10.20.2009

PEREMPUAN BERCADAR HITAM




Tiba-tiba saja rumah Etti, peremuan muda yang tinggal sendiri di pinggiran Jakarta, karena suaminya bekerja di Arab, menjadi perhatian orang banyak, tetangganya, perempuan-perempuan yang suka gosip. Pasalnya ada tamu perempuan dengan lirik mata gairah, tetapi menutup wajah dengan cadar hitam. Dari jilbab yang dikenakannya yang juga berwarna hitam terbayang tubuhnya yang langsing.
Orang-orang tak banyak tanya, mereka menunggu sampai hari ketiga. Bukankah pada hari ketiga jika orang itu masih ada di rumah Etti berarti bukan lagi tamu. Tamu cuma sebatas tiga hari. Setelah tiga hari dia sudah boleh dibilang warga baru.
Pada hari keempat, perempuan-perempuan muda mulai bergunjing di hadapan gerobak tukang sayur milik Imron, pedagang sayur keliling yang menjadi langganan ibu-ibu di desa itu.
“Siapa tuh tamu si Eti, pakai cadar segala,” si Onah, biang gossip membuka obrolan.
“Iye, gua jadi penasaran,” sambut Ipah, juga biang gossip.
Dua orang ibu muda datang ke tempat gerobak sayur. Lalu mereka berbisik-bisik sambil delapan pasang mata mereka mengarah ke rumah Eti. Rumah itu masih tampak sepi. Si Imron tukang sayur nimpali, “Ini mau beli sayur apa mau ngawasin rumah Bu Eti?
“Hess… diam lu Ron. Ini penting.”
Imron tukang sayur sabar menunggu.
Beberapa saat kemudian Etti keluar.
“Hesss tuh dia keluar. Mana perempuan bercadar hitamnya?’ ujar Onah.
“Di dalam.”
‘Eeeh, Pah menurut lu kenapa dia nutupin mukanya begitu ya?
“Takut cantiknya ketahuan,” timpal salah seorang ibu.
“Mending kalu cantik…”
Belum selesai kata-kata perempuan ini temannya menimpali, “Bibirnya sumbing kali …”
Riuhlah tawa ibu-ibu muda ini.
Imron, si tukang sayur menimpali, “Jangan su-uzon …. Itu kan pakaian muslimah.”
“Sok tahu lu, Ron!” sergah Ipah.
“Iya lu gak tahu perempuan-perempuan yang ditangkap polisi pakaiannya kayak gitu?”
“Nah tu, kan su-uzon.”
Eti sampai ke gerobak tukang sayur, dia memberi salam “Assalamualaikum ibu-bu.”
Ipah menegur, “Eii Ti, siapa tuh tamu lu?”
Eti tersenyum, “Emang kenapa?”
“Gua curiga,” sambut Onah.
“Curiga apaan?” dengan kalem Etti membalas.
Onah dan Ipah saling berbisik. Lalu mereka tertawa. Kata Ipah, “entar tau-tau desa kita terkenal masuk tipi.”
“Kenapa masuk tipi?” seorang ibu bertanya.
“Rumah Etti digerbek polisi, ditembakin….” Sahut Onah.
“Hebat tapi serem tuh,” ujar Ipah.
“Ah, macam-macam aja lu pada,” ujar Etti lalu dia berkata kepada Imron, “Ron, gua perlu sayur lodeh dua bungkus.” Imron menyerahkan dua bungkus bahan sayur lode. Etti membayarnya dengan sejumlah uang kemudian berlalu dari kerumunan ibu-ibu itu, “Gua pulang dulu!”
“Heeei, hati-hati lu, entar jadi korban peluru,” ujar Onah
Yang lain tertawa. Di tengah gemuruh tawa itu, Ipah nyeletuk, “Jangan ikut-ikut ditangkap dituduh teroris lu, Ti.”
“Kali emang elu juga terorissss…. “ujar Onah sambil tertawa.
Tetapi Etti kalem saja. Dia tidak marah dan tidak merasa tersinggung. Dia tersenyum ramah . Berlalu dari kerumunan ibu-ibu.
Usai subuh, seminggu kemudian Etti dan perempuan bercadar hitam keluar dari rumah. Mereka tampak tergesa-gesa.
“Cepat teh, nanti kita terlambat,” ujar si perempuan bercadar hitam
“Kita naik taksi di ujung gang mudah-mudahan ada taksi,” ujar Etti.
Kebetulan pada saat itu Onah membuka jendela. Dia terperangah menyaksikan Etti dan si perempuan bercadar hitam berjalan tergopoh-gopoh. “Mau kemana mereka sepagi ini,” pikirnya. Diam-diam dia mengikutnya. Di ujung gang dia melihat kedua orang itu naik taksi. “Wah pasti dia pindah dari desa ini, barangkali takut diloporin ke polisi,” pikir Onah lagi. Dan ini menjadi bahan gunjingan baru di kalangan ibu-ibu muda desa itu. Onah tidak langsung pulang, dia ke rumah Ipah. Ipah sedang mencuci pakaian di sumur. Sumur di desa itu berada agak jauh dari dapur rumah.
“Ada apa lu pagi-pagi? Kayak habis dikejar pocong?” sambut Ipah.
“Si cadar hitam dibawa pindah tuh. Mereka pergi terburu-buru. Naik taksi lagi.”
“Yang benar.”
“Gua liat. Gua ikutin sampai ke gang.”
“Waaah …” seru Ipah. Lanjutnya, “Tapi gak apa-apa, kampung kita aman.”
“Yaa… gak masuk tipi dong.”
Keduanya tertawa renyah.
“Eee perlu kita laporin RT?” tanya Ipah.
“Tunggu aja sampe si Etti pulang. Dibawa lagi gak tu perempuan,” kata Onah.
“Iya, kita tunggu ya.”
Malamnya Etti tidak tampak pulang. Bahkan sampai hari ketiga Etti tidak kembali ke rumah. Pergunjingan semakin seru. Onah yang rumahnya berhadapan dengan rumah Etti, yang selama ini mengawasinya menyebarkan gossip lagi.
“Etti juga hilang, gak pulang sudah tiga hari,” ujarnya.
Seorang ibu bertanya, “Apa mungkin Etti juga teroris?
Dengan bersemangat Ipah menimpali, “Kenapa gak? Kan suaminya kerja di Arab. Siapa tahu anggota…… apa tuh namanya Al….Al gitu?” Dia menatap Onah.
“Gua gak tahu apa namanya,” sergah Onah.
*
Beti, perempuan bercadar hitam itu terbaring segar di sebuah ruang perawatan RSCM. Etti duduk di sisinya. Beberapa saat kemudian dua orang perawat dan seorang dokter datang.
Si dokter memberi salam. Lalu ujarnya, “Wah udah segar. Coba saya periksa.”
Suster membuka perban di wajah Beti. Dokter meneliti hasil kerjanya. Sambil tersenyum dia berujar kepada Beti, “Tidak bakal ada bekas. Wajah Nona tetap cantik.”
Beti, si perempuan bercadar hitam itu bukan main gembiranya. “Jadi hari ini saya boleh pulang, Dok?
“Boleh. Uruslah administrasinya,” ujar sang dokter.
Beti, adalah gadis desa dari pedalaman Pelabuhan Ratu. Dia terkena musibah, dagu dan sebagian wajahnya tersiram air mendidih hingga melepuh. Dokter Puskesmas di desa itu merekomendasikan agar dia operasi plastic ke Jakarta, ke RSCM. Satu-satunya tempat untuk menumpang di Jakarta adalah rumah Etti, teman kecil, karibnya sekampung. Selama di rawat, Etti tidak pulang, dia menungguinya sampai masa perawatan usai.
Usai mengurus administrasi Etti kembali ke kamar. Karibnya telah mengenakan pakaian dan wajahnya ditutupi cadar hitam.
Karibnya itu menyambut, “Etti, terima kasih ya atas segalanya. Aku akan terus pulang, tidak singgah lagi ke rumahmu. Tidak apa-apa, kan?”
Etti tersenyum dan menggelengkan kepala. “Kamu akan berpakaian seperti itu selamanya?”
“Lihat saja nanti.”
“Kamu seperti Teh Oris,” gurau Etti. Keduanya lalu tertawa.
Setelah mengantar Beti naik bus jurusan Sukabumi, Etti pulang ke rumah. Baru saja dia memasuki gang menuju ke rumah, Ipah dan Onah menyongsongnya.
“Hei, ke mana aja lu, Ti?” tanya Onah.
“Kirain terus ngilang,” sambung Ipah.
“Mana temanlu?” tanya Onah lagi.
“Sudah gua suruh sembunyi jauh. Nanti kalau desa kita ditembaki polisi, kalian lari lintang pukang ketakutan,” ujar Etti dengan santainya seraya berlalu meninggalkan kedua sumber gossip itu.
***

