia menangis tersedu-sedu.
Hardi terharu mendengar ucapan Zuraida. Direngkuhnya perempuan itu ke dalam pelukan.
“Jangan menangis. Kamu tidak sendiri. Saya akan selalu berada di sisimu. Jika Tuhan menghendaki, Insya Allah kita akan bersama terus, sampai ke liang lahat.”
Tangis Zuraida semakin keras.
Biodata
--------------------------------------------
Andy Wasis lahir di Tanjungkarang Bandar Lampung. Sepanjang hayatnya hidup dari menulis buku. Cerpennya banyak dimuat oleh berbagai majalah/surat kabar lokal dan nasional. Novelnya (lebih dari 100 novel terdiri dari novel anak, remaja, dan dewasa) telah diterbitkan oleh berbagai penerbit di Indonesia. Novel-novel yang terbit pada dekade 2000-an ini di antaranya, Katakan Dengan Cinta (Grasindo 2001), Penantian 36 Purnama (Grasindo 2002), Rasul (Novel Sejarah- Rosda 2004).
Ketika ia keluar dari kamar mandi, ibunya menegur.
“Kamu ke sekolah hari ini?”
“Ya.”
“Umi ingin bicara.”
“Saya berpakaian dulu.”
“Duduklah dulu.”
Zuraida duduk menghadapi ibunya di ruang dapur. Ayahnya telah pergi pagi-pagi sekali. Tampaknya ia akan bepergian ke luar kota.
“Ada apa, Umi?”
Orang tua itu menghela napas, sepertinya berat hendak menyampaikan ucapannya. Hal itu membuat munculnya berbagai tanda tanya di benak Zuraida. Ada persoalan apa gerangan? Tampaknya sangat penting dan mendesak, sampai-sampai ibu tidak mau menunggunya berpakain.
“Ada apa, Umi? Penting betulkah? Tentang abak barangkali?” Zuraida mendesak. Semalam ia mendengar kedua orang tuanya terlibat pembicaraan yang serius. Tetapi, dia tidak mau menguping. Pikirnya hanya pembicaraan biasa saja. Mungkinkah ada masalah di antara mereka? Bertengkarkah mereka?
“Bukan.”
Lega hati Zuriada mendengar jawaban itu. Dia bertanya lagi, “Tentang apa, umi?”
“Tentang kau!”
Zuraida terkejut. Ditatapnya wajah ibu. Orang tua itu tampak gelisah, tetapi wajahnya tetap jernih, dan tatapan matanya bening, hanya senyumnya saja yang tidak muncul dari bibirnya yang merah alami. Dia tampak tegang dan serius.
Setelah beberapa kali menghela napas, sang ibu melanjutkan ucapannya.
“Bagaimana hubunganmu dengan si Hardi?”
Zuraida makin terkejut lagi. Selama beberapa tahun berhubungan dengan lelaki itu, ibu tidak pernah menanyainya. Ada apa gerangan maka kali ini dengan serius ia menanyakan hubungannya dengan Hardi? Zuraida mencoba menjawab sewajarnya.
“Biasa saja, umi.”
“Apakah kamu sungguh-sungguh mencintai dia?”
Zuraida terperangah. Ada apa gerangan? Tiba-tiba seekor ayam betina berlari sambil berkotek-kotek dikejar jantannya. Si betina berlari ke arah dapur. Namun, sebelum sempat masuk seekor kucing jantan menggertak dengan geramnya. Ayam betina itu ketakutan, ia melompat dan menghambur ke luar. Di depan pintu dapur si betina disergap oleh si jantan. Betina itu tidak berdaya, tertekan oleh tubuh jantan yang besar. Suara koteknya melemah dan semakin lemah juga. Sepi.
Ruangan dapur tempat Zuraida dan ibunya duduk pun sepi sesaat. Hanya debar jantung Zuraida yang berdetak kencang, mengalahkan detak bandul jam dinding. Setelah agak lama dicekam kebisuan, ibu berujar lagi.
“Jawablah pertanyaan umi dengan jujur.”
Sambil mendesahkan napas, Zuraida berujar, suaranya lemah, hampir-hampir tidak terdengar.
“Ya, umi.”
“Benar, kamu mencintai dia?”
Zuraida menatap ibunya, ia merasa aneh dengan pertanyaan ini. Ibunya juga menatap dengan wajah mengharap kejujuran hati anaknya. Zuraida mengangguk.