10.16.2009

PUTERI BEUTIK HATI




Zaman dahulu di puncak Gunung Tanggamus tinggal menyendiri seorang puteri bernama Puteri Beutik Hati. Ia sangat cantik dan rupawan, sehingga banyak raja-raja dan pangeran yang meminangnya. Tetapi selau di tolak.
Di antara raja yang meminangnya adalah Raja Dimegow dari Negeri Skala Brak di Puncak Gunung Sekincau. Sekuat daya baginda berusaha mendapatkan sang puteri.
Raja Megow memerintahkan sang hulubalang ke puncak Tanggamus menemui sang puteri.
“Berangkatlah kamu ke istana Puteri Beutik Hati. Bawalah semua hadiah emas-permata ini. Katakanb ahwa aku meminangnya dan hendak menjadikan Puteri sebagai penggatni Permaisuriku yang telah lama wafat.”
“Baik, Tuanku. Perintah Tuanku akan segera hamba laksanakan,” sahut sang Hulubalang.
“Ingat perjalanan ke puncak Tanggamus tidak mudah. Kamu akan melewati belantara dan menjumpai berbagai binatang buas.Bawalah peralatlan dan pengawalsecukpnya. Selambat-lambatnya sebelum purnama terbit kamu harus sudah kembali! Aku ingin segera mendengar jawaban sang Puteri,” ujar Raja Dimegow.
Berangkatlah hulubalang menuju pundak Tanggamus.
Ia membawa dua puluh orang pelayan untuk mengangkut hadiah da bekal makan dalam perjalanan. Ia juga memawa sejumlah perajurit lengkap dengan persenjtaannya.
Pada awal perjalanan mereka tidak menemuai kesukaran.
Saat hendak menadaki Gunung Tanggamus, mulai mereka menghadapi rintangan semak belukar yang lebat.
“Ayo tebas dan buat jalan rintisan!” peritnah Hulubalang kepada para perajuritnya.
Para perajurit bekerja keras menebasi semak dan belukar.
Malam pun tiba. Alam di sekitarnya menjadi gelap. Dinginnya menyusup sampai ke tulang sumsum. Para pelayan dan perajurit menggigil bagai terserang demam.
“Nyalakan obor! Kita terus berjalan! Kita tidak punya waktu banyak. Besok kita harus sudah dampai ke puncak Tanggamus!” perintah sang Hulubalang.
Mereka beristirahat hanya untuk makan. Setelah itu mereka bergerak lagi.
“Hati-hati banyak binatang buas!” Hulubalang memperingatkan anak buahnya.
Tiba-tiba seekor harimau menghadang di hadapan mereka.
Para pelayan mundur ketakutan.
Para perajurit bersiaga degnan senjata.
Serta-merta pula harimau itu seakan membelah diri menjadi beratus-ratus ekor banyaknya. Para perajurit mundur.
Hulubalagn melompat maju. Ia sadar bahea ini bukan sembarang harimau, tetapi harimau jadi-jadian.
“Mohon ijin Datu, kami diutus Raja Dimegow dari Puncak Sekincau hendak menemui Puteri Beutik Hati,” ujar Hulubalang.
Dalam sekejap harimau-harimau yang lain lenyap. Tinggal yang seekor itu. Harimau ini bersikap hendak menerkam. Matanya yang bercahaya bagai bara api menatap tajam ke arah Hulubalang. Hulubalang pun menatapnya dengan mata nyalang tak berkedip. Mereka mengadu kekuatan tenaga dalam melalui pancaran sinar mata.
Sesaat kemudian harimau itu mengeram. Lalu ia berbalik dan berlari menghillang ke dalam kegelapan.
Hulubalang bernapas lega. Ia baru menyadari bahwa tubuhnya berkeringat karena rasa panas dari pancaran mata harimau.
“Ayo, terus berjalan!” perintahnya.
Seluruh rombongan bergerak kembali.
Malam semakin lalrut.Udara bertambah dingin. Tetes embun serasa sejuta bungkah es. Seluruh rombongan menggigil. Cahaya obor tak kuasa menembus kegelapan. Saat seluruh rombongan dicekam rasa takut, terdengar suara berdebam seperti pohon tumbang. Seluruh rombongan melompat mundur sambil mengamati keadaan di hadapan mereka.
Dalam samar cahaya oboar, tampak seekor ular piton bertubuh sebesar batang kelapa. Kepadanya besar dan lidahnya terjulur berkilauan seperti cahaya api.
“Ini pasti bukan ular sembarangan,” pikir Hulubalang.
Ia berjalan mendekati, bermaksud hendak menjelaskan kehadirannya di tempat ini.
Belum lagi sang hulubalang sempat berbicara, ia disambut oleh sabetan ekor ular itu. Hulubalang menghindar sambil melompat. Belum sempat ia sampai ke tanah, ekor ular itu telah menyabetnya lagi. Hulubalang melompot lagi dan mendarat agak jauh. Ular piton itu menyerang dengan lidah apinya. Hulubalang hanya mampu mengindar.
Setelah puas menyerang ular piton itu diam sambil menatap tajam ke arah Hulubalang.
“Maafkan kami, Datu,” ujar Hulubalang, “Kami tidak bermaksud jahat. Kami membawa hadiah dari Raja Dimegow untuk Pueteri Beutik Hati.
Tatapan ular itu beralih ke arah seluruh rombongan, seakan meneliti setiap orang. Lalu ular itu menghilang.
Hari menjelang dini. Di langit timur tampak sebuah bintang bercahaya benderang.
Hulubalang merasa sangat lelah.
“Mari kita beristirahat sebentar,” uajrnya.
Seluruh rombongan melepas lelah dan seperti tersihir mereka tertidur lelap.
Ketika hulubalang terbangn, fajar sudah menyingsing.
Yang lain masih tertidur lelap.
Di hadapan sang Hulubalang berdiri seorang perempuan berambut panjang terurai. Ia mengenakan pakaian serba hitam. Wajah tidak tampak karena tetutup cadar hitam.
Perempuan itu berkata dengan suara yang lembut dan halus, “Jika kalian hendak menemui Tuan Puteri seketiak fajar naik berjalanlah ke arah selatan.” Usai bicara ia lenyap dari pandangan.
“Wanita itu pasti Puteri Beutik Hati,” pikir Hulubalang.
Ia segera membangunkan anggota rombongan agar bersiap-siap bergerak lagi.
“Ayo, bangun kita segera berangkat!”
Perlahan-lahan fajar naik. Hutan itu riuh dengan kicau burung. Di arah selatan, tak jauh dari tempat mereka beristiraha, tampak sebuah istana yagn amat megah.
“Ayo berjalan ke arah istana itu!” perintah Hulubalang.
Hulubalang bersama rombongan diterima oleh Puteri Beutik Hati di teras belakang istanya.
“Jelaskan maksud kedatangan kalian,” ujar Puteri Beutik Hati.
“Kami membawa bingkisan raja Dimegow dari Puncak Sekincau. Baginda meminang Tuan Puteri, untuk dijadikan Permaisuri,” ujar Hulubalang seraya menyerahkan seluruh bingkisan.
Puteri Beutik Hati memeriksa barang-barang bingkisan itu. Lalu ujarnya, “Barang-barang ini belum cukup untuk meminangku. Katakan kepada rajamu, jika ia benar-benar mencintaiku,buatkan aku jembatan emas dari puncan Tanggamus sampai ke puncak Sekincau agar mudah aku pergi ke negerinya.”
Hulubalang kembali ke negerinya. Disampaikan pesan Puteri Beutik Hati kepada sang raja.
“Sang Puteri meminta agar Baginda membuatkan jembatan emas, ” ujar Hulubalang.
“Jembatan emas?” raja heran.
“Benar, Tuanku. Jembatan itu melintang dari Puncan Sekincau sampai ke Puncak Tanggamus.”
“Apa yang dia kehendaki akan kupenuhi!” seru sang raja.
Keesokan harinya raja memerintahkan aggar semua emas yang ada di negeri Skala Brak dikumpulkan. Para perajurti bergerak merampasi emas milik rakyat. Kaum wanita menangis karena harta perhiasan mereka dirampas.
Setelah emas terkumpul dikerahkan beribu-ribu penduduk bekerja membangun jembalatan emas. Mereka diperlakukan seperti budak, bekerja siang malam tanpa upah.
Setelah seminggu, jembatan itu pun siap. Bila tertimpa cahaya matahari pagi jembatan itu berkilauan bagai pelangi. Tampak jelas dari kejauhan.
Hulubalang kembali ke Puncak Tanggamus menemui sang puteri.
“Jembatan emas yang Tuan Puteri kehendaki telah siap,” ujar Hulubalang, Marilah segera berangkat ke negeri kami.”
“Ada satu lagi permintaanku. Sebagai permintaan terakhir. Sekaranya dia benar-benar mencintaiku bawakan aku semagnkuk darah segar dari urat nadi puteranya.”
Hulubalang terkejut mendengar permintaa itu, tetapi ia tidak dapat megnelaknya.
Hulubalang kembali ke negerinya. Disampaikan permintaan Puteri Beutik Hati kepada sang raja Dimegow.
“Dia akan mendapat apa yang dia kehendaki,” ujar Raja Dimegow yang sudah tergila-gila kepada sang puteri.
Malam itu raja masuk ke kamar puteranya yang baru berusia sepuluh tahun. Dipotognya naditangan anak itu. Ditandahi darahna dengan piala emas. Malam itu juga ia sendiri berangkat ke Pucak Tanggamus.
“Aku datang mempersembahkan apa yang kau pinta, Tuan Puteri,” ujar sang raja seraya mempersembahkan piala berisi darah.
Puteri Beutik Hati marah, “Aku tidak sudi menikah dengan seorang raja yang lalim. Demi seorang wanita kamu tega merampas harga rakyakmu dan membunuh anakmu!” ujar sang puteri seray ia mengubah diri menjadi beberapa putericantik. Namun, seketika pula dia lenyap.
Raja Dimegow sangat kecewa. Ia pun tidak kembali ke negerinya. Ia menjadi seorang pertapa di hutan itu.
Jembatan emas masih tetap melintang. Dan, sampai kini dari kejauhan masih sering tampai pelangi melintang dari Pncak Sekincau sampai ke Puncak Tanggamus.
Selesai.

10.12.2009

MENJARING MATAHARI


Dahulu kala di sebuah tepi hutan tinggal dua orang kakak beradik yatim piatu, lelaki dan perempuan. Yang lelaki menggunakan waktunya untuk berburu dan adiknya tinggal di rumah memasak, menenun pakaian, dan membersihkan rumah.
Pada suatu hari kakaknya pulang membawa seekor beruang madu yang telah mati dipanahnya.
“Adikku, aku mendapat buruan seekor beruang madu. Maukah kamu membuatkan aku mantel dari kulitnya?”
“Tentu saja aku mau,” jawab adiknya, “Kulitilah, dagingnya jadikan dendeng untuk persediaan makan kita.”
Kakaknya segera menguliti buruannya. Menyerahkan kulit beruang yang berbulu halus itu kepada adiknya. Lalu ia mengiris daging beruang dan menjemurnya.
“Akan memakan waktu satu minggu untuk membuat mantel ini. Kulit harus kering benar,” ujar adiknya.
“Ya, akan kupakai minggu depan. Bukankah minggu depan mulai musim penghujan,” ujar kakaknya.
Beberapa hari kemudian mantel kulit beruang pun selesai. Bukan main senang anak lelaki itu. Dikenakannya mantel itu. Lalu ia pergi berjalan mencari teman-temannya.
Perjalanannya sangat jauh. Sesudah menempuh perjalanan beberapa hari, dia sangat lelah. Dia beristirahat, dibukanya mantel kulitnya, lalu dibiarkan tergeletak di rumput. Sementara itu anak lelaki itu tertidur di bawah pohon.
Matahari bersinar sangat terik.
Ia terbangun ketika hari sudah hampir senja. Matahari memancarkan sinar merah di ufuk barat. Ia bergegas mengambil mantelnya, lalu mengenakannya. Betapa terkejutnya dia, mantel itu tak bisa dikenakan karena telah menciut menjadi kecil.
“Ini pasti karena ulah sinar matahari,” ujarnya dengan geram, “matahari jahat. Kamu telah mengkerutkan mantel kulit beruangku yang paling kusukai!”
Ia bergegas pulang. Adiknya heran melihat si kakak pulang dengan wajah murung.
“Mengapa engkau murung, kakakku? Mana mantelmu, mengapa tidak kaukenakan?” sapa sang adik.
“Jangan banyak tanya. Buatkan aku jaring yang besar dan kuat, aku akan menjaring sesuatu yang besar!” ujar sang kakak.
Adik perempuannya itu mulai bekerja. Ia menganyam rumput purun. Setiap kali selesai ia memperlihatkan kepada kakaknya.
“Kurang besar!” ujar kakaknya.
Adiknya terus menjalin rumput-rumput purun membuat jaring raksasa.
“Apa yang hendak dia jaring?” keluhnya. Tetapi ia tidak berani bertanya kepada kakaknya, khawatir kakaknya marah.
“Sebesar ini?” adiknya memperlihatkan jaring yang dibuatnya.
“Ya, ini baru cukup!” seru kakaknya girang.
Di dalam hatinya dia berujar, “Akan kujaring kau matahari. Kupasung dalam perangkap, karena kau sudah mengkerutkan mantel kesayanganku!”
Ia berangkat ke lembah yang luas. Ia tahu pasti dari mana matahari setiap pagi muncul. Matahari muncul dari tepi lembah. Ia masang jaringnya di tepi lembah, tempat matahari setiap pagi muncul menyentuh tanah tepi lembah.
Setelah segalanya siap, ia bersembunyi di balik pohon besar mengawasi. Dia yakin, begitu matahari muncul dari tepi lembah, akan terperangkap jaringnya.
Benar, ketika matahari muncul di tepi lembah, ia masuk ke dalam perangkap anak lelaki itu. Menyaksikan matahari terperangkap jaringnya, anak lelaki itu tertawa terbahak-bahak.
“Ha…ha…ha… Kutangkap kau, kupasung di dalam jaringku.” Lalu dia berteriak keras-keras, “Aku telah menjaring matahari. Kuhukum kau matahari, karena telah merusak pakaianku!”
Waktu berlalu. Matahari tak pernah terbit. Langit tampak pucat. Cuaca hari itu aneh, bukan siang bukan pula malam. Cahaya alam redup. Udara dingin. Susana mencekam, burung-burung dan binatang-binatang lainnya takut keluar dari sarang.
Burung-burung saling bertanya-tanya, “Ada apa gerangan? Ke mana matahari? Alam menjadi aneh!”
Burung-burung bersepakat akan mengadakan penyelidikan. Burung-burung terbang ke arah lembah, tempat biasa matahari muncul saat fajar. Mereka terkejut menyaksikan matahari terperangkap jaring.
“Kiranya ini yang membuat matahari tak bisa terbit, alam menjadi bernuansa tidak menentu, aneh, dan menyeramkan,” kata burung.
“Ayo, kita bebaskan!” ajak burung lainnya.
Sejumlah burung berusaha membebaskan matahari dari perangkap jaring. Tetapi, karena udaranya sangat panas, dan benang jaringnya sangat kuat, burung-burung tidak mampu membebaskan matahari. Akhirnya, burung-burung memanggil hewan-hewan lain. Datanglah berbagai hewan, gajah, pelanduk, harimau, singa, kera, landak, dan hewan-hewan lainnya. Mereka bermusyawarah menentukan siapa yang mampu membebaskan matahari. Hampir semua hewan tidak berani mencoba membebaskan matahari, selain panas karena benang jaringnya amat kuat. Semua hewan menjadi sangat putus asa. Mereka terdiam, tafakur sedih.
Jika tidak ada sinar matahari, semua makhluk di alam ini akan punah. Sinar matahari sangat penting bagi kehidupan.
Tiba-tiba seekor tupai muncul. Waktu itu tubuh tupai sangat besar. Lebih besar dari semua hewan yang ada, lebih besar dari gajah. Gigi taringnya sangat tajam.
“Aku yang akan membebaskan matahari. Kuputuskan benang-benang jaring dengan taringku,” kata si Tupai.
Kemunculan tupai di tengah para hewan dan kesediaannya berkorban untuk membebaskan matahari sangat menggembirakan para hewan.
“Ya, kamu pasti mampu membebaskan matahari,” ujar Pelanduk.
“Ya, taringmu kuat dan bulumu tebal, pasti tahan panas,” ujar gajah.
“Kamu akan menjadi pahlawan semua makhluk di alam ini, wahai Tupai,” ujar burung elang sambil mengepakkan sayapnya, “Mari kutunjukkan tempatnya!”
Sesampai di tempat matahari terjaring, si tupai segera melompat ke atas benang jariang. Lalu menggit mengeretnya. Digigit, dikerat, dan dikoyaknya benang-benang jaring. Akhrinya tupai mampu memutuskan seutas benang jaring, tetapi masih beratus-ratus jalinan benang lagi. Dia harus berjuang di tengah panasnya matahari.
Lama-lamam sang tupai menjadi lemah. Keringat bercucuran dari sekujur tubuh. Tetapi ia menyadari bahwa dirinya adalah yang paling besar dari semua binatang. Ia harus menjadi hewan yang paling berani. Ia terus berjuang memutuskan tali-temali jaring. Lama-lama ia merasakan tubuhnya menyusut. Walau demikian, tupai tak menyerah. Ia terus menggigit, mengerat, mengoyak, memutuskan tiap helai temali-temali jaring. Sampai pada benang yang terakhir ia kerat dan terputus.
Matahari terlepas dari jaring, terlontar ke angkasa. Alam terang benderang. Tumbuhan dan berbagai makhluk berseri kembali.
Para hewan berlarian ke lembah mencari tupai.
“Ke mana tupai?”
“Ya, kemana dia,” seru yang lain.
Hewan-hewan itu akan berterima kasih kepada tupai, tetapi mereka tidak menemukannya.
Tupai yang tubuhnya sudah menjadi kecil karena terpanggang sinar matahari melompat ke atas dahan. Ia bersembunyi, malu menampakkan diri. Sampai sekarang tupai hidup di atas pohon, menjadi hewan pengerat. (Gbr. ex. Khazanah PA)