“Bagaimana dengan Hardi. Apakah kamu tidak bertepuk sebelah tangan?”
Zuraida ragu, benarkah dia mencintaiku? Tidakkah dia hanya main-main saja? Dia mencoba untuk mengintrospeksi dirinya. Dia memang telah bertekad, sejak awal hatinya tertarik kepada Hardi hanya lelaki itu yang dipilih bakal menjadi teman hidupnya. lalu bagaimana dengan Hardi? Sudah tiga tahun mereka menjalin kasih. Bagi Zuraida, Hardi adalah cinta pertamanya.
“Mengapa diam? Kamu ragu?”
Zuraida menggeleng..
“Kalau begitu cari dia...”
Belum sempat ibunya melanjutkan ucapannya, Zuraida menukas, “Tetapi, saya sudah lama tidak bertemu dia, umi. Sudah sebulan ini.”
“Ke mana dia?”
“Kata temannya, dia sedang bertugas ke luar daerah.”
“Cari dia sekarang, mudah-mudahan sudah pulang.”
“Untuk apa menemui dia, umi?”
“Katakan kepadanya, kalau dia sungguh-sungguh mencintai kamu, segeralah meminangmu!”
Mata Zuraida terbelalak menatap ibunya.
“Meminang?”
“Ya, kalian harus segera menikah!”
“Tetapi kami belum ada persiapan untuk menikah, umi.”
“Ada atau tidak, ini keadaan mendesak.”
Zuraida tertunduk sesaat. Pasti ada sesuatu yang terjadi, sehingga ibunya menghendaki agar ia segera menikah.
“Ada apa sebenarnya, umi?”
Dia memberanikan diri bertanya.
“Kamu akan dijodohkan Abdk dengan kemenakannya.”
Jantung Zuraida berdebar kencang. Cemas, khawatir, dan berbagai perasaan berkecamuk di hati. Dia tertunduk. Keceriaan dan kegairahannya pudar seketika.
“Pagi ini abakmu berangkat ke Palembang untuk membicarakan hal itu kepada fihak keluarga laki-laki.”
Bagaikan mendengar petir di siang terik, Zuraida menatap tajam ke arah ibunya. Orang tua itu tampak tegar. Sebuah tanda tanya muncul di benak Zuraida, mengapa ibu tidak memihak ayah? Tampaknya ibu memberi keleluasaan kepadanya untuk memilih. Dia ingin bertanya, “Mengapa umi tidak mendukung gagasan abak?” Namun, pertanyaan itu hanya ada di benaknya, tidak mampu terucapkan.
Seperti mengerti apa yang terkandung di hati anaknya, ibu berujar, “Umi tidak mau kau menikah dengan saudara.” Orang tua itu diam sejenak, menghela napas. Dengan suara yang agak tersendat dia melanjutkan ucapannya, “Umi tidak ingin apa yang telah umi alami terulang kepadamu. Umi setuju kamu menikah dengan Hardi, walau pun dia dari suku lain. Umi ingin, agar kamu menjadi istri satu-satunya dari seorang lelaki yang kamu cintai.”
“Apakah hal ini sangat mendesak, umi?” dia bertanya. Sebelum ibunya berujar dia melanjutkan, “Saya akan berbicara kepada abak, bahwa saya belum siap untuk menikah.” Diam sejenak, lalu lanjutnya, “Saya akan mencoba memberi pengertian kepada abak, bahwa sekarang bukan zaman Siti Nurbaya lagi. Anak perempuan berhak untuk memilih pasangannya sendiri.”
Ibu menghela napas mendengar ucapan anaknya ini. Lalu ujarnya, “Jika kamu tidak segera menikah dengan Hardi, kamu akan kehilangan kesempatan selamanya. Abakmu, bukan orang yang mau diajak berunding. Keputusannya adalah mutlak. Umi tidak bisa melindungimu.”
Zuraida tertunduk.
Ibu bangkit. Dia berdiri di sisi anaknya sambil memeluknya dia berkata, “Terserah. Umi telah memberi jalan, nasibmu berada di tangan kamu sendiri.” Dielusnya rambut anaknya yang masih basah itu, kemudian ia ke luar.