- selesai

8.23.2009

DARI TANAH PALESTINA KE LEMBAH HEJAZ

- Siti Hajar dan Sumur Zamzam

1
dari tanah Palestina nan jauh di seberang
tiga insan dambaan
Ibrahim, Siti Hajar, dan bayi kecil dalam dukungan
menempuh padang pasir dan lembah garang
tempat tujuan nan tak tersawang
harapan mengawang jauh dari bayang-bayang

Siti Hajar dan
Ismail
dari keturunan Ibrahim
terdampar di lembah kering
lahan berpasir gersang
siang mentari membara
malam embun menebar kesejukan tiada tara

saat fajar merambah kaki langit
kepada istri dan anaknya Ibrahim pamit
pesan tertinggal hanya sekelumit;
- menetaplah kalian di ini lembah
tempat yang dekat dengan Baitullah

Siti Hajar
berserah diri dan pasrah
yakin perlindungan akan datang dari Allah

dalam perjalanan pulang ke Palestina
Ibrahim berdoa
- Ya Rabbi
aku telah menempatkan sebagian keturunanku
di lembah gersang dekat rumah-Mu
agar mereka mendirikan salat
gerakkan hati manusia tertuju kepada mereka

Ya Rabbi
Engkau mengetahui apa yang terhunjam di hati
bagi-Mu tak ada yang tersembunyi
di langit mau pun di bumi
Rabbi
segala puji bagi-Mu
yang telah menganugerahkan dua putera kepadaku
jadikanlah aku beserta anak cucu
orang-orang yang mendirikan salat
Engkau Maha Memperkenankan segala doa
(QS 14 : 37-40)


2
mentari membara
panas menghanguskan segala
tangis baji kecil Ismail membahana
dicekam haus dan dahaga
paniklah sang bunda
dicari sumber air tak bersua
cuma pasir dan bukit batu yang tersedia

bertopang tongkat kayu
berlari-lari kecil bunda
dari bukit Saffa sampai bukit Marwa
dambakan sumber air tak bersua
di tengah rasa lelah sedih dan putus asa
seperti ada suara membahana
terdengar dekat kemudian sayup mengelana
- hentakkan tongkatmu, Hajar
air akan segera terpancar

Siti Hajar menghentakkan tongkat
dari tanah gersang di antara Safa dan Marwa
air deras memancar
melimpah ruah pelepas lelah dan dahaga
Siti Hajar teriak gembira disertai rasa syukur
- terima kasih, Rabbi
- terima kasih, Rabbi
aku yakin perlindungan hanya dari-Mu

lembah gersang tak sesiapa pun ingin bersaba
berubah menjadi kota niaga
Mekah kota suci lindungan Illahi
tempat melaksankan umrah dan haji

Ramadhan 1428
September 2007

8.07.2009

KEMBARA YANG PULANG

lama nian tahun-tahun kulalui
jauh di tempat diri berlabuh
kini kuberada lagi ditepianmu
rindu riakmu
mencanda hati
mencanda keriangan
yang hilang tak lagi membayang

lautku
kembara telah pulang
ke tepianmu
dari labuh daratan tak berbatas
kini aku di tepianmu
menyawang sisimu yang luas
cuma langit
ujung bumi yang hijau pahit
yang marak terbersit

lautku
akan kau bawakah aku ke keluasanmu
nan tanpa batas
akan kau jadikankah aku
kembara di alur samudera

lautku
aku telah kembali
kalau akan kau hantar lagi
berkelana di samudera tanpa tepi
aku tak mau sendiri
biarkan aku bersama belahan hati
terapung di biduk nan abadi

Tangerang, Oktober 2009

ANGIN DANAU

= Kenangan untuk Situ Cipondoh

kau hembuskan
alur lembut mendayu
menjelaskan rahasia padaku
tentang riak air di atas permukaan

kau hembuskan
alur lembutmu
mengantarkan dongeng peri
di hijau tepian
di alur bebatuan

kau hembuskan
semangat nelayan
melempar kail dan jaring
ikan yang berenang beriring

danauku
kau akan terus berkesan
walau alam hijau telah berubah
menjadi beton dan genting merah

Tangerang, Okt. 2008

8.04.2009

SANG BUMI RUWA JURAI 2

ketika di seberang selat sunda
di lerelng-lereng Rajabasa
terjadi pergolakan melawan penjajah
pada abad ke-delapan belas silam
dikirim ke sana
ribuan prajurit Kerajaan Banten
membantu sesama saudara
di antara mereka adalah moyang kami
kemudian
ribuan pula anak cucu mereka
merajut hidup
redam, baur, dan terburai
di tanah Sang Bumi Ruwa Jurai

8.02.2009

PERKAWINAN


Air sumur terasa sejuk mengguyur tubuhnya yang semampai itu. Matahari masih tersaput awan. Akhir Januari yang berangin, lembab, dan dingin. Zuraida cepat-cepat menyelesaikan mandinya. Pagi ini ia harus segera ke sekolah. Ia harus memberi pelajaran seni suara.
Ketika ia keluar dari kamar mandi, ibunya menegur.
“Kamu ke sekolah hari ini?”
“Ya.”
“Umi ingin bicara.”
“Saya berpakaian dulu.”
“Duduklah dulu.”
Zuraida duduk menghadapi ibunya di ruang dapur. Ayahnya telah pergi pagi-pagi sekali. Tampaknya ia akan bepergian ke luar kota.
“Ada apa, Umi?”
Orang tua itu menghela napas, sepertinya berat hendak menyampaikan ucapannya. Hal itu membuat munculnya berbagai tanda tanya di benak Zuraida. Ada persoalan apa gerangan? Tampaknya sangat penting dan mendesak, sampai-sampai ibu tidak mau menunggunya berpakain.
“Ada apa, Umi? Penting betulkah? Tentang abak barangkali?” Zuraida mendesak. Semalam ia mendengar kedua orang tuanya terlibat pembicaraan yang serius. Tetapi, dia tidak mau menguping. Pikirnya hanya pembicaraan biasa saja. Mungkinkah ada masalah di antara mereka? Bertengkarkah mereka?
“Bukan.”
Lega hati Zuriada mendengar jawaban itu. Dia bertanya lagi, “Tentang apa, umi?”
“Tentang kau!”
Zuraida terkejut. Ditatapnya wajah ibu. Orang tua itu tampak gelisah, tetapi wajahnya tetap jernih, dan tatapan matanya bening, hanya senyumnya saja yang tidak muncul dari bibirnya yang merah alami. Dia tampak tegang dan serius.
Setelah beberapa kali menghela napas, sang ibu melanjutkan ucapannya.
“Bagaimana hubunganmu dengan si Hardi?”
Zuraida makin terkejut lagi. Selama beberapa tahun berhubungan dengan lelaki itu, ibu tidak pernah menanyainya. Ada apa gerangan maka kali ini dengan serius ia menanyakan hubungannya dengan Hardi? Zuraida mencoba menjawab sewajarnya.
“Biasa saja, umi.”
“Apakah kamu sungguh-sungguh mencintai dia?”
Zuraida terperangah. Ada apa gerangan? Tiba-tiba seekor ayam betina berlari sambil berkotek-kotek dikejar jantannya. Si betina berlari ke arah dapur. Namun, sebelum sempat masuk seekor kucing jantan menggertak dengan geramnya. Ayam betina itu ketakutan, ia melompat dan menghambur ke luar. Di depan pintu dapur si betina disergap oleh si jantan. Betina itu tidak berdaya, tertekan oleh tubuh jantan yang besar. Suara koteknya melemah dan semakin lemah juga. Sepi.
Ruangan dapur tempat Zuraida dan ibunya duduk pun sepi sesaat. Hanya debar jantung Zuraida yang berdetak kencang, mengalahkan detak bandul jam dinding. Setelah agak lama dicekam kebisuan, ibu berujar lagi.
“Jawablah pertanyaan umi dengan jujur.”
Sambil mendesahkan napas, Zuraida berujar, suaranya lemah, hampir-hampir tidak terdengar.
“Ya, umi.”
“Benar, kamu mencintai dia?”
Zuraida menatap ibunya, ia merasa aneh dengan pertanyaan ini. Ibunya juga menatap dengan wajah mengharap kejujuran hati anaknya. Zuraida mengangguk.
“Bagaimana dengan Hardi. Apakah kamu tidak bertepuk sebelah tangan?”
Zuraida ragu, benarkah dia mencintaiku? Tidakkah dia hanya main-main saja? Dia mencoba untuk mengintrospeksi dirinya. Dia memang telah bertekad, sejak awal hatinya tertarik kepada Hardi hanya lelaki itu yang dipilih bakal menjadi teman hidupnya. lalu bagaimana dengan Hardi? Sudah tiga tahun mereka menjalin kasih. Bagi Zuraida, Hardi adalah cinta pertamanya.
“Mengapa diam? Kamu ragu?”
Zuraida menggeleng..
“Kalau begitu cari dia...”
Belum sempat ibunya melanjutkan ucapannya, Zuraida menukas, “Tetapi, saya sudah lama tidak bertemu dia, umi. Sudah sebulan ini.”
“Ke mana dia?”
“Kata temannya, dia sedang bertugas ke luar daerah.”
“Cari dia sekarang, mudah-mudahan sudah pulang.”
“Untuk apa menemui dia, umi?”
“Katakan kepadanya, kalau dia sungguh-sungguh mencintai kamu, segeralah meminangmu!”
Mata Zuraida terbelalak menatap ibunya.
“Meminang?”
“Ya, kalian harus segera menikah!”
“Tetapi kami belum ada persiapan untuk menikah, umi.”
“Ada atau tidak, ini keadaan mendesak.”
Zuraida tertunduk sesaat. Pasti ada sesuatu yang terjadi, sehingga ibunya menghendaki agar ia segera menikah.
“Ada apa sebenarnya, umi?”
Dia memberanikan diri bertanya.
“Kamu akan dijodohkan Abdk dengan kemenakannya.”
Jantung Zuraida berdebar kencang. Cemas, khawatir, dan berbagai perasaan berkecamuk di hati. Dia tertunduk. Keceriaan dan kegairahannya pudar seketika.
“Pagi ini abakmu berangkat ke Palembang untuk membicarakan hal itu kepada fihak keluarga laki-laki.”
Bagaikan mendengar petir di siang terik, Zuraida menatap tajam ke arah ibunya. Orang tua itu tampak tegar. Sebuah tanda tanya muncul di benak Zuraida, mengapa ibu tidak memihak ayah? Tampaknya ibu memberi keleluasaan kepadanya untuk memilih. Dia ingin bertanya, “Mengapa umi tidak mendukung gagasan abak?” Namun, pertanyaan itu hanya ada di benaknya, tidak mampu terucapkan.
Seperti mengerti apa yang terkandung di hati anaknya, ibu berujar, “Umi tidak mau kau menikah dengan saudara.” Orang tua itu diam sejenak, menghela napas. Dengan suara yang agak tersendat dia melanjutkan ucapannya, “Umi tidak ingin apa yang telah umi alami terulang kepadamu. Umi setuju kamu menikah dengan Hardi, walau pun dia dari suku lain. Umi ingin, agar kamu menjadi istri satu-satunya dari seorang lelaki yang kamu cintai.”
“Apakah hal ini sangat mendesak, umi?” dia bertanya. Sebelum ibunya berujar dia melanjutkan, “Saya akan berbicara kepada abak, bahwa saya belum siap untuk menikah.” Diam sejenak, lalu lanjutnya, “Saya akan mencoba memberi pengertian kepada abak, bahwa sekarang bukan zaman Siti Nurbaya lagi. Anak perempuan berhak untuk memilih pasangannya sendiri.”
Ibu menghela napas mendengar ucapan anaknya ini. Lalu ujarnya, “Jika kamu tidak segera menikah dengan Hardi, kamu akan kehilangan kesempatan selamanya. Abakmu, bukan orang yang mau diajak berunding. Keputusannya adalah mutlak. Umi tidak bisa melindungimu.”
Zuraida tertunduk.
Ibu bangkit. Dia berdiri di sisi anaknya sambil memeluknya dia berkata, “Terserah. Umi telah memberi jalan, nasibmu berada di tangan kamu sendiri.” Dielusnya rambut anaknya yang masih basah itu, kemudian ia ke luar.