Zuraida tinggal sendiri. Ia merenung. Hatinya gundah. Sesuatu yang rumit tengah dihadapinya. Berbagai gejolak bertarung di hatinya. Mustahil aku akan mendesak Hardi untuk segera mengawiniku. Tetapi, kalau aku tidak mau menyampaikan kehendak umi, kesempatan untuk hidup bersama lelaki yang kucintai akan pupus. Aku akan masuk ke dalam genggaman lelaki yang belum aku kenal, kerabat ayah. Separah itukah nasibku? Benar kata umi, nasibku berada di tanganku. Akulah yang mesti menentukannya. Tidak berubah nasib suatu kaum, tanpa kaum itu sendiri yang mengubahnya. Aku harus tegar. Aku harus berani menyampaikan hal ini kepada Hardi. Buruk atau baik putusannya akan kuterima.
Zuraida bergegas masuk ke kamar. Ia berpakaian dan mematut diri sesaat di cermin. Sesosok gadis semampai berdiri di hadapannya, memantul di dalam cermin. Zuraida seperti melihat gadis asing. Sebuah pertanyaan muncul di benaknya, layak sudahkah gadis yang berada di dalam cermin itu menjadi seorang istri, seorang ibu rumah tangga? Dia tersenyum, sesuatu keanehan tiba-tiba muncul di hati. Aneh, hal yang selama ini tidak pernah dipikirnya, tiba-tiba akan menjadi kenyataan, menjadi istri dari seorang lelaki. Siapa gerangankah lelaki itu? Hardi atau kerabat ayah? Dia menghela napas dan berharap Hardilah yang akan menjadi suaminya, bukan lelaki lain. Ia memejamkan mata sesaat, memohon kepada Tuhan agar harapannya terkabul.
Zuraida bergegas berangkat ke sekolah. Beberapa genangan air bekas hujan semalam masih mengisi celuk-celuk sisi jalan aspal yang pecah dan berlubang. Warna air yang coklat silau memantulkan cahaya matahari. Uapnya membumbung ke udara. Zuraida berjalan cepat. Sampai di halaman sekolah bel tanda masuk kelas berbunyi. Ia tidak sempat lagi ke ruang kantor. Ia langsung ke ruang kelas tempatnya mengajar.
Pagi ini siswa-siswanya dibebaskan dari mata pelajaran. Dia enggan mengajarkan seni suara. Mereka diminta membaca pelajaran untuk jam kedua, tetapi tetap tinggal di kelas. Pada jam pelajaran kedua, dia minta ijin pulang kepada kepala sekolah.
Zuraida tidak pulang. Bukan fisiknya yang sakit. Diasedang tegang, menghadapi peristiwa yang amat pelik. Dia ke kantor Hardi.
“Hai, ada apa?” Ningsih, seorang resepsionis yang sudah mengenal akrab menyambutnya, “Kamu sakit. Kamu kelihatan pucat, Aida”. Zuraida menggeleng. Ningsih lanjut bertanya, “Kamu mencari Hardi?” tanyanya lagi.
“Ya.”
“Dia belum pulang.”
Seorang lelaki bernama Zailani, sahabat Hardi yang duduk di seberang meja Ningsih berujar, “Hardi pasti sudah di rumah.”
“Dari mana kamu tahu dia sudah pulang?” tanya Ningsih.
“Firasat. Kalau mau jumpa dia, pergilah ke rumahnya, Aida,” ujar Zailani.
Zuraida tidak banyak berbicara, ia segera meninggalkan kantor itu. Ia berjalan menuju ke rumah Hardi. Mudah-mudahan dia sudah pulang dari luar daerah, guman hatinya. Kalau belum? Ya, semua tergantung kepada Tuhan. Manusia hanya mampu berusaha, ketentuannya berada di tangan Tuhan.
Baru saja Hardi hendak memasuki pekarangan rumah tampak sosok seorang gadis menghampirinya dari arah yang berlawanan. Gadis itu sangat dikenalnya, gadis yang dirindukannya. Sebulan lebih dia pergi tanpa pamit. Dari jauh tampak senyumnya yang manis, lenggangnya yang khas dengan tekanan sebelah kaki sehingga pada saat dia jalan tampak seperti sedang menari atau hendak berancang-ancang terbang ke angkasa.
“Hei,” sapa Hardi setelah dekat.
“Ke mana saja kamu?” sapa Zuraida.