Zuraida tinggal sendiri. Ia merenung. Hatinya gundah. Sesuatu yang rumit tengah dihadapinya. Berbagai gejolak bertarung di hatinya. Mustahil aku akan mendesak Hardi untuk segera mengawiniku. Tetapi, kalau aku tidak mau menyampaikan kehendak umi, kesempatan untuk hidup bersama lelaki yang kucintai akan pupus. Aku akan masuk ke dalam genggaman lelaki yang belum aku kenal, kerabat ayah. Separah itukah nasibku? Benar kata umi, nasibku berada di tanganku. Akulah yang mesti menentukannya. Tidak berubah nasib suatu kaum, tanpa kaum itu sendiri yang mengubahnya. Aku harus tegar. Aku harus berani menyampaikan hal ini kepada Hardi. Buruk atau baik putusannya akan kuterima.
Zuraida bergegas masuk ke kamar. Ia berpakaian dan mematut diri sesaat di cermin. Sesosok gadis semampai berdiri di hadapannya, memantul di dalam cermin. Zuraida seperti melihat gadis asing. Sebuah pertanyaan muncul di benaknya, layak sudahkah gadis yang berada di dalam cermin itu menjadi seorang istri, seorang ibu rumah tangga? Dia tersenyum, sesuatu keanehan tiba-tiba muncul di hati. Aneh, hal yang selama ini tidak pernah dipikirnya, tiba-tiba akan menjadi kenyataan, menjadi istri dari seorang lelaki. Siapa gerangankah lelaki itu? Hardi atau kerabat ayah? Dia menghela napas dan berharap Hardilah yang akan menjadi suaminya, bukan lelaki lain. Ia memejamkan mata sesaat, memohon kepada Tuhan agar harapannya terkabul.
Zuraida bergegas berangkat ke sekolah. Beberapa genangan air bekas hujan semalam masih mengisi celuk-celuk sisi jalan aspal yang pecah dan berlubang. Warna air yang coklat silau memantulkan cahaya matahari. Uapnya membumbung ke udara. Zuraida berjalan cepat. Sampai di halaman sekolah bel tanda masuk kelas berbunyi. Ia tidak sempat lagi ke ruang kantor. Ia langsung ke ruang kelas tempatnya mengajar.
Pagi ini siswa-siswanya dibebaskan dari mata pelajaran. Dia enggan mengajarkan seni suara. Mereka diminta membaca pelajaran untuk jam kedua, tetapi tetap tinggal di kelas. Pada jam pelajaran kedua, dia minta ijin pulang kepada kepala sekolah.
Zuraida tidak pulang. Bukan fisiknya yang sakit. Diasedang tegang, menghadapi peristiwa yang amat pelik. Dia ke kantor Hardi.
“Hai, ada apa?” Ningsih, seorang resepsionis yang sudah mengenal akrab menyambutnya, “Kamu sakit. Kamu kelihatan pucat, Aida”. Zuraida menggeleng. Ningsih lanjut bertanya, “Kamu mencari Hardi?” tanyanya lagi.
“Ya.”
“Dia belum pulang.”
Seorang lelaki bernama Zailani, sahabat Hardi yang duduk di seberang meja Ningsih berujar, “Hardi pasti sudah di rumah.”
“Dari mana kamu tahu dia sudah pulang?” tanya Ningsih.
“Firasat. Kalau mau jumpa dia, pergilah ke rumahnya, Aida,” ujar Zailani.
Zuraida tidak banyak berbicara, ia segera meninggalkan kantor itu. Ia berjalan menuju ke rumah Hardi. Mudah-mudahan dia sudah pulang dari luar daerah, guman hatinya. Kalau belum? Ya, semua tergantung kepada Tuhan. Manusia hanya mampu berusaha, ketentuannya berada di tangan Tuhan.
Baru saja Hardi hendak memasuki pekarangan rumah tampak sosok seorang gadis menghampirinya dari arah yang berlawanan. Gadis itu sangat dikenalnya, gadis yang dirindukannya. Sebulan lebih dia pergi tanpa pamit. Dari jauh tampak senyumnya yang manis, lenggangnya yang khas dengan tekanan sebelah kaki sehingga pada saat dia jalan tampak seperti sedang menari atau hendak berancang-ancang terbang ke angkasa.
“Hei,” sapa Hardi setelah dekat.
“Ke mana saja kamu?” sapa Zuraida.
“Maaf, aku tidak sempat pamit. Aku bertugas ke luar daerah. Berangkatnya pagi sekali, sehingga tidak sempat menemuimu. ”
Zuraida hanya tersenyum.
“Juda tak sempat menelepon?”
Hardi rikuh dan merasa bersalah.
“Baru sampai?”
“Ya, baru turun dari kereta.”
Mereka masuk ke rumah
“Ada sesuatu yang akan kusampaikan.”
“Penting benar?”
“Sangat penting.”
Hardi menanggapi biasa saja.
“Apa gerangan?”
Zuraida terdiam. Agak lama baru mampu dia melontarkan ucapannya.
“Apakah kamu sungguh-sungguh dengan saya?”
“Sungghu-sungguh apa? Sungguh cinta?” goda Hardi sambil menatap tajam ke wajah gadis itu.
Zuraida menunduk.
“Tentu saja saya sangat mencintai kamu,” ujar Hardi lagi sambil menatap dan mendekatkan wajahnya ke wajah Zuraida. Lanjutnya, “Kamu ragu?”
Zuraida menggeleng.
“Nah, lalu ada apa?”
“Ibu meminta agar kamu segera meminang saya.”
“Ha?” Hardi terperanjat. Tetapi, dia masihmenganggap ini adalah gurauan, “Kamu bergurau?”
“Tidak.”
“Mengapa begitu mendadak. Bukankah kita belum merencanakan untuk menikah?”
“Menurut ibu ini sangat mendesak.”
“Ada apa sebenarnya,” Hardi ingin tahu.
“Aku tidak bisa menjelaskan. Kalau kamu benar-benar mencintai saya, segera meminang saya. Kita akan segera menikah.”
“Ala, mak....” keluh Hardi.
“Kalau kamu keberatan, ya sudah, kita berpisah. Dan, jangan harap akan bertemu lagi.”
“Aida...!”
Dia menunduk dan diam.
Hardi bangkit dari kursinya, menghampiri.
“Kamu tidak bisa menjelaskan, ada apa sebenarnya?”
Aida menggeleng.
“Baik, kalau begitu saya akan bicara dengan ibuku.”
“Hari ini juga saya minta kabar.”
“Ya, di mana kita ketemu?”
“Telpon saja.”
“Oke.”
“Saya harus ke sekolah lagi. Kelas saya tinggalkan. Saya masih harus mengajar siang.”
“Saya antar?”
Aida menggeleng.
Setiba di rumah, Hardi berbicara kepada ibunya.
“Saya ingin menikah, Mak.”
“Menikah?”
Perempuan yang pendiam ini menatap anak sulungnya. Telah lebih dua puluh tahun umurnya. Memang sudah layak menikah.
“Ya.”
“Dengan gadis Padang itu?”
“Siapa lagi kalau bukan dia.”
“Ya, siapa lagi kalau bukan dia,” ulang ibunya, “Tetapi, mengapa tergesa-gesa.”
Hardi berbohong.
“Tidak tergesa-gesa. Sudah lama kami merencanakannya.”
“Sudah punya persiapan untuk pinangan?”
Hardi mendesahkan napas. Pertanyaan ini yang amat berat untuk dijawab. Persiapan? Apa yang mesti dipersiapkan? Direncanakan pun tidak. Selama ini dia terlalu asyik dengan pekerjaannya. Terlalu mencintai profesinya. Selama menjalin cinta dengan Zuraida, belum pernah mereka membicarakan rencana perkawinan. Mereka hanya berpacaran layaknya anak remaja, bersenang-senang, berasyik-masyuk melampiaskan rindu dendam, tidak pernah tercetuskan apa rencana dan bagaimana kelanjutan perjalanan cinta-kasih ini. Tiba-tiba Hardi ditodong oleh Zuraida untuk segera meminang dan menikahinya.

*

Zuraida tidak kembali ke sekolah, pada pikirnya untuk apa kembali ke sekolah. Bukankah aku tadi sudah minta ijin untuk pulang? Lebih baik aku pulang, untuk mengabarkan berita baik ini kepada umi.
Setiba di rumah ia disambut oleh ibunya.
“Sudah bertemu Hardi?”
“Sudah, umi.”
“Kamu sampaikan permintaan umi?”
“Ya.”
“Apa tanggapannya?”
“Dia siap untuk meminang saya, umi.”
“Alhamdulillah. Kalau begitu kau tunggu di rumah. Jangan pergi ke mana-mana. Umi ada urusan sebentar.”
Menjelang waktu magrib ibunya pulang. Perempuan setengah baya itu telah membuat perencanaan yang matang dan rapi. Ia telah menghubungi kerabat-kerabatnya. Untuk mengantisipasi kepulangan suaminya pada hari Minggu, maka mereka sepakat pernikahan akan dilangsungkan pada hari Jum’at.
“Mintalah agar keluarga Hardi datang meminangmu pada malam Jum’at ini,” ujar ibunya kepada Zuraida.
Keesokan harinya, Zuraida menemui Hardi. Ia menyampaikan pesan ibunya kepada Hardi.
“Ya, Insya Allah malam Jum’at ibuku datang untuk meminangmu,” ujar Hardi.
Pagi Kamis ini udara sejuk. Mendung menggantung di langit. Angin deras menggoyangkan pucuk-pucuk daun. Walau pun masih musim penghujan, tetapi pada bulan Februari ini hujan jarang turun. Lebih-lebih apa bila angin deras, awan sirna, hanyut terbawa arus angin. Dalam beberapa saat langit menjadi jernih. Biasanya hujan akan turun pada sore atau malam hari. Zuraida tidak berharap hari ini turun hujan.
Sejak pagi itu Zuraida gelisah. Malam ini Hardi berjanji akan datang bersama orang tuanya. Ibu Zuraida bersama beberapa kerabat sibuk membuat penganan untuk menjamu tamu yang berkunjung. Tamu penting, penentu jalan hidup anak gadisnya.
Zuraida tidak terlibat dalam kegiatan persiapan itu. Usai mandi ia langsung pergi ke sekolah. Ia mencoba meredam rasa gelisahnya. Waktu terasa amat panjang. Perubahan detik ke menit, dan menit ke jam seakan sangat lambat.Di kelas berulang-ulang Zuraida melihat jam tangannya, terlihat seakan jarum jam tidak pernah berpindah. Ia pun tidak konsentrasi mengajar anak-anak. Ia biarkan anak-anak untuk mengerjakan soal-soal yang ada di buku. Sampai jam terakhir, papan tulis tetap bersih, tidak tersentuh kapur.
Usai sekolah, ia meminta ijin kepada Kepala Sekolah untuk tidak masuk pada hari Jumat. Ada keperluan keluarga, demikian alasannya. Lalu ia bergegas pulang. Erni masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, sehingga tidak pulang bersamanya.
Setiba di rumah, ia dapati keadaan yang berbeda dari biasanya, ramai, banyak orang perempuan tua dan muda, ada beberapa lelaki setengah baya yang duduk-duduk santai di teras. Hal ini berbeda dengan keadaan sehari-hari, hanya berdua dengan ibunya pada siang hari. Pada malam hari baru ayahnya berada di rumah.
Hari ini banyak orang datang, mereka mengaku kerabat ibu. Sungguh, sebelumnya Zuraida tidak pernah melihat wajah-wajah mereka. Hanya beberapa orang saja yang dia akrabi, yang semuanya dia panggil etek, sedangkan yang muda-muda belum pernah dijumpainya.
Usai salat magrib, ibu Zuraida dan perempuan-perempuan di rumah itu mulai berdandan rapi. Perempuan muda yang mengaku kawin dengan orang Jawa, berinisiatip mendadani Zuraida. Gadis Minang ini mengenakan kebaya putih berenda dengan kain batik lereng berwarna coklat gelap. Selendangnya kain satin halus juga berwarna putih. Dalam kebaya, gadis yang semampai ini tampak semakin kurus.
“Wau, rancak kau, Pik!” seru perempuan muda itu sambil menatapnya tajam.
Zuraida rikuh. Ia hanya tersenyum.
Usai waktu Isya, rombongan tamu yang dinanti-nanti tiba. Mereka disambut oleh dua orang lelaki di bawah teras. Perempuan-perempuan, terutama yang muda berdesakan di mulut pintu masuk. Mereka ingin melihat calon mempelai lelaki.
Upacara peminangan ini berlangsung singkat. Ibu Hardi tampak akrab dengan ibu Zuraida, seakan mereka telah saling kenal sejak lama. Ibu Zuraida banyak mengambil inisiatip untuk berbicara. Sedangkan ibu Hardi lebih banyak diam atau menganggukkan kepala. Ibu Zuraida langsung membicarakan rencana pernikahan,“Sebaiknya Jumat depan saja hari pernikahannya. Hari Jum’at, hari baik.”
“Ya, terserah ibu saja. Kami menurut,” ujar Ibu Hardi ketika ibu Zuraida mengusulkan waktu pernikahan.