“Maaf, aku tidak sempat pamit. Aku bertugas ke luar daerah. Berangkatnya pagi sekali, sehingga tidak sempat menemuimu. ”
Zuraida hanya tersenyum.
“Juda tak sempat menelepon?”
Hardi rikuh dan merasa bersalah.
“Baru sampai?”
“Ya, baru turun dari kereta.”
Mereka masuk ke rumah
“Ada sesuatu yang akan kusampaikan.”
“Penting benar?”
“Sangat penting.”
Hardi menanggapi biasa saja.
“Apa gerangan?”
Zuraida terdiam. Agak lama baru mampu dia melontarkan ucapannya.
“Apakah kamu sungguh-sungguh dengan saya?”
“Sungghu-sungguh apa? Sungguh cinta?” goda Hardi sambil menatap tajam ke wajah gadis itu.
Zuraida menunduk.
“Tentu saja saya sangat mencintai kamu,” ujar Hardi lagi sambil menatap dan mendekatkan wajahnya ke wajah Zuraida. Lanjutnya, “Kamu ragu?”
Zuraida menggeleng.
“Nah, lalu ada apa?”
“Ibu meminta agar kamu segera meminang saya.”
“Ha?” Hardi terperanjat. Tetapi, dia masihmenganggap ini adalah gurauan, “Kamu bergurau?”
“Tidak.”
“Mengapa begitu mendadak. Bukankah kita belum merencanakan untuk menikah?”
“Menurut ibu ini sangat mendesak.”
“Ada apa sebenarnya,” Hardi ingin tahu.
“Aku tidak bisa menjelaskan. Kalau kamu benar-benar mencintai saya, segera meminang saya. Kita akan segera menikah.”
“Ala, mak....” keluh Hardi.
“Kalau kamu keberatan, ya sudah, kita berpisah. Dan, jangan harap akan bertemu lagi.”
“Aida...!”
Dia menunduk dan diam.
Hardi bangkit dari kursinya, menghampiri.
“Kamu tidak bisa menjelaskan, ada apa sebenarnya?”
Aida menggeleng.
“Baik, kalau begitu saya akan bicara dengan ibuku.”
“Hari ini juga saya minta kabar.”
“Ya, di mana kita ketemu?”
“Telpon saja.”
“Oke.”
“Saya harus ke sekolah lagi. Kelas saya tinggalkan. Saya masih harus mengajar siang.”
“Saya antar?”
Aida menggeleng.
Setiba di rumah, Hardi berbicara kepada ibunya.
“Saya ingin menikah, Mak.”
“Menikah?”
Perempuan yang pendiam ini menatap anak sulungnya. Telah lebih dua puluh tahun umurnya. Memang sudah layak menikah.
“Ya.”
“Dengan gadis Padang itu?”
“Siapa lagi kalau bukan dia.”
“Ya, siapa lagi kalau bukan dia,” ulang ibunya, “Tetapi, mengapa tergesa-gesa.”
Hardi berbohong.
“Tidak tergesa-gesa. Sudah lama kami merencanakannya.”
“Sudah punya persiapan untuk pinangan?”
Hardi mendesahkan napas. Pertanyaan ini yang amat berat untuk dijawab. Persiapan? Apa yang mesti dipersiapkan? Direncanakan pun tidak. Selama ini dia terlalu asyik dengan pekerjaannya. Terlalu mencintai profesinya. Selama menjalin cinta dengan Zuraida, belum pernah mereka membicarakan rencana perkawinan. Mereka hanya berpacaran layaknya anak remaja, bersenang-senang, berasyik-masyuk melampiaskan rindu dendam, tidak pernah tercetuskan apa rencana dan bagaimana kelanjutan perjalanan cinta-kasih ini. Tiba-tiba Hardi ditodong oleh Zuraida untuk segera meminang dan menikahinya.
*
Zuraida tidak kembali ke sekolah, pada pikirnya untuk apa kembali ke sekolah. Bukankah aku tadi sudah minta ijin untuk pulang? Lebih baik aku pulang, untuk mengabarkan berita baik ini kepada umi.
Setiba di rumah ia disambut oleh ibunya.
“Sudah bertemu Hardi?”
“Sudah, umi.”
“Kamu sampaikan permintaan umi?”
“Ya.”
“Apa tanggapannya?”
“Dia siap untuk meminang saya, umi.”
“Alhamdulillah. Kalau begitu kau tunggu di rumah. Jangan pergi ke mana-mana. Umi ada urusan sebentar.”
Menjelang waktu magrib ibunya pulang. Perempuan setengah baya itu telah membuat perencanaan yang matang dan rapi. Ia telah menghubungi kerabat-kerabatnya. Untuk mengantisipasi kepulangan suaminya pada hari Minggu, maka mereka sepakat pernikahan akan dilangsungkan pada hari Jum’at.
“Mintalah agar keluarga Hardi datang meminangmu pada malam Jum’at ini,” ujar ibunya kepada Zuraida.
Keesokan harinya, Zuraida menemui Hardi. Ia menyampaikan pesan ibunya kepada Hardi.
“Ya, Insya Allah malam Jum’at ibuku datang untuk meminangmu,” ujar Hardi.
Pagi Kamis ini udara sejuk. Mendung menggantung di langit. Angin deras menggoyangkan pucuk-pucuk daun. Walau pun masih musim penghujan, tetapi pada bulan Februari ini hujan jarang turun. Lebih-lebih apa bila angin deras, awan sirna, hanyut terbawa arus angin. Dalam beberapa saat langit menjadi jernih. Biasanya hujan akan turun pada sore atau malam hari. Zuraida tidak berharap hari ini turun hujan.
Sejak pagi itu Zuraida gelisah. Malam ini Hardi berjanji akan datang bersama orang tuanya. Ibu Zuraida bersama beberapa kerabat sibuk membuat penganan untuk menjamu tamu yang berkunjung. Tamu penting, penentu jalan hidup anak gadisnya.
Zuraida tidak terlibat dalam kegiatan persiapan itu. Usai mandi ia langsung pergi ke sekolah. Ia mencoba meredam rasa gelisahnya. Waktu terasa amat panjang. Perubahan detik ke menit, dan menit ke jam seakan sangat lambat.Di kelas berulang-ulang Zuraida melihat jam tangannya, terlihat seakan jarum jam tidak pernah berpindah. Ia pun tidak konsentrasi mengajar anak-anak. Ia biarkan anak-anak untuk mengerjakan soal-soal yang ada di buku. Sampai jam terakhir, papan tulis tetap bersih, tidak tersentuh kapur.
Usai sekolah, ia meminta ijin kepada Kepala Sekolah untuk tidak masuk pada hari Jumat. Ada keperluan keluarga, demikian alasannya. Lalu ia bergegas pulang. Erni masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, sehingga tidak pulang bersamanya.
Setiba di rumah, ia dapati keadaan yang berbeda dari biasanya, ramai, banyak orang perempuan tua dan muda, ada beberapa lelaki setengah baya yang duduk-duduk santai di teras. Hal ini berbeda dengan keadaan sehari-hari, hanya berdua dengan ibunya pada siang hari. Pada malam hari baru ayahnya berada di rumah.
Hari ini banyak orang datang, mereka mengaku kerabat ibu. Sungguh, sebelumnya Zuraida tidak pernah melihat wajah-wajah mereka. Hanya beberapa orang saja yang dia akrabi, yang semuanya dia panggil etek, sedangkan yang muda-muda belum pernah dijumpainya.
Usai salat magrib, ibu Zuraida dan perempuan-perempuan di rumah itu mulai berdandan rapi. Perempuan muda yang mengaku kawin dengan orang Jawa, berinisiatip mendadani Zuraida. Gadis Minang ini mengenakan kebaya putih berenda dengan kain batik lereng berwarna coklat gelap. Selendangnya kain satin halus juga berwarna putih. Dalam kebaya, gadis yang semampai ini tampak semakin kurus.
“Wau, rancak kau, Pik!” seru perempuan muda itu sambil menatapnya tajam.
Zuraida rikuh. Ia hanya tersenyum.
Usai waktu Isya, rombongan tamu yang dinanti-nanti tiba. Mereka disambut oleh dua orang lelaki di bawah teras. Perempuan-perempuan, terutama yang muda berdesakan di mulut pintu masuk. Mereka ingin melihat calon mempelai lelaki.
Upacara peminangan ini berlangsung singkat. Ibu Hardi tampak akrab dengan ibu Zuraida, seakan mereka telah saling kenal sejak lama. Ibu Zuraida banyak mengambil inisiatip untuk berbicara. Sedangkan ibu Hardi lebih banyak diam atau menganggukkan kepala. Ibu Zuraida langsung membicarakan rencana pernikahan,“Sebaiknya Jumat depan saja hari pernikahannya. Hari Jum’at, hari baik.”
“Ya, terserah ibu saja. Kami menurut,” ujar Ibu Hardi ketika ibu Zuraida mengusulkan waktu pernikahan.
*
Upacara pernikahan dilaksanakan sangat sederhana. Saat ijab kabul hanya dihadiri oleh ibu Zuraida, serta ibu dan nenek Hardi, selebihnya tetangga dekat.
Sebelum Zuraida keluar menghadap penghulu, ibu mengenakan seuntai kalung emas ke lehernya. Leher yang jenjang itu tampak semakin indah dengan hiasan kalung emas berliontin batu permata.
“Ini, pemberian mempelai lelaki,” kata ibunya.
Zuraida tersenyum riang.
“Ayo, penghulu telah menanti,” lanjut ibunya.
Zuraida keluar dari kamar dan duduk di sisi Hardi. Di hadapan mereka duduk penghulu dengan seorang stafnya dan beberapa orang kerabat sebagai saksi.
Usai Penghulu melaksanakan ijab kabul Hardi bersama Zuraida menyalami kedua orang tua mereka. Lalu mereka sujud di hadapan nenek. Perempuan tua itu menitikkan air mata. Tangannya yang mulai keriput mengelus punggung kedua mempelai. Semua yang hadir haru menyaksikan adegan ini. Ruangan sesaat terasa senyap. Hanya isak perempuan tua itu saja yang terdengar. Hardi dan Zuraida pun menitikkan air mata.
“Panjang jodoh, murah rejeki, dan semoga Tuhan berkenan menitipkan amanah-Nya, yaitu keturunan kepada kalian,” ujar ibu Hardi
“Amiiiin....” terdengar serempak suara yang hadir.
Ia membetulkan letak selendang Zuraida.
Lalu ujarnya, “Hardi, istri jangan hanya kau cintai, tetapi hormati juga dia sebagai perempuan. Perempuan adalah lambang kehidupan dan penghidupan, sumbu dari mana kita berasal. Hormati ibumu, dan ibu mertuamu, keduanya adalah tempat asal kehidupan dan penghidupan kalian berdua.”
Hardi dan Zuraida berdiam diri. Kepala mereka merunduk di pangkuan perempuan tua itu
“Ayo, bangun! Salami kerabat dan teman-teman kalian!”
Ketika kedua mempelai menyalami perempuan-perempuan muda yang ikut hadir dalam acara pernikahan itu, mereka mencandainya sambil tertawa-tawa riuh-rendah. Berubahlah suasana haru menjadi riang gembira.
Keesokan harinya, Hardi memboyong Zuraida ke rumah ibunya.
Seminggu setelah Zuraida dan Hardi menikah, Sutan, ayah Zuraida pulang. Orang tua ini mendapatkan rumah sepi hanya istrinya berada di rumah.
“Mana Si Upik?”
Dengan tegar perempuan itu menyampaikan bahwa Zuraida, anak tunggal mereka telah menikah.
“Ia telah menikah dengan Hardi, kekasihnya. Lelaki yang dia cintai,” ujar nya.
Orang tua itu seperti tertimpa bom. Pandangannya kabur dan seluruhnya tampak menjadi hitam. Beberapa detik ia kehilangan kesadaran. Manakala kesadarannya berangsur pulih, dia marah sejadi-jadinya. Dia sangat malu, karena telah membuat kesepatakan dengan kerabat untuk saling menjodohkan anak mereka. Alangkah malu hendak membatalkannya. Ia merasa telah ditohok dari belakang oleh istrinya. Nyaris ia menjatuhkan talak kepada istrinya.
Dalam keadaan frustrasi, orang tua itu menyampaikan kepada semua kerabat dan orang sekampung di rantau kota itu bahwa anak perempuannya telah mati. Telah putus hubungan kekerabatan. Semua orang memakluminya. Dan, mereka tetap yakin betapa pun marahnya, harimau tidak akan memakan anaknya sendiri. Tetapi, tidak ada orang yang berani menasihatinya, atau memberi saran agar dia mau bersabar, dan menerima kenyataan.
Akhirnya, Sutan memutuskan untuk meninggalkan kota yang dianggap telah membawa malapetaka, membuat mukanya tercoreng oleh arang.
Sebelum berangakt ibu datang mengunjungi Zuraida. Ketika itu Hardi berada di kantor.
“Umi akan pindah dari kota ini,” ujarnya.
“Mengapa harus pindah, umi?”
“Sebagai seorang istri, umi harus patuh kepada suami. Abakmu mengajak pindah dari Tanjungkarang. “
“Umi akan meninggalkan saya?”
“Telah ada orang yang melindungimu, seorang lelaki yang kamu cintai. Patuhlah kepadanya, uruslah dengan baik. Umi mendoakan, semoga kalian berbahagia dan panjang jodoh.”
Zuraida tidak kuat menahan tangis. Ia tersedu-sedu. Dipeluknya ibu yang amat menyayanginya itu. Betapa besar kasih orang tua ini. Gunung yang paling tinggi dan besar pun tidak mampu menyaingi kasih ibu.
“Jangan menangis. Hadapkan wajahmu ke depan. Perjalanan hidup kamu masih panjang. Raihlah masa depan dengan bekerja keras dan berdoa,” ujar ibunya.
“Ke mana ibu akan pergi?”
“Entahlah. Terserah abakmu.”
“Abak marah?”
“Jangan kau hiraukan kemarahan abak. Suatu saat nanti, kemarahannya akan reda.”
“Apakah saya telah menyebabkan umi susah?”
“Tidak. Umi bahagia. Lebih-lebih telah mengantarkan kamu ke jenjang kehidupan bersama lelaki yang kamu cintai. Ibu sangat senang. Ayolah, jangan menangis.”
Perempuan itu melepaskan diri dari pelukan Zuraida. Dipegangnya kedua bahu Zuraida, diseka air yang menggenang di matanya. Ujarnya, “Salam umi untuk Hardi. Umi tidak bisa menemuinya. Nanti umi berkirim surat. Kalau Tuhan menghendaki, kita akan berkumpul lagi. Yakinlah.”
Sepeninggal ibu, Zuraida merenung. Betapa agungnya kasih seorang ibu. Dia sadari bahwa tidak mungkin terbalas kasih seorang ibu. Dan, dia pun sadar adalah berdosa menentang kehendak seorang ayah.
“Semoga Tuhan mengampuniku, demi cinta aku berani menentang kehendak abak. Ya, Allah sayangilah kedua orang tuaku, seperti mereka menyayangi aku.”
Ketika Hardi pulang, ia mendapatkan Zuraida masih tampak bersedih. Matanya masih sembab karena tangis.
“Kamu habis menangis? Ada apa?”
Zuraida menceritakan tentang rencana kepindahan ibunya. Ujarnya, “Ibu akan pindah mengikuti abak. Abak saya marah karena kita menikah. Sekarang saya sebatangkara, tidak punya siapa-siapa.”
Ia menangis tersedu-sedu.
Hardi terharu mendengar ucapan Zuraida. Direngkuhnya perempuan itu ke dalam pelukan.
“Jangan menangis. Kamu tidak sendiri. Saya akan selalu berada di sisimu. Jika Tuhan menghendaki, Insya Allah kita akan bersama terus, sampai ke liang lahat.”
Tangis Zuraida semakin keras.
Biodata
--------------------------------------------
Andy Wasis lahir di Tanjungkarang Bandar Lampung. Sepanjang hayatnya hidup dari menulis buku. Cerpennya banyak dimuat oleh berbagai majalah/surat kabar lokal dan nasional. Novelnya (lebih dari 100 novel terdiri dari novel anak, remaja, dan dewasa) telah diterbitkan oleh berbagai penerbit di Indonesia. Novel-novel yang terbit pada dekade 2000-an ini di antaranya, Katakan Dengan Cinta (Grasindo 2001), Penantian 36 Purnama (Grasindo 2002), Rasul (Novel Sejarah- Rosda 2004).
1 komentar:
bagus om.. idenya sederhana tapi sangat runut.. cuma aja saya awalnya menunggu akhir yang lebih klimaks daripada di cerita ini. itu aja mungkin yang kurang, akhir cerita yang dramatis.
Posting Komentar