*

Upacara pernikahan dilaksanakan sangat sederhana. Saat ijab kabul hanya dihadiri oleh ibu Zuraida, serta ibu dan nenek Hardi, selebihnya tetangga dekat.
Sebelum Zuraida keluar menghadap penghulu, ibu mengenakan seuntai kalung emas ke lehernya. Leher yang jenjang itu tampak semakin indah dengan hiasan kalung emas berliontin batu permata.
“Ini, pemberian mempelai lelaki,” kata ibunya.
Zuraida tersenyum riang.
“Ayo, penghulu telah menanti,” lanjut ibunya.
Zuraida keluar dari kamar dan duduk di sisi Hardi. Di hadapan mereka duduk penghulu dengan seorang stafnya dan beberapa orang kerabat sebagai saksi.
Usai Penghulu melaksanakan ijab kabul Hardi bersama Zuraida menyalami kedua orang tua mereka. Lalu mereka sujud di hadapan nenek. Perempuan tua itu menitikkan air mata. Tangannya yang mulai keriput mengelus punggung kedua mempelai. Semua yang hadir haru menyaksikan adegan ini. Ruangan sesaat terasa senyap. Hanya isak perempuan tua itu saja yang terdengar. Hardi dan Zuraida pun menitikkan air mata.
“Panjang jodoh, murah rejeki, dan semoga Tuhan berkenan menitipkan amanah-Nya, yaitu keturunan kepada kalian,” ujar ibu Hardi
“Amiiiin....” terdengar serempak suara yang hadir.
Ia membetulkan letak selendang Zuraida.
Lalu ujarnya, “Hardi, istri jangan hanya kau cintai, tetapi hormati juga dia sebagai perempuan. Perempuan adalah lambang kehidupan dan penghidupan, sumbu dari mana kita berasal. Hormati ibumu, dan ibu mertuamu, keduanya adalah tempat asal kehidupan dan penghidupan kalian berdua.”
Hardi dan Zuraida berdiam diri. Kepala mereka merunduk di pangkuan perempuan tua itu
“Ayo, bangun! Salami kerabat dan teman-teman kalian!”
Ketika kedua mempelai menyalami perempuan-perempuan muda yang ikut hadir dalam acara pernikahan itu, mereka mencandainya sambil tertawa-tawa riuh-rendah. Berubahlah suasana haru menjadi riang gembira.
Keesokan harinya, Hardi memboyong Zuraida ke rumah ibunya.
Seminggu setelah Zuraida dan Hardi menikah, Sutan, ayah Zuraida pulang. Orang tua ini mendapatkan rumah sepi hanya istrinya berada di rumah.
“Mana Si Upik?”
Dengan tegar perempuan itu menyampaikan bahwa Zuraida, anak tunggal mereka telah menikah.
“Ia telah menikah dengan Hardi, kekasihnya. Lelaki yang dia cintai,” ujar nya.
Orang tua itu seperti tertimpa bom. Pandangannya kabur dan seluruhnya tampak menjadi hitam. Beberapa detik ia kehilangan kesadaran. Manakala kesadarannya berangsur pulih, dia marah sejadi-jadinya. Dia sangat malu, karena telah membuat kesepatakan dengan kerabat untuk saling menjodohkan anak mereka. Alangkah malu hendak membatalkannya. Ia merasa telah ditohok dari belakang oleh istrinya. Nyaris ia menjatuhkan talak kepada istrinya.
Dalam keadaan frustrasi, orang tua itu menyampaikan kepada semua kerabat dan orang sekampung di rantau kota itu bahwa anak perempuannya telah mati. Telah putus hubungan kekerabatan. Semua orang memakluminya. Dan, mereka tetap yakin betapa pun marahnya, harimau tidak akan memakan anaknya sendiri. Tetapi, tidak ada orang yang berani menasihatinya, atau memberi saran agar dia mau bersabar, dan menerima kenyataan.
Akhirnya, Sutan memutuskan untuk meninggalkan kota yang dianggap telah membawa malapetaka, membuat mukanya tercoreng oleh arang.
Sebelum berangakt ibu datang mengunjungi Zuraida. Ketika itu Hardi berada di kantor.
“Umi akan pindah dari kota ini,” ujarnya.
“Mengapa harus pindah, umi?”
“Sebagai seorang istri, umi harus patuh kepada suami. Abakmu mengajak pindah dari Tanjungkarang. “
“Umi akan meninggalkan saya?”
“Telah ada orang yang melindungimu, seorang lelaki yang kamu cintai. Patuhlah kepadanya, uruslah dengan baik. Umi mendoakan, semoga kalian berbahagia dan panjang jodoh.”
Zuraida tidak kuat menahan tangis. Ia tersedu-sedu. Dipeluknya ibu yang amat menyayanginya itu. Betapa besar kasih orang tua ini. Gunung yang paling tinggi dan besar pun tidak mampu menyaingi kasih ibu.
“Jangan menangis. Hadapkan wajahmu ke depan. Perjalanan hidup kamu masih panjang. Raihlah masa depan dengan bekerja keras dan berdoa,” ujar ibunya.
“Ke mana ibu akan pergi?”
“Entahlah. Terserah abakmu.”
“Abak marah?”
“Jangan kau hiraukan kemarahan abak. Suatu saat nanti, kemarahannya akan reda.”
“Apakah saya telah menyebabkan umi susah?”
“Tidak. Umi bahagia. Lebih-lebih telah mengantarkan kamu ke jenjang kehidupan bersama lelaki yang kamu cintai. Ibu sangat senang. Ayolah, jangan menangis.”
Perempuan itu melepaskan diri dari pelukan Zuraida. Dipegangnya kedua bahu Zuraida, diseka air yang menggenang di matanya. Ujarnya, “Salam umi untuk Hardi. Umi tidak bisa menemuinya. Nanti umi berkirim surat. Kalau Tuhan menghendaki, kita akan berkumpul lagi. Yakinlah.”
Sepeninggal ibu, Zuraida merenung. Betapa agungnya kasih seorang ibu. Dia sadari bahwa tidak mungkin terbalas kasih seorang ibu. Dan, dia pun sadar adalah berdosa menentang kehendak seorang ayah.
“Semoga Tuhan mengampuniku, demi cinta aku berani menentang kehendak abak. Ya, Allah sayangilah kedua orang tuaku, seperti mereka menyayangi aku.”
Ketika Hardi pulang, ia mendapatkan Zuraida masih tampak bersedih. Matanya masih sembab karena tangis.
“Kamu habis menangis? Ada apa?”
Zuraida menceritakan tentang rencana kepindahan ibunya. Ujarnya, “Ibu akan pindah mengikuti abak. Abak saya marah karena kita menikah. Sekarang saya sebatangkara, tidak punya siapa-siapa.”
Ia menangis tersedu-sedu.
Hardi terharu mendengar ucapan Zuraida. Direngkuhnya perempuan itu ke dalam pelukan.
“Jangan menangis. Kamu tidak sendiri. Saya akan selalu berada di sisimu. Jika Tuhan menghendaki, Insya Allah kita akan bersama terus, sampai ke liang lahat.”
Tangis Zuraida semakin keras.

Biodata
--------------------------------------------
Andy Wasis lahir di Tanjungkarang Bandar Lampung. Sepanjang hayatnya hidup dari menulis buku. Cerpennya banyak dimuat oleh berbagai majalah/surat kabar lokal dan nasional. Novelnya (lebih dari 100 novel terdiri dari novel anak, remaja, dan dewasa) telah diterbitkan oleh berbagai penerbit di Indonesia. Novel-novel yang terbit pada dekade 2000-an ini di antaranya, Katakan Dengan Cinta (Grasindo 2001), Penantian 36 Purnama (Grasindo 2002), Rasul (Novel Sejarah- Rosda 2004).

GERBANG PERJALANAN AKHIR

- untuk sahabat Ilham Indratjaja Hutagalung

tak pernah kita tahu
kapan kita mulai mengecap hidup
tiba-tiba saja beban menekan bahu
mengantar ke permulaan fajar yang redup

mentari pun kemudian benderang
kita menari ditingkah beragam irama genderang
tak kita sadari
waktu amat singkat
mentari disergap kelam
tiba-tiba saja cahaya lenyap
rampak gendang dan rebab pun senyap

lalu kita diam
tak lagi ada canda ria
bahkan kita tak tahu
begitu banyak air mata dan rasa duka melanda
anak, istri, dan kerabat

sahabat
ke mana lagi ‘kan kita capai tujuan
raga yang sekarang tanpa nyawa
diusung keranda
diantarkan masuk ke liang
gerbang perjalanan akhir

bahkan
tak mampu kita mengucap selamat tinggal

bni - 16 Juli 2009

BERITA TENTANG HARI KEPUTUSAN

terbetik berita mengguncang
dan menggetar
orang-orang bertanya-tanya
berita apakah gerangan yang tersebar
penyebab orang saling berselisih dan bertengkar

kata Tuhan,
Kelak kamu tahu
bumi Ku-hamparkan
gunung sebagai pancang
dan Ku-jadikan kalian berpasangan
tidurmu sebagai pelepas lelah
pada malam yang berhias indah
siang hari
waktu bagimu mencari rezeki

di atasmu langit Ku-bentangkan
matahari bak pelita
awan-awan menyimpan air
yang kelak jatuh menjadi hujan
bagi kesuburan tumbuhan dan kehidupan

sesungguhnya
hari keputusan itu telah ditentukan
yaitu, saat sangkakala dibunyikan
gunung-gunung terbang bagai ilalang

berbondong kalian datang
pintu langit terbentang
orang-orang durhaka
kembali ke tempat durjana
di sana mereka tinggal selamanya
merasakan haus dan dahaga
dicurah air mendidih dan nanah
balasan setimpal bagi si pendosa

mereka telah mendustakan ayat-ayat-Ku
perbuatan mereka tercatat dalam kitab
rasakanlah penderitaan azab

orang-orang taqwa memperoleh kemenangan
tersedia kebun anggur, piala, dan perawan
tak terdengar caci-maki yang sia-sia

itulah balasan dari Tuhanmu
Tuhan langit dan bumi
Yang Mahapengasih

pada hari itu Jibril dan Malaikat
berbaris teratur
diam tidak bertutur
kecuali atas izin Yang Mahakasih
kepada mereka yang berhati bersih

hari itu pasti tiba
barang siapa yang hendak selamat
kepada Tuhan hendaklah taat


(Sumber QS 78: 1-39